
Mereka memanggil ku bibi? Apakah aku terlihat sangat tua? Kalian hanya perlu memanggil ku dengan sebutan kakak... Ahh... Lebih baik aku segera meminta nya....
"Bukankah panggilan bibi terlihat sangat tua? Kalian boleh memanggilku dengan sebutan kakak... Itu lebih terdengar baik..." Ungkapku tersenyum menatap mereka berdua bergantian.
"Baiklah kak Ela..." Ucap Edmund senang.
"Terlalu berisik..." Ungkap Emre dengan kesalnya.
Dasar anak sialan.
Emre meninggalkan kami berdua tanpa permisi, dia memang anak laki-laki yang terlihat sangat angkuh dan sombong.
"Pa... Eh Edmund, bukankah seharusnya kau mengganti pakaian mu?!" Ungkapku menatapnya.
Tubuhnya masih terlihat sangat kotor, seperti sehabis terjadi kebakaran.
"Ah,,, aku lupa, maafkan aku kak Ela..." Ungkapnya seraya berputar.
"Sekarang sudah kembali normal..." Ungkapnya lagi.
Hah??? Aku hanya menatapnya tercengang. Sekali putaran semua menjadi kembali, tubuh cemong-cemong dengan pakaian compang-camping nya kembali seperti semula hanya dengan sekali putaran? Tuhan sangat tidak adil kepadaku...
"Kak Ela... Maafkan Emre, dia memang seperti itu.." Ungkapnya dengan tatapan sendu.
"Tak masalah..." Ungkapku tersenyum menatapnya.
Seseorang datang dengan pakaian pengasuh khas bangsa elf menghampiri Edmund dan mengajaknya pergi meninggalkan ku. Sesekali pelayan itu tersenyum kepadaku sebelum mengajak pergi Edmund.
"Kak,,, sampai jumpa nanti..." Ungkapnya seraya berjalan mundur melambaikan tangan nya kepada ku.
Tanpa ku sadari aku juga melambaikan tangan kepadanya, mungkin memang ini yang dinamakan refleks tanpa sengaja.
Ku langkah kan kaki ku kembali berjalan ke lorong istana, ku arahkan pandangan mata ku ke sekililing tempat. Tampak kesatria penjaga sedang berkeliling berjaga, sesekali aku melihat raut wajah salah satu dari mereka yang terlihat tersenyum kepada ku.
Sepertinya kesan kami berada di istana ini mulai membaik, mungkin berkat Hasper dan Casper.
Aku berhenti di pinggir pagar menatap ke arah patung yang berada di tengah-tengah kolam kecil dengan di bagian bawahnya terdapat lumut-lumut hijau yang menjadi parasit di tubuh patung itu.
Ikan-ikan berwarna warni berenang ke sana kemari saling mengikuti, seperti sebuah lukisan yang sangat indah di dalam air. Sesekali aku melihat katak yang sedang berhenti di atas bebatuan sebelum ia berenang ke arah bawah patung.
Aku melihat ke langit, tampak sepasang burung pipit berhenti di bahu patung yang terlihat tampan itu, sepasang burung pipit itu meloncat-loncat kemudian pergi terbang kembali.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi jika diriku menjadi patung? Aku tidak akan bisa bergerak bahkan aku hanya bisa melihat ke arah yang selalu sama.
"Kau sangat kesulitan patung..."
Aku hanya bisa melihat mu dari segala arah, namun kau hanya bisa melihat hanya dalam satu arah yang selalu sama.
"Nasib yang kurang beruntung..."
Aku menatap bunga teratai berwarna pink cerah di kolam yang perlahan mulai bermekaran, meninggalkan masa kuncupnya. Aku mengamatinya yang terkena gemericik air dari pancuran air kolam dari kedua sisi tubuh patung tampan itu.
Ikan-ikan bersembunyi di bawahnya ketika aku melempar beberapa batu kerikil kecil yang ku temukan di bawah kaki ku ke dalam kolam. Aku tersenyum menatap ikan koi itu yang sangat cantik namun lincah, aku ingin sepertinya. Tidak... Aku akan menjadi diri ku sendiri.
Aku berbalik meninggalkan tempat itu seraya berjalan melangkah ke anak tangga yang menuju ke lantai atas, sesekali para kesatria penjaga menyapaku dengan senyuman ramahnya.
"Ternyata begini rasanya di perlakukan dengan baik oleh bangsa elf..."
Ungkapku seraya berjalan pergi menyusuri lorong istana.
"Heiii.... Lo darimana aja?!" Ungkap Neftaza yang berada di belakang ku.
Aku menoleh menatap ke arahnya yang menggunakan pakaian serba hitam dengan rambutnya ia biarkan terurai. Ia sedikit berlari menghampiri ku dengan raut wajah yang lumayan cerah.
"Ohhh... Tadi, gue keluar bareng mereka berdua..." Ungkapnya terdengar sangat ceria.
"Terus dimana mereka berdua?!" Ungkapku penasaran.
"Mereka ketemu sama para pangeran, terus ngobrol bareng gitu... Ya udah gue tinggalin daripada gue jadi cewek sendiri di sana yakan..." Ungkapnya berjalan mendahului ku.
Aku sedikit curiga dengan para pangeran, bukankah tadi mereka terlihat terburu-buru pergi setelah pangeran Andrew menghampiri mereka?
Sepertinya ada sesuatu hal yang akan terjadi, aku hanya perlu berpikir dengan baik.
Aku mengikuti Neftaza yang kembali ke kamarnya, aku menatap nya yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam lacinya.
Ia mengambil sebuah ikat rambut kemudian mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Aku duduk di kursi seraya memakan ice cream yang ku ambil dari ruang dimensi ku.
Betapa nikmatnya jika aku memakan ice cream di pinggir pantai? Hah... aku hanya bisa membayangkan nya.
Aku memejamkan mataku, ku tatap hempasan ombak yang datang saling menyusul ke pinggir pantai, aku terbaring santai seraya memakan sebuah ice cream rasa strawberry tak lupa pula menikmati pemandangan laut yang sangat luas berada di hadapan ku dengan indahnya.
Aku menatap pria-pria sexy yang berjalan di depanku.
__ADS_1
"Sangat tampan..." Ungkapku menatap mereka yang terlihat seperti pahatan patung yang sangat tampan, ohh tidak mereka bukan lah patung tapi mereka adalah manusia. Mereka pria-pria yang sangat gagah perkasa.
Sesekali aku mendapat lirikan dari salah satu pria yang menggunakan kacamata hitam dengan celana pendek bermotif bunga-bunga yang melekat di tubuhnya. Ia menghampiri ku seraya tersenyum cerah ke arahku.
Pria itu tepat berdiri di hadapanku, tampak bibirnya yang terlihat penuh berwarna pink cerah berbicara kepada ku, sangat manis, ah sangat menggoda.
Tanpa basa-basi aku menjatuhkan ice cream ku dan langsung memeluknya.
Kenapa tubuhnya memiliki benjolan di dadanya? Ah mungkin karena dia adalah pria yang sixpack...
Aku memeluknya dengan erat.
"Woi... bangun...."
Aku terkejut seraya membuka kedua mataku.
"Aishh... Lo ngapain peluk-peluk gue..." Ungkapku menatap Neftaza yang berada di hadapan ku.
"Nj*r,,, Lo ngehayal apaan sih di siang-siang bolong begini..." Ungkapnya kesal.
Aku menatap sekitar, ternyata aku masih berada di kamar Neftaza.
Ah... Pria-pria tampanku...
"Jangan gila deh..." Ungkap Neftaza
Ternyata menghayal itu enak ya, wkwk...
Aku membersihkan ice cream yang ku jatuhkan di lantai, aku meletakkannya di tempat sampah yang ada di sudut kamar Neftaza.
Kembali ku tatap Neftaza yang sibuk memainkan gadgetnya di atas tempat tidurnya, ku langkah kan kaki ku menuju ke pintu luar. Aku kembali ke kamarku dengan cepat.
"Andaikan gue bener-bener di pantai dan di kelilingi pria-pria tampan... OMG... Oppa... Ahhh... Aku jadi gila kalau ngehalu terus ini mah... Lebih baik gue cepet masuk, entar di kira gila beneran ...."
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
❤❤❤
__ADS_1