
Aku berjalan mengendap-endap menjauhi tempat ku bersembunyi, dengan segera aku bersembunyi lagi di belakang tumpukan pohon-pohon kering itu.
Saat aku mengintip dari sela-sela pohon, aku melihat salah satu orc itu menghampiri tempat persembunyian ku tadi. Aku sangat bersyukur memutuskan untuk pindah tempat.
Aku menatap mereka yang kembali berkumpul, tampak mereka berbicara sesuatu tanpa aku mendengar nya. Mereka berjalan kembali ke arah yang berbeda.
"Apa aku harus mengikuti nya?!" Gumam pelan.
"Lebih baik aku menunggunya berjalan lebih jauh..." Ungkapku menatap mereka yang sudah berjalan menjauh.
Sekarang mereka tak tampak lagi dari pandangan mata ku. Aku terduduk lemas seraya ku luruskan kaki ku, aku menghela nafas lega memegang kedua lutut ku yang terasa sangat pegal.
Sesekali aku mendengar sekawanan burung terbang di atas hutan kematian, sepertinya mereka pergi ke arah hutan yang lebih layak untuk mereka tinggali.
Ku arahkan pandangan mata ku ke sekitar, tampak hutan ini di penuhi dengan kabut karena sudah menjelang malam. Kegelapan adalah kelemahan setiap manusia bukan?
Tubuh ku semakin ketakutan menatap sekitar ku. Hanya kegelapan dan hutan yang berada di sekeliling ku. Aku sangat berharap aku tidak bertemu dengan makhluk aneh apapun di sini.
Aku menghela nafas berkali-kali untuk meringankan kekhawatiran ku.
"Hufffthhh... Setidaknya aku bisa lebih berani..."
Ku langkahkan kaki ku mengikuti arah jalan yang di lewati para Orc tadi, aku berjalan dengan cepat seraya menatap keadaan sekitar.
"Lebih baik, aku cepat menemukan sebuah tempat yang cukup aman untuk ku..."
Walau pada dasarnya sekarang aku berada di rumah para makhluk-makhluk menjijikkan itu, tapi aku masih berharap bahwa aku masih bisa menemukan tempat yang aman untuk ku.
Sudah sangat lama aku berjalan, tapi aku belum menemukan tempat para makhluk-makhluk itu ataupun tempat yang aman untuk ku tinggal. Apa aku harus masuk lebih dalam lagi? Entahlah....
Aku sangat... Sangat ketakutan sekarang... Sudah tiga jam aku berada di hutan kematian dengan keadaan sendirian. Jangan sampai aku frustasi berada di sini...
Saat tubuh ku sudah sangat kelelahan, keringat bercucuran dimana-mana dan tenggorokan ku yang sangat kering, aku memutuskan untuk berhenti bersandar di pohon kering yang berada di hadapan ku.
Aku meminum Aqua seraya ku luruskan kaki ku dan ku pijat pelan-pelan kaki ku berharap lelah itu segera menghilang.
"Huhh... ternyata secapek ini... Berasa mendaki gunung gue mah...."
Aku menatap sekeliling dengan perasaan yang sudah mengabaikan situasi yang sangat menakutkan. Sekarang aku berusaha untuk tidak mengkhawatirkan itu.
__ADS_1
Saat aku memijat kaki ku, aku mendengar suara yang sangat aneh berada di belakang ku. Aku menoleh dengan perlahan.
"Astaga... Kaget gue..." Aku memegang dadaku seraya berdiri menghindari makhluk itu.
Makhluk itu langsung menyerang ku dengan brutal, jantung ku belum kembali normal karena terkejut, sekarang aku harus bertarung dengan nya dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan ku.
"Sangat melelahkan..."
Aku mengambil pistol ku dengan cepat, segera aku tembak Orc jelek itu dengan segera. Orc itu dapat menghindar dengan kecepatan yang sangat cepat.
"Ternyata kau cukup cepat..." Ucap ku seraya menghindari serangannya.
Ia menggunakan pedang yang sangat tajam, ia kembali brutal menyerang ku dengan mata merahnya, walau aku sedikit kesulitan untuk melihat gerakannya aku masih bisa melihat setiap kapan ia akan bergerak.
"Sialan..."
Aku sedikit kesulitan karena pistol ku terjatuh untuk menghalangi pedang nya... Segera aku mengambil pisau di sepatu ku... Ia menyerang ku sampai tubuh ku terpojok di pohon. Ia mengangkat pedangnya untuk menusuk ku, namun aku berhasil menghindar dan memotong jari tangan kanan nya...
Orc itu menjerit, karena kesakitan pedangnya meleset menancap di pohon, ia kesulitan mengambil pedang itu. Ini adalah kesempatan ku untuk mengambil pistol ku.
Ku gerakkan tubuh ku dengan cepat ke arah pistol ku, aku berhasil mengambilnya dan berbalik menatap Orc itu tanpa basa-basi aku langsung menembaknya tepat di kepala nya dan jantungnya.
Orc itu terdiam berdiri seraya tangannya lemas, ia sempat berbalik menatapku kemudian terjatuh tersungkur ke tanah. Darahnya muncrat kemana-mana.
"Huhhh..."
Aku menghela nafas lega. Aku kembali terduduk lemas menatap tubuh Orc itu.
"Sangat jelek.. Kenapa ada makhluk jahat seperti mu di dunia ini... Huhh..."
"Lebih baik aku segera pergi..."
Ku langkah kan kaki ku kembali ke arah dalam hutan. Yang benar saja, saat aku baru saja berjalan sekitar dua ratus meter dari tempat ku berkelahi aku melihat beberapa sekawanan makhluk yang membawa obor api mendekati tempat itu.
"Lagi-lagi aku harus berkata... Sialan..."
Dengan cepat aku berlari meninggalkan tempat itu.
Sesekali aku melihat ke belakang, mereka tidak mengejar ku sepertinya mereka tidak melihatku. Aku terus berjalan dengan sedikit berlari masuk ke kedalaman hutan.
Aku menatap keadaan sekitar, hutan ini tampak lebih menyeramkan... Sangat gelap dan yah kalian tau....
__ADS_1
Dari kejauhan aku bisa melihat sebuah cahaya merah di hadapan ku. Aku berjalan ke arah cahaya itu. Saat aku berada di tebing, aku bisa melihat sebuah tempat yang sangat-sangat menyeramkan.
Tempat itu penuh dengan bukit batu kokoh dengan aliran air, oh tidak itu bukan air tapi itu lava yang mendidih...
"Darimana lava itu..???"
Ku arahkan pandangan mata ku ke sekitar tempat itu menggunakan teropong, tampak sekawanan Orc berjalan masuk ke sebuah tempat di bawah bukit batu paling besar di sana.
"Mereka masuk? Sepertinya di sanalah mereka menyembunyikan Neftaza dan Edmund..."
Saat aku mulai berjalan turun dari tebing untuk mengikuti mereka, aku melihat sekumpulan para roh jahat itu terbang di tempat itu dan masuk ke dalam tempat para sekawanan Orc masuk tadi.
"No... Aku gak bisa masuk ke rumah mereka... Tapi aku harus bagaimana? Ini sangat berbahaya... Apalagi aku membunuh Orc tadi, apa yang harus aku lakukan??"
Aku sangat bingung dengan situasi sekarang, aku harus meminta bantuan siapa?
"Ini salah ku... kenapa aku masuk sendirian kemari, Lo sih Nef malah di culik segala, gue kan yang jadi repot... Gimana coba kalau gue kenak tangkap... Bakal berabe urusannya..."
"Please... Berfikir jernih..."
Aku memikirkan semua hal yang bisa membuatku tetap aman dari bahaya apapun. Namun berkali-kali aku memikirkan sesuatu, aku tidak bisa menemukan ide apa-apa...
Aku kehilangan kecerdasan di saat seperti ini.
"Sialan...." Gumam ku...
Aku memutuskan kembali ke atas, namun saat tubuh ku sudah berbalik menatap ke atas tebing.
Aku sangat terkejut, kenapa mereka berada di sana? Ya tuhan... Selamatkan aku...
-
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
Selamat membaca ❤❤❤
__ADS_1