TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 181


__ADS_3

Ku tatap ia dengan lekat ketika ia menoleh ke arah ku dengan tatapan serius, ia menjatuhkan sesuatu seraya berbalik ia pergi meninggal kan tempat itu tanpa berbicara kepada ku.


Ku langkah kan kaki ku mendekat ke arah ia menjatuh kan sesuatu tadi, ku raih sebuah kertas yang bertuliskan sebuah alamat penginapan yang berada tak jauh dari ku berada.


"Penginapan mawar?" Gumam ku pelan, seraya berdiri aku di samping kuda ku dengan tangan ku meraih tali kuda ku yang ku lepaskan tadi.


Ku arahkan pandangan mata ku menatap ke sekitar, aku tidak melihat pergerakan apapun yang mencurigakan. Ku tunggangi kuda ku seraya ku arah kan kuda ku meninggalkan tempat itu. Kuda ku berjalan dengan perlahan, sembari menunggu Hazel yang belum kembali.


Sesekali aku berhenti menoleh ke arah pintu gerbang, dengan kedua kesatria penjaga yang tak melakukan apapun di sana kecuali sesuatu yang memang sudah menjadi tugas nya.


"Neftaza..." Ucap nya yang tiba-tiba datang dari arah belakang ku, bukan dari arah depan ku.


"Apa yang kau temukan?" Tanya ku, ketika Hazel masuk ke dalam saku pakaian ku.


"Lebih baik kita cari tempat untuk bersembunyi." Ucap nya, dengan suara yang terdengar tergesa-gesa.


Ku tarik tali kuda ku dengan perlahan, seraya ku arah kan pandangan ku mencari penginapan mawar yang tertulis di kertas itu.


Setelah beberapa menit mencari, aku menemukan penginapan itu dengan kerumunan orang yang terlihat ramai di dalam penginapan itu.


Aku turun, seraya ku ikat kuda ku di kayu yang berada di samping penginapan itu. Aku berjalan masuk ke penginapan dengan seseorang berpakaian serba hitam menghampiri ku, ia tersenyum seraya menggerakkan sebelah tangan nya yang mengarah ke arah dalam.


"Nona, ikuti aku... Tuan sudah menunggu mu." Ucap nya sopan, ia berjalan di depan ku dengan perlahan, sesekali ia tersenyum kepada orang yang menyapa nya terlebih dahulu.


"Apa kau dengar itu?" Ucap ku pelan.


"Ya, aku mendengar nya." Jawab Hazel pelan.


"Apa kau mengatakan sesuatu nona?" Ucap pria itu, menoleh ia ke arah ku dengan raut wajah penuh pertanyaan.


"Hemmm... Sejak kapan kau berpihak pada nya?" Ucap ku, ia kembali melihat ke arah depan nya.


"Hemmm... Mungkin sudah bertahun-tahun nona, aku berteman baik dengan nya." Ucap nya tanpa menoleh ke arah ku.

__ADS_1


Ia berhenti di depan sebuah pintu kamar yang berada di paling ujung lorong, ia mengetuk pintu dengan ketukan tiga kali. Seseorang membuka kan pintu itu dengan pria yang menunjukkan jalan tadi menundukkan kepala nya kepada ku, kemudian ia berbalik pergi meninggalkan ku.


Aku menatap seseorang yang sangat ku kenal berada di dalam kamar itu dengan seseorang yang membuka kan pintu tadi adalah Devmir.


"Maafkan aku, tak langsung membawa mu kemari putri." Ucap nya menundukkan kepala kepada ku.


"Gak masalah." Ucap ku seraya masuk aku ke dalam kamar itu.


"Astaga bang Andara, apa yang terjadi? Kenapa gak ngabarin kami sih?" Ucap ku kesal, saat ku tatap bang Andara yang sedang duduk di sebuah meja depan tempat tidur nya dengan santai.


"Banyak kendala Rianda, Abang gak bisa ngabarin kalian." Ucap nya, seraya menggerakkan tubuh nya dengan perlahan.


"Ada apa dengan mu bang?" Ucap ku terkejut saat ku perhatikan ada yang salah dengan nya.


"Pangeran terluka putri..." Jawab Devmir, seraya membantu bang Andara untuk pindah ke atas tempat tidur.


"Bagaimana bisa?" Ucap ku, seraya ku gerakkan tubuh ku mendekat ke arah nya. Ku tatap ia yang selalu menyentuh ke arah dada kiri nya, ia terlihat sangat lemah dan pucat.


"Sesuatu terjadi beberapa hari yang lalu putri." Ucap Devmir, ia duduk di kursi samping tempat tidur milik bang Andara.


"Kami berhasil selamat karena sesuatu membantu kami, walau sedikit terlambat." Ucap nya, ia menatap ke arah bang Andara dengan tatapan sedih.


"Siapa?" Ucap ku sedikit khawatir.


"Mungkin kah itu Ryu?"


"Aku merasakan sihir yang begitu kuat Nefta.." Sambung bang Andara.


"Tidak. itu sangat kuat..." Ucap nya lagi.


"Lalu dimana dia?" Ucap ku penuh kekhawatiran.


"Apa ini alasan kenapa Ryu tak bisa mengabari ku?"

__ADS_1


"Abang gak tau persis siapa yang membantu Abang Nefta, karena pada saat itu keadaan sangat kacau. Aku tidak tahu bagaimana bisa mereka menemukan kami, padahal kami sudah menciptakan sihir untuk melindungi kami dari penyihir manapun." Jelas bang Andara dengan suara yang terdengar bergetar.


"Kita berada di kerajaan penyihir bang, jika itu bukan rumor." Ucap ku, seraya duduk aku di dekat nya.


"Bang, dimana handphone yang ku kasih? Apa hilang juga karena kejadian itu? Tapi syukurlah Abang dan yang lain selamat walau tubuh mu terlihat lemah sekarang. Lo gak akan mati semudah ini kan bang?"


"Husttt... Kebiasaan, Abang baik-baik aja, cuma butuh istirahat beberapa waktu aja." Ucap nya seraya memukul kepala ku dengan sedikit keras.


"Sakit..." Teriak ku, Devmir tersenyum membuat ku menatap kesal ke arah nya.


"Dimana Angela?" Ucap bang Andara.


"Hemmm... Dia pergi ke arah selatan, Abang kami bukan hanya elu tau bang." Ucap ku kesal.


"Kenapa kalian ceroboh? Kenapa kalian keluar dari mansion kita?" Teriak bang Andara, namun tiba-tiba ia kembali menyentuh dada nya kesakitan.


"Istirahat aja deh elu bang, gak usah teriak-teriak... Kami khawatir sama kalian, maka dari itu kami nyariin kalian secara terpisah. Bukan hanya itu, sesuatu yang seharusnya mengabari kami tentang kalian tiba-tiba menghilang. Bahkan setelah mendengar cerita kalian, aku semakin khawatir tau bang." Rengek ku campur kesal.


"Apa yang kau maksud putri?" Ucap Devmir yang menyentuh tangan ku tanpa sadar.


"Apa kau tau, aku kehilangan komunikasi dengan naga ku..." Teriak ku kesal, aku berdiri menatap kedua nya seraya ku tepis tangan Devmir yang menyentuh ku tadi.


"Sesuatu yang menyelamatkan kalian itu naga ku bang, sekarang aku gak tau dimana dia berada..." Ucap ku menatap kedua nya, mereka berdua terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Astaga, gue keceplosan..." Ucap ku, seraya ku tutup mulut ku dengan geram.


"Kebiasaan mulut mu Neftaza..."Teriak Hazel yang tiba-tiba keluar menampakan diri nya di depan Devmir dan bang Andara.


"Astaga, peri?" Ucap bang Andara yang mengejutkan Hazel, tampak ia termenung karena keluar dari persembunyian nya.


_


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️


__ADS_2