TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 89


__ADS_3

Aku masih menatap seluruh isi kamar yang sangat berantakan. Kembali ku langkahkan kaki ku ke jendela kamar, aku memperhatikan jendela kamar Neftaza yang juga terdapat bercak darah yang melekat di dinding.


Ku arahkan pandangan mataku ke arah luar, cuaca belum kembali cerah namun hujan sudah berhenti total.


"Apa kau menemukan sebuah petunjuk Ela?!"


Aku menatap ke arah seseorang yang berbicara kepada ku.


"Aku hanya menemukan darah... Sepertinya ini adalah darah milik Neftaza Gege...!!" Ungkap ku menatapnya.


Ia tampak sangat mencemaskan Neftaza...


"Darah..??!" Ungkap Hasper seraya menghampiri ku dengan Casper mengikuti nya di belakang.


Aku hanya mengangguk. Tampak raut wajahnya kembali merasa bersalah karena kehilangan Neftaza...


"Maafkan Gege..." Ungkapnya sendu menatap darah yang menempel di dinding.


"Tenang lah Gege...."


Aku mengeluarkan handphone ku dari ruang dimensi, ku telepon Neftaza berharap ia segera mengangkat nya.


Ku harap ia mengangkat telepon ku...


Satu kali panggilan tak terjawab, ia tak menjawab ku. Apa yang sedang terjadi padanya? Apakah ia pingsan?


Aku memeriksa GPS yang berada di handphone Neftaza, namun aku tidak menemukannya. Seperti hilang tanpa jejak.


"Lo gak nyopot GPS nya kan Nefta..." Ungkapku frustasi, ia tidak menjawab telepon ku sama sekali.


"Apa dia tidak menjawab telepon nya??!!" Ungkap Casper yang khawatir kembali.


"Kalian harus berhati-hati, bisa saja salah satu dari kita akan di culik mereka..." Ungkap Hasper seraya berbalik melangkahkan kakinya ke pintu.


"Gege akan pergi menemui pangeran Deffin, berhati-hati lah..." Ungkap Casper sebelum mengikuti Hasper yang sudah berjalan keluar.


"Sip Gege... Aku akan berhati-hati, aku tidak mau membuat kalian merindukan ku..." Ungkapku tersenyum menghiburnya...


"Ok, berjanjilah..." Ungkapnya tersenyum sebelum menghilang dari pandangan ku.


Ku berjalan ke arah laci milik Neftaza, aku buka satu persatu lacinya tampak sebuah kotak tipis persegi panjang berada di laci no dua, aku mengangkat nya dan melihatnya.


"Sungguh ceroboh...."


Sangat menyesakkan, kenapa handphone nya ia letakkan di sini? Bagaimana aku mencari keberadaan mu Rianda...


"Tunggu... gak keg biasanya dia ninggalin handphone walaupun dia ceroboh... Aku harus mengecek nya..." Ungkapku seraya ku aktifkan handphone Rianda.

__ADS_1


"Password?! Sangat menyulitkan... Haish..."


Aku hanya memikirkan hal-hal yang menjadi password Handphone nya...


Aku mencoba mengetikan nama nya namun password salah, kemudian aku mengetik salah satu biasnya... Klik... Berhasil.


"WTF ni anak... Nama bias di buat password???" Memang K-Popers sejati mah.


Aku membuka galeri nya dan tampak beberapa jepretan foto yang tampil satu jam yang lalu. Aku melihatnya seraya ku perhatikan foto apa itu.


"Ya tuhan... Makhluk apa itu? Pantas saja dia terluka... Gila... Semoga kau baik-baik saja Rianda.. Jangan mati ok..."


Bukan hanya foto ternyata terdapat satu video tentang perkelahian Rianda dengan makhluk besar itu. Aku memutarnya melihat nasib Rianda yang sangat mengkhawatirkan, tubuhnya lebam terluka dimana-mana. Hati ku terluka melihatnya seperti itu.


Ku langkahkan kaki ku segera ke luar dari kamar Neftaza, ku telusuri lorong-lorong istana untuk menemui Hasper dan Casper.


Aku bergegas mencari keberadaan mereka dengan ku arahkan pandangan mataku ke sekitar, namun aku tidak menemukan nya. Ku langkah kan kaki ku ke ruang utama istana ini, mungkinkah mereka berada di sana?


"Gege..." Teriakku mencari ke seluruh ruangan yang aku lewati namun aku tetap tidak menemukan mereka.


"Mereka kemana sih? Gila memang ya... Pas di butuhin ilang gak ninggalin jejak sama sekali..."


Sesampainya di pintu ruang utama, aku melihat dua penjaga sedang berdiri di depan pintu dengan baju zirahnya.


"Apa gege ku berada di dalam?!" Ungkapku menatap mereka berdua bergantian.


Mereka saling pandang dan membuka pintu ruang utama dengan segera.


Ku arahkan pandangan mataku ke sekeliling ruangan, tampak beberapa dari mereka duduk di kursi dengan meja panjang berada di tengah-tengah mereka. Sepertinya mereka memang sedang membahas hilangnya Neftaza dan pangeran Edmund.


Kembali ku arahkan pandangan mataku ke sisi sudut ruangan tampak pangeran Andrew sedang berdiri bolak-balik seraya memikirkan sesuatu.


Sangking sibuknya dengan pikiran mereka masing-masing, sampai aku sudah masuk berada di dekat mereka pun mereka tidak melihatku sama sekali.


"Gege..." Ucapku pelan mengagetkan mereka semua.


"Apa yang kau lakukan di sini Ela?!" Ungkap Hasper menatapku lekat.


"Lihatlah ini..." Ungkapku seraya memberikan handphone milik Neftaza yang sedang ku putarkan video perkelahian Neftaza dengan makhluk besar itu.


Tampak raut wajah Hasper dan Casper sangatlah marah, muka mereka terlihat memerah karena amarah yang sangat kuat.


"Kurang ajar..." Ungkap Hasper beranjak berdiri dari tempat duduknya. Hampir saja ia melemparkan handphone Neftaza, namun ia ingat kembali dan melempar satu gelas tehnya ke arah pangeran Andrew.


Pangeran Andrew terkejut dan segera menggunakan sihirnya untuk berpindah tempat.


Prangg...

__ADS_1


Suara gelas pecah yang mengenai dinding ruangan.


Suasana menjadi sangat canggung karena perbuatan Hasper yang marah namun tidak melihat situasi kemana ia melempar gelas itu.


"Maaf..." Ungkap Casper merasa bersalah.


"Apa yang kalian tahu???" Ungkap pangeran Deffin menatap kami bergantian.


Casper memberikan handphone Neftaza kepada pangeran Deffin. Pangeran Deffin menontonnya, sama seperti Hasper ia terlihat sangat marah. Tiba-tiba handphonenya di rebut oleh pangeran Alendra dan pangeran Leandra untuk melihat apa isi dari video itu.


Mereka semua terkejut dengan makhluk yang menculik Neftaza, sepertinya mereka mengetahui sesuatu tentang makhluk itu.


"Aku akan membunuh mereka..." Ungkap pangeran Deffin seraya memukul meja, semua yang berada di atas meja terjatuh dan menimbulkan bunyi... Prang...


Ku tatap raut wajahnya yang sangat menyeramkan, manik matanya kembali berwarna merah begitupun yang lain.


"Selow... Eh maksudku tenang pangeran..." Ungkapku menatap mereka bergantian.


"Benar,,, jangan emosi terlebih dahulu pangeran, kami juga marah karena adik kami telah di culik oleh mereka... Sebaiknya kita memikirkan cara untuk menyelamatkan mereka..." Ungkap Casper meleraikan emosi mereka.


Tampak para pangeran bangsa Elf, manik matanya kembali seperti semula.


"Tunggu... Dimana pangeran Emre? Kenapa aku tidak melihatnya?!" Ungkapku menatap ke sekitar tidak melihat pangeran Emre.


"Dia pergi bersama ayahnya..." Ungkap pangeran Leandra tanpa menatapku.


"Syukurlah..." Ungkapku.


"Mereka adalah sekutu para roh jahat itu, sehingga mereka bisa masuk dan keluar dengan mudah dari istana ini..." Ungkap pangeran Alendra serius.


"Bagaimana pun aku akan menghancurkan mereka..."Geram pangeran Deffin.


"Apa pangeran mengetahui dimana tempat persembunyian mereka?!" Ungkapku penasaran.


Mereka saling pandang dan menggeleng kan kepala mereka.


"Yang kami tahu, keberadaan mereka berada di hutan kematian namun tepatnya dimana kami tidak tahu..." Ungkap pangeran Andrew lesu...


"Hutan kematian?" Ungkap Hasper.


Hutan kematian? Dimana itu?


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah...


❤❤❤


__ADS_2