
Ku tatap anak tangga yang otomatis bergerak turun di hadapan kami ketika kami sudah berdiri di tengah-tengah ruangan. Bukankah ini sangat menakjubkan? Seperti mesin otomatis.
Ku langkahkan kaki ku mengikuti langkah kaki Neftaza yang berjalan duluan menaiki anak tangga seraya memapah tubuh Edmund, sedang kan aku membantunya dari belakang.
Kami cukup kesulitan membawa Edmund ke atas, karena tangga menuju ke lantai atas sangat sempit bahkan lebar nya hanya muat untuk satu orang lebih sedikit.
"Perasaan badan gue gak gendut deh, tapi ini kok sempit banget sih... Heran gue..." Ungkap Neftaza kesal seraya mengeluarkan suara erangan karena berat tubuh Edmund.
"Sabar deh, gak usah ngeluh..." Ucap ku berbisik.
"Jangan berisik..." Ungkap ku memperingati nya...
Saat berada di atas kami menghembuskan nafas lega karena berhasil membawa Edmund dari rintangan kecil, kekeke....
Aku dan Neftaza terduduk membiarkan nafas kami kembali normal, ya kami mengistirahatkan tubuh kami seraya membaringkan tubuh Edmund di lantai.
Tak beberapa lama kemudian, pancuran itu kembali bergerak menutup, menjadi seperti semula.
"Memang keren..." Ungkap Neftaza menatap pancuran itu yang mengeluarkan asap dengan air yang meluap mendidih, tapi aneh nya air itu tidak panas, sihir kah?
Aku beranjak berdiri untuk mengambil salah satu kendi di atas lemari batu itu. Seraya ku arahkan pandangan mata ku ke arah Neftaza yang masih menatap pancuran itu.
"Ini yang mana??" Ungkap ku.
Ia menoleh ke arah ku seraya berdiri berjalan menghampiri ku.
"Entah lah... Mungkin semuanya bisa..." Ungkap nya kurang yakin.
"Heh... Kalau berbahaya buat dia gimana? Jangan bercanda deh... Serius..." Ungkap ku sedikit kesal.
"Gue cuma tau kalau buat nyembuhin kekuatan elf, itu dari salah satu kendi di hadapan kita.." Ungkap Neftaza yang menatap ku lekat.
"Ok lah... kita coba aja yang ini..." Ungkap ku seraya mengambil salah satu kendi yang berwarna cokelat di kotak lemari yang paling tengah.
Aku membawanya ke hadapan Edmund. Aku bertekuk berjongkok seraya meletakkan kendi itu di lantai dekat kepala Edmund, aku membuka tali lalu mengangkat kain transparan.
Tampak di dalam nya terdapat sebuah botol kecil berwarna hijau dengan bau yang sangat menyengat.
"Bau nya kok gini banget sih??" Ungkap ku seraya menutup hidung ku begitu pun Neftaza.
"Mana gue tau..." Ungkap Neftaza acuh seraya menghindari kendi itu.
"Apa kita salah ambil?? Coba deh Lo buka salah satu kendi yang berwarna hitam di ujung kanan botol samping kendi ini..." Ungkap ku seraya menunjuk kendi itu.
Tanpa menjawab Neftaza bergegas mengambil kendi itu kemudian meletakkan nya di bawah, ia membukanya seraya mengeluarkan sebuah botol yang berwarna merah.
__ADS_1
"Yang ini gak bau keg itu..." Ungkapnya seraya menghampiri ku.
"Terus kita pilih yang mana???" Ungkap ku bingung.
Kami berdua saling tatap karena tidak mengetahui kami harus memilih yang mana. Kami cukup lama terdiam sebelum memutuskan untuk memberikan Edmund cairan yang berwarna hijau.
"Lo yakin???" Ungkap Neftaza menatap ku aneh.
"Coba aja dulu... Kalau gagal ya coba lagi..." Ungkap ku tersenyum jahil kepada nya.
"Ok lah..." Ungkapnya menatap ku lekat.
Aku mengeluarkan botol itu dari kendi, dan membuka penutup botol seraya ku tahan nafas ku agar tidak mencium bau yang sangat menyengat, bau yang sangat aneh.
Aku meminumkan nya ke mulut Edmund dengan perasaan yang lumayan takut jika ramuan itu bukan lah ramuan penyembuh yang sebenarnya.
Aku dan Neftaza saling tatap, karena Edmund tidak mengeluarkan ekspresi sedikit pun. Ketika kami ingin beranjak berdiri karena mengira kami salah ramuan, aku mendengar Edmund batuk.
Aku dan Neftaza menatapnya karena tiba-tiba Edmund mengeluarkan cahaya yang membuat ruangan ini bersinar terang dalam sekejap.
Kami menutup mata untuk menghindari cahaya yang menyilaukan. Cukup lama kami memejamkan mata, kami mendengar suara seseorang berbicara. Kami membuka mata memastikan jika yang berbicara itu adalah Edmund.
"Kak Ela... Kak Nefta..." Ungkap nya duduk di hadapan kami dengan keadaan yang masih sedikit lemah.
"Aku baik-baik saja kak... uhuk... uhukk... hanya sedikit sakit..." Ungkapnya lemah.
"Minum lah vitamin ini..." Ungkap Neftaza yang memberikan sebuah vitamin kepada Edmund.
"Lo yakin Nef??" Ungkap ku menatap nya aneh.
"Coba aja,,, kalau gagal ya berarti memang gak cocok..." Ungkapnya masih memberikan vitamin itu kepada Edmund.
"Minum lah..." Ungkap ku menatapnya.
Ia menurut dan menelan vitamin itu dengan cepat.
Aku dan Neftaza membereskan kendi-kendi itu agar tidak ada yang curiga terhadap kami.
Kami berdua menunggu Edmund yang sedang memulihkan tubuh nya dengan duduk bersila, sepertinya ia menyerap energi dari luar.
Sekitar lima belas menit kami duduk menunggu Edmund yang masih memejamkan matanya.
"Gue ngantuk banget..." Ungkap Neftaza memecahkan keheningan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar pintu, tampak nya ada dua Orc yang sedang berjaga di sana.
__ADS_1
"Hustt..." Ungkap ku menatap Neftaza lekat.
Kami berdua berdiam karena kami harus menunggu Edmund untuk memulihkan kekuatannya agar kami bisa pergi dari sini tanpa kesusahan sedikit pun.
Aku mendengar samar-samar dari dinding pintu bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu.
"Apa kau tidak curiga, sampai sekarang bangsa Elf tidak menemui kita??" Ungkap salah satu Orc itu.
"Tugas kita hanya berjaga, kita hanya perlu memastikan jika mereka tidak kabur dari sini..." Ungkap Orc lain nya dengan suara yang sedikit lebih besar.
Tidak ada suara lagi dari mereka, sepertinya mereka memang benar-benar berjaga di balik pintu.
Aku dan Neftaza saling tatap, karena kami harus membuat dua Orc itu mati sebelum kami ketahuan oleh para roh jahat itu.
"Jika kekuatan Edmund pulih, bukan kah mereka bisa merasakan sihir Edmund??" Ungkap Neftaza berbisik kepada ku.
"Gue gak tau, tapi gue berharap mereka gak tau tentang kekuatan Edmund yang udah pulih..." Ungkap ku menatap Edmund yang masih memejamkan mata.
"Kita hanya punya waktu dua jam lagi sebelum matahari terbit Nef..." Ungkap ku mengalihkan pandangan mata ku ke arah Neftaza.
Ia hanya menatap ku tanpa berbicara, raut wajah nya kembali serius menatap Edmund.
Tiba-tiba Edmund membuka matanya dan berbicara...
"Kak..." Ungkapnya terpotong karena Neftaza memberikan isyarat untuk terdiam.
Edmund mengerti.
Edmund beranjak berdiri menghampiri kami yang berada tepat di depan pintu.
"Kita harus membunuh kedua Orc itu tanpa menimbulkan suara..." Ungkap ku menatap Edmund serius.
"Tenang saja kak..." Ungkap Edmund percaya diri.
Tiba-tiba ia menyuruh kami untuk bersembunyi di belakang pintu, tampak nya ia mulai berakting untuk memancing kedua Orc itu masuk.
_
_
_
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
(Maaf, lama update 🙏)
__ADS_1