TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 90


__ADS_3

"Apakah kalian pernah mengunjungi Padang bunga di sebelah timur hutan ini? Jika kalian pernah melihatnya kalian bisa melihat sebuah hutan yang mati di sebelah timur Padang bunga..." Ungkap pangeran Deffin.


"Ya, aku mengingat nya... Kami pernah melihat hutan yang mati seperti pernah terjadi kebakaran di sana..." Ungkapku menatap Hasper dan Casper sebelum menatap mereka.


"Itu adalah tempat yang terlarang bagi kami bangsa Elf, kami tidak bisa masuk ke dalam hutan itu..." Ungkap pangeran Alendra serius.


"Jika memang mereka membawa nona Neftaza dan pangeran Edmund ke sana... Kami akan sangat kesusahan mencari mereka..." Ungkap pangeran Andrew.


"Kenapa tempat itu menjadi tempat terlarang untuk bangsa Elf?!" Ungkapku penasaran menatap mereka bergantian.


Mereka menatapku dengan tatapan yang tidak ingin memberitahu kan penyebab mereka tidak bisa masuk ke dalam hutan itu.


"Jika..." Ungkapan ku terhenti karena pangeran Alendra berbicara.


"Itu adalah rahasia para leluhur, kami hanya bisa mengikuti perintahnya..." Ungkap pangeran Alendra.


Hasper menatapku dengan sedikit menggelengkan kepalanya, aku mengerti apa yang ia maksud.


"Lebih baik aku keluar terlebih dahulu..." Ungkapku sedikit menundukkan tubuh ku seraya ku ambil handphone Neftaza di atas meja.


Ku berbalik melangkahkan kaki ku pergi ke arah pintu, aku keluar dengan perasaan yang sedikit kesal.


Ku arahkan pandangan mataku ke sisi kiri, tampak di seberang tebing dekat air terjun aku melihat sekilas sesosok makhluk yang sama persis seperti makhluk yang menculik Neftaza.



"Tunggu,,,, itu adalah Orc assassin..."


Ungkapku menatap tempat terakhir makhluk itu bersembunyi.


"Mungkin kah mereka adalah teman dari para Orc yang kami bunuh itu? Ini sangat gawat..."


Aku berlari meninggalkan tempat itu kembali ke kamar ku, aku membuka pintu ku dan memastikan bahwa pintu ku tertutup dengan sempurna.


Ku langkahkan kaki ku ke arah jendela kamar ku, ku kunci jendela kamarku dengan cepat. Kembali aku berjalan ke arah tempat tidurku, aku terduduk seraya memanggil Zu.


"Zu, apa kau mendengar ku?!"


"Aku selalu bisa mendengar mu my lord."


"Apa kau tau bagaimana keadaan Neftaza?"

__ADS_1


"Dia akan baik-baik saja my lord, Ryu selalu melindungi nya..."


"Lalu dimana Neftaza berada?"


"Seperti yang di katakan para bangsa elf my lord, mereka berada di hutan kematian..."


"Bisakah kau membawa ku ke sana Zu?"


"Aku hanya bisa membawamu ke pinggir hutan kematian my lord, aku tidak bisa masuk ke alam milik mereka dengan mudah... Karena itu akan sangat membahayakan dirimu maupun saudara my lord..."


"Bagaimana jika aku sendiri yang masuk?!"


"Apa kau yakin my lord? Itu sangat berbahaya? Bagaimana jika kalian terluka di sana?"


"Aku yakin kau akan selalu datang menyelamatkan ku Zu..."


"Baiklah my lord, aku akan membawamu ke sana..."


Tiba-tiba tubuhku melayang dengan angin memutar yang mengelilingi tubuh ku. Saat pandangan mata ku menatap sekitar aku hanya melihat putaran angin yang sangat cepat.


Samar-samar terlihat pemandangan hutan yang mati. Sekarang kaki ku menyentuh tanah padang bunga, sebagai tempat perbatasan antara hutan kematian dengan hutan bangsa Elf (Anggap saja hutan bangsa elf yah hehe...).


"Sangat ajaib..."


Aku memastikan pistol ku berada di tempat yang seharusnya, aku juga menyiapkan sebilah pisau yang selalu berada di sepatu ku, aku tidak ingin mengambil resiko untuk tidak membawa senjata.


Sekarang aku benar-benar sudah memasuki hutan kematian dengan mataku yang masih was-was dengan sekitar ku.


"My lord, kau hanya perlu menghindari mereka... Jangan gegabah, lakukan apa yang menurutmu bisa menyelamatkan hidup mu my lord..."


Terdengar Zu berbicara di dalam pikiranku.


"Kau bisa mempercayai ku Zu..."


"Panggil nama ku tiga kali my lord, namun di waktu yang benar-benar diri mu mengalami bahaya... aku akan menyelamatkan mu dengan cepat..."


Aku berhenti sejenak di belakang pohon besar yang kering.


"Apa maksudmu Zu? Apa aku hanya bisa memanggilmu satu kali?"


"Benar my lord, kita hanya punya satu kesempatan satu kali.. Berhati-hatilah..."

__ADS_1


Suara Zu tiba-tiba menghilang dari pikiranku, sekarang aku benar-benar sendirian.


"Baiklah... Aku harus berhasil..."


Kembali ku langkahkan kaki ku memasuki hutan kematian dengan waspada. Ku tatap sekitar hutan yang benar-benar mati tidak ada kehidupan apapun sama sekali, maksudku pohon, rumput ataupun binatang sama sekali tidak ada di hutan ini.


"Ini benar-benar hutan kematian..."


Semakin lama aku berjalan semakin lama pula aku masuk ke dalam hutan, setiap aku menatap daerah sekitar aku tidak menemukan satu pun Orc ataupun makhluk-makhluk yang lain.


"Apakah mereka benar-benar tidak mengetahui keberadaan ku??!" Ungkapku sedikit ragu.


"Sebaiknya tidak..."


Saat pandangan ku sedikit lemah karena matahari mulai terbenam, aku melihat sekawanan Orc assassin berjalan tak jauh dari tempatku berada. Aku bersembunyi di batang pohon besar yang tumbang dengan lutut ku bertekuk berjongkok dengan perasaan yang sangat takut.


Tubuh ku tidak bisa berbohong, sekarang tubuh ku sedikit gemetar hanya karena melihat para Orc itu. Itu sangat menakutkan.


Jika aku bisa memilih, lebih baik aku berhadapan dengan manusia yang benar-benar manusia bukan makhluk-makhluk seperti mereka. Dunia fantasi memang benar-benar sangat menakutkan.


Aku mengintip dari sela-sela kayu yang rapuh, mereka berjalan ke arah ku dengan pandangan mereka melihat ke sekitar. Tiba-tiba salah satu dari mereka berhenti, tampak ia sedang mengendus-endus sesuatu.


"Sepertinya aku mencium sesuatu..." Ungkap Orc yang berdiri paling depan dengan tubuh yang lebih besar daripada yang lain.


"Kau benar, aku mencium bau tubuh manusia di sekitar sini..." Ungkap Orc yang tubuh nya sedikit lebih tinggi daripada yang lain.


Ya tuhan aku lupa, mereka bisa mencium bau tubuh manusia... Aku cepat-cepat membasuh ku dengan tanah kering yang ku pijak. Aku sangat berharap mereka tidak menemukan ku di sini.


Tubuh ku meringkuk ketakutan berharap mereka tidak menemukan ku di sini.


Kembali ku beranikan diriku untuk mengintip para Orc itu, mereka berjalan menyebar mencari bau tubuh ku. Ini sangat menyesakkan. Ini sangat tidak menguntungkan ku.


Jika saja hutan ini memiliki pohon yang masih tumbuh subur, aku bisa bersembunyi di sana namun apa yang ku lihat? Bagaimana aku harus bersembunyi?


Aku menoleh ke arah belakang ku, aku melihat setumpuk pohon tumbang tak jauh dari tempat ku bersembunyi.


"Aku harus ke sana..." Gumam ku pelan.


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah...


❤❤❤


__ADS_2