TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 152


__ADS_3

Kedua penjaga itu telah pergi. Kami berdua saling pandang dan berpikir, seperti nya para penjaga pun mengetahui jika hal itu sering terjadi.


"Bukan nya kelihatan menye-menye gak sih?" Ungkap Neftaza meremehkan.


"Iya juga sih... Tapi gimanapun perasaan manusia kan memang gitu..." Ucap ku menjawab nya.


Kami berdua kembali bergerak mendekati halaman rumah besar itu dengan perlahan. Dari tempat kami berdiri sekarang tampak lah seseorang duduk termenung di sebuah gazebo halaman sendirian.


"Kalau di lihat-lihat lagi dia memang mirip sama bang Andara..." Ucap Neftaza menatap laki-laki itu.


"Iyaa sih... Tapi seinget ku bang Andara gak selembek itu kali..." Ucap ku sedikit kesal.


"Lah mana tau karena terdampar di sini kan? Misal nya kalau gue yang terdampar sendirian gue pasti jadi lembek juga..." Jawab nya lebih tenang.


Aku hanya mengabaikan nya. Ku langkah kan kaki ku berjalan ke arah gazebo tersebut tanpa sembunyi-sembunyi.


Fegis yang berada di sana sama sekali tak mengetahui keberadaan ku, seperti nya memang ia sedang melamun.


Aku berhenti berjalan ketika ia membicarakan sesuatu yang benar-benar membuat ku syok begitupun Neftaza.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara aku menemukan mereka berdua? Aku sudah sangat lama berada di sini namun aku tak menemukan keberadaan mereka. Andira, Rianda... Kemana kalian?" Ucap nya sendu.


Kami berdua hanya saling pandang dan bergegas menghampiri Fegis yang sudah kami yakini dia adalah bang Andara.


"Bang Andara...." Teriak kami berdua.


Seseorang yang kami panggil bang Andara pun menoleh terkejut dengan topeng nya masih melekat di wajah nya.


Ia tertegun melihat kami berdua, tak lama kemudian ia melepaskan topeng nya dan berjalan ke arah kami berdua dengan pandangan yang sangat menyentuh.


"Andira.. Rianda..." Panggil nya menatap kami berdua.


Aku dan Rianda mengangguk, dengan senang hati ia memeluk kami berdua dengan meneteskan air mata begitupun kami. Aku sangat senang dan bersyukur ternyata ia benar-benar bang Andara.


Kami bertiga menangis sesenggukan dan berpelukan cukup lama. Setelah melepas kerinduan, ia mengajak kami berdua untuk segara duduk di gazebo itu.


"Kemana saja kalian?" Ucap nya marah, seraya menghapus air mata yang masih tersisa di sudut matanya.


"Astaga bang, baru juga ketemu udah marah-marah... Kebiasaan..." Ucap Neftaza cemberut namun masih terlihat senyuman di sudut bibir nya.

__ADS_1


"Yang penting kita semua baik-baik saja..." Ucap ku tersenyum.


"Bang, padahal kita udah pernah ketemu juga..." Ucap ku menatap nya.


"Iyaa Abang udah pernah ketemu sama Andira beberapa hari yang lalu, bukan kah Abang punya niat jadiin Andira gundik?" Ucap Neftaza menggoda, lalu ia tertawa terbahak-bahak.


"Gundik? Astaga... Putri Angela itu?" Ucap nya tak yakin.


Aku hanya mengangguk.


"Hahaha.... Dasar... Adek sendiri gak kenal..." Ucap Neftaza, ia kena sentil bang Andara.


"Aww... Sakit kali bang. Lo masih sama kayak dulu ya, suka nyentilin orang..." Jawab Neftaza kesal.


"Gimana Abang gak kenal, dia pakai riasan tebel banget malah di jelek-jelekin lagi..." Jawab bang Andara mengejek.


"Baru juga ketemu udah gini amat..." Jawab ku acuh.


Akhirnya kami bertiga menghabiskan waktu bersama untuk mengenang kenangan dengan cukup lama.


Bang Andara mengajak kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang tertutup, untuk mencegah seseorang mendengar percakapan kami walau pada kenyatannya tidak ada yang mengetahui keberadaan kami walau saat di gazebo tadi kami bercanda ria.


Aku duduk terdiam menatap bang Andara yang sudah melepaskan topeng nya di hadapan ku, wajah tampannya mengingat kan ku pada ayah ku, Jefmon Martin.


"Bang, gimana ceritanya Lo bisa masuk ke dunia kuno ini?" Ucap Neftaza membuyarkan lamunan ku.


"Waktu itu kalau Abang gak salah ingat, Abang ngelihat mobil kalian di dekat villa keluarga kita. Terus hujan deras banget kan? Petir saling nyambar gitu... Abang memang ada niatan buat keluar karena ada sesuatu yang sangat penting. Tapi waktu ngelihat mobil, dan Abang sadar kalau itu mobil kalian. Dan pada saat yang bersamaan mobil kalian ke sambar petir Abang cepat-cepat turun dari mobil dan lari ke mobil kalian. Dan karena jalannya licin Abang jadi ikut terjun ke jurang bareng kalian. Eh pas bangun-bangun Abang udah di hutan." Ucap nya panjang lebar.


"Terus Abang jatuh di hutan belahan mana? Kami berdua juga jatuh di hutan pas bangun bang. Itu hutan nama nya hutan kematian kalau gak salah kan An?" Ucap Neftaza menatap ku, aku hanya mengangguk.


"Waktu itu Abang juga gak tau, tiba-tiba pas Abang bangun Abang udah di kelilingi para pengawal kerajaan... Terus sangking sakit nya Abang pingsan lagi, pas bangun-bangun udah di kamar..."


"Berarti Abang gak ketemu dewa tampan?" Ucap Neftaza, aku hanya menatapnya malas.


Bang Andara hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamar?" Ucap ku bingung.


"Kamar kekaisaran..." Jawabnya lagi, kami berdua saling tatap kebingungan.

__ADS_1


"Ngapain Abang di sana?" Tanya ku lagi.


"Abang anak dari kaisar katanya..." Jawab nya santai.


"What? Jadi Abang statusnya pangeran kekaisaran dong?" Ucap Neftaza mengejutkan kami berdua.


Bang Andara hanya mengangguk.


"Tapi kita gak pernah dengar kalau kekaisaran punya pangeran lain selain pangeran mahkota, Alverdine Bleferald dan pangeran kedua Reverdine Bleferald yakan?" Ucap Neftaza.


"Iya bener bang..." Sambung ku.


"Sebenarnya dia punya alasan untuk menyembunyikan Abang dari orang lain..." Ucap bang Andara semakin membuat kami kebingungan.


"Maksud nya bang? Terus Kaisar Bleferald gak curiga sama Abang?" Tanya ku lagi.


"Selama Abang di sana, dia jarang ketemu sama Abang kecuali kalau ada sesuatu misalnya masalah tentang sihir ... Tapi setelahnya dia pergi tanpa bertanya lagi." Ucap nya dengan raut wajah terlihat sangat marah.


"Jadi Abang termasuk pangeran yang terabaikan dong?" Ucap Neftaza tertawa terbahak-bahak.


Aku pun menyetujui pernyataan Rianda, ia benar bahkan sangat benar. Jika apa yang di jelaskan bang Andara adalah kebenaran, berarti kaisar hanya menginginkan kekuatan sihirnya untuk membantunya. Lebih tepat nya memanfaatkan nya.


"Tapi Abang hebat, punya sihir dan bahkan dari keluarga kekaisaran... sedang kan kami hanya putri dari kerajaan besar tanpa memiliki sihir apapun..." Jawab Neftaza lesu.


"Tapi kita punya semuanya..." Jawab ku kesal.


"Ya ya ya... Lo bener... Kita punya semuanya kecuali sihir itu..." Ucap nya.


"Terus bang, kenapa Abang bisa jadi ketua pemberontak sekarang?" Ucap kami berdua serempak.


"Ceritanya sangat panjang, Abang akan menceritakan nya lain kali..." Jawab bang Andara, kami berdua mengangguk.


_


_


_


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2