
Kami semakin panik, kami kembali kehilangan satu menit yang berharga. Ku tatap jam tangan ku yang tidak berhenti berdetik, aku menatap Neftaza yang sedang mencari sesuatu untuk menggapai kunci itu.
"Zu, apa kau punya rencana lain?"
"Waktu kalian hanya kurang dari satu menit my lord..."
"Nef, kita gak punya banyak waktu..." Teriakku kepadanya. Ia menatap ku mengerti.
Ku tatap dirinya yang mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk membuka gembok kunci itu, aku menatap ke rambut Gazelle yang terdapat jepitan rambut berwarna hitam. Dengan segera aku mengambilnya tanpa permisi.
"Nef..." Aku memberinya jepitan rambut itu, ia menoleh menatap ku dengan segera.
Pandangan kami semua terfokus menatap Neftaza yang sibuk membuka gemboknya. Aku semakin khawatir ketika waktu kami tinggal dua puluh detik lagi.
"Cepat Nef...." Aku semakin khawatir.
Ceklek...
Gembok itu berhasil terbuka, dengan cepat kami semua keluar dari gerbang dalam waktu lima belas detik.
Aku berlari mengikuti mereka dengan tergesa-gesa untuk segera bersembunyi di pepohonan tak jauh dari gerbang itu.
"Hufthhh...."
Aku menghela nafasku, akhirnya kami bisa keluar dari penglihatan mereka. Semua kembali normal ketika kami berhasil sembunyi di pohon yang besar.
"Kita harus kembali bergerak..." Ucap Hasper menatap kami bergantian.
Aku mengangguk begitupun yang lain nya.
"Apa kau baik-baik saja Ela?" Ucap Gazelle yang menatap ku khawatir.
"Ahhh... Kaki ku sedikit sakit..." Ucap ku menatap nya.
"Aku akan membantu mu..." Ucap Hasper yang berjalan menghampiri ku.
Ia berdiri di hadapanku, kemudian ia berjongkok menyuruhku untuk segera naik di punggung nya.
Dia mau menggendongku?
Aku hanya terdiam bingung, bukan apa-apa tapi aku tau kalau aku tidaklah ringan. Rasa sakit yang ku rasakan bukanlah sakit yang sangat luar biasa, ini terlalu berlebihan.
"Berdirilah Gege. Kau hanya perlu memapah ku... Aku tak terlalu terluka..." Ucap ku seraya menarik tangan Hasper untuk segera berdiri.
"Apa kau yakin?" Ucap Casper yang berdiri menatap ku.
"Apa kau kira aku lemah?" Ucap ku menatap nya tersenyum.
"Baiklah jika itu mau mu Ela..." Ucap Hasper yang kembali berdiri seraya meraih tangan kiri ku, ia memapahku segera.
__ADS_1
Kami berjalan perlahan menjauhi tempat itu, rasa sakit yang ku rasakan semakin berkurang dengan bantuan Hasper. Dia memang seorang pangeran, pangeran berkuda putih yang sangat tampan.
Aku menatap wajahnya yang penuh dengan keringat, wajahnya yang putih mulus ternodai oleh keringat dan debu yang melekat di kulitnya.
Maafkan aku... Seharusnya aku tak melibatkan mu dalam permasalahan ini...
"Apa kau mencintai Gege mu sendiri Ela?" Ucap nya yang tiba-tiba menoleh menatap ku.
"Kalau boleh, aku akan mencintai mu Gege..." Ucap ku tersenyum menatap nya.
Ia mengalihkan pandangann ya dari ku, wajah nya memerah seperti memakai blush on.
"Apa kau malu Gege? Haha..." Aku tak bisa menahan tawa ku. Mereka semua menatap ku dengan rasa penasaran.
"Apa yang kau tertawakan?" Ucap Neftaza yang menatap ku dengan kening nya yang terlihat mengerut.
"Tidak... Aku hanya ingin tertawa, tak masalah bukan?" Ucap ku menatap nya.
"Lo gak gila kan?" Ucap nya lagi.
"Enggak..."
Suasana kembali diam, pandangan mata ku fokus menatap ke depan. Rasa sakit ku mulai menghilang, aku sedikit terhibur oleh kelakuan Hasper yang mudah tergoda oleh ku.
"My lord, kalian sudah terbebas dari kejaran roh jahat itu..."
"Benarkah?"
"Jadi, maksudmu kerajaan-kerajaan yang mereka kuasai adalah kerajaan yang hanya aku ketahui?"
"Kau benar my lord, mereka menguasai kerajaan yang terkuat..."
Aku selama ini hanya mengetahui tentang kerajaan terkuat saja, selebihnya aku tak mengetahui tentang kerajaan yang lain. Jadi kaisar hanya mencari sekutu yang memiliki kekuatan yang besar? Baiklah aku akan menghancurkan nya dengan kerajaan yang di anggap nya remeh.
_______________
Matahari kembali terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang nya.
Kami berjalan tanpa henti untuk mencari sebuah tempat persinggahan. Aku menatap keheningan malam yang membuat ku semakin kedinginan. Tubuh ku membeku tatkala angin bertiup semakin kencang menghantui diri ku yang semakin ketakutan.
Sesekali kami berhenti untuk mengistirahatkan tubuh kami yang sangat kelelahan, aku tak lagi merasakan sakit di kaki ku. Namun aku bisa merasakan luka di kaki ku menjadi lebih membiru.
Aku menatap keheningan malam yang mulai membekas di lubuk hati ku. Aku menatap kobaran api yang menyala-nyala menghangatkan tubuh ku.
Akan sangat menyenangkan jika aku bisa melihat dalam kegelapan...
"Apa yang kau lamunkan?" Ucap seseorang yang datang menghampiri ku.
Aku menoleh menatapnya, mata nya tersirat cahaya yang berkilau bak permata. Ia adalah Felis, pangeran yang berasal dari kerajaan Switzerland.
__ADS_1
"Apa kau selalu ingin tau pangeran?" Ucap ku menatap nya tersenyum.
Ia duduk di samping ku.
"Kau benar, aku selalu ingin tau tentang mu..." Ia menoleh menatap ku dengan tatapan yang sulit aku mengerti.
"Apa kau bercanda?" Ucap ku bingung.
Ia hanya tersenyum.
"Bagaimana dengan lukamu?" Ucap nya yang menatap kaki kiri ku.
"Entahlah..." Ucap ku seraya menyingsing kan celana ku sedikit ke atas.
"Luka mu berdarah..." Ucap nya yang terlihat panik.
Aku menatap luka ku yang sudah di perban kembali berdarah tanpa henti. Ini hanya luka kecil namun semakin membesar ketika aku berlari tanpa henti.
Aku menatap Felis yang mendekati kaki ku, ia mengangkat kaki ku ke atas paha nya.
"Apa yang kau lakukan pangeran?" Ucap ku terkejut.
"Tenang lah..." Ucap nya seraya membuka perban yang melekat di kaki ku.
Aku menatap nya yang mengobati kaki ku dengan hati-hati, aku bisa melihat mata nya yang bersinar terang.
Apa kau menyukai ku pangeran?
Ingin sekali aku menanyakan hal itu, tapi bukankah sangat memalukan jika dugaan ku salah? Haishhh....
"Selesai... Jangan sampai kaki mu terkena air ok..." Ucap nya mengangkat kaki ku dengan pelan.
"Terimakasih pangeran..."
Ia menatap ku dengan senyuman hangat nya.
Saat ku arahkan pandangan mata ku menatap Airen, aku bisa melihat wajah nya yang terlihat seperti seseorang yang sedang marah.
Ada apa dengan tatapan nya?
Aku menatap ke sekitar hutan yang sangat gelap, aku bisa merasakan jika tempat ini bukanlah tempat yang aman. Namun kami harus beristirahat untuk memulihkan kekuatan kami.
Aku menatap Neftaza yang sedang duduk melamun bersandar di sebuah pohon yang tak jauh dari hadapan ku. Aku bisa melihat raut wajah nya yang terlihat sangat kelelahan. Aku tau apa yang ia rasakan sekarang.
_
_
_
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
❤❤❤