
Aku menatap sekitar kamar Neftaza, aku mencari keberadaan Hazel namun aku tidak melihatnya. Mungkin kah dia berada di ruang dimensi milik Neftaza?
"Dimana Hazel..???" Ungkapku menatap Neftaza yang masih sibuk memikirkan masalah tadi malam.
"Ohhh,,, Hazel di ruang dimensi gue, tenang aja..." Ungkapnya santai.
"Gue mau ke kamar mereka berdua,,," Ungkapku berbalik pergi meninggalkan nya...
"Ehhh.... Tunggu dong, gue ikut..."
Ungkap nya berlari menghampiri ku.
Aku melangkahkan kaki ku tanpa menghiraukan kannya, aku masuk ke dalam kamar Hasper namun ia tak berada di sana.
"Ahh... mungkin di kamar Casper..." Ungkap Neftaza.
Kami berdua kembali melangkahkan kaki kami ke kamar Casper, namun ketika kami membuka kamar nya kami tidak melihat mereka berdua di kamar.
Kami sangat terkejut, perasaan gelisah mulai menyerang. Kami khawatir jika ada masalah dengan mereka berdua, kami kebingungan untuk mencari mereka kemana.
Namun aku mendengar suara berbicara di pikiran ku.
"My lord, tenang lah... Mereka berdua berada di aula utama istana... Dan mereka baik-baik saja..."
"Kenapa mereka berada di sana?!"
"Sepertinya mereka memberikan kontribusi besar untuk penyelamatan istana ini malam tadi my lord..."
"Konstribusi besar? Apa yang mereka berdua lakukan?!"
"Di saat kalian pingsan, mereka berdua bersikeras untuk membantu mereka mengusir para roh jahat itu my lord."
"Baiklah, terimakasih Zu..."
"Sudah seharusnya my lord..."
Ku arahkan pandangan mata ku ke arah lorong istana, tampak dua orang laki-laki berjalan ke arah kami dengan tubuh tinggi nan gagah, mereka tersenyum seraya melambaikan salah satu tangan nya.
Kami berdua membalas senyuman mereka. Mereka adalah Hasper dan Casper, tersirat senyum kebahagiaan di wajah mereka yang terlihat datar pada waktu biasanya. Senyuman nya sangat mengagumkan.
Bayangkan saja, makhluk seperti Hasper yang selalu memasang wajah datar dan serius, sekarang tersenyum hangat di hadapan kami... Andai mereka bukan saudaraku mungkin aku mencintai mereka sebagai kekasih. (Please deh jangan menghayal...)
Sedangkan Casper, ia yang selalu memiliki sikap aktif dan ceria. Hanya dengan senyuman nya ia bisa mencuri hati para perempuan dengan mudah. Dia memang laki-laki yang soft boy. Sikap yang sangat cocok untuk menjadi kekasih (Menghayal terus dah... Gak bakal kesampaian mah punya kekasih yang begitu... Huhuhu.... Eh malah curhat, hehe...).
Akan sangat beruntung perempuan yang akan menjadi istrinya suatu saat nanti. Ku harap aku tidak pernah meninggalkan kalian. Tapi aku juga berharap aku bisa kembali ke dunia asal ku. Bolehkah aku bersikap serakah tuhan? Aku ingin berada di dua dimensi itu...
__ADS_1
"Selamat Gege... Kalian memang yang terhebat..." Ungkapku tersenyum menatap mereka berdua.
"Kalian sudah tau? Hah..." Ungkap Casper menatap kami lesu.
"Hahaha.... Apaan sih Gege, kan gak masalah kalau kami udah tau duluan..." Ungkap Neftaza tertawa.
"Tapi kalian baik-baik saja kan Gege?!" Ungkap ku memeriksa tubuh mereka.
"Tenang, kami kan kuat..." Ungkap Hasper narsis.
What? Ada apa dengannya? Tumben banget jadi lebay... Jadi lucu... Hahaha....
"Tapi ku rasa para roh jahat itu akan balik lagi menyerang para Elf... Aku yakin itu..." Ungkap Neftaza serius.
"Untuk ke depannya kita harus ekstra hati-hati. Tapi setidaknya kita mengetahui kelemahannya..." Ungkapku menatap Neftaza dan mereka berdua bergantian.
Kalian tahu apa kelemahan nya? Yuhuu benar... Kelemahannya adalah api untuk sekarang.
"Tapi kita jangan terlalu mengandalkan api, kita tidak tau kemungkinan ke depannya..." Ungkap Hasper serius.
Kami bertiga mengangguk. Kami berempat masuk ke dalam kamar untuk membahas hal lebih lanjut.
Ku tatap Hasper yang sedang mencari sesuatu di dalam laci kamar milik nya, sekarang kami berada di kamar Hasper.
Ia mengambil sebuah buku, ia membukanya.
"Kita harus menjaga buku itu baik-baik..." Ucap Casper menatap kami bergantian.
"Bukannya kemarin buku itu berada di ruang dimensi milik Neftaza Gege?!" Ungkap ku bingung.
"Iya, tapi gue ambil lagi dan gue lupa masukin ke ruang dimensi gue..." Sambung Neftaza.
Aku menatapnya tajam, dia sangat ceroboh.
Ia mengambil buku itu dari tangan Hasper dan memasukkan nya ke dalam ruang dimensi miliknya.
"Awww...." Terdengar suara Hazel yang kesakitan.
Dia keluar berbarengan dengan masuknya buku itu, sehingga ia bertabrakan.
"Hati-hati dong..." Ungkapnya terbang di hadapan kami dengan raut wajah kesalnya.
"Sorry... Gue gak sengaja..."
Kami tertawa dengan tingkah mereka berdua yang lucu... Ada-ada saja pun...
__ADS_1
Suasana kembali menjadi tenang, ku tatap Hazel yang turun di atas meja.
"Apa yang terjadi dengan kalian tadi malam?!" Ungkapnya serius.
"Entahlah... Tadi malam kami hanya merasa sangat pusing..." Ungkapku masih memikirkan kejamalam.
"Ketika aku ingin keluar dari ruang dimensi, aku sangat kesulitan sehingga aku tidak bisa keluar... Sepertinya aku terjebak di sana..." Ungkap Hazel lagi...
"Benarkah?!" Ungkap Neftaza bingung
Hazel mengangguk.
"Sebenarnya itu ulah para roh jahat, mereka berhasil menghancurkan pelindung (Lingkaran sihir)." Ungkap Hasper.
"Benar... Kami juga merasakan hal yang sama dengan kalian, namun kami berusaha untuk memberi tahu mereka tentang kelemahan nya..." Ungkap Casper.
"Gege... Apa sebaiknya kita harus pergi cepat dari sini? Aku takut semakin lama kita berada di sini akan semakin membahayakan nyawa kita..." Ungkapku khawatir.
"Entahlah... Jika suasana sudah membaik kita akan pergi dari sini Ela... Tenanglah..." Ungkap Casper.
"Kau hanya perlu menjaga dirimu dengan baik-baik..." Ungkap Hasper menatapku serius.
"Kau juga Nefta..." Ungkap Hasper tegas.
"Kami mengerti Gege..."
Ungkap kami berdua terdiam.
Aku berjalan ke arah jendela kamar Hasper, aku menatap pemandangan luar...
Aku bisa melihat kerusakan akibat penyerangan tadi malam, mereka masih dalam jumlah kecil namun kerusakannya bisa separah itu.
Aku tidak tau bagaimana kuatnya mereka saat mereka bersama dengan pemimpinnya. Mungkin istana ini akan hancur lebur. Aku memang tidak mengetahui kekuatan para bangsa elf, tapi aku banyak berharap pada mereka.
Ku tatap seseorang yang sedang berdiri di dekat bangunan runtuh itu, sepertinya tempat itu adalah sebuah gazebo besar milik istana dengan beberapa patung besar yang berdiri kokoh di dekatnya, namun sekarang yang tersisa hanya bongkahan-bongkahan batu tak berbentuk.
Aku menatap orang itu yang sedang berdiri menatap gazebo miliknya hancur, siapa lagi kalau bukan pangeran Deffin. Aku juga melihat para kesatria menyingkirkan batu-batu yang bertebaran di sana dengan bantuan sihirnya.
Sihir memang sangat mengagumkan, walau itu hanya sihir berwarna putih biasa namun sihir itu sangat membantu para Elf. Hah... Aku sangat iri. Setiap bangsa elf yang tidak termasuk darah bangsawan saja memiliki sihir... Aku benar-benar iri pada mereka.
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah....
__ADS_1
❤❤❤