
Hari kepergian mereka pun sudah tiba, aku menatap bang Andara yang berjalan ke arah ku, ia menatap ku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bang, ini..."
Tukas ku, seraya ku berikan satu buah iPhone kepada nya. Ia menerima nya dengan senyuman, kemudian ia memasukkan nya ke dalam saku celana milik nya.
"Aku akan menyuruh beberapa orang untuk menjaga mu dan yang lain..." Ucap nya, ia menatap ku dengan lekat.
"Tidak perlu, tenang lah... Aku percaya sihir mu sangat kuat, lebih baik Abang membawa mereka untuk membantu Abang... Dan Abang hanya perlu percaya kepada ku ok..." Ucap ku, aku memeluk nya dengan erat, ia membalas pelukan ku.
"Kau memang adik ku yang paling manis..." Ucap nya, seraya melepas pelukan ku. Ia tersenyum hangat dan sedikit menggoda ku.
"Berjanji lah pulang dengan selamat ok, ini bukan rapat untuk pemegang saham perusahaan loh tapi tentang keselamatan Abang sendiri..." Ucap ku, ia kembali tersenyum dengan lebar.
"Hahaha... Tenang lah, Abang adalah laki-laki yang kuat, percayalah Abang akan kembali pulang dengan selamat..." Ucap nya tertawa, aku tersenyum melihat nya tak memiliki keraguan sedikit pun.
"Jangan kayak bang Toyib yah, gak pulang-pulang..."
"Abang kan Andara Martin bukan bang Toyib atuh neng... Udah yah, Abang mau siap-siap berangkat dulu..." Ucap nya, aku mengangguk. Kemudian ia pergi meninggalkan kamar ku.
Sejenak aku terdiam, perasaan ku sedikit aneh ketika melihat punggung bang Andara mulai menghilang dari balik pintu kamar ku. Baru saja bertemu beberapa hari, tapi mereka sudah pergi dan aku sama sekali tak tahu kapan mereka akan kembali.
"Perjalanan dari perbatasan ke perbatasan bahkan memakan waktu berhari-hari belum siapa yang mereka bujuk, sedih yah hidup di zaman ini..." Gumam ku pelan.
"Ella..." Panggil seseorang, aku menatap peri kecil terbang ke arah ku.
"Ada apa? Dimana Nefta?" Ucap ku, ketika ia terbang di hadapan ku.
"Dia masih mandi, baru bangun tidur..." Ucap nya malas.
"Berikan aku makanan..." Ucap nya lesu, ia duduk di atas pundak kanan ku.
"Kau hanya kemari karena lapar? Dasar peri manja..." Ucap ku, sembari ku ku langkah kan kaki ku ke arah meja, aku meraih sepotong apel. Kemudian ku berikan kepada Hazel, ia meraih nya dengan cepat.
"Terimakasih..." Ucap nya seraya terbang ke arah meja, ia memakan sepotong apel itu dengan bahagia.
Aku hanya menatap nya tanpa ingin mengatakan apapun, setelah ia selesai makan tampak lah ia memegang perut nya yang terlihat sangat kecil dan mungil.
"Aku kenyang..." Ucap nya, ia mendudukkan tubuh nya dengan nyaman.
__ADS_1
"Ella, apa kau tau sihir ku tak lagi melemah..." Ucap nya menatap ku, aku sedikit kebingungan. Bukan kah bunga sihir nya tak berada di dekat nya? Lalu darimana ia mendapatkan pemasok sihir itu?
"Aku tak tau kapan itu terjadi, tapi aku baru menyadarinya beberapa waktu yang lalu... Mungkin sesuatu membantu ku." Ucap nya sembari berpikir.
"Apa kau selalu berada di ruang dimensi Neftaza?" Ia mengangguk.
"Tapi aku tak merasakan apapun di tempat nya" Ucap nya yakin.
"Mungkin kah Ryu yang membantu mu?" Ucap ku menerka.
"Entah lah... Aku tak tau pasti tentang itu, tapi yang ku tau dulu sihir peri akan melemah jika tak memiliki bunga sihir. Tapi nyata nya sekarang, aku kembali kuat..." Ucap nya lagi.
"Itu lebih bagus..."
"Apa yang kalian bicarakan?" Ucap seseorang yang tiba-tiba datang, ia adalah Neftaza.
"Gak ada... Gimana, apa Ryu setuju untuk membantu bang Andara?"
"Tenang... Ia akan mengawasi bang Andara dengan baik..." Ucap nya, ia berjalan ke arah sofa kemudian ia duduk di sofa depan ku.
Kami mengobrol dengan sedikit pembahasan, tak lama setelah kami berbicara datang lah dua orang laki-laki berpakaian lengkap berjalan ke arah kami.
"Tidak... Kalian beristirahat lah di rumah, kami tak akan pergi lama..." Ucap Hasper tegas seraya menatap kami berdua bergantian.
"Bukan kah lebih berbahaya jika kami di tinggal di sini? Padahal kami ingin ikut..." Rengek Neftaza.
"Bisakah kau diam? Kau terdengar sangat kekanak-kanakan..." Jawab Hazel sedikit kesal.
Neftaza hanya cemberut.
"Gege, kalian akan pergi kemana?" Tanya ku menatap kedua nya.
"Kami akan pergi ke selatan, di sana ada kerajaan kecil, kami akan mencoba menarik mereka untuk menjadi sekutu kita..." Ucap Casper, ia terdengar sangat serius.
"Apa kalian akan pergi lama? Seminggu dua minggu atau sebulan? Tapi, cepat lah kembali." Ucap Neftaza dengan suara rendah nya.
"Kami tak akan lama, setelah selesai berdiskusi dengan mereka kita akan kembali." Ucap Casper kembali.
"Kami percaya kepada kalian, jadi pulang lah dengan selamat ok..." Ucap ku, mereka berdua mengangguk serempak.
__ADS_1
"Pangeran Crystaldy dan pangeran Darren akan tetap di sini menjaga kalian... Lalu ingat lah pesan Gege, jangan keluar dari lingkaran sihir tuan Fegis apapun yang terjadi..." Ucap Hasper tegas, tatapan nya menjadi sedingin salju dan setajam pedang.
"Apa Gege mengetahui sesuatu?" Ucap ku.
"Entah lah... Gege hanya merasa sesuatu sedang mengawasi tempat ini, untuk jaga-jaga lebih baik tetap di rumah..." Ucap nya lagi.
"Baik lah, kami tidak akan pergi kemana-mana..." Ucap ku di angguki oleh Neftaza.
"Pulang lah dalam waktu satu Minggu Gege... Kalian harus bergegas pulang, jika kalian tak kembali dalam waktu itu kami berdua akan pergi mencari kalian." Ucap ku telak.
"Kami akan kembali dalam waktu satu Minggu." Ucap Casper serius.
"Sekarang waktu nya kami pergi..." Ucap nya seraya beranjak berdiri.
"Hati-hati..." Ucap kami berdua.
Mereka tersenyum sembari berbalik meninggalkan kami bertiga dengan keheningan, lagi-lagi aku merasakan sesuatu yang aneh. Sama seperti perasaan yang ku rasakan kepada bang Andara tadi, sebenarnya ada apa? Apakah sesuatu akan terjadi?
"Nef, Lo ngerasain ada yang aneh gak sih?" Ucap ku menoleh ke arah nya, ia menatap ku dengan tatapan sedikit mengkerut.
"Aneh?" Ucap nya kebingungan.
"Yah... Gue juga gak tau aneh nya dimana, tapi perasaan gue gak enak aja gitu... Kayak nya bakal terjadi sesuatu yang mengerikan."
"Udah, gak usah di pikirin... Kita harus percaya sama mereka..." Ucap nya menatap ku. Aku mengangguk.
"Kenapa kalian gak bilang kalau Zu dan Ryu bersama mereka?" Ucap Hazel, kami berdua menatap nya.
"Nanti tambah ribet kalau di omongin." Jawab Neftaza telak.
Aku hanya tersenyum menatap Hazel, ia kesal akan jawaban Neftaza yang begitu sinis terhadap nya.
_
_
_
❤️❤️❤️
__ADS_1