
Kami berjalan pergi meninggalkan tempat para Orc dulu tinggal untuk kembali ke istana Elf. Tampak matahari sudah mulai terbenam di arah berlawanan, hutan semakin lama semakin menggelap karena hilangnya pencahayaan yang di hasilkan matahari.
Ku langkahkan kakiku melewati jalan setapak yang ku lewati saat mencari Neftaza tadi, langkah kami tampak seirama dengan Hazel terbang sedikit mendahului kami. Ku tatap Neftaza yang sedikit kesusahan karena kakinya masih terasa sangat sakit.
Ia memaksakan kakinya yang terluka untuk mencari Hazel. Sangat ceroboh.
Aku hanya bisa mengatakan apa yang ku pikirkan di dalam pikiran ku.
Andai kau tau, aku sangat mencemaskan mu Rianda.
"Tunggu, bisakah kita istirahat sebentar,,, kakiku sangat lelah..." Ungkap Neftaza berhenti.
Ia kemudian duduk bersandar di sebuah pohon pinggir jalan setapak. Kami mengikutinya.
Dia benar-benar terlihat sangat kelelahan.
Sebenarnya kami bisa saja terbang kembali, namun itu sangat membahayakan jika bangsa elf melihat kami terbang. Sedangkan hari sudah malam, pasti mereka bisa melihat dengan jelas. Kekuatan mereka tidak bisa di remehkan.
Aku duduk di atas akar pohon yang tumbuh menjulang datar di atas tanah, ku tatap Hazel yang sedang duduk di dekat Neftaza.
"Apa Lo masih kesakitan Nef?" Ungkap ku memperhatikan nya.
"Masih... Gue nyesel juga nyariin Hazel..." Ungkapnya bercanda.
"Salah lo sendiri gak dengerin gue ngomong..."
Dia hanya terdiam memejamkan mata sembari bersandar merasakan sakit di bagian kakinya. Sebenarnya dia akan sembuh beberapa waktu lagi tapi karena masalah hari ini lukanya semakin memburuk. Itu memang salah dia.
"Beberapa hari lagi kita pasti bisa keluar dari istana Elf..." Ungkapnya memikirkan Hasper dan Casper.
"Ku harap Casper cepat siuman..." Ungkap Neftaza menatap lekat sesuatu di depannya.
"Hemm..."
Aku mengangguk.
Kami beranjak berdiri untuk berjalan kembali karena jika kami terus berada di sini kemungkinan akan sangat berbahaya jika ada binatang buas tiba-tiba menyerang kami dalam keadaan lemah seperti ini.
Neftaza berjalan perlahan mendahului ku dengan kaki nya yang pincang, sesekali ku dengar ia mengeluarkan suara kesakitan.
__ADS_1
"Hazel, apa kau merasakan sihir di sekitar sini?" Ungkapku seraya masih berjalan mengikuti Neftaza.
Hazel terbang mendekat.
"Tidak,,," Ungkapnya dengan mata menatap sekitar.
"Jika elf memiliki sihir juga apa mereka akan bisa mengetahui sihirmu? Lalu apa mereka bisa mengetahui jika seseorang peri datang bersama dengan kami?" Ungkap ku penasaran.
"Entahlah... Aku tidak mengetahui tentang itu. Tapi ku harap kita semua akan baik-baik saja. Untuk lebih baiknya biarkan aku tetap bersembunyi untuk mencegah sesuatu yang sulit kita hadapi." Ungkapnya terbang sejajar denganku.
"Baiklah,,, ku harap ke depannya tidak ada terjadi sesuatu yang membahayakan." Ungkapku berharap.
Dari kejauhan aku melihat beberapa kilatan cahaya berkumpul di sebuah pohon tak jauh dari istana Elf.
Siapa mereka? Bukankah mereka sesama bangsa Elf?
"Berhenti..." Ungkapku memeluk pundak Neftaza.
"Kenapa?!" Ungkapnya menoleh ke arahku.
Tanpa basa-basi aku menariknya untuk bersembunyi di balik pohon besar. Kami berjongkok di balik pohon dengan semak-semak yang tumbuh sedikit lebih tinggi. Kami memperhatikan mereka dengan hati-hati.
"Apa Lo gak lihat kalau di pohon itu tadi ada kilatan cahaya Elf?!" Ungkapku seraya menunjuk pohon tempat Elf itu bersembunyi.
"Hazel... Apa kau merasakan sihir mereka?!" Aku menatap Hazel yang sedang terbang di ranting pohon. Ia menoleh dan turun ke arahku.
"Sepertinya mereka memiliki niat jahat..." Ungkap Hazel serius.
Niat jahat? Apa mereka musuh pangeran Deffin? Tapi kenapa? Bukankah bangsa Elf seharusnya saling bersatu? Entahlah... Itu cukup membingungkan.
"Aneh gak sih?" Ucapku bertanya kepada Neftaza yang masih memperhatikan mereka.
"Mereka kegnya memang benar-benar musuh dari pangeran Deffin deh, kan gak mungkin juga kalau mereka sekutu tapi ngumpet-ngumpet gitu." Ungkapnya tanpa menoleh.
Kami berdiam cukup lama memperhatikan para elf yang bersembunyi di sana, ku alihkan pandangan mataku ke sekitar tampak seseorang dari arah belakang kami membawa sebuah obor api.
Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju istana, sesekali ia melihat ke belakang dengan badan yang berkeringat, ingin sekali ku cegah ia namun aku tidak bisa keluar dari persembunyian ku begitu saja. Ku perhatikan ia yang tetap santai tanpa merasa ketakutan sedikit pun.
Kembali ku arahkan pandangan mataku ke tempat para elf itu bersembunyi, mereka pergi karena melihat seseorang membawa obor api ke arah mereka. Kilatan-kilatan cahaya itu semakin menjauh pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Apa mereka takut ketahuan? Mungkin saja.
Ku tatap seseorang yang membawa obor api itu, tampak dari kajauhan samar-samar bahwa dia adalah paman yang mengobati luka kami. Ya dia adalah tabib istana, tapi dari mana dia? Ah mungkin dia mencari tanaman obat herbal....
Tampak dari kejauhan ada seseorang yang mengikuti paman itu.
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka saling mengikuti. Sepertinya aku dan Neftaza berada di tempat yang tidak tepat.
Ku arahkan pandangan mataku ke paman yang hampir berjalan di jembatan menuju istana, di saat itulah seseorang yang mengikuti nya berhenti di balik pohon tempat para elf tadi bersembunyi.
Aku masih bingung, sebenarnya siapa mereka? Tanpa sengaja ada suara ranting yang terpijak oleh sesuatu, yang jelas itu bukan kami. Aku mengarahkan pandangan mataku mencari asal suara itu, tapi aku tidak menemukan nya.
Kembali ku tatap seseorang yang bersembunyi tadi, namun dia menghilang.
Aneh? Kemana dia? Secepat itukah dia pergi. Ku tajam kan mataku lekat-lekat mencari jejak orang itu tapi tetap saja aku tidak menemukan nya. Lima menit aku mencari tanpa bergerak tapi dia hilang tanpa jejak.
"Apa dia manusia?!" Ungkap Neftaza yang juga mencari.
"Entahlah... Dia hilang seketika, gue juga bingung kenapa bisa gitu. Apa ada orang lain yang mengalihkan pandangan kita agar orang yang kita lihat bisa kabur gitu aja?!" Ungkapku seraya memperhatikan sekitar.
"Pasti,,, gak mungkin sih kalau binatang, karena selama kita berada di sini kita gak nemuin binatang kan? Ada sih tapi di penjara Orc." Ungkapnya berpikir.
"Tadi saat kalian mencari asal suara itu, aku melihat dia berlari seperti Elf yang pertama kita lihat." Ungkap Hazel.
"Tapi kenapa saat membuntuti paman tabib dia berjalan layaknya manusia?!" Ungkapku penasaran dan di angguki Neftaza.
"Gue juga mikirnya gitu." Sambung Neftaza.
"Aku gak tau pastinya, sepertinya mereka mengincar sesuatu." Ungkap Hazel terbang ke atas.
"Lebih baik kita cepat kembali sebelum terjadi apa-apa dengan kita, kan gak lucu..." Ungkapku beranjak berjalan di ikuti dengan Neftaza dan Hazel yang terbang mendahului ku.
-
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
__ADS_1
❤❤❤