TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 184


__ADS_3

Ku tatap punggung laki-laki yang menolong ku tadi, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan kami. Entahlah, apakah ia hanya memastikan karena kami baik-baik saja atau hanya memastikan untuk kewaspadaan mereka.


Namun yang jelas kami bertiga tidak akan melakukan apapun yang akan merugikan kami sendiri. Saat ku arah kan pandangan mata ku menatap ke arah laki-laki yang lain aku melihat sebuah pedang berada di pinggang nya, dengan gagang pedang itu berwarna merah darah seperti aku pernah melihat nya, maksud ku pedang itu tak asing bagi ku.


"Putri... Lihat lah pedang yang di miliki laki-laki yang menolong mu tadi." Bisik ku pelan kepada nya.


"Sepertinya aku pernah melihat nya putri..." Ucap Gazelle yang terdengar sedikit ragu.


"Aku juga, maksud ku aku tak asing dengan pedang itu... Jika kau saja pernah melihat nya bukan kah bisa jadi itu pedang yang di miliki pangeran kita?" Ucap ku sembari kembali mengingat.


"Tunggu... Bukan kah itu pedang yang di gunakan Gege ku, pangeran Felis putri?" Ucap Gazelle yang terdengar terkejut dan khawatir.


"Kau benar putri..." Ucap ku, aku pernah melihat pangeran Felis menghampiri ku dengan pedang yang sama persis dengan pedang yang di miliki oleh laki-laki itu.


"Jangan khawatir... Mereka pasti baik-baik saja putri, kita hanya perlu bersandiwara ok." Ucap ku menyemangati nya. Ia mengangguk.


Kembali ku arah kan pandangan mata ku menatap ke arah laki-laki yang menolong ku tadi, tampak ia berhenti di depan sebuah gerbang kota dengan dua kesatria penjaga membungkuk kan tubuh nya, dua kesatria penjaga itu memberi hormat.


Kembali ku tatap tangan laki-laki tadi yang bergerak memberi isyarat kepada salah satu kesatria, tampak kesatria itu langsung membuka kan pintu gerbang dengan cepat.


Kembali ku arah kan pandangan mata ku menatap ke seluruh rakyat menunduk kan tubuh nya ketika melihat laki-laki itu berjalan di hadapan mereka. Aku bisa melihat bagaimana kekuasaan nya di kerajaan ini, seperti nya ia bukan orang sembarangan.


Beberapa menit kemudian kami sampai di halaman depan istana, tampak laki-laki tadi menuruni kuda nya dengan salah satu kesatria yang berada di sana memegang tali kekang kuda milik laki-laki itu.


Menoleh ia ke arah kami dengan tatapan yang begitu tajam, aku masih tak mengerti kenapa sikap nya begitu aneh. Bukan kah tadi dia membantu ku dengan raut wajah yang lumayan hangat?


Aku turun dari kuda ku dengan Gazelle yang sudah turun beberapa detik yang lalu, ia mengarahkan pandangan mata nya menatap ke sekitar istana yang terlihat mewah namun bukan istana yang begitu megah seperti istana kerajaan besar.

__ADS_1


"Bukankah masih terlalu jauh di banding kan kerajaan Rosewaltz?" Ucap ku tersenyum menatap ke arah Gazelle yang terlihat meremehkan tempat itu. Ia menoleh menatap ku dengan senyuman sirik.


"Bagaimana dengan kerajaan Neverlatz? Bukan kah hampir sama, beda nya kalian memiliki listrik sedang kan kami tidak." Ucap nya, membuang muka ia ke arah yang lain.


"Ya, aku akan memberikan pengetahuan bagaimana mendapat kan listrik setelah kita kembali aman." Ucap ku, sembari ku tepuk pundak nya.


"Awas jika kau berbohong putri." Ucap Gazelle yang kembali menoleh menatap ku. Aku tersenyum seraya mengangguk.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sana?" Ucap pangeran Darren yang sudah berjalan mengikuti mereka.


Kami berdua hanya tersenyum, sembari berjalan melangkah kan kaki beriringan mendekati mereka. Setidak nya kami akan tersenyum sekarang, bagaimana jika kegiatan itu tak akan bisa kami lakukan beberapa jam lagi?


Ku tatap kedua kesatria penjaga yang berdiri di samping kanan kiri sebuah pintu besar yang ku yakini itu adalah pintu utama istana, salah satu kesatria itu membuka kan pintu tampak lah dari kejauhan laki-laki yang membantu kami tadi duduk di atas singgasana berlapis emas yang begitu megah dengan antek-antek nya duduk di tempat duduk nya masing-masing.


Ku langkah kan kaki ku mengikuti pangeran Darren yang berjalan mendekat ke arah nya, berhenti ia ketika salah satu dari mereka menyuruh nya untuk berhenti.


"Dia raja?" Bisik Gazelle kepada ku.


"Apa yang kalian lakukan?" Ucap salah satu kasim yang berdiri di dekat singgasana itu.


"Kalian sangat lancang, cambuk mereka..." Ucap nya menggema di seluruh ruangan.


Tampak beberapa kesatria mendekat ke arah kami dengan salah satu dari mereka membawa cambuk di tangan kanan nya, kami bertiga hanya saling pandang. Bagaimana bisa kami tunduk kepada kerajaan kecil seperti mereka.


"Kau yang lancang." Teriak pangeran Darren marah, suasana menjadi sangat genting ketika suara Darren menggema di seluruh ruangan.


"Apa kau pikir kerajaan mu bisa menang melawan kerajaan kami?" Ucap Gazelle yang berjalan mendekat ke arah nya.

__ADS_1


"Siapa kalian? Berani-beraninya berteriak di depan raja Zeffligha..." Teriak seorang laki-laki tua, seperti nya ia salah satu Duke kerajaan.


"Putri, bagaimana bisa mereka tidak mengetahui kita? Astaga aku melupakan sesuatu, bukan kah ini kerajaan kecil yang berada di pelosok benua?" Ucap Gazelle tegas dengan tawa yang begitu menyayat hati mereka.


"Baru tau gue, dia sekejam itu senyumnya. Gila deh..."


"Kurang ajar kau..." Teriak Kasim tadi, ia memberikan kode kepada salah satu kesatria dan mereka mulai menyerang kami bertiga.


Namun belum sempat mereka mendekat, suara tembakan terdengar membuat mereka semua terdiam ketika salah satu kesatria yang ingin menyerang kami jatuh tak berdaya dengan darah bercucuran di lantai.


Ku tatap laki-laki yang menjadi raja kerajaan Zeffligha, ia tampak terkejut namun ketika melihat ke arah ku ia menyembunyikan keterkejutan itu, aku hanya bisa tersenyum menahan tawa.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak seorang laki-laki yang menolong Gazelle tadi, ia mendekat ke arah Darren dengan mengacungkan sebuah pedang itu.


Ku tatap Darren yang terlihat begitu tenang melihat laki-laki itu mendekat ke arah nya, ia mengarah kan pistol ke arah nya.


"Apa kau ingin mati? Ini hanyalah sebuah pembelaan bukan?" Ucap ku, seraya mendekat aku ke arah pangeran Darren.


"Senjata apa yang kalian gunakan itu?" Teriak nya lagi, aku hanya menatap raja itu yang tidak melakukan apapun. Aku membenci raut wajah yang begitu dingin, aku akan mengejutkan semua orang.


Ku gerakkan tangan ku mendekat ke arah belakang pinggang ku, ku raih pistol ku seraya ku arah kan pistol ku ke arah singgasana itu.


Door...


_


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️


__ADS_2