
"Aku memang gak pernah salah..." Ungkap ku tersenyum seraya ku langkah kan kaki ku mendekat ke tangga yang menuju ke ruang bawah tanah.
Ku langkah kan kaki ku perlahan seraya ku arahkan pandangan mataku ke sekitar, tangga menuju ke ruang bawah tanah memiliki anak tangga lumayan banyak dan gelap.
Sesampainya di dasar, mata ku seperti tidak terbuka, ini sangat gelap. Sebenarnya ada apa di sini? Kemana suara itu pergi?
Aku mengeluarkan sebuah senter dari ruang dimensi ku, ku arahkan senter itu ke seluruh ruangan. Tampak ruangan ini sangat besar dengan batu-batu yang terlihat bersusun di ujung sudut ruangan.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari belakang ku, aku menoleh ke belakang dan melihat tangga tempat aku turun tadi kembali bergerak menutup tanpa jejak.
Kemudian terdengar suara dari dinding-dinding ruangan, dengan ajaib nya obor api menyala bergiliran di setiap dinding. Sekarang ruangan menjadi sangat terang, bahkan di sudut ruangan yang ku lihat terdapat susunan batu mengeluarkan sebuah pancuran air dengan di bawahnya terdapat wadah untuk menampung air itu.
Tempat ini secara otomatis berubah menjadi tempat yang sangat... Ah... ini tidak bisa di bilang indah, namun aku hanya bisa melihat jika ruangan ini sangat aneh.
"Kenapa ada ruangan seperti ini di sini??"
Ku langkah kan kaki ku berjalan perlahan,aku berjalan ke arah sudut ruangan dimana susunan batu itu terletak.
Aku memperhatikan sekitar seraya berpikir kenapa ruangan ini tidak menuju ke suatu tempat? Tapi tadi aku bisa mendengar seseorang meminta tolong? Ada yang aneh.
Ku tatap langit-langit ruangan ini yang melukiskan sebuah simbol yang tidak aku mengerti, namun di berbagai sisi aku melihat beberapa ukiran patung yang persis seperti patung yang ku lihat di istana bangsa elf.
"Jika aku tidak salah ingat, di patung yang berada di istana Elf memiliki sebuah permata berwarna merah di kepala patung itu... Dan itu sama persis dengan permata yang ada di pancuran lantai atas..." Ungkap ku sedikit ragu , karena aku kurang mengingat nya.
Di tengah-tengah lukisan terdapat ukiran bunga mawar api hitam dengan permata berwarna merah berada di tengah bunga mawar itu.
"Tunggu... Bunga mawar api hitam? Apa hubungannya dengan simbol itu??"
Aku menatap simbol itu dengan fokus.
"Mawar api hitam adalah bunga yang sangat langka, bahkan aku tidak mengetahui berapa jumlah bunga mawar api yang masih ada di Worldlander... Jika simbol itu berada di ruangan ini maka mereka ada hubungannya dengan mawar api hitam bukan???"
Ungkap ku menyimpulkan.
"Mungkin kah mereka bermusuhan karena bunga mawar api hitam itu??? Haishh... Entahlah..."
__ADS_1
Aku kembali memikirkan tentang Neftaza dan Edmund, aku harus segera menemukan mereka.
Saat aku berjalan di tengah-tengah ruangan, ku rasakan sesuatu yang mengganjal di pijakan ku, aku menoleh ke bawah untuk memeriksa nya.
Ternyata yang ku pijak adalah permata merah yang menyatu di lantai, aku menatapnya dan menyentuh permata itu seraya ku dorong permata itu ke bawah.
Terdengar suara gemuruh seperti suara dinding bergeser. Ku arahkan pandangan mata ku ke arah susunan batu yang bergeser memperlihatkan sebuah jalan. Aku melangkah kan kaki ku menghampirinya dan tampaklah sebuah sinar berwarna putih yang sangat terang berada di ruangan itu.
Aku berjalan masuk untuk melihat sinar apa yang mengganggu pandangan ku. Aku berjalan mendekatinya, samar-samar aku bisa melihat tubuh seseorang di sana, aku memperjelas pandangan ku. Ternyata itu adalah Edmund yang berdiri lemas dengan mata terpejam di kelilingi oleh sinar berwarna putih.
Itu adalah sihir... Aku mencoba menghampiri nya dan menyentuh tubuh Edmund yang melayang, namun aku tidak bisa menyentuhnya. Sepertinya sihir yang di gunakan untuk mengurung Edmund bukan sihir sembarangan.
Aku menatap sekeliling ruangan, tampak Neftaza di kurung di dalam sebuah kurungan besar seperti kurungan ayam yang terbuat dari besi berada di ujung ruangan.
Aku terkejut karena melihatnya babak belur dengan darah kering masih menempel di sudut bibir Neftaza, ia banyak terluka. Ia duduk bersandar di besi itu dengan tubuh yang sangat lemah dengan mata terpejam.
Aku langsung menghampirinya dan mencoba melepas kan ia dari kurungan, namun kurungan itu sangat berat dan sangat kokoh, aku tidak bisa mengangkat nya bahkan menggerakkan nya saja sudah sangat sulit.
"Rianda, Lo gak mati kan???" Ungkapku khawatir menatapnya seraya memegang tangannya.
"Ahhh... Syukurlah..." Aku segera mencari cara untuk membuka kurungan itu, namun aku benar-benar sangat kesulitan.
"Ahhh... Kan ada gergaji besi... Kenapa gak kepikiran dari tadi sih.... Huhh...."
Ungkap ku seraya mengeluarkan gergaji besi dari ruang dimensi ku.
"Lo pindah agak jauhan sono..." Ungkap ku menyuruh Neftaza untuk bergeser.
Ku tatap ia yang bergeser dengan perlahan seperti seekor siput.
Aku memegang gergaji besi dengan kuat dan mulai memotong besi itu dengan cepat, satu tangkai besi saja membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga aku membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk bisa mengeluarkan Neftaza dari kurungan.
"Hoshhh... Hoshh... Hoshhh..... Gue keg lari marathon, keringat gue sampai banyak keg gini..." Ungkap ku ngos-ngosan seraya menarik Neftaza keluar dari kurungan.
__ADS_1
"Lebay... Lu ah..." Ungkap Neftaza yang sudah keluar dari kurungan dengan nada bicara masih terdengar lemah.
"Padahal elu kan bisa gergaji sendiri, malah nungguin gue..." Ungkapku sedikit kesal karena aku baru mengingat bahwa sebenarnya dia bisa keluar sendiri.
"Gue...kehabisan...tenaga...****..." Ungkapnya lemah.
"Gak usah lebay,,, mendingan elo cepet ngumpulin tenaga deh..." Ungkapku membantu mengangkat tubuhnya untuk bisa bersandar di dinding ruangan. Aku memberinya sebuah vitamin untuk membantunya lebih cepat pulih.
Seraya menunggu Neftaza untuk memulihkan tenaganya, aku menatap Edmund yang terlihat sangat kesakitan di sana. Karena dia adalah bangsa elf, mereka mengurungnya menggunakan sihir.
"Bagaimana aku harus menolong nya???"
Aku kebingungan menatap Edmund yang semakin lama semakin lemah karena efek sihir itu.
Pikiran ku sedikit kacau melihatnya yang seperti mayat hidup, walau pada dasarnya Elf memang memiliki kulit putih pucat seperti vampir.
Sesekali aku menatap Neftaza yang terbaring lemah di dekat dinding seraya memejamkan mata untuk memulihkan energinya.
"Kenapa di saat seperti ini otakku jadi dangkal sih... heran gue mah..."
Aku sangat kesal karena sedari tadi aku tidak menemukan ide apapun, bahkan satu-satunya yang bisa membantu ku adalah Zu, tapi aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, karena itu akan sangat menyulitkan kami jika aku harus memanggilnya sekarang.
Ku arahkan pandangan mata ku ke arah jam tangan ku yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam, kami hanya punya waktu beberapa jam lagi untuk keluar dari sini sebelum matahari terbit.
"Apa yang harus aku lakukan???"
_
_
_
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
❤❤❤
__ADS_1