TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 150


__ADS_3

"Lo darimana aja?" Ucap nya menatap ku kesal.


"Lo aja yang kecepatan, gue tadi ketemu Alex..." Ucap ku seraya menatap laki-laki berbadan tegap yang menunduk kepada ku.


"Alex?" Tanya Neftaza.


"Tuan muda dari pemimpin desa pemberontak." Ucap ku, masih dengan menatap laki-laki yang ada di hadapan ku.


"Ohhhh..." Jawab nya.


"Siapa dia?" Tanya ku menatap ke arah Neftaza.


"Dia Verdy, adik dari Venan..." Jawab Neftaza mengalihkan pandangannya dari ku.


"Verdy? Pantas saja wajah mu tak asing bagi ku..." Ucap ku tersenyum.


"Hormat saya putri... Saya Verdy..." Ucap nya memberi hormat.


"Aku sudah mengetahui nama mu, kau terlambat memperkenal kan diri..." Jawab ku menggodanya.


"Maaf kan saya putri, saya tidak akan mengulangi nya lagi..." Jawab nya lebih menunduk.


"Lupakan... Ayo... Pergilah sekarang..." Ucap Neftaza.


Kemudian kami bertiga berjalan beriringan dengan Verdy berjalan satu langkah di belakang kami. Ia mengarah kan kami ke suatu jalan yang mengarah ke arah sisi timur desa ini, dengan beberapa pengawal tampak berjaga di depan setiap rumah yang cukup besar di banding kan dengan rumah yang ada di luar jalan ini.


"Rumah-rumah di sini terlihat berbeda..." Ucap ku seraya menatap ke sekitar.


"Ini adalah area rumah para petinggi desa..." Jawab Neftaza.


Aku mengangguk. Ku arah kan pandangan mata ku menatap ke arah samping kanan ku, aku berhenti sejenak seraya menyuruh Verdy untuk berjalan mendahului kami.


Cukup lama kami berjalan, kami sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat sangat asri dengan beberapa tumbuhan tertanam rapi di depan rumah itu.


"Ini rumah kalian? Apakah kalian sangat menyukai tumbuhan?" Tanya ku kepada Verdy.


Verdy hanya mengangguk.


"Selamat datang, tuan Verdy..." Ucap kedua penjaga di depan pintu.

__ADS_1


Kemudian kedua penjaga itu langsung membuka pintu itu dengan cepat dan mempersilahkan kami bertiga untuk segera masuk.


Sesampainya di dalam, tatapan ku mengarah ke salah satu ruangan yang cukup mewah dengan beberapa dekorasi terpampang indah di sana.


Biasanya desa perompak adalah desa yang tidak terlalu rapi bukan? Namun ketika berada di sini semua bayangan tentang rumah yang tidak layak akan hilang. Ya walau ada beberapa rumah yang cukup tak layak, mungkin mereka budak dulu nya.


Lamunan ku terhenti ketika Verdy berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang cukup besar.


"Masuk lah, dia ada di dalam..." Ucap Verdy menunduk.


Lantas kami berdua melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan besar yang ada di hadapan kami dengan beberapa pot bunga besar berada di setiap sudut ruangan.


"Kegnya dia memang pecinta tumbuhan deh..." Ungkap Neftaza seraya berjalan menghampiri salah satu pot bunga yang ada di sudut kanan ruangan.


"Yah kelihatannya sih memang gitu..." Ungkap ku seraya berjalan ke arah sebuah kursi yang berada di tengah ruangan.


Cukup lama kami termenung menatap furniture yang ada di ruangan ini, tampak lah sesosok laki-laki memasuki ruangan melalui salah satu pintu yang ada di seberang pintu masuk kami tadi.


"Maaf telah membuat kalian menunggu tuan putri..." Ucap nya sedikit menunduk, terbesit rasa bersalah di raut wajah nya.


"No problem..." Ungkap Neftaza seraya duduk di kursi dekat ku.


Venan terlihat kebingungan dengan jawaban Neftaza.


"Kami ingin mengetahui tentang tuan mu, Fegis..." Ucap ku to the point.


"Kau bisa menjelaskan asal usulnya dan bagaimana dia bisa menjadi ketua perompak di sini." Ucap Neftaza serius.


"Baiklah... Sebelum nya saya tak mengetahui apa yang membuatnya menjadi ketua perompak, namun saya hanya mengetahui jika asal usul tuan Fegis tidak lah ada yang tahu." Ucap nya.


"Jadi kau tak mengetahui apapun?" Tanya ku penuh penekanan.


"Benar putri... Tuan Fegis memiliki kekuatan yang cukup hebat sehingga beberapa pengikut nya tidak mencari tahu asal usul nya, bahkan mereka semua tampak mempercayai nya tanpa keraguan sedikit pun. Karena tuan Fegis adalah tuan yang sangat baik, dulu nya anggota perompak bukan lah siapa-siapa mereka hanya pengemis jalanan yang di bantu oleh tuan Fegis, seperti ku dan Verdy."


"Lalu beberapa bulan sekali kami akan pergi kelautan hanya untuk merampas kekayaan dari seseorang yang benar-benar mendapatkan kekayaan itu bukan dari sesuatu yang baik."


"Istilahnya seperti korupsi seperti itu?" Tanya Neftaza, dengan pandangan mata nya masih tertuju kepada Venan.


"Benar putri... Entah darimana tuan Fegis mengetahui dari mana hasil kekayaan tersebut, namun ia tak pernah salah akan keputusannya. Beliau seperti memiliki sihir, namun kami sama sekali tak mengetahui atau melihat sekalipun kalau ia menggunakan sihir."

__ADS_1


"Sepertinya dia memang orang yang baik." Ucap ku.


"Dan dia adalah orang yang tidak ingin orang lain mengetahui identitas nya." Sambung Neftaza, aku menoleh menatap nya.


Venan pun hanya mengangguk kan kepala nya.


"Lalu kenapa Fegis menggunakan topeng seperti itu? Apakah memang dari awal ia memakai topeng itu?" Ucap ku penuh pertanyaan.


"Hemmm... Dari awal kami bertemu dengan nya, dia sudah memakai topeng itu..." Ucap nya lagi.


"Lalu bagaimana bisa kau menjadi orang kepercayaan pangeran?" Sambung Neftaza penasaran.


"Pangeran pernah sekali menyelamatkanku dan adik ku dari peristiwa yang sangat tragis yang pernah kami alami, lalu karena pertolongan itu kami berjanji untuk selalu setia kepadanya. Namun itu kejadian sebelum kami masuk ke dalam perkumpulan perompak." Ucap nya menatap kami berdua bergantian.


"Ohh seperti itu... Lalu apakah tuan Fegis suka melukis?" Ucap ku penuh harap.


"Iya tuan Fegis sangat lah suka melukis, di sela-sela kesibukan nya ia akan melukis apapun yang ia pikirkan. Contoh nya lukisan bunga mawar yang berada di salah satu lorong utama. Itu adalah lukisan yang sangat berarti untuk nya." Ucap nya terlihat sendu.


"Tuan Fegis pernah bercerita pada saya bahwa adik nya sangat menyukai bunga tersebut, namun saya tak tahu dimana adik nya berada." Ucap nya kembali menatap ku.


"Gue punya firasat nih..." Bisik Neftaza pelan, aku menjawab dengan anggukan.


"Kau memberikan banyak informasi padaku, terimakasih..." Ucap ku tersenyum.


"Sudah seharusnya putri..." Ucap nya menunduk.


"Lihat lah ini..." Ucap Neftaza, seraya mengeluarkan sesuatu dari balik baju nya.


Tampak lah sebuah gulungan kertas dengan beberapa gambar yang terlihat dari gulungan kertas itu tampak seperti pistol.


"Itu adalah cara pembuatan pistol, kalian bisa membuat nya tanpa kesulitan." Ucap Neftaza tegas.


"Terimakasih putri..." Jawab Venan menunduk.


Kami berdua beranjak berdiri keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan Venan mengantarkan kami ke pintu luar.


_


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️


__ADS_2