
Ku tatap Neftaza yang sedang berjalan ke arah makanan yang di bawakan oleh bibi Lena.
"Mau makan Lo?!" Ungkapku memperhatikan nya.
"Enggak lah,,, gue udah curiga semenjak kejadian kemarin, gue gak mau mati konyol gara-gara makan racun kali... Gue gak bodoh..." Ungkapnya seraya menyingkirkan makanan itu.
Dia beranjak pergi ke arah pintu dan berbalik menoleh ke arah ku.
"Gue tunggu di kamar Casper..." Ungkapnya seraya pergi menutup pintu.
Ku tatap diriku di depan cermin.
"Semangat..."
Ungkapku seraya pergi ke kamar Casper. Yah aku tak akan melupakan benda-benda yang ku keluarkan.
Ku langkahkan kaki ku berjalan keluar, aku mendengar suara keributan di bawah. Aku berdiri di dekat pagar, tampaklah para elf yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Kau sangat kasihan pangeran. Di permainkan oleh kekasih yang kau cinta.." Aku mengucapkan nya karena berpikir atas kemalangan yang menimpa mereka. Terutama pangeran Deffin dan pangeran Alendra.
Ku arahkan pandangan mataku ke arah pintu Casper yang terbuka, tampak Neftaza keluar memanggil ku.
"Ngapain Lo di situ?!" Ungkapnya menatap ku.
"Kepo Lo ah..."
Aku berjalan ke arahnya dan langsung masuk ke dalam kamar Casper mengabaikan Neftaza.
"Dasar cewek bar-bar..." Ungkap Neftaza menutup pintu.
"Gue belajar dari Lo..." Ungkapku menggoda nya.
Ia menatapku tajam.
Ku tatap Hasper dan Casper yang sudah mulai makan tanpa menghiraukan kami.
Wah.. memang lah!!!
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" Ungkapku seraya menatap mereka yang sedang makan.
"Makan..." Jawab singkat Neftaza.
Dia memang... aish...
Kami bertiga menatap Neftaza tajam karena jawaban absurd nya.
"Selesai kan makanan mu..." Ungkap Hasper tajam ke arah ku.
It's ok..
Cukup lama kami menghabiskan makanannya dan langsung berdiskusi tentang apa yang akan kami lakukan hari ini.
"Jadi, jika pangeran Deffin tidak mempercayai kita lagi kita harus mencari pangeran Alendra untuk membantu?!" Ungkapku penuh tanya kepada mereka.
"Yups,,, benar sekali..." Ungkap Neftaza.
"Setidaknya kita harus mencari salah satu dari mereka yang mempercayai kita..." Ucap Casper menatapku.
"Baiklah... Urusan pangeran Alendra biar aku dan Angela yang mencobanya..." Ungkap Neftaza kepada kami.
__ADS_1
"Berarti Gege harus tetap berada di sini mengawasi mereka??!..." Ungkapku sedikit ragu.
Mereka mengangguk.
"Jika terjadi apa-apa segera hubungi Gege..." Ungkap Casper dengan raut wajah khawatir nya.
"Ok,,, tenang saja..." Ungkap Neftaza.
"Kita akan pergi nanti malam..." Ungkapku di setujui oleh nya.
"Btw, Lo udah tau tempat pangeran Alendra bersembunyi bukan?!"
Tanyaku memastikan.
Neftaza mengangguk.
Pukul enam petang kami mulai bergerak mengendap-endap ke arah belakang istana, sesekali kami melihat para kesatria penjaga sedang berjaga di sana. Kami bersembunyi dengan baik.
Kami berjalan dengan perlahan dan sesekali berlari. Setidaknya kami harus melewati dua kesatria penjaga lagi.
Sesampainya di lorong paling bawah, kami melihat dua kesatria penjaga berada di pintu bagian belakang.
"Kenapa mereka ada di sana segala sih?!" Ungkap Neftaza kesal....
Aku melempar batu ke arah barat mereka sehingga mereka terkecoh pergi mencari asal suara itu...
"Sekarang..." Ucapku seraya berlari keluar bersama Neftaza.
Kami berhasil keluar dari dua kesatria penjaga itu.
"Akhirnya..." Kami mengembuskan nafas lega.
"Awasi para manusia itu..." Ungkap menteri Hagrit.
"Baik tuan..." Ucap seseorang yang menggunakan cadar itu. Jelas dia adalah laki-laki dari suaranya yang terdengar berat.
Aku dan Neftaza bersembunyi di balik tanaman bunga. Tampak menteri Hagrit berjalan ke dalam istana, sedangkan seseorang yang berbicara dengannya segera melesat pergi.
Neftaza mulai mengetik pesan untuk memberitahukan kepada Hasper dan Casper.
Neftaza mengangguk, karena pesan tersebut sudah di baca oleh Hasper.
"Ok... let's go..." Kami segera pergi dari sana, tak lupa kami memakai cadar untuk berjaga-jaga.
Kami berlari dan berlari melewati aliran sungai air terjun, kami bisa melihat istana pangeran Deffin dengan jelas dari sini...
"Abaikan pemandangan itu..." Ungkapku menatap Neftaza yang ingin berbicara.
"Ya..." Kami segera berlari dan terus berlari pergi dari istana.
Sudah cukup lama kami berlari, sesampainya di hutan Neftaza menghentikan ku.
"Husth..." Ungkapnya menutup mulut ku.
Aku terdiam dan melihat arah pandangan Neftaza, aku mengikutinya. Tampak di sana terdapat seseorang yang sedang terluka bersama seseorang lagi sedang mengobatinya menggunakan sihir cahaya.
Aku menyingkirkan tangan Neftaza.
"Gue susah nafas kalau Lo dekep gue lama..." Ungkapku kesal.
__ADS_1
"Sorry..." Ungkapnya meringis.
"Jelas-jelas mereka adalah Elf bukan? Apa yang membuat mereka terluka?!" Ungkap Neftaza penasaran.
Emangnya gue ngerti? Haishh...
Kami hanya berdiam bersembunyi di belakang pohon untuk melihat kegiatan mereka, tampak tak jauh dari mereka aku melihat seseorang seperti tuan dari dua elf itu datang kepada mereka dengan sangat cepat.
"Bagaimana keadaan mu?!" Ungkap orang itu mendekat.
"Aku baik-baik saja pangeran, maafkan aku karena tidak berhasil menangkap bawahan pangeran Deffin..." Ungkap elf yang terluka itu tertunduk takut.
Kedua elf itu berdiri dengan tetap menunduk. Mereka bertiga kembali pergi ke arah barat tempat arah persembunyian pangeran Alendra.
"Sepertinya itu adalah pangeran Alendra..." Ungkapku menebak.
"Lo bener... Tampan guys..." Ungkap Neftaza tersenyum senang.
Memang sih...
"Lebih baik kita ikutin mereka..." Ungkapku mulai berlari meninggalkan Neftaza.
Kami berlari mengejar mereka walau pada dasarnya kami tertinggal sangat jauh, tapi setidaknya kami tahu arah mereka pergi.
Sudah cukup lama kami berlari terengah-engah karena ternyata perjalanan kami sangat jauh... Sesekali kami berhenti untuk istirahat sebentar.
Tak jauh dari kami berhenti kami melihat sebuah lampu berada di depan kami.
Ku langkahkan kakiku mendekati lampu itu, tampak jalan setapak menuju ke suatu tempat berada di sebelah kanan lampu itu.
Sepertinya ini jalan menuju ke tempat pangeran Alendra.
"Nefta cepetan dong..."
Neftaza masih beristirahat di sana, ia kelelahan karena terus berlari.
"Sebentar..." Jawabnya dengan suara masih terdengar tak beraturan.
Ia melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Kembali ku langkahkan kaki ku berjalan di jalan setapak itu di ikuti dengan Neftaza.
Ku arahkan pandangan mataku ke sekililing, aku hanya bisa melihat bahwa di sini hanya terdapat hutan. Kami terus mengikuti jalan setapak itu, kami melihat sebuah istana berada di sana.
"Wah,,, apaan itu?" Ungkap Neftaza terpesona.
"Istana pangeran Alendra lebih besar dan megah daripada pangeran Deffin..." Ungkapku menatapnya tanpa ragu.
"Lo benar..." Ungkap Neftaza seraya mengeluarkan handphone nya. Ia memotret istana pangeran Alendra dan mengirimnya ke Hasper dan Casper.
"Bagaimana cara kita masuk ke sana?!" Ungkapku mencari celah.
"Pikirkan nanti... Let's go..." Semangat Neftaza.
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
__ADS_1
❤❤❤