TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 144


__ADS_3

"Dengar kan aku... Aku tak mengulangi perkataan ku yang kedua kali nya..." Ucap ku menatap mereka serius.


"Aku memiliki seekor naga... Seekor naga api tepat nya."


"Kau tak bercanda bukan?" Ucap Gazelle terkejut.


"Apa aku harus menghancurkan desa perompak ini untuk membuktikan keberadaan mereka putri Gazelle?"


"Hemmm.... Aku mempercayai mu..." Ucap Felis, mereka semua menatap nya penuh curiga.


"Ada apa dengan mu Gege?" Ucap Gazelle curiga.


"Aku mempercayai nya, salah kah?" Ucap Felis memalingkan pandangannya dari Gazelle.


Kami semua terdiam. Tak tau ingin mengucapkan apalagi.


___________


Tok... Tok... Tok...


Seseorang mengetuk pintu dengan sedikit keras. Ku alihkan pandangan mata ku menatap Gazelle yang berjalan ke arah pintu. Di buka nya pintu itu dengan cepat, tampak lah seorang laki-laki yang memiliki perawakan tinggi dan memiliki kulit kuning sawo matang dengan alis yang sangat tebal berdiri menunduk di hadapan Gazelle.


Gazelle mengangguk seraya kembali berjalan ke arah tempat nya tadi, laki-laki itu melangkahkan kaki nya masuk ia menoleh ke belakang menutup pintu kembali. Menoleh kembali ia ke arah kami, tampak Hasper berdiri berjalan ke arah nya.


"Apa dia menyetujui kedatangan kami Venan?" Ucap Hasper yang menatap laki-laki itu dengan tatapan serius.


Laki-laki yang di panggil Venan mengangguk.


"Tapi... Aku mengkhawatirkan putri... Bukan kah tuan Fegis menginginkan nya sebagai salah satu persyaratan nya?" Ungkap Venan menatap ku, kembali ia menatap Hasper dengan khawatir.


"Kau tenang saja..." Ucap ku.


"Kami memiliki cara untuk menakluk kan tuan mu..." Ucap ku lagi.


Venan menatap ku tak percaya, kemudian tampak Felis mengangguk kan kepalanya. Venan mengerti.


"Tunggu apalagi, kita harus menemui Fegis sekarang juga..." Ucap ku tersenyum dari balik cadar ku.


Beranjak Venan berjalan ke arah pintu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ikut beranjak kami mengikuti langkah kaki nya yang sudah sampai di luar pintu. Seseorang menggenggam tangan kanan ku. Aku berbalik menatap nya, tampak Casper tersenyum kepada ku dengan tipis.

__ADS_1


Ku tatap Hazel yang berada di belakang Casper membawa sebuah tas kecil di pinggang nya, terbang ia ke arah Casper. Ia masuk ke dalam saku baju milik Hasper yang dia gunakan sebagai tempat persembunyian.


Aku berhenti sejenak menatap mereka semua yang berdiri melihat ku dengan senyuman.


"Hati-hati loh... Awas riasan mu luntur..." Ucap Gazelle tersenyum menatap ku.


Aku mengangguk membalas senyuman nya.


"Nef... Lo juga hati-hati ok..." Ucap ku mentapa nya seraya kembali berjalan mengikuti Venan dan yang lain.


Ku rasakan tangan Casper yang menggenggam tangan ku dengan erat, aku menatap nya dari samping belakang. Ia tampak sangat kuat ketika mengalami keadaan seperti ini.


Seseorang menepuk bahu kiri ku, aku menoleh menatap nya. Terlihat pangeran Felis menatap ku dengan tatapan serius.


"Hati-hati dengan riasan mu..." Ucap nya menatap lurus ke depan.


Aku mengangguk, kembali ku arahkan pandangan mata ku lurus ke depan menatap Venan dan Hasper yang berjalan berdampingan menuruni anak tangga menuju ke pintu luar penginapan.


"Tunduk kan kepala mu..." Ucap Hasper yang berhenti menoleh menatap ku dengan waspada.


Lagi-lagi aku mengangguk.


Berhenti kami di depan gerbang penginapan, tampak Venan, mengambil kereta kuda yang berada di samping kanan gerbang yang terlihat lumayan. Naik ia di kursi kusir seraya menarik tali kekang kuda mendekati kami.


Apa harus gini? Lebay banget gak sih..


Aku meraih tangan nya seraya masuk ke dalam kereta kuda di ikuti Casper dan Felis yang duduk di samping kanan dan kiri ku.


"Aku seperti adik yang baru saja kabur dan di temukan oleh kalian..." Ungkap ku menatap mereka dengan tajam.


"Aku memang seorang adik bukan?" Ungkap Casper menatap ku tanpa senyuman.


"Hemmm..."


Suara Venan terdengar, berbarengan dengan kereta kuda yang bergerak perlahan. Aku duduk dengan posisi yang cukup menyesak kan. Apakah harus begini? Aku seperti di penjara.


Ku arah kan pandangan mata ku menatap ke arah kiri ku, tampak Hazel keluar dari saku baju milik Casper. Terbang ia ke arah depan ku, ia mengeluarkan bungkusan daun yang sangat kecil dari balik pakaian yang ia gunakan.


"Boleh kah aku menggunakan ini?" Ungkap nya menatap ku lekat.

__ADS_1


"Racun?"


Ia mengangguk.


"Apa aku boleh membunuh mereka?" Ucap nya tersenyum sarkas.


"Jangan asal bunuh, dosa tau..." Ungkap ku.


"Astaga... Lebih baik aku tak meminta izin dari mu Angela... Kau sangat bodoh..." Ucap nya yang terbang ke arah Hasper, duduk ia di pundak kanan Hasper.


"Aku hanya bercanda, kau boleh menggunakan itu dan kau boleh membunuh mereka..." Ucap ku tersenyum dari balik cadar ku.


Cukup lama kereta kuda kami berjalan, tiba-tiba kereta kuda kami berhenti. Terdengar suara Venan yang menyuruh kami untuk segera turun dari kereta kuda.


Ku tatap Hasper yang beranjak bergerak turun terlebih dahulu, ia memegangi pintu kereta kuda agar mempermudah kan ku untuk turun.


Tubuh ku bergerak sedikit menunduk keluar dari kereta kuda, berdiri aku menatap sebuah rumah yang pernah di kunjungi oleh Hasper dan Casper berada di hadapan ku.


Ku alih kan pandangan mata ku menatap Venan yang turun dari kursi kusir nya berjalan ke arah kami, mengangguk ia mempersilahkan kami untuk segera mengikuti nya.


Ku tatap Venan yang berbicara kepada dua orang penjaga yang memiliki bekas-bekas sayatan di wajah nya dengan pandangan mata nya menatap kami dengan penuh penekanan.


Salah satu penjaga membuka pintu besar itu dengan suara yang terdengar sangat berat, Venan berjalan masuk di ikuti oleh Hasper. Ku langkah kan kaki ku mengikuti mereka berdua dengan Casper dan Felis berada di kanan kiri tubuh ku.


Kami berjalan masuk menatap sekitar ruangan yang cukup gelap dengan Venan terus berjalan lurus ke depan tanpa menghentikan langkah kaki nya.


Kami mengikuti nya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sesampai nya di ujung lorong terdapat pintu yang lebih besar dari pada pintu luar, dengan dua penjaga berada di kanan kiri pintu itu. Di buka nya pintu itu, tampak lah sebuah ruangan yang sangat besar berada di sana, kami melangkahkan kaki masuk mengikuti Venan yang sudah berdiri di hadapan seorang laki-laki yang memakai topeng emas.


Kenapa dia memakai topeng? Buruk kah muka nya?


"Apa dia jelek Gege?" Bisik ku pelan...


"Tunduk kan kepala mu Ela..." Ucap nya penuh penekanan...


_


_


_

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah guys...


❤️❤️❤️


__ADS_2