TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 173


__ADS_3

"Mungkin kah?" Ucap ku terhenti, aku berjalan ke arah batu yang memiliki ukuran lebih besar dari pada yang lain.


Aku melihat sebuah kode yang tertera di antara dinding batu itu.


"Apa yang kau lihat putri?" Ucap pangeran Darren, aku menoleh menatap ke arah nya.


"Sebuah kode pangeran, bisakah kau kemari?" Ucap ku, aku tak menguasai bahasa kuno itu.


Pangeran Darren berjalan ke arah ku dengan hati-hati seraya di bantu oleh Gazelle dengan perlahan.


"Lihat lah ini pangeran..." Ucap ku seraya menunjuk ke tulisan kuno yang ada di dinding batu itu.


"Aku hanya mengerti beberapa kata... Lihat lah kata terakhir itu yang berarti darah... Ketulusan dan kedamaian... Hanya itu yang aku tahu putri..." Jelas pangeran Darren, ia menatap ke arah kami berdua dengan tatapan sedikit sedih.


"Tidak apa pangeran, kita sudah mengetahui tiga kata bukan? Kita bisa menebak jawaban nya." Ucap ku tersenyum, dan di angguki putri Gazelle.


"Lalu apa kau sudah tahu jawaban nya putri?" Ucap pangeran Darren berbinar.


"Belum..." Jawab ku menatap ke arah kode itu.


Ini bukan keahlian ku, jika saja Neftaza berada di sini pasti sejak tadi kami keluar dari gua ini.


Darah, ketulusan, dan kedamaian? Apa maksud dari ketiga kata itu? Darah ya? Apa aku harus menggunakan darah untuk membuka jalan keluar itu? Tapi jika darah dimana aku harus meletakkan darah ku?


Aku berjalan memutari batu itu namun aku tak menemukan tempat apapun, sampai tepat dimana aku menatap ke bawah kaki pangeran Darren aku melihat sebuah lubang yang tertutup dengan debu dan tanah.


Dengan segera, aku menghampiri lubang itu dan menyuruh pangeran Darren untuk mundur satu langkah. Ku bersihkan debu itu, dengan cepat ku gigit jari telunjuk kanan ku dan ku teteskan darah ku ke dalam lubang itu.


Satu detik, lima detik, sepuluh detik tidak terjadi apapun.


"Aneh, bukan kah ini memang untuk darah?" Ucap ku tak mengerti.


Tiba-tiba gua ini terguncang cukup hebat, kami bisa mendengar suara langkah kaki yang datang ke arah gua. Debu-debu berhamburan membuat kami semua kesulitan untuk bernafas.


"Uhukk... Uhukk... Uhukkk... Putri... Teteskan darah mu ke dalam lubang itu..." Ucap ku, ku tutup hidung ku agar tak menghirup debu yang berterbangan itu.

__ADS_1


Ku tatap putri Gazelle yang menggigit jari nya dan meneteskan satu tetes darah ke dalam lubang itu, namun tak terjadi reaksi apapun.


"Tidak berhasil putri..." Ucap nya, ia menutupi hidung dan mulut nya dengan lengan nya.


Suara keras menggema di seluruh gua, langkah kaki itu sudah terdengar masuk ke dalam genangan air yang berada di luar pintu gua. Kami bisa melihat makhluk apa yang mendekat ke arah kami, itu adalah raksasa dengan ukuran tubuh yang sangat besar.


"Pangeran, ku harap darah mu manjur..." Ucap ku, seraya ku gigit jari telunjuk kanan pangeran Darren dengan cepat, ku tetes kan darah nya ke dalam lubang itu.


Tiba-tiba gua kembali terguncang dengan batu yang ada di hadapan kami bergeser dengan perlahan. Tampak lah sebuah anak tangga yang menuju ke bawah tanah.


"Cepat..." Teriak ku, ketika ku lihat raksasa itu ingin menerobos masuk ke dalam gua.


Putri Gazelle masuk ke dalam ruang itu dengan pangeran Darren berada di urutan kedua. Ku langkah kan kaki ku mengikuti mereka berdua, aku berbalik mencari sebuah tombol atau apapun itu untuk menutup batu itu.


"Astaga... Jantung gue, kenapa gak ketemu-ketemu sih..." Aku mencari dengan panik, namun aku tak menemukan tombol apapun.


"Aku tak bisa menutup pintu itu kembali..." Teriak ku frustasi, aku panik.


Aku memutuskan untuk melangkah lebih dalam, seraya ku arah kan pandangan mata ku dengan saksama ke arah dinding gua. Tepat ketika aku melihat sebuah tombol berada di bawah aku langsung menghampiri nya.


Namun tubuh ku tiba-tiba terjatuh karena guncangan perlindungan itu hancur, raksasa dan makhluk-makhluk yang lain terdengar berhamburan berlari ke arah kami.


Klik...


"Berhasil..." Teriak ku senang, namun batu itu bergeser dengan lambat.


"Ku mohon cepat lah..." Teriak ku, ketika melihat makhluk-makhluk itu sudah berdiri tepat di depan pintu itu.


Dengan kepanikan yang masih melekat di pikiran ku, aku mengambil pistol dan menembak beberapa makhluk itu. Salah satu makhluk itu berhasil menahan batu itu agar tak tertutup, namun aku menembak nya dengan brutal. Tubuh nya remuk karena tak bisa menahan berat batu besar itu.


"Syukurlah..." Ucap ku menghela nafas kasar.


"Putri segeralah pergi dari sana..." Teriak Putri Gazelle yang sudah berada di bawah dengan pangeran Darren.


"Baiklah..." Ucap ku, seraya aku berbalik menuruni tangga itu menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


Suara teriakan raksasa itu menggema di seluruh gua dengan gerakkan yang sangat besar seperti terjadi gempa bumi, debu-debu kembali berhamburan namun tak separah tadi.


Sekarang kami bertiga berada di ruang bawah tanah, sangat gelap gulita. Namun dengan bantuan senter kami bertiga bisa melihat ruangan yang penuh dengan tanah dan penyangga.


"Bisakah seseorang membangun tempat seperti ini?" Ucap ku, mereka berdua hanya terdiam.


"Bukan kah orang itu hebat? Bisa membuat tempat seperti ini..." Ucap ku lagi.


"Ini ulah penyihir..." Jawab pangeran Darren singkat.


"Penyihir? Pantas saja, memiliki sihir perlindungan." Jawab putri Gazelle.


Kami bertiga berjalan menyelusuri lorong bawah tanah dengan perlahan, mengingat keadaan pangeran Darren yang masih belum pulih.


"Putri, apa kau menangis?" Ucap putri Gazelle, aku meraih tetesan yang mengalir di wajah ku.


"Darah?" Ucap ku bingung.


"Kepala mu terluka putri..." Ucap pangeran Darren.


"Ahhh... Ini mungkin karena terjatuh tadi, aku akan mengobati nya nanti..." Ucap ku seraya merobek kain pakaian ku untuk menahan darah agar tak keluar.


"Lebih baik, obati luka mu sekarang putri..." Ucap pangeran Darren, aku menatap kedua nya.


"Baiklah..." Ucap ku berhenti, aku mengeluarkan kotak p3k dan mulai membersihkan luka ku. Hanya butuh lima menit, luka ku sudah ku obati dengan baik.


Kembali ku masukkan kotak p3k ke dalam ruang dimensi ku seraya ku arah kan pandangan mata ku menatap ke arah jam tangan ku yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Aku sudah selesai, lebih baik kita kembali berjalan..." Ucap ku menatap mereka berdua.


Putri Gazelle tampak mengangguk, di ikuti dengan pangeran Darren yang berjalan di depan. Aku menatap punggung nya dengan bantuan senter yang ku pegang, ia terlihat sangat rapuh menahan sakit di kaki nya.


_


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️


__ADS_2