
Ketika aku baru saja membuka mataku karena terkena air, aku melihat pangeran Andrew sudah berada di pinggir sungai dalam keadaan kering. Maksudku seperti dia tidak pernah tercebur ke air, apa dia menggunakan sihir?
Aku kaget, hebat banget dia.
Elf memang penuh dengan keajaiban, sangat sulit untuk ku cerna walau aku berada di sini sekarang. Aku memang berada di dunia yang berbeda, dan ini memang sangat berbeda.
"Apa kau tidak ingin naik?" Ungkapnya menatapku.
Aku mengabaikan nya dan segera berjalan naik ke permukaan, ku ambil pakaian dan alas kakiku kemudian ku langkahkan kaki ku menuju istana Elf.
Sesekali aku menoleh ke belakang ingin melihat pangeran Andrew, tapi aku tidak melihatnya dia pergi begitu saja setelah menggangguku.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat melewati bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan belakang istana, memang sangat indah.
Selama di sini aku tidak pernah melihat para bangsawan elf menggunakan sihir sedikit pun, apa mereka hanya menggunakan sihir jika itu membahayakan mereka? Sepertinya memang benar.
Saat aku melewati sebuah lorong dengan salah satu pintu menuju ruangan utama, aku mendengar bahwa mereka sedang meributkan sesuatu. Ketika aku ingin membuka sedikit pintu itu, aku teringat akan perkataan pangeran Andrew, jangan ikut campur urusan bangsa elf.
Ok lah aku gak akan ikut campur.
Kembali ku langkahkan kakiku berjalan melewati tangga menuju ke kamarku, aku baru sadar jika di istana ini kamar ku berada di lantai paling atas. Kenapa mereka membawa kami di lantai paling atas? Apa ada yang di sembunyikan oleh mereka?
Ya jelas ada ....
Sudahlah... Lupain...
Aku berjalan dengan tergesa-gesa karena aku tidak ingin memikirkan sesuatu yang membuat ku penasaran.
Please, jadi manusia bodo amat saja... Itu sudah cukup membantumu untuk hidup dengan tenang...
Gara-gara pangeran Andrew kain yang mengikat luka di kepala ku menjadi basah, semoga luka ku tidak mengalami pendarahan lagi.
Aku memasuki kamar ku dan duduk di sebuah kursi, aku mengeluarkan sebuah cermin besar di depanku. Kemudian aku membuka ikatan dengan perlahan, aku melihat luka ku yang sudah tidak berdarah lagi.
__ADS_1
Mungkin ini efek dari obat herbal milik paman itu, memang sangat mujarab.
"Bye the way, siapa nama paman itu? Aku tidak pernah mendengar bibi Lena membicarakan namanya.??!!!!"
Sudahlah lebih baik aku keringkan rambutku dulu. Aku berjalan ke arah jendela untuk mendapatkan sinar matahari. Seraya mengambil handuk dan mengusap-usap rambutku dengan hati-hati agar tidak mengenai luka ku.
Ketika rambut ku sudah cukup mengering aku mengganti pakaian ku dengan pakaian baru yang ku ambil dari ruang dimensi ku. Aku kembali mengusap-usap rambutku hingga sekering mungkin. Kemudian aku mulai mengobati luka di kepalaku menggunakan obat yang di berikan paman itu.
Aku memperban bahkan luka dengan menggunakan kain dari paman itu yang juga di tinggalkan di atas meja samping tempat tidurku. Sebenarnya aku ingin menggunakan perban biasa tapi aku tidak ingin membuat mereka curiga dengan itu.
Untuk masalah pakaian aku selalu menggunakan pakaian yang sama seperti pakaian yang di berikan bibi Lena kepadaku begitupun yang lain. Aku tidak ingin menggunakan pakaian yang di berikan orang yang baru saja ku kenal, entahlah... aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku tidak berhati-hati.
Setelah selesai merapikan pakaian dan rambutku, aku menghias wajahku seperti biasanya. Aku tak pernah lupa memakai skincare walau jarang. Yah setidaknya membuat kulit tetap lembab sudah sangat membantu ku. Aku memasukkan kembali semua benda yang ku keluarkan ke dalam ruang dimensi.
Ku langkahkan kakiku berjalan ke arah kamar Neftaza, aku ingin menghampiri nya untuk mengajak nya makan bersama di kamar Casper.
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Tampak dia sedang duduk di kursi depan meja yang terdapat cermin, ia memakai skin care miliknya. Ia sedang menepuk-nepuk lehernya dengan pelembab.
"Yaa,,, gue udah siap..." Ungkapnya seraya membereskan skin care itu dan mengembalikan nya ke ruang dimensi miliknya.
Aku berjalan ke arahnya dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Udah membaik, obat paman itu sangat mujarab loh, Lo ngerasain itu kan?!" Ungkapnya menoleh menatap ku.
"Ya, Lo bener... Coba aja kalau dokter yang ngobatin kita paling butuh seminggu lebih buat kita sembuh..."
"Ya Lo bener..." Ungkapnya seraya merapikan rambutnya yang di ikat seperti ekor kuda dengan rapi.
"Apa Lo udah ngasih baju ke mereka?!" Ungkapku penasaran.
"Tenang, gue mah udah standby..." Ungkapnya sombong.
"Gimana baju yang di kasih bibi Lena,...?!"
__ADS_1
"Lo tenang aja, walau gue ceroboh gue kagak bakal lupa...." Ungkapnya beranjak berdiri.
"Let's go..." Ungkapnya berjalan meninggalkan ku.
Dia sudah bisa mulai berjalan dengan normal walau kadang-kadang ia masih merasakan sakit di bagian kakinya. Aku mengikuti langkah kakinya dengan cepat. Tak lupa aku menutup kamar Neftaza dengan rapat.
Kami masuk ke dalam kamar Casper, tampak Hasper sudah berada di sana menunggu kami untuk sarapan bersama. Aku menutup pintu dengan rapat supaya tidak ada satupun yang mengetahui apa yang sedang kami lakukan.
"Kalian sangat lama..." Ungkap Casper duduk di tempat tidurnya.
"Maaf Gege,,," Ungkapku tertawa kecil.
Neftaza mengeluarkan empat buah bubur ayam dengan empat buah jus apel. Saat ini kami hanya bisa memakan itu, untuk kesembuhan kami.
Kami memakan dengan lahap selama beberapa menit. Neftaza memasukkan kembali piring dan gelas ke dalam ruang dimensinya setelah kami menyelesaikan sarapan kami.
Kami melanjutkan dengan berbincang-bincang. Ku lihat jam di tanganku menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Program yang kami ciptakan memiliki mode yang beragam. Bentuk ataupun rupa jam tidak bisa di lihat oleh siapapun ketika kami mengatur dalam mode menghilang (Transparan). Dan hanya aku pemiliknya yang bisa menggunakan dan melihat jam itu.
Maka dari itu tidak ada siapapun yang melihat nya kecuali Hasper dan Casper. Sebenarnya kami bisa saja memberikan jam yang berisikan ruang dimensi kepada Hasper dan Casper, tapi kami tidak punya waktu untuk memogram jam lain. Karena pemograman butuh waktu yang sangat lama.
Sehingga kami hanya bisa memberikan jam merk tanpa ruang dimensi. Sesekali mereka menggunakan jam itu dengan hati-hati yang di tutupi dengan pakaian panjangnya.
Selama berbincang-bincang aku menatap Hasper dan Casper yang masih belum bisa beraktivitas berat. Aku tidak habis pikir kenapa para elf tidak mau menyembuhkan kami dengan sihir nya? Padahal mereka memiliki sihir cahaya bukan? Sihir penyembuh. Tapi kami hanya di rawat oleh paman tabib itu.
Entahlah...
-
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
__ADS_1
❤❤❤