
Aku menatap Venan yang sedikit membungkuk kan tubuh nya di hadapan laki-laki yang memakai topeng tersebut. Laki-laki itu duduk di atas sebuah singgasana yang berlapiskan emas dengan ukiran naga berada di setiap singgasana itu.
"Apakah mereka yang ingin bertemu dengan ku Venan?" Ucap laki-laki itu dengan suara bariton nya.
Suara yang sangat sexy... Sayang dia jelek...
"Benar tuan, mereka lah yang ingin bertemu dengan mu..." Ungkap Venan menoleh menatap kami dengan isyarat mata.
"Kenapa kalian ingin bertemu dengan ku?" Ucap nya serius.
"Bisakah kita berbicara tanpa orang lain tuan Fegis?" Ucap Hasper yang langsung di tanggapi oleh orang yang pernah bertemu dengan Hasper sebelum nya, dia adalah tangan kanan tuan Fegis.
"Kurang ajar kau..." Teriak nya marah seraya berdiri menunjuk Hasper dengan jari busuk nya.
"Tenang lah..." Ucap Fegis menoleh menatap nya.
Pandangan mata ku menatap ke sekitar ruangan, aku tak melihat perempuan satu pun berada di sini. Aneh bukan? Apa dia tak memiliki gundik? Atau kah ia menyembunyikan gundik nya? Entah lah...
"Baiklah... Aku akan berbicara dengan kalian tanpa siapapun..." Ungkap Fegis seraya mengisyaratkan pengikut nya untuk segera meninggalkan ruangan milik nya.
Tatapan orang-orang itu penuh penekanan, bahkan tangan kanan Fegis berjalan dengan menyenggol bahu Hasper dengan keras.
Kurang ajar... Akan ku bunuh kau sialan...
Mereka semua pergi hanya menyisakan Fegis dan Venan dari pihak mereka.
"Aku tau kalian ingin mengajak ku untuk bekerjasama, tapi apa kau mau menyerahkan adik mu pangeran?" Ucap Fegis yang terdengar tersenyum dari balik topeng nya.
Sialan...
Ku tatap kedua tangan Hasper yang terlihat mengepal, tak hanya itu pegangan tangan Casper yang sedari tadi memegang ku kembali menggenggam ku lebih erat dari sebelumnya.
"Apa kau yakin memilih adik ku? Dia tak memiliki kecantikan apapun..." Ucap Hasper serius.
"Benarkah?" Ucap Fegis tak percaya. Ia beranjak berdiri dari singgasana nya. Berjalan ia ke arah ku dengan tubuh tegap. Berhenti ia tepat di hadapan ku, tangan kanan nya bergerak ke atas ingin membuka cadar ku namun di hentikan oleh Casper.
"Apa yang kau lakukan sialan?" Teriak Casper menghempaskan tangan Fegis dengan cepat.
"Baiklah... Baiklah... Lepas kan cadar adik mu, aku ingin melihat nya..." Ucap nya berjalan mundur ke belakang.
Suara nafas yang menderu-deru terdengar di kedua telinga ku, amarah Casper sudah mencapai puncak namun ia menahan nya.
__ADS_1
"Buka cadar mu dengan hati-hati..." Ungkap Casper menatap ku lekat.
Aku mengangguk. Aku menggerakkan tangan ku membuka cadar ku dengan perlahan. Sekarang wajah ku benar-benar terekspos dari pandangan mata Fegis.
Kau pasti akan menolak ku...
"Lumayan... Kau tak terlalu buruk..." Ucap nya, tatapan kami bertemu satu sama lain.
Aku merasakan seseorang yang ada di hadapan ku ini bukan lah orang asing, seperti nya aku pernah bertemu dengan nya... Tapi siapa dia? Aku tak yakin...
"Apa kau bercanda tuan Fegis, aku tak pantas untuk mu..." Ucap ku menatap nya lekat.
"Tapi aku menyukai mu!!!" Ucap nya membuat kami berempat seperti tersambar petir.
Sialan... Siapa dia sebenarnya... Bukan Alex kan? Bukan... Itu bukan Alex... Dia benar-benar Fegis paman nya Alex...
"Apa kau bodoh?" Teriak Felis kesal.
"Apa ini sikap kalian ketika meminta bantuan?" Ungkap nya marah, berbalik ia berjalan ke arah singgasana milik nya.
"Apa aku harus menghancurkan kekuasaan yang kau banggakan itu tuan Fegis?" Teriak Hasper. Amarah sudah memuncak di ubun-ubun nya, aku tak bisa mendengar perdebatan terus menerus. Aku harus melakukan sesuatu...
"Lalu bagaimana jika aku benar-benar menghancurkan kekuasaan mu? Kau tak akan memiliki apapun bukan?" Ucap ku tersenyum semeringai menatap nya.
"Kau sungguh berani putri..." Ucap nya marah.
"Kau tau aku adalah seorang putri, tak hanya aku tapi mereka semua penguasa kerajaan terbesar di benua ini... Apa kau yakin dengan keangkuhan mu itu tuan Fegis yang terhormat?" Ucap ku tersenyum sarkas.
"Benarkah kau dan mereka semua adalah seorang putri dan pangeran? Apa kau kira aku bodoh? Jelas-jelas putri dan pangeran yang sebenarnya berada di kerajaan masing-masing..." Ucap nya. Semakin kesal aku mendengar ocehan nya.
"Sialan... Hazel, keluar lah bunuh mereka yang ada di luar..." Teriakku kesal.
Hazel keluar dari balik pakaian Casper, dengan cepat terdengar suara teriakan orang-orang yang berada di luar.
"Venan... Apa yang terjadi?" Ungkap Fegis beranjak berdiri.
Ku tatap Venan yang bergerak berlari ke arah pintu, ia membuka nya dengan cepat tampak lah beberapa orang sudah tergeletak tak bernyawa di sana.
"Kau apakan mereka? Sialan..." Ucap Fegis kesal.
"Tunggu apalagi, bunuh mereka..." Teriak Fegis dengan amarah yang meluap-luap.
__ADS_1
Tiba-tiba muncul lah beberapa orang dari belakang singgasana milik nya, dengan cepat Hasper, Casper dan Felis mengeluarkan pedang nya dan bertarung dengan mereka.
Srang... Srang... Srang...
Suara pedang terdengar sangat pekat di telinga ku berbarengan dengan darah yang meuncrat kemana-mana...
"Apa kau yakin ingin membunuh semua pengikut mu tuan Fegis?" Ucap ku seraya mengeluarkan pistol dan membidik Fegis dengan cepat.
"Dasar wanita sialan..." Ungkap nya kesal, ia beranjak berjalan ke arah ku.
Namun...
Dor...
Aku menembakkan tepat di singgasana emas nya, semua orang berhenti berkelahi ketika mendengar suara pistol ku. Termasuk Fegis yang menatap ku dengan amarah, ia menoleh ke arah singgasana milik nya yang bolong karena peluru ku.
"Kau merusak singgasana ku putri..." Ucap nya dengan amarah yang semakin meluap-luap.
"Kau lihat itu bukan? Dengan satu tarikan peluru ku bisa menembus jantung mu dan aku menjadi penguasa di sini. Apa kau yakin?" Ucap ku tersenyum ke arah nya.
Ia berpikir seraya menatap pistol ku dan singgasana milik nya yang sudah bolong karena peluru ku.
"Apa kau masih sempat berpikir?" Ucapku kesal. Dengan cepat aku menarik pistol ku yang ku arah kan ke salah satu penjaga yang menatap ku dengan amarah.
Dor...
Aku menembak nya tepat di kepalanya. Sedetik kemudian penjaga itu ambruk dengan darah yang memuncrat dari lubang peluru yang ada di kepala nya.
Karena kejadian itu, para pengikutnya mundur ke belakang Fegis dengan ketakutan di raut wajah nya yang penuh dengan sayatan yang membekas.
Tak hanya itu, Fegis yang sedari tadi penuh keangkuhan menatap ku dengan ketakutan yang cukup membuat nya harus menyerah sebelum terlambat.
_
_
_
Jangan lupa like, vote dan komen yah guys...
❤️❤️❤️
__ADS_1