TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 185


__ADS_3

Ku tarik pelatuk pistol ku ke arah singgasana itu, peluru itu menembus bagian atas singgasana dengan keterkejutan terlihat di wajah raja Zeffligha yang terlihat mematung tak bergeming.


"Berasa dejavu deh... Bukan kah hal ini terjadi kepada bang Andara juga? Hahaha..." Aku berbicara tanpa memperhatikan sekitar yang membuat ku kembali terdiam.


Para kesatria mengepung kami bertiga dengan pedang mengacung ke arah kami tanpa henti.


"Aku hanya bercanda, bisa saja aku membunuh raja kalian tapi aku tidak melakukan nya bukan?" Ucap ku seraya menatap mereka semua dengan waspada.


"Berhenti..." Ucap laki-laki itu, aku menoleh ke arah nya. Tampak ia berjalan mendekat ke arah kami, para kesatria yang mengepung kami tadi mundur perlahan tanpa menurunkan pedang mereka, mereka masih terlihat waspada dengan kami bertiga.


"Ikuti aku..." Ucap laki-laki itu, seraya beranjak ia berjalan ke arah pintu keluar dengan di ikuti oleh laki-laki yang lain.


"Tapi..." Teriak sang Kasim yang masih menatap kami dengan kebencian.


Ku tatap pangeran Darren yang menatap ke arah ku, ia mengangguk dengan Gazelle berjalan mendekat ku.


"Apa rencana kita selanjutnya putri?" Bisik nya tepat setelah ia menatap ke sekitar dengan lekat.


"Kita akan tahu nanti..." Ucap ku seraya menatap ke arah pangeran Darren yang berjalan mengikuti laki-laki itu, ku ikuti mereka berdua dengan Gazelle berada di belakang ku.


Setelah beberapa menit laki-laki itu berjalan, tampak ia berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat yang cukup besar. Ia membuka pintu itu dengan manual, maksud ku tidak ada kesatria penjaga di depan pintu itu. Aneh bukan?


"Dimana kesatria mereka? Ini bukan kerajaan yang miskin bukan?" Ucap Gazelle pelan.


Masuk laki-laki itu ke ruangan itu, menoleh sebentar ia ke arah kami. Kemudian ia kembali berjalan masuk ke dalam ruangan itu, ku arah kan pandangan mata ku menatap ke sekitar ruangan itu tampak beberapa hiasan yang beberapa bagian terbuat dari emas dengan beberapa dekorasi yang cukup unik dan menarik.


Duduk aku di samping pangeran Darren yang menatap langsung ke salah seorang laki-laki yang menolong Gazelle tadi. Bisakah mereka memberi tahu nama mereka? Aku bosan mengatakan laki-laki itu.


"Apa yang ingin kau tahu dari kami?" Ucap pangeran Darren, dari raut wajah nya ia terlihat seperti mengintrogasi penjahat, padahal kita tahu jika ia adalah seorang raja.


"Tunggu, bisakah kau memberitahu kan nama kalian terlebih dahulu? Aku sangat penasaran." Ucap Gazelle yang terlihat penasaran.


"Aku adalah Erden Zeffligha, raja kerajaan Zeffligha." Ucap nya, tatapan nya begitu tajam namun terbesit kehangatan yang terpendam.


"Bagaimana dengan mu?" Ucap ku seraya ku tatap laki-laki yang ada di hadapan ku.

__ADS_1


"Aku Evdan Zeffligha." Ucap nya, ia terlihat lebih dingin daripada Erden.


"Jadi kalian berdua saudara? Kau putra mahkota yang sekarang menjadi raja, dan kau putra kedua kerajaan Zeffligha?" Ucap Gazelle.


Mereka berdua tidak mengatakan apapun, seperti nya itu sesuatu yang biasa ketika jawaban sudah di depan mata.


"Aku menginginkan senjata mu." Ucap Erden, seraya menatap ia ke arah pangeran Darren.


"Kau menginginkan ini?" Jawab pangeran Darren seraya mengeluarkan pistol nya ke arah Erden.


"Apa kau tahu? Membuat benda ini sangat lah sulit, bahkan aku tak berpikir kau akan mudah mendapat kan bahan-bahan itu." Ucap pangeran Darren yang berusaha lebih mendominasi, ia mengelus-elus pistol nya dengan sesekali ia membolak-balik kan pistol itu.


"Apa kau ingin memberikan pistol ini kepada mereka putri?" Ucap Gazelle yang mencoba bercanda kepada ku.


"Hemmm... Lalu apa yang kami dapat jika kau mendapatkan senjata ini?" Ucap ku, seraya ku tatap mereka berdua dengan intens.


"Apa yang kalian ingin kan?" Ucap Evdan yang terlihat meremehkan.


"Apa yang kau punya?"


"Bagaimana kekuatan militer kalian? Apakah itu bisa mengalah kan kerajaan Rosewaltz?" Ucap ku, seraya meraih sebuah apel di atas meja.


"Kerajaan Rosewaltz? Apa kau bercanda putri? Kami adalah kerajaan kecil, bahkan prajurit kami tak sampai seperempat prajurit kerajaan besar seperti kerajaan Rosewaltz itu." Ucap Evdan seraya beranjak berdiri ia menunjuk ke arah ku.


"Bisakah kau tenang? Kau tak tahu siapa yang kau hadapi sekarang." Ucap Gazelle, ia berdiri dengan omelan nya yang begitu menusuk musuh.


Evdan kembali duduk dengan tenang, sekarang pandangan ku teralihkan oleh Erden yang terlihat tersenyum, seperti nya ia mengetahui sesuatu.


"Lalu apa yang kalian miliki?" Ucap pangeran Darren.


"Kami tak memiliki apapun seperti yang kalian harap kan, tapi kami memiliki kesetiaan jika kalian bisa melakukan hal yang sama seperti kami." Ucap Erden yang terlihat berwibawa, ucapan nya terdengar meyakin kan.


"Benar kah? Apa kau memiliki kesatria bayangan?" Ucap Gazelle, seraya mencoba menatap ke sekitar mencari seseorang yang di sebut dengan kesatria bayangan.


"Biasanya seseorang seperti kalian memiliki nya bukan? Dan kita semua tahu bagaimana kehebatan kesatria bayangan itu." Ucap Gazelle lagi, seraya menatap ia ke arah ku dengan senyuman.

__ADS_1


"Bisakah aku mencoba?" Ucap nya, seraya menyentuh lengan ku.


"Bagaimana pangeran? Apa kau mengizinkan nya?" Bisik ku pelan ke arah pangeran Darren.


Tatapan mata pangeran Darren seperti mengucapkan kalimat "Ku harap kau tak mati karena itu putri." Sangat menakut kan bukan?


"Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau berpikir untuk melawan nya?" Ucap Evdan dengan terkejut.


"Kau meremeh kan ku? Bagaimana jika kau yang bertarung dengan ku?" Ucap Gazelle seraya beranjak berdiri menatap ke arah Evdan dengan tatapan begitu sinis.


"Aku tak bertarung dengan perempuan lemah seperti mu." Ucap Evdan mengabaikan tatapan Gazelle yang sudah membara.


"Ku rasa kau takut pangeran?" Ucap ku tersenyum.


"Baik lah aku akan bertarung dengan mu, jika kau kalah kau harus memberikan senjata itu kepada ku." Ucap Evdan yang beranjak berdiri menatap Gazelle dengan remeh, kedua nya terlihat sangat egois dan kuat.


"Sebenarnya aku juga meremehkan mu putri..." Ucap ku tersenyum seraya ku pegang lengan kanan nya.


"Hazel sudah melatih ku dengan baik, aku tak selemah itu putri..." Ucap nya, ia merajuk.


"Baik lah, ku percayakan itu semua pada mu." Ucap ku mengangguk.


"Lalu, bagaimana jika aku menang?" Ucap Gazelle.


"Apapun yang kau mau?" Jawab Evdan yang terdengar sangat sombong dan percaya diri.


"Jika aku meminta kesetiaan kerajaan mu? Apa kau memberikan nya?" Ucap Gazelle, Evdan terlihat terkejut namun ia kembali memperlihatkan raut wajah yang begitu sombong dan angkuh.


"Baik lah, aku berjanji." Ucap Evdan, yang membuat Gazelle tersenyum dengan puas.


_


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2