
Semakin lama kami berjalan semakin cepat pula kami berada di pinggir hutan, dari kejauhan aku bisa melihat perbatasan yang sedang di jaga oleh beberapa kesatria berpakaian hitam sedang berdiri di sana.
"Hust..." Hasper menyuruh kami untuk segera berhenti dan bersembunyi.
Para kesatria penjaga itu terlihat sangat mencurigakan, seperti nya mereka bukan lah para kesatria biasa yang menjaga perbatasan.
Ku tatap Hasper yang bersembunyi di belakang pohon besar seraya memusatkan pandangan mata nya ke arah para penjaga itu, ia meminta Neftaza untuk memberikan teropong kepada nya.
Ku tatap raut wajah Hasper yang terlihat sangat serius, seperti nya ia menyadari sesuatu.
"Kita tidak bisa lewat dari sana..." Ucap nya yang berbalik menoleh ke arah kami.
"Kita harus mencari jalan yang lain..." Ungkap nya lagi.
Kami kembali berjalan ke arah yang berbeda untuk mencari jalan keluar, namun aku merasakan jika itu bukan lah hal yang mudah.
"Zu, apa kau punya rencana?"
"Aku akan membantu kalian my lord, tapi dengar kan aku. Kalian hanya punya waktu lima menit untuk keluar melalui gerbang yang di jaga penjaga itu..."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menghentikan waktu selama lima menit, gunakan lah waktu sebaik mungkin my lord..."
"Baiklah, aku percaya pada mu... Aku akan berbicara kepada mereka."
"Gege, kita tidak harus pergi dari sini..." Ungkap ku menatap mereka semua.
"Apa yang kau katakan?" Ungkap Esmeralda tak percaya kepada ku.
"Kita bisa melewati mereka dengan bantuan teman ku..." Ungkap ku memberikan isyarat kepada Neftaza..
"Benar, kami memiliki teman yang bisa membantu kita..." Ucap Neftaza yang di angguki oleh ku.
"Bagaimana caranya? Bukankah itu mustahil?" Ungkap Gazelle yang membuat ku semakin kesal.
"Dengar kan mereka berdua..." Ungkap Hasper yang mengerti perkataan ku.
Kami kembali berjalan ke posisi kami tadi. Aku menunggu waktu yang tepat untuk melihat seberapa jauh nya kami harus berlari dan kami hanya punya waktu lima menit untuk keluar dari tempat ini.
"Kita hanya punya waktu lima menit untuk keluar melewati mereka..." Ungkap ku menatap mereka semua.
"Lima menit? Jarak dari tempat kita ke gerbang perbatasan sejauh lima ratus meter, dan itu membutuhkan dua sampai tiga menit, kita pasti bisa melewati nya..." Ungkap Casper yang sedang memprediksi sejauh mana kami akan berlari.
"Apa kalian semua bisa berlari?" Ungkap Felis yang menatap kami bergantian.
Bagaimana dengan luka di kaki ku? Sepanjang perjalanan aku memang tak merasakan perih, tapi apa yang terjadi jika aku berlari?
__ADS_1
"Tunggu, tak semudah itu kita akan kabur dari sini... Perhatikan tanah tempat kalian berlari, aku tidak ingin kita terjebak ke dalam perangkap mereka..." Ungkap Casper lagi dengan pandangan serius.
"Maka kita akan berlari dengan dua orang saling berpegangan tangan..." Ungkap nya lagi.
Aku mengangguk begitupun yang lain. Casper berjalan mendekati ku dan menggerakkan tubuh nya berjongkok melihat luka yang ada di kaki kiri ku.
"Kau bisa berlari kan Ela?" Ungkap nya yang mendongak melihat ku.
"Aku tak lemah, kau tau ada kau dan Zu yang menyelamatkan ku... Aku mempercayai kalian..." Ungkap ku tersenyum menatap nya.
"Baiklah." Ia tersenyum seraya berdiri memegang tangan kanan ku dengan tangan kiri nya.
"Apa kalian semua siap?" Ungkap Hasper yang menatap mereka bergantian.
Mereka mengangguk, dan menunggu aba-aba dari ku.
"Zu, apa kau mendengar ku?"
"My lord, jangan sampai kau meninggal kan setetes darah sedikit pun. Sihir ku tergantung oleh darah mu my lord..."
"Maka aku tidak boleh terluka sedikit pun?"
"Benar my lord..."
"Baiklah aku siap..."
"Dia tidak boleh terluka sedikit pun, jika ia meneteskan darah ke tanah maka mereka akan sadar dan semuanya kembali menjadi normal..." Ungkap Neftaza yang membuat mereka semua mengerti.
"Jaga adik mu dengan benar pangeran Casper..." Ungkap Airen.
Casper hanya menatap nya tajam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Jangan lepaskan pegangan tangan ku Ela..." Ucap nya menatap ku lekat.
"It's ok..."Aku tersenyum menatap nya.
Aku tak boleh terluka, aku harus waspada.
"Zu, hitungan ketiga kau bisa melakukan nya..."
"Baiklah my lord..."
"Kita akan berlari pada hitungan ketiga..." Ungkap ku menatap mereka semua dan di balas anggukan.
"Kami mengerti..."
"Satu... Dua... Tiga... Lari...."
__ADS_1
Waktu berhenti sesuai hitungan ketiga, aku bisa melihat para kesatria penjaga berdiri seperti patung di sana, genggaman tangan Casper begitu kuat menarik tangan ku untuk segera berlari mengikuti nya.
Sesekali pandangan mata ku menatap ke sekitar melihat mereka semua mencoba untuk berlari dengan cepat, aku bisa melihat sekumpulan burung berhenti terbang di langit seperti pajangan yang begitu indah.
Kami berlari dengan cukup kencang, tiba-tiba aku merasakan nyeri di kaki ku, aku mohon jangan mengeluarkan darah sedikit pun.
"Kita bisa, kau harus bertahan Ela..." Ungkap Casper yang mengetahui rasa sakit ku.
Tubuh ku berlari dengan gemetar karena perasaan takut sekaligus rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang ku, aku sangat berharap kami bisa melewati gerbang itu tanpa hambatan.
"Sebentar lagi..." Ungkap ku semangat untuk menghentikan rasa sakit yang menyerang ku.
Ku tatap Hasper dan Neftaza yang sudah sampai di gerbang pintu, mereka dengan cepat membuka pintu gerbang namun terlihat kesusahan. Mereka berdua seperti mencari sebuah kunci dari pakaian kesatria penjaga yang berada di sana.
Aku dan Casper berhasil sampai ke depan gerbang, aku berhasil menjaga tubuh ku tanpa mengeluarkan setetes darah sedikit pun.
Aku memposisikan tubuh ku untuk mengambil nafas sebanyak-banyak nya. Aku menatap ke jam tangan ku, kami masih memiliki waktu sekitar tiga menit.
Namun kami belum menemukan kunci pintu, sebenarnya dimana mereka menyembunyikan kunci nya?
Aku menatap ke sekitar menghiraukan nafas ku yang masih tak beraturan, aku menatap dengan seksama namun aku tak kunjung juga menemukan kunci yang kami maksud.
Tunggu...
Aku melihat sebuah gantungan seperti kunci berada di ujung tombak di salah satu kesatria penjaga yang berada di luar gerbang ini.
Sialan...
"Kunci nya di sana..."Teriakku.
Mereka melihat nya tanpa tau bagaimana mengambil nya.
"Apa yang harus kita lakukan?"Ungkap Gazelle yang sangat panik.
Kami benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih ketika baru saja berlari tanpa henti.
Ku tatap Casper yang mengambil tombak yang di pegang kesatria penjaga yang berada di samping nya.
Ia mencoba mengambil kunci itu menggunakan tombak nya, namun ia tetap kesusahan karena ukuran tombak nya sedikit lebih besar di banding kan lubang pintu gerbang nya.
_
_
_
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
__ADS_1
❤❤❤