TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 88


__ADS_3

Suara angin yang terdengar dari luar jendela terdengar semakin jelas di kedua telinga ku, aku membuka mataku seraya ku tatap jendela kamar ku yang terpontang-panting tertiup angin kencang dengan turun hujan yang sangat lebat siang ini.


Ku langkahkan kaki ku berjalan ke arah jendela, ku tatap keadaan luar yang sangat menyeramkan. Ini seperti hujan badai di tengah hutan. Ku arahkan pandangan mata ku ke sekitar, tampak pepohonan tinggi bergoyang-goyang tertiup angin kencang dengan suara arus air terjun yang semakin terdengar kuat mengalir deras di sungai.


Turun nya hujan deras yang menyapu seluruh isi hutan ini dengan tiba-tiba, membuatku sedikit ketakutan.


"Bukankah tadi cuacanya sangat cerah?!"


Perubahan iklim yang sangat cepat, menjadi sebuah malapetaka bagi sebagian banyak makhluk.


Ku tatap awan-awan hitam yang berkumpul di setiap langit yang ku lihat, petir mulai saling menyambar satu sama lain dengan di ikuti suara gemuruh guntur yang sangat kuat.


Doorrrrrr......


"Gua kaget, sumpah..."


Aku memejamkan mata seraya memegang dadaku...


"Hampir jantungan gue mah..." Ungkapku seraya menepuk-nepuk dada ku.


Terdengar suara ledakan dari petir yang menyambar sebuah pohon tinggi di dekat air terjun itu. Ranting pohon itu patah dengan sedikit tersisa kobaran api yang meliuk-liuk tertiup angin.


Aku terburu-buru menutup jendela ku dan menguncinya agar tidak menimbulkan suara lagi. Aku melangkahkan kaki kembali ke tempat tidurku, aku berbaring seraya menyelimuti tubuh ku dengan selimut.


Aku menutup tubuh ku dari ujung kaki sampai ujung kepala, aku sedikit meringkuk ketakutan karena suara petir dan guntur mulai berdatangan terus menerus di sertai hujan deras dan angin kencang.


Aku memejamkan mataku seraya ku rasakan hembusan angin menyentuh kulit ku walau aku sudah menggunakan selimut, aku merasa sangat kedinginan.


Hawa yang mencekam membuatku terus memejamkan mata tanpa berani membuka mata, aku mengingat kejadian dimana kami kecelakaan masuk ke dalam jurang dan pindah ke dunia ini. Aku benar-benar mengingat nya... Itu adalah kenangan yang sulit aku pikirkan.


Sekitar lima belas menit sudah hujan dan angin kencang mulai menghilang, yang tersisa sekarang hanyalah rintik-rintik hujan di sertai dengan awan berwarna putih.


Namun terasa sangat aneh, kenapa mereka datang dengan efek yang besar dan hanya singgah beberapa menit saja? Seperti hanya sebuah peringatan.


_________


Ceklek....


Suara pintu kamar ku terbuka, tampak seseorang masuk tanpa mengetuk pintu, aku menoleh ke arahnya. Ku tatap Hasper yang berjalan ke arah ku dengan tergesa-gesa, tampak kekhawatiran jelas di raut wajah nya yang datar.

__ADS_1


"Syukurlah..." Ungkapnya lega melihatku masih berada di kamar ku.


"Syukurlah... Kau baik-baik saja Ela..." Ungkapnya lagi membuat ku merasa ada yang aneh.


"Aku baik-baik saja Gege..." Ungkapku menghampiri nya....


"Aku sangat mencemaskan mu Ela..." Ungkapnya sendu tanpa menatap ku.


"Apa yang terjadi Gege?!" Aku menghampirinya seraya memegang tangannya untuk duduk di kursi supaya ia merasa sedikit tenang.


Kedua kaki ku bertekuk berjongkok menghadap ke arahnya. Aku menatapnya seraya tanganku masih memegang tangannya yang sedikit basah karena berkeringat. Aku mengelapnya dengan pakaian yang aku kenakan.


"Neftaza hilang... Casper sedang mencarinya..." Ungkapnya sangat khawatir...


"Apa maksudnya Neftaza hilang? Bukankan dia berada di kamar miliknya?!" Ungkapku terkejut dengan berita yang ia bawa.


Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa Neftaza bisa hilang tiba-tiba?


"Bukan hanya Neftaza, tapi pangeran Edmund juga hilang..." Ungkapnya menatapku lekat.


"Edmund?? Sebenarnya apa yang terjadi Gege?!" Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi.


"Gege mencoba memanggil Casper untuk mencari Neftaza, namun kami tidak menemukan nya sampai sekarang..." Ungkapnya sendu.


Aneh... Aku tidak mendengar keributan apa-apa...


"Tenanglah Gege... Neftaza baik-baik saja, aku yakin itu...." Ungkapku menatapnya lekat.


"Saat Gege mencoba membuka kamar mu, Gege sangat kesulitan..." Ungkapnya lagi.


Aneh, aku tidak mendengar suara dari pintu jika memang dia memaksa untuk membukanya....


"Ela..." Panggil seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamar ku.


Aku beranjak berdiri dan menoleh menatapnya, ia menghampiri ku seraya memeriksa keadaan ku.


"Syukurlah... Kau baik-baik saja Ela..." Ungkapnya menghela nafas lega.


"Maaf... Aku tidak berhasil menemukan Nefta di setiap sudut istana..." Ungkapnya kembali sendu.

__ADS_1


"Tenanglah... Dia adalah perempuan cerdas, jika dia benar-benar di culik, dia akan bisa bertahan apapun yang terjadi..." Ungkapku tersenyum menatapnya.


Ku arahkan kaki ku berjalan ke arah jendela kamar ku, tatapan ku tertuju ke bawah. Aku bisa melihat keributan di sana karena pangeran Edmund menghilang bersamaan dengan Neftaza...


"Kira-kira siapa yang menculik mereka berdua?!" Ungkap Casper yang berbicara kepada kami, aku masih fokus menatap ke bawah.


"Bukankah, ini seperti perbuatan para roh jahat itu? Tapi anehnya kenapa mereka melakukan nya di siang hari, bahkan berbarengan dengan hujan lebat dan angin kencang..." Ungkapku berbalik menatap mereka.


"Mungkinkah itu perbuatan mereka?!" Ungkapku lagi.


Mereka berdua masih terlihat sangat khawatir akan hilangnya Neftaza. Mereka berdua (Neftaza dan Edmund) di culik di waktu yang bersamaan sekitar beberapa puluh menit yang lalu.


Bahkan mereka tidak meninggalkan jejak sedikit pun, yang aku dengar dari Hasper sebelum Neftaza di culik terdengar suara keributan di dalam kamarnya.


Jika memang benar, Neftaza melakukan perlawanan sebelum dia kalah. Aku harus mengecek ke kamarnya.


"Gege... Aku akan ke kamar Neftaza..." Ungkapku beranjak pergi tanpa persetujuan mereka.


Ku buka pintu kamar Neftaza yang terlihat sangat berantakan, aku berjalan masuk menatap setiap sudut kamar yang terlihat jejak sebuah perkelahian yang sangat aneh.


Aku hanya bisa melihat satu jejak, hanya satu tubuh yang meninggalkan jejak. Aku bertekuk berjongkok mengeceknya di sudut kamar dekat jendela seraya mencoba mencari sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk.


Aku tidak menemukan apa-apa, kembali ku arahkan pandangan mataku ke sekitar ruangan dengan posisi berjongkok, aku melihat sebuah percikan darah di bawah tiang penyangga tempat tidur Neftaza.


Aku berdiri menghampirinya seraya menatap sekitar ranjang itu, saat aku ingin berdiri aku melihat di tiang penyangga ranjang terdapat bekas darah yang berbentuk pegangan telapak tangan.


"Mungkinkah Neftaza terluka dan memegang tiang penyangga sebelum dia di culik..???"


"Anehnya kenapa aku tidak mendengar keributan, dan aku hanya merasakan ketakutan yang berlebihan..."


"Maafkan aku Rianda... Aku akan segera menemukan mu..."


-


-


-


Jangan lupa like vote dan komen yah...

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2