
Kehidupan yang penuh dengan petualangan seperti ini membuatku rindu akan kehidupan ku di zaman modern. Setiap hal yang ku lakukan bisa saja membahayakan nyawaku sendiri jika berada di sini. Aku harus perlu ekstra berhati-hati untuk menyelamatkan hidupku.
Aku tak habis pikir dengan permasalahan ini semua, kenapa setiap makhluk hidup memiliki sikap kekejaman yang sangat kental? Mungkinkah untuk keseimbangan dunia?
Bukankah jika mereka semuanya memiliki sikap yang baik maka hidup lebih bermanfaat tanpa harus mempertaruhkan nyawa sendiri atau pun orang lain?
Aku ingin tau alasan kenapa mereka berbuat seperti itu?
Aku menatap indahnya rembulan yang menghiasi langit-langit malam. Mereka membuat ku mengerti, apa aku harus hidup seperti kegelapan yang hanya bisa membuat bintang dan bulan bersinar terang? Atau aku hanya menjadi bintang-bintang kecil yang bersinar karena adanya kegelapan?
Apa aku juga harus menjadi rembulan yang menyinari kehidupan tanpa meminta balasan? Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
"Daddy... Mommy... bang Andara... Aku sangat merindukan kalian..."
"Apa kalian merindukan ku?
Kakek,,, kami meninggalkan kalian begitu lama, apa kalian baik-baik saja?..."
"Sebentar.... Sebentar lagi kami akan kembali... Ku mohon kalian harus baik-baik saja..."
Aku menangis sesenggukan, memikirkan semua hal yang selalu membuatku lemah. Apa aku terlalu lemah?
Aku terduduk di sudut ruangan memegang kedua lutut ku sebagai tumpuan. Aku menangis dan menangis untuk menghilangkan rasa lelahku. Dulu aku hanya menangis karena menonton Drama Korea, tapi sekarang aku menangis karena untuk menenangkan diriku sendiri.
Aku juga merindukan Oppa-oppa ku, bagaimana kabarnya? BTS... Aku ingin pergi ke konser kalian....
"Yakkk... Kau bodoh, bukan saatnya memikirkan mereka..."
Aku mengusap air mata buaya. Eh maksudku air mata kesedihan di pipiku.
Aku beranjak berdiri berjalan pergi duduk di atas tempat tidur ku. Kepalaku terasa sangat berat apalagi pandangan mataku yang sedikit buram karena kelopak mataku bengkak...
"Kenapa tadi aku menangis? Aku sangat menyesal karena menangis... Percuma skin care ku mahal-mahal... Huh..."
"Tapi aku juga kagak beli skin care deh, tinggal ambil aja gratis... wkwk..."
(Sungguh iri hatiku mendengar kata "Gratis")
Aku mengompres mataku dengan es batu yang ku ambil dari ruang dimensi, aku jadi merindukan Rosewaltz. Bagaimana keadaan mereka yah? Apa ayah benar-benar membunuh makhluk-makhluk menjijikkan yang menyamar menjadi kami?
__ADS_1
"Ahhh... kenapa aku harus meragukan ayah sih? Lama-lama otakku jadi stress kalau begini..."
(Absurd banget Angela ya haha...)
Aku ingin berjalan-jalan untuk memulihkan bengkak di mataku, aku keluar kamar dengan hati-hati. Ku tatap sekeliling lorong, tidak ada siapapun di sekitar sini.
"Aku harus kemana?"
Berjalan-jalan pada tengah malam sangat merilekskan tubuh, maka dari itu aku sangat menyukai nya.
"Aku akan ke taman..."
Ku langkahkan kakiku menuju taman istana, aku ingin mengunjungi nya untuk yang pertama kalinya. Ku arahkan pandangan mataku ke arah para kesatria elf yang sedang mondar mandir berjaga di seluruh tempat.
Aku berjalan dengan santai tanpa menghiraukan mereka. Sesekali aku melihat tatapan mereka yang sangat menakutkan di malam hari.
Setiap lorong yang ku lewati terdapat obor api yang berada di setiap tiang lorong, aku juga melihat mereka menggunakan kunang-kunang untuk di jadikan sebagai penerangan ruangan.
Taman istana terdapat di samping sebelah kiri istana yang terhubung langsung dengan halaman depan istana. Selama berhari-hari di sini aku mulai memahami setiap tempat yang ada di istana ya walaupun kami hanya bisa melewati lorong-lorong tertentu untuk keluar maupun masuk.
Aku berjalan dengan perlahan menuju ke pintu taman, aku menikmati pemandangan yang di hasilkan oleh berbagai bunga di sana. Aku melihat pantulan rembulan dari sebuah kolam ikan yang sangat indah di tengah-tengah taman.
"Kenapa mereka enggak tidur? Kan ini udah malem...!!!!" Ungkapku serius memperhatikan nya...
"Apa mereka memang gak tidur ya?" Ucapan absurd ku lagi...
"Aishh... kenapa aku mikirin ikan sih..." Aku menegakkan tubuh ku dan mengangkat kedua kakiku untuk duduk bersila di atas kursi.
Ku arahkan pandangan mataku ke sekeliling, aku tidak melihat siapapun di sini namun aku masih bisa melihat para kesatria elf sedang berjaga di belakang ku, keberadaan mereka cukup jauh dari tempat ku duduk.
Tiba-tiba angin berhembus kencang menyentuh kulitku, aku merasakan kesejukan di tubuhku. Rembulan yang bersinar terang mulai menghilang tergantikan dengan awan hitam pekat yang mulai mengumpul di atas ku. Bintang-bintang (yang sebanyak cintaku padamu) pun menghilang tanpa jejak.
Rintik-rintik hujan mulai berdatangan mengenai ku, tubuhku mulai basah karena guyuran air hujan beserta angin kuat yang menyentuh tubuhku membuatku sedikit kedinginan.
Aku ingin bermain hujan-hujanan tapi aku takut badanku terlalu lemah, aku berlari ke gazebo taman untuk berteduh.
Sesekali aku menyentuh air hujan yang turun dari atap gazebo, ku rasakan tanganku yang mulai mengerut karena terlalu lama bersentuhan dengan air. Badanku yang mulai menggigil karena kedinginan membuatku ingin berlari ke dalam istana. Namun hujan masih turun sangat lebat.
Aku duduk seraya menundukkan badanku agar aku bisa merasakan sedikit kehangatan. Mataku mulai terpejam mendengar kan rintikan hujan di atas tanah.
__ADS_1
Tiba-tiba aku merasakan seseorang menyelimuti ku dengan jas, aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa dia.
DEG*
Dia adalah pangeran Andrew. Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia mengikuti ku?
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ungkapnya sedikit ketus.
Aku sangat malas menjawabnya.
"Aku hanya menikmati apa yang aku lihat.." Ucapku datar.
"Lebih baik kau segera masuk..." Ungkapnya menatap ku dingin
"Aku menunggu hujan reda..." Ungkapku mengalihkan pandangan mataku darinya.
"Sampai kapan kau akan menunggu hujan reda?" Ungkapnya tegas.
Aku terkejut seraya menoleh ke arahnya. Ia mulai mendekati ku dan menggendong ku ala Bridestyle, aku memberontak karena terkejut.
"Turunkan aku..." Teriakku memaksanya. Tapi ia mengabaikan ku dan langsung berlari secepat kilat ke depan pintu kamarku.
(Nj*r cepat banget)
Ia menurunkan ku dengan segera lalu pergi meninggalkan ku dengan pakaian luarnya yang masih menempel di tubuhku. (Seperti jas).
"Haishh..." Aku berbalik masuk ke dalam kamar. Aku meletakkan jas miliknya di kursi, kemudian aku mengganti pakaianku untuk segera tidur.
Aku menyelimuti tubuhku dengan selimut berwarna putih. Ku arahkan pandangan mataku ke jas milik pangeran Andrew sebelum tertidur.
"Terimakasih..."
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
❤❤❤
__ADS_1