
Apa kami harus ikut campur urusan mereka? Maksudku jika kami pergi begitu saja tanpa membantu mengungkapkan kebenaran, apa itu sangat salah? Iya aku tau jika itu sangatlah salah.
Tapi jika kami harus mengorbankan nyawa kami untuk mengungkapkan kebenaran itu, apa yang terjadi jika kami mati? Bagaimana dengan ayahku? Kerajaan Rosewaltz dan rakyat yang lain? Bagaimana nasib para perempuan jika kami gagal membawa bunga mawar api itu?
Ahh... Kenapa jalan takdirku begitu rumit?
Huhh... Ku harap semuanya akan baik-baik saja, dan biarkan kami pergi meninggalkan istana ini dengan selamat.
Ku tatap seseorang yang tiba-tiba datang di hadapanku, ia melayang seraya menatap ku lekat. Aku menatapnya dengan tatapan penuh harap, tidak. Kenapa aku memikirkan itu?
Dia menghampiriku, sehingga jarak kami sangat dekat. Aku terkejut seraya memundurkan tubuh ku ke belakang. Ia masuk melalui jendela dan melangkah mendekat ke arahku.
Dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi ku dengan lembut.
Apa yang dia lakukan?
Aku hanya menunggu tindakan selanjutnya darinya. Aku menatapnya tanpa ragu-ragu. Wajahnya mulai mendekat, seperti ia mau mencium ku.
"Apa kau baik-baik saja?!" Ungkapnya dengan suara yang terdengar jelas di samping telingaku.
Pipi kami bersentuhan, membuatku terkejut karena pipinya sangat lah dingin.
Aku mundur dengan cepat dan menatap tajam dirinya.
"Apa yang kau lakukan?!" Ungkapku sedikit gelagapan.
Ia berjalan mendekati ku, dan aku mundur dengan cepat untuk menghindari nya. Namun di belakang ku adalah tempat tidurku. Aku terjatuh begitupun dia. Tanpa sengaja aku merasakan sesuatu menyentuh dahi ku. Ia menciumku.
Aku cepat-cepat mendorongnya seraya memegang dahi ku.
"Kenapa kau mencium ku?" Ungkapku tajam menatap nya.
"Kau yang membuatku mencium mu..." Ungkapnya santai seraya duduk di kursi samping tempat tidur ku.
"Keluar..." Teriakku menyuruhnya keluar.
"Ini istanaku, kenapa aku harus menuruti perkataan mu?!" Ungkapnya seraya melihat sekeliling ruangan.
Aku berjalan ke arahnya dan berpikir untuk menyeretnya keluar, aku memegang tangannya yang begitu dingin. Aku menariknya namun ia tidak bergerak sama sekali.
Ketika aku ingin pergi ia menarik ku dan membuat ku terduduk di atas pahanya.
What? Apa yang terjadi?
Aku kebingungan karena wajah kami terlalu dekat, aku ingin segera berdiri namun ia menahan ku. Tangannya terangkat mengelus pipiku, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi pandangan ku.
Aku terdiam membisu mendapat perlakuan darinya.
Ternyata dia tampan jika di lihat dari dekat.
"Aku tau aku tampan..." Ungkapnya membuatku terkejut.
Apa dia bisa membaca pikiranku?
"Apa kau bodoh?!" Ungkap nya membuatku semakin terkejut.
__ADS_1
Fiks deh... Dia bisa baca pikiran gue.
Tanpa sengaja aku melamun menatapnya, saat aku tersadar aku melihat wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Dengan segera aku memalingkan wajahku menghindari nya.
Jangan sampai ciuman pertama ku di renggut oleh nya...
Aku cepat-cepat berdiri dari pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan di sini pangeran Andrew yang terhormat...??!!!" Ungkapku tajam.
"Apa yang dia lakukan terhadap mu? Kau baik-baik saja bukan?!"
Tersirat kekhawatiran di raut wajah nya.
"Apa kau menyukai ku pangeran?!" Ungkapku tanpa sengaja.
Ya tuhan, apa yang aku katakan? Haishh...
Dia tersenyum mendengar pertanyaan ku.
"Jika aku memang menyukai mu, apa kau keberatan?!"
DEG*
Apa dia gila?
"Aku tidak gila nona Zenquille Angela..." Ungkapnya mendekat.
"Stopp..." Ungkapku.
"Maksudku berhenti di sana, jangan bergerak..." Ungkapku masih dalam keadaan terkejut.
"Hahahaha.... Aku hanya bercanda..." Tawanya yang membuat ku sedikit marah.
Sialan.
"Aku mendukung mu..." Ungkapnya sebelum menghilang.
"Dia pergi dan datang sesuka hatinya, dasar Elf sialan..."
Ku tutup jendela seraya melihat rembulan yang bersinar terang di langit.
"Selamat malam bulan..."
Ku langkahkan kaki ku berbalik kembali ke tempat tidurku. Ku selimuti tubuh ku dengan selimut pemberian mommy ku, aku sangat merindukan nya.
Ku buka mataku yang masih saling melekat dengan erat, seraya duduk memaksakan kedua kelopak mataku untuk melihat. Aku masih sedikit mengantuk karena aku baru tertidur sekitar pukul dua pagi dan sekarang pukul enam pagi.
Ku tatap sekeliling kamar, tampak seseorang masuk dengan membawa sebuah nampan di kedua tangannya.
"Selamat pagi nona..." Ungkapnya seraya meletakkan makanan di atas meja.
"Selamat pagi bibi Lena..." Ungkapku yang masih berada di alam mimpi.
__ADS_1
Ia melangkahkan kaki nya pergi ke arah jendela kemudian ia membukanya, sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar. Udara sejuk menyentuh kulitku membuatku sedikit kedinginan.
Ku baringkan tubuh ku lagi seraya menutupi tubuhku dengan selimut. Ku coba untuk tertidur lagi. Setelah aku hampir tertidur lelap terdengar seseorang berteriak memanggil ku. Siapa lagi kalau bukan nenek lampir itu, sih Neftaza.
"Woi bangun,,, udah siang ini..." Ungkapnya menarik selimut ku.
"Lo teriak-teriak Mulu...ini bukan mansion be*o..." Ungkapku terpaksa membuka mataku.
"Makanya Lo cepetan bangun, ayo kita shopping..." Ungkapnya membuat ku seketika terbangun.
"Shopping? Dimana? Apa di sini ada mall?!." Ungkap ku antusias.
"Gue canda doang, gila lu ya... Di sini mana ada mall yang ada Padang rumput guys..." Ungkapnya tertawa.
Ku pikir kami sudah kembali ke zaman modern. Ah... sangat menyebalkan.
"Lo tumben banget sih bangun pagi-pagi banget... " Ungkapku masih jengkel.
"Lo aja yang kebo..." Ungkap nya beranjak berdiri berjalan ke arah jendela. Ia menatap ke luar jendela.
"Sangat menyenangkan..." Ungkapnya mengambil nafas dalam-dalam...
"Lo kekurangan oksigen apa gimana?!" Ungkapku beranjak berdiri menghampiri nya.
"Jarang-jarang aku ngehirup udara segar loh..." Ungkapnya tanpa menoleh ke arah ku.
Aku berdiri di samping nya seraya menatap ke luar jendela, memang pemandangan yang sangat bagus. Burung-burung berterbangan di atas air terjun dengan awan-awan biru yang sangat terang membuat siapapun terpukau akan keindahan yang kami lihat ini.
Tiba-tiba pandangan ku teralihkan kepada sekumpulan elf yang sedang bersembunyi di dekat air terjun itu. Siapa mereka?
"Apa Lo ngeliat mereka?!" Ungkapku kepada Neftaza tanpa mengalihkan pandangan ku dari mereka.
"Ya,, gue liat... Kegnya mereka bawahan pangeran Alendra deh..." Ungkap nya.
"Kegnya Lo bener..."
"Bukannya para elf biasanya tahu tentang keberadaan elf lain?" Ungkap Neftaza menoleh ke arahku.
Aku menatap nya tanpa menjawabnya. Aku hanya mengangkat kedua bahu ku tanda aku tidak mengetahuinya.
Kembali ku arahkan pandangan mata ku ke tempat mereka bersembunyi, tapi mereka sudah menghilang tanpa jejak.
"Mereka memang suka menghilang deh..."
"Iya keg buaya darat..." Ungkap Neftaza tersenyum aneh.
"Hahaha... apaan sih..." Aku tertawa mengejek nya.
Ia hanya diam cemberut menatap ku.
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
__ADS_1
❤❤❤