
Aku hanya tertawa melihat Fegis yang kelihatan kebingungan, melihat pistol yang ia gunakan tidak mengeluarkan peluru sama sekali.
Bahkan Jasper, Casper dan Felis ikut tertegun melihat ku tertawa, hingga pada akhirnya mereka mengerti.
"Apa kau kira aku sebodoh itu tuan Fegis? Hahaha..." Tawaku penuh kemenangan.
Tatapan mata Fegis terlihat sangat menakutkan, ia benar-benar terlihat sangat marah.
"Tenang lah... Kau tak akan bisa melakukan apa-apa dengan pistol yang ada di tangan kami..." Ungkap ku tersenyum licik.
"Apa kau masih ingin membunuh ku?" Ungkap Felis tegas.
"Kalian sungguh licik..." Ucap Fegis kesal.
"Ahhh... Kami belajar darimu bukan?" Ungkap Casper tersenyum menang.
"Lalu apa kau masih bersikeras untuk memiliki adikku dan senjata yang kau pegang itu?" Ungkap Hasper tegas.
"Hahaha... Jangan mimpi..." Jawab ku tertawa.
"Apa kau masih tak ingin meminta maaf?" Ucap Felis mengintrogasi.
"Ma... Maaf?" Ungkap Fegis gelagapan.
Ku tatap ia yang masih tak ingin mengucapkan kata maaf, walau tubuh nya sedikit gemetar ia masih bersikeras untuk kabur. Namun darimana pun, ia tak akan bisa lari.
"Baiklah..." Ucap nya menegakkan tubuh nya.
"Aku minta maaf atas kelakuan ku terhadap kalian, aku mengakui jika kalian bukan lah seseorang yang mudah di taklukkan... Aku bersumpah aku akan membantu kalian apapun yang terjadi." Ungkap nya penuh keyakinan.
"Wow... Gitu kan enak..." Ungkap ku mendekati nya.
"Jangan dekati dia Ela..." Ungkap Hasper melarang.
Aku menatap nya dengan lekat.
"Kalau dari tadi sikap mu seperti ini, kami tak akan menimbulkan kekacauan yang tak berarti tuan Fegis." Ungkap ku menatap nya.
"Dan aku menerima sumpah mu, jika kau melanggar sumpah mu... Kau dan semua orang yang berhubungan dengan mu akan mati mengenaskan detik itu juga. Ingat itu..." Ungkap ku tersenyum manis.
"Aku tak akan mengecewakan kalian..." Ungkap nya menatap ku penuh keyakinan.
"Aku penasaran kenapa kau menggunakan topeng?" Ungkap ku seraya mengarahkan tangan kanan ku untuk membukanya.
Ia menangkis tangan ku dengan cepat.
"Jangan sentuh wajah ku..." Ungkap nya penuh penekanan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Sialan." Ungkap Casper mendorong Fegis sampai hampir terjatuh.
"Tenang lah Gege, aku tidak apa-apa..."
Aneh... Bukankah kecepatan menangkis tangan ku begitu cepat? Sepertinya ia hanya berpura-pura lemah di hadapan kami.
"Baiklah... Baiklah... Aku tak akan menyentuh wajah mu..." Ungkap ku berbalik seraya berjalan ke arah samping Casper.
"Bukan kah seharusnya kau mengumumkan jika kita akan bekerja sama?" Ungkap Casper tegas.
"Ikuti aku..." Ungkap Fegis.
Ku tatap ia yang beranjak berjalan keluar ke arah pintu ruangan, dengan Hasper dan kami bertiga mengikuti nya dari belakang.
Sesekali aku melihat keringat yang mengalir dari tubuh mereka bertiga, dengan bau amis dari darah yang masih menempel di pakaian tubuh nya. Pedang yang mereka gunakan masih terdapat darah yang mulai mengering.
Itu adalah pemandangan yang sudah tak asing lagi bagi ku, darah? Bukan kah ini akan menjadi bagian dari hidup ku, dan kami semua? Aku tak mengerti kenapa aku harus melakukan ini.
Tidak, ini adalah hal yang wajib untuk kesejahteraan setiap manusia bukan? Mereka lah yang seharusnya sadar akan itu, tapi sampai sekarang kekuatan lah yang menentukan.
"Zu, apa yang kau pikirkan?"
"My lord, sepertinya mereka memang tulus untuk membantu kalian..."
"Benarkah? Apa kau yakin mereka tidak akan memberontak kepada kita?"
"Baiklah Zu. Lalu bagaimana kabar Neftaza dan yang lainnya?"
"Mereka baik-baik saja my lord."
"Baiklah, terimakasih."
"Sudah seharusnya my lord."
Ku arahkan pandangan mata ku menatap sebuah lukisan yang terpanjang di antara beberapa lukisan yang lain, aku terkejut ketika melihat lukisan itu. Lukisan yang pernah ku lihat di kehidupan modern.
Aku berhenti, menatap nya dengan yakin. Aku tak salah lihat, jika itu adalah lukisan yang ada di mansion keluarga ku.
Aneh, kenapa lukisan itu ada di sini? Apakah cuma kebetulan?
Tanpa tunggu lama, aku mengeluarkan handphone ku dan memfoto nya. Aku masih terpaku kenapa lukisan itu bisa sama persis dengan lukisan yang ada di mansion keluarga ku.
Dan bukan kah itu adalah lukisan Abang ku? Ah aku akan bertanya lain kali.
"Apa yang kau tatap Ela?" Ungkap Casper mengejutkan ku.
"Lihat lah gege... Aku merasa lukisan itu tak asing bagi ku..." Ungkap ku seraya menunjuk ke lukisan itu.
__ADS_1
"Mungkin kau memang pernah melihatnya..." Ungkap nya menatap lukisan itu.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" Ungkap Hasper mengejutkan kami berdua.
Aku dan Casper hanya saling menatap tanpa menjawab ucapan Hasper. Kami berdua kembali mengikuti Hasper yang sudah berjalan cukup jauh di belakang Fegis.
"Gege, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Bisik ku.
"Kita lihat saja apa yang akan Gege Hasper lakukan..." Ucap nya seraya menoleh ke arah ku.
"Baik lah..."
Pandangan mata ku mengarah ke sebuah pintu yang mengarah ke sebuah ruang aula yang cukup besar, aku melihat desain pintu itu tak asing bagi ku.
Lagi-lagi desain pintu itu tak asing bagi ku, sebenarnya apa yang ku lihat dan yang ku rasakan? Sepertinya aku benar-benar melihatnya di kehidupan modern ku, dan semuanya ada di mansion keluarga ku.
"Duduk lah, aku akan memanggil seseorang untuk menyiapkan jamuan untuk kalian..." Ungkap Fegis membuyarkan lamunan ku.
"Tidak usah... Terimakasih." Jawab Hasper sinis.
"Tenang lah Gege... Sepertinya ia tidak akan meracuni kita..." Ucap ku menatap nya.
"Baiklah..." Ungkap nya menghela nafas.
Ku arah kan pandangan mata ku ke arah Fegis yang menyuruh seorang pelayan untuk menyediakan beberapa makanan di atas meja. Tampak pelayan itu berbalik meninggalkan Fegis, dengan Fegis berjalan ke arah tempat duduk yang lain. Ruangan ini adalah ruangan yang berbeda dengan ruangan yang menjadi tempat kami bertarung tadi.
"Gege, boleh kah aku kembali? Aku sangat kelelahan..." Ungkap ku menatap nya.
Sebenarnya aku hanya ingin mencari tahu apa yang ku lihat tadi.
"Aku yang akan mengantar mu pergi Ela..." Ungkap Casper tersenyum.
"Baiklah... Lebih baik kalian berhati-hati lah, biar Gege dan pangeran Felis yang akan berbicara kepada tuan Fegis..." Ungkap Hasper mengiyakan.
"Terimakasih Gege..." Ungkap ku tersenyum, seraya beranjak berdiri.
"Ohhh yaa... Tuan Fegis, kami permisi terlebih dahulu... Aku akan memberikan hadiah untuk kalian jika Gege ku senang akan kerjasama ini..." Ungkap ku beranjak berdiri meninggalkan mereka.
Aku dan Casper berjalan kembali ke arah lorong yang terdapat lukisan tadi. Aku ingin melihatnya lagi dan mencari tahu apa ada hubungannya dengan yang ada di kehidupan modern ku.
_
_
_
(Untuk para readers, terimakasih yang masih menunggu kelanjutan ceritanya... Dan saya sekali lagi minta maaf karena handphone saya rusak, jadi saya kesulitan untuk melanjutkan... Mungkin saya hanya bisa update satu kali dalam sehari. Sekali lagi saya minta maaf ya...)
__ADS_1
Selamat membaca❤️❤️❤️