
Kami keluar dari kamar Neftaza untuk pergi ke kamar Casper. Tampak dia berada di ruangan yang penuh dengan aroma obat-obatan.
Casper terbaring lemah di tempat tidur dengan dadanya di balut oleh kain putih, dengan noda darah terdapat di luka Casper bagian dada.
Ia belum terbangun, seperti Hasper ia juga mengalami goresan-goresan kecil di bagian wajah nya dan sedikit lebam. Ia pucat dan badan nya sangat dingin. Ku ambil selimut yang turun di atas perutnya, ku naikan selimut itu sampai ke atas dadanya.
Ia masih terpejam, sesekali ku mendengar lenguhan dari nya. Dalam mimpi nya saja ia masih merasakan sakit... Bahkan aku tidak bisa membayangkan nya jika aku yang terluka seperti mereka. Laki-laki memang sangat tangguh.
"Gue khawatir sama mereka..." Ungkap Neftaza sendu.
"Sebentar lagi mereka akan bangun..." Ungkap ku masih menatap Casper.
"Gue juga khawatir sama Hazel, apa dia baik-baik aja di sana? Kita udah pergi ninggalin dia selama lima hari ini..." Ungkapnya menangis.
"Gak usah cengeng... Dia pasti baik-baik aja dan kita bakal nemuin dia cepat atau lambat." Ungkap ku menepuk-nepuk pundak nya.
"Kalau aja gue gak pincang, gue udah nyariin dia dari kemaren..." Ungkap nya terisak-isak.
"Tenang aja,,, Hazel kan peri pasti ia bisa ngejaga diri nya..." Ungkap ku.
Beberapa saat kemudian Ia berhenti menangis dan kembali tenang. Aku duduk di kursi samping tempat tidur Casper.
"*Zu, apa kau mendengar ku?"
"Maaf my lord, aku terlambat menyelamatkan mu."
"Apa yang terjadi?"
"Saat kalian keluar dari tempat itu, aku ingin menyelamatkan kalian namun para elf ternyata berada di sekitar tempat itu, mereka bersembunyi di pepohonan. Aku merasakan jika mereka tidak memiliki niat jahat kepada kalian, aku hanya mengamati mereka dan pada akhirnya mereka membawa kalian ke tempat mereka."
"Tidak masalah Zu, yang penting sekarang apa kau tau keberadaan Hazel?"
"Hazel? Bukan kah ia bersama dengan mu my lord."
"Sebelum kami tertangkap oleh para Orc itu, kami masih bersama dengan Hazel. Tapi setelah itu Hazel pingsan di dalam gua dan tertinggal. Sampai sekarang kami tidak tahu keadaan nya maupun keberadaan nya dimana."
"Baiklah,,, aku akan mencarinya my lord."
__ADS_1
"Terimakasih Zu*..."
Ku tatap Neftaza yang masih sibuk memegangi tangan Casper yang terbaring lemah di sana.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, seseorang masuk dengan perlahan.
"Apa kalian baik-baik saja?" Ucap laki-laki itu.
"Kami baik-baik saja Gege, tapi Gege Casper belum sadarkan diri." Ungkapku berdiri seraya menghampiri nya.
"Apa Gege baik-baik saja?" Ucap Neftaza di belakangku.
"Gege baik-baik saja..." Ungkapnya seraya ku tuntun ia untuk duduk di kursi. Ia dia adalah Hasper.
"Kenapa Gege kemari... Bahkan luka di tubuh Gege belum sepenuhnya sembuh..." Ungkap ku sedikit khawatir.
"Ini hanya luka kecil." Ucapnya tanpa menatap ku.
Ia menatap Casper yang terbaring lemah dengan tatapan sendu seorang kakak, dari wajahnya kita sudah mengetahui bahwa ia sangat mengkhawatirkan Casper yang belum juga siuman.
"Apa kau tau Gege... kita berada di istana Elf?" Ungkapku menatap nya.
"Iya, kita berada di istana Elf yang kita lihat sebelum kita di culik oleh para Orc itu... Yang menyelamatkan kita adalah mereka..." Ungkap Neftaza menimpali.
Ku tatap Hasper yang sedang serius berpikir.
"Aneh... Bukan nya mereka membenci manusia kenapa mereka menyelamatkan kita?" Ungkap nya menatap ke arahku dan Neftaza.
"Hemmm... Entahlah..." Jawab Neftaza berpikir.
Tunggu, bukan kah para Orc itu adalah musuh para Elf? Bisa jadi mereka menyelamatkan kami karena kami berhasil membunuh para orc musuh mereka. Kemungkinan besar memang itu alasan nya.
"Kita membunuh para Orc... Itu adalah alasan yang kuat untuk menyelamatkan kita Gege..."
"Kau benar Ela... Seperti nya memang karena alasan itu." Ungkap Hasper.
"Tapi, ku harap kita tidak melepaskan kewaspadaan kita terhadap mereka, bisa saja itu hanya sandiwara mereka untuk mempermainkan kita." Ungkap nya lagi tanpa tersenyum. Ia serius.
__ADS_1
Aku dan Neftaza hanya mengangguk mengiyakan perkataan Hasper, karena kami pun berpikir seperti itu. Akan sangat aneh jika mereka begitu baik dengan kami padahal mereka sangat membenci manusia.
"Lebih baik Gege beristirahat, agar Gege cepat pulih dan kita bisa meninggalkan tempat ini, begitu juga dengan mu Nefta..." Ungkap ku menatap Hasper dan Neftaza bergantian.
Mereka mengerti dan kami pun kembali ke kamar kami masing-masing. Namun aku merasakan bosan berada di kamar terus menerus. Aku kembali keluar untuk mencari udara segar. Aku melewati lorong yang langsung memberikan pemandangan yang luar biasa di sana. Aku berhenti di pinggir jendela besar yang tidak memiliki penghalang, hanya ada pagar setinggi perut ku saja.
Ku rasakan semilir angin yang mengenai kulitku, ku pejamkan mata menikmati segarnya udara yang masuk ke dalam hidung ku.
Kembali ku buka mataku menikmati air terjun yang tak jauh dari istana Elf, karena istana ini berada di pinggir tebing dekat dengan pegunungan. Cukup lama aku menikmatinya, ku alihkan pandangan mataku ke sisi bawah tempat ku berada tampak para elf sedang sibuk melakukan sesuatu di halaman istana. Ku perhatikan aktivitas mereka dengan seksama.
Penampilan mereka memang sangat unik, memiliki telinga runcing, kulit seputih salju, memiliki rambut berwarna putih ke abu-abuan bahkan ada yang memiliki rambut berwarna putih pirang dengan tubuh yang sangat tinggi seperti manusia.
Aku memperhatikan satu orang yang terlihat sangat mencolok di sana, ia memakai baju khas kerajaan dengan mahkota berada di atas kepalanya. Ia adalah Elf yang pernah ku lihat di Padang bunga itu. Jika di lihat dari penampilan nya ia adalah laki-laki yang soft boy.
Namun jika suatu saat nanti aku mengetahui jika sikapnya tidak mencerminkan penampilan nya, mungkin aku akan kecewa berat. Huhuhu... Ah lebay deh.
DEG*
Aku terkejut saat ia menoleh menatap ku, aku gelagapan dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Aku melangkahkan kaki ku kembali ke dalam kamar.
"Hufthhh.... Kenapa dia noleh segala sih, Aku kan jadi deg-degan" Ucapku seraya memegang dada ku yang telah berdegup kencang.
"Ini bukan cinta kan? Hahaha... bukan deh..." Ketawa ku seperti orang lagi kasmaran tapi berlagak enggak tau.
"Huhh..." Aku menghela nafas untuk menetralkan pikiran ku.
"Aku hanya terkejut melihat ia menatap ku, itu saja..."
Aku membaringkan tubuh ku di atas tempat tidurku, karena dengan kerasnya kepala ku mengenai bantal. Aku merasakan pusing yang amat menyiksa ku.
"Ahkkk... sialan...." Ungkap ku seraya kembali duduk memegangi kepalaku yang terasa sangat sakit.
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yah...
❤❤❤