
Aku menatap bawahan pangeran Alendra yang ku lihat di hutan tadi, ia masuk membicarakan sesuatu dengan pangeran Alendra. Tanpa sengaja ia menatapku dengan tatapan tajamnya.
"Sangat menyeramkan..." Ungkap ku tanpa sadar.
Dia menunduk ke arah pangeran Alendra dan pergi menghilang.
Aku merasakan handphone ku bergetar, aku melihatnya ternyata aku mendapat pesan dari Hasper bahwa kami harus kembali lebih cepat.
"Ku harap pangeran bisa bekerja sama dengan kami, agar semua permasalahan segera terungkap. Kami akan segera kembali ke istana pangeran Deffin.." Ungkapku serius.
"Aku akan menepati janjiku, kalian hanya peelu percaya kepadaku..." Ungkapnya serius.
"Baiklah pangeran, sampai jumpa lagi... Ingat jangan sampai Ervada curiga dengan mu ok..." Ungkap Neftaza tersenyum di balik cadarnya.
"Apa kalian perlu bantuan ku untuk kembali dengan cepat ke sana?!" Ungkap pangeran Albert.
"Bagaimana caranya?!" Ungkap Neftaza bingung.
Pangeran Alendra memanggil seseorang melalui telepatinya. Datang lah seseorang di hadapan kami dengan tiba-tiba.
"Dia adalah adikku..." Ungkap pangeran Alendra.
Aku hanya memikirkan kenapa kami selalu bertemu dengan pria tampan sih, ya tuhan kau menyembuhkan mataku. wkwk...
"Aku adalah Leandra Pradafi nona..." Ungkap pangeran Leandra sopan.
"Aku Neftaza, sedangkan dia adalah Angela pangeran." Ungkap Neftaza.
Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana kalian akan membantu kami?!" Ungkap Neftaza bingung.
Tiba-tiba pangeran Leandra memegang pinggangku seraya berbicara.
"Pegang tubuhku dengan erat nona..." Setelah itu ia membawa ku menghilang.
Tak butuh waktu lama kami sampai di dekat air terjun. Aku terkejut guys, ini terlalu cepat.
Alendra melepaskan tangannya dari pinggangku.
Ku tatap Neftaza yang masih terkejut dengan apa yang ia alami.
"Astaga... Gue gak nyangka..." Ucapnya seraya melepas pegangan dari tangan pangeran Alendra.
Aku dan Neftaza melepas cadar, agar tidak menimbulkan curiga dari pangeran Deffin maupun yang lainnya.
__ADS_1
"Terimakasih pangeran Alendra dan pangeran Leandra..." Ungkapku tersenyum.
"Kalian sangat cantik..." Ucap mereka tersenyum.
Aku hanya tersenyum.
"Neftaza cepat...!"
"Kami akan kembali pangeran... Sampai jumpa!!" Ungkapnya tersenyum manis kepada mereka berdua.
"Berhati-hatilah..." Ungkap pangeran Leandra...
"Tentu..."
Kami pergi meninggalkan mereka melewati aliran sungai menuju ke belakang istana, sesekali aku melihat ke belakang, mereka sudah pergi menghilang.
"Bersikap wajarlah..." Ungkapku memastikan Neftaza.
Ketika kami berjalan ke arah pintu masuk, aku masih melihat para penjaga sedang berjaga di kedua sisi pintu. Padahal ini sudah jam empat pagi...
Aku dan Neftaza terpaksa melempar batu seperti petang tadi untuk mengecoh mereka. Tapi mereka hanya melihatnya tanpa bergerak sedikit pun.
"Apa yang harus kita lakukan?!" Ungkap Neftaza bingung.
"Lo lihat di lantai dua itu kan? Kita manjat..." Ucapku memperhatikan tumbuhan liar yang menempel kuat di dinding itu.
Aku mulai memanjat terlebih dahulu untuk memastikan keadaan. Aku meraih tumbuhan rambat dengan kuat untuk menahan berat tubuhku. Aku mulai menggerakkan badanku untuk segera sampai ke atas.
Kami menatap sekeliling tidak ada siapapun di sekitar sini, kami bergerak dengan cepat untuk ke kamar.
"Beruntung nya kita..." Ungkap Neftaza lega karena kami sudah berada di depan kamar.
Tiba-tiba seseorang menarik ku ke dalam kamar begitupun Neftaza. Kami terkejut, ternyata itu adalah Hasper dan Casper.
"Bagaimana keadaan kalian?!" Ungkap Casper cemas.
Aku menatap mereka yang terlihat sangat gelisah karena kami datang terlalu lama.
"Kami baik-baik saja Gege..." Ungkap Neftaza tersenyum seraya duduk di kursi.
"Kami berhasil... Kami berhasil berbicara dengan pangeran Alendra Gege..." Ungkapku senang menatap mereka seraya menghampiri Neftaza. Aku duduk di kursi dekat dengannya.
"Apakah semudah itu?!" Ucap Hasper sedikit ragu.
"Iyaa Gege, pangeran Alendra mempercayai kami dengan begitu mudahnya... " Ungkap Neftaza menatap mereka dengan senyuman nya.
"Aneh... Ini sangat aneh..." Ungkap Hasper membalikkan badannya seraya memegang dahinya.
__ADS_1
Aku dan Neftaza sangat bingung dengan sikap Hasper dan Casper yang terlihat khawatir. Kenapa mereka?
"Apa kalian tidak merasa curiga dengan pangeran Alendra? Kenapa mereka semudah itu mempercayai kalian? Apa kalian melibatkan video itu dari handphone kalian?!" Ungkap Casper penuh pertanyaan...
Aku dan Neftaza saling melihat sebelum mengangguk.
"Lalu apa yang terjadi ketika kalian menunjukkan handphone kalian? Apakah reaksinya berlebihan?!" Ungkap Hasper lagi.
Aku mengingat lagi ekspresi pangeran Alendra ketika ia melihat sebuah handphone yang di berikan oleh Neftaza.
"Ekspresi nya tidak terlalu terkejut, dia hanya merasa curiga dengan handphone yang ku berikan..." Ungkap Neftaza.
"Ya, memang seperti itu ekspresi wajah pangeran Alendra, ketika ia melihat handphone yang menunjukkan sebuah video tentang menteri Hagrit.." Ungkapku yakin.
Aku menatap Hasper dan Casper yang masih terlihat khawatir tentang itu, karena mereka berpikir seperti itu. Aku mulai sedikit khawatir jika kami melakukan hal yang salah. Bagaimana jika pangeran Alendra hanya mempermainkan kami? Bagaimana jika ia bersekutu dengan menteri Hagrit?
Apa yang akan terjadi ke depannya jika apa yang ku pikirkan benar-benar terjadi. Ah... aku baru sadar kalau aku dan Neftaza terlalu terburu-buru untuk mengatasi permasalahan antara pangeran Deffin dan pangeran Alendra, sangat ceroboh.
"Karena sudah terlanjur, sebaiknya kita lebih berhati-hati berada di sini..." Ungkap Casper yang di angguki kami semua.
"Istilahnya, baru keluar dari kandang serigala sekarang kita masuk ke dalam kandang harimau yang bermusuhan dengan singa. Hahaha... Gue jadi pengen ketawain nasib kita yang begitu apes..." Tawa Neftaza sedikit keras.
"Jangan berisik, nanti ada yang curiga kalau kita terbangun jam segini..." Ungkapku menatap Neftaza kesal.
"Upsss... Sorry." Ungkapnya tanpa merasa bersalah.
"Kita harus kembali ke kamar masing-masing..." Ungkap Hasper seraya pergi meninggalkan kami.
"Dadah... Gue balik dulu ke kamar... Hati-hati loh..." Ungkapnya bertingkah menyebalkan.
Dia memang jadi menyebalkan jika dia tidak mengalami kesakitan di dalam tubuhnya.
Huh... cewek bar-bar mah gitu...
Casper dan Neftaza mengikuti mereka keluar dari kamarku dengan hati-hati. Ku tatap tubuh ku yang sedikit kotor karena perjalanan tadi, ku ganti pakaian ku untuk segera tidur karena aku lumayan kelelahan dan sangat mengantuk.
Ku baringkan tubuhku dengan selimut menyelimuti tubuhku, aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul lima kurang. Aku memejamkan mataku dan terlelap.
Beberapa saat ku rasakan tubuhku yang sedikit kedinginan karena angin menyentuh kulitku.
Ada apa ini? Bukankah aku sedang tertidur?
Ku rasakan seseorang menyentuh tanganku, sangat dingin. Tubuhnya sangat dingin, aku hanya bisa merasakan nya tanpa melihat. Siapa dia? Apakah ini hanya mimpi?
-
-
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yah...
❤❤❤