TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 97


__ADS_3

Ku tatap Edmund yang sedang berbaring di lantai dengan raut wajah yang sedikit kesakitan.


"Ahhh..." Teriak Edmund yang berpura-pura.


Padahal tadi aku sudah bilang jangan menimbulkan suara, tapi Edmund??? Ya sudah lah, semoga tidak ada yang mendengar kecuali dua Orc yang di balik pintu.


Edmund melancarkan aksi nya dengan sangat baik, ia berhasil memancing kedua Orc itu membuka pintu dan masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam.


Aku dan Neftaza dengan cepat menutup pintu dan menyerang mereka dari belakang, tubuh mereka terjatuh tersungkur ke lantai.


"Dasar makhluk jelek..." Ungkap Neftaza menyerang salah satu Orc dengan brutal sebelum Orc itu berdiri.


Begitu juga dengan ku, aku menusuk punggung Orc itu dengan sebilah pisau yang selalu ku bawa, dengan cepat aku menyayat leher nya tepat di urat nadi nya.


Dalam sekejap kedua Orc itu mati tanpa perlawanan sedikit pun. Darah mereka mengalir di lantai.


"Aishhh... Aku benci bau amis..." Ungkap ku seraya membersihkan pisau ku menggunakan tisu.


Aku menatap Neftaza yang mengelap sebilah pisaunya di atas kain yang di pakai makhluk menjijikan itu.


Setelah ku pastikan pisau ku bersih, aku meletakkan nya kembali di sepatu ku.


"Kalian memang sangat hebat kak..." Ungkap Edmund menatap kami tersenyum.


"Ayok..." Ungkap Neftaza seraya berbalik ke arah pintu.


Kami keluar pintu dengan sangat waspada. Tiba-tiba Neftaza berhenti seraya menoleh ke arah kami.


"Tunggu... Kita pasang bom?" Ungkap Neftaza semeringai jahat.


"Ok..." Ungkap ku tersenyum devil ke arahnya.


Tampak Neftaza mengeluarkan sebuah bom berkapasitas tinggi, ia mengatur waktu kurang lebih sepuluh menit di atas bom itu.


"Kita hanya punya waktu sepuluh menit keluar dari sini, apapun yang terjadi kita harus keluar dengan selamat..." Ungkapnya menatap ku dan Edmund serius.


"Apa Lo bisa pastikan Zu menyelamatkan kita tepat waktu???" Ungkapnya lagi.


"Gue pastikan itu..." Ungkap ku yakin menatapnya.


Edmund hanya terdiam tak mengerti tentang semua hal yang ia lihat dan dengarkan. Ia hanya menuruti kami untuk tetap waspada.


"Kita letakkan di dalam cairan lava..." Ungkap ku menatap mereka berdua.

__ADS_1


"Tapi bagaimana cara kita meletakkannya di sana???" Ungkap Neftaza menatap ku bingung.


"Tenang,,, aku yang akan meletakkan nya di sana..." Ungkap Edmund.


"Baiklah, gue aktifkan sekarang... Kita harus keluar sebisa mungkin dari sini ok..." Ungkap Neftaza serius.


Aku dan Edmund saling tatap dan mengangguk. Aku mengatur waktu di jam tangan ku persis seperti waktu bom di aktifkan.


"Siap???" Ungkap Neftaza serius.


Ia mengaktifkan bom itu, kemudian terdengar bunyi suara tik.. tik.. tik... setiap detiknya.


Edmund membawa boom yang sudah aktif, seraya bergegas berjalan di belakang ku dengan waspada.


"Berhati-hatilah..." Ungkap ku berbicara kepada mereka tanpa mengalihkan pandangan mata ku ke belakang.


Sesampainya di ujung lorong kami memastikan tidak ada Orc atau roh jahat yang berada di sana.


"Ayok..." Ungkapku dengan cepat. Kami kembali melangkahkan kaki kami dengan cepat. Sesampainya di lorong terakhir aku menyuruh Edmund untuk segera meletakkan boom itu di cairan lava tepat di tengah-tengah tempat ini.


Edmund melesat dengan cepat meletakkan bom waktu di sana, dan kembali dengan cepat menghampiri kami.


"Bagaimana???" Ungkap ku menatapnya.


Edmund hanya mengangguk tersenyum.


"Jarak waktu Orc berjaga tiga puluh detik sebelum Orc lain lewat, dan kita hanya punya waktu tiga puluh detik untuk sampai ke pintu luar..." Ungkap Neftaza yang menatap jam tangan nya.


"Dan kita hanya punya waktu tiga menit untuk pergi sejauh mungkin dari sini..." Ungkap ku serius.


"Aku akan membuat mereka tidak sadar akan kepergian kita..." Ungkap Edmund menatap kami bergantian.


Aku dan Neftaza saling tatap sebelum mengangguk.


"Kita akan pergi dalam hitungan ketiga,,, Pegang lengan ku kak..." Ungkap Edmund serius.


Tanpa berpikir panjang aku dan Neftaza memegang lengan Edmund dengan cepat, kemudian aku hanya merasakan semilir angin yang menyentuh kulit ku dengan kencang.


Edmund membawa kami berlari keluar dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kami berhenti di belakang bebatuan besar.


"Kecepatan turbo ini mah..." Ungkap Neftaza memegang kepalanya karena merasakan pusing, rambutnya sangat berantakan.


"Kenapa kita berhenti di sini??" Ungkap ku bingung menatap Edmund, ia hanya tersenyum licik.

__ADS_1


Ku tatap Edmund yang menatap dua Orc yang berjaga di depan pintu masuk, ku arahkan pandangan mata ku ke tangan kanan nya yang sedang mengeluarkan sihir berwarna merah. Kembali ku tatap matanya yang berwarna merah darah, sedang fokus menatap ke arah kedua Orc itu.


Aku menatap kedua tubuh Orc itu yang tiba-tiba hancur berkeping-keping di bawah obor api yang mereka letakkan di dinding batu, kemudian tampak sebuah sihir yang menutup pintu keluar itu dengan serangkaian-serangkaian benang berwarna merah.


"Kita harus cepat pergi dari sini..." Ungkap Neftaza yang tergesa-gesa karena melihat waktu yang tersisa.


Ku tatap jam tangan ku yang menunjukan bom waktu akan meledak dua puluh detik lagi. Aku menyuruh Edmund untuk membawa kami pergi dari sini. Aku memegang kembali lengan Edmund yang sangat dingin di telapak tangan ku walau ia sedang memakai pakaian tebal.


Dengan cepat kami berada di atas tebing menatap tempat itu yang sebentar lagi akan meledak.


"Ahhh... pusing lagi kepala gue..." Ungkap Neftaza yang masih mengeluh.


Ku arahkan pandangan mata ku ke arah jam tangan ku...


"Tiga... Dua... Satu... Booommm..." Ungkap ku dan Neftaza bersamaan.


Duar... Duar... Duar...


Ledakan bom itu sangat dasyat, membuat siapapun tidak akan selamat. Namun aneh nya, ledakan itu hanya berada di sekitar bukit bebatuan tempat mereka berada tanpa berserakan kemana-mana.


Apa ini karena sihir Edmund tadi???


Kami masih ingin memastikan agar tidak ada siapapun yang selamat dari ledakan itu. Aku menatap sekitar tempat itu dengan fokus menggunakan teropong ku yang terbaru, hehehe...


Tak beberapa lama kemudian tampak lah sebuah asap yang berbentuk seperti roh yang terbang ke atas lalu menghilang.


"Mereka pergi di tempat yang seharusnya mereka berada..." Ungkap Edmund yang menatap roh itu berterbangan kemudian menghilang.


Cukup lama kami memperhatikan bukit batu itu yang hanya meninggalkan bongkahan-bongkahan batu yang mengeluarkan asap.


"Semoga ini akhirnya..." Ungkap ku menghela nafas lega...


"Nef, gak usah manggil Zu ya..." Ungkap ku menatapnya.


"Ok..." Ungkap nya menatap ku tersenyum.


Aku dan Neftaza kembali memegang lengan Edmund untuk segera keluar dari hutan kematian ke perbatasan. Kami merasa jika para pangeran sedang menunggu kami di sana, siap-siap mendapat ceramahan... Yeayyy...


_


_


_

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah guys...


❤❤❤


__ADS_2