TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 56


__ADS_3

Ku tatap ayah yang sedang duduk sendirian di sebuah kursi dengan tangan kanan memegang kepalanya, ia terlihat sangat lelah.


"Ayah..." Panggilku.


Ia menurunkan tangannya dengan tergesa-gesa.


"Ayah, apa ayah sedang sakit?"


Ucapku berjalan mendekatinya.


"Tidak,,, ayah hanya merasa cemas dengan kalian.." Ungkapnya tanpa menatapku.


"Jangan cemas ayah, percayalah kepada kami..." Ungkapku menundukkan tubuhku seraya memegang lengannya.


"Baiklah..." Ungkapnya menatapku.


Aku kembali berdiri duduk di kursi sampingnya.


"Ayah,,, kenapa istana ini di bangun di tempat ini?" Ungkapku melihat sekitar.


"Entahlah,,, istana ini ada sebelum ayah lahir sayang..." Ungkapnya tersenyum memperhatikan sekitar.


"Wah,,, sangat lama ya ayah..."


"Hemm,,, yang ayah tau, tempat ini bukan berada di hutan belakang istana lagi, tapi ayah tak tahu tepatnya dimana itu masih sebuah rahasia para leluhur kita..." Ungkapnya dengan penuh perasaan.


"Benarkah? mungkin tempat ini memiliki sihir..." Ucapku bercanda.


"Sihir?! Ah,,, apa kalian akan tetap berangkat besok pagi?" Ungkapnya mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya ayah,,, lebih cepat pergi lebih baik... Ayah hanya perlu percaya dan terus mendoakan kami ok..." Ungkapku manja padanya.


"Haha... ok.. ok.. Ayah akan selalu mendoakan dan berharap kalian kembali dengan selamat.." Ucapnya seraya berdiri menghampiriku, ia mengelus rambutku dengan lembutnya.


---------------


Aku berjalan perlahan ke arah kamar yang menghubungkan langsung dengan pemandangan awan malam. Sangat indah, aku akan tidur menikmatinya malam ini.



"Jika ayah saja mengetahui bahwa mereka bukan manusia, maka ayah bukan orang sembarangan bukan? Bahkan ketika aku membicarakan tentang sihir, ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu... Entahlah... Ku harap apa yang ia sembunyikan tidak membahayakan nya..."


Aku membuka pintu kamarku. Ku langkahkan kakiku memasukinya, tak lupa ku tutup kembali pintu yang terang berwarna putih.

__ADS_1


"Pencahayaan yang sangat indah..."


Aku menghirup udara yang menyejukkan hidungku, aku berjalan dengan mataku memperhatikan sekitar tak lupa aku menyentuh semua benda saat aku melewatinya.


"Aku akan merindukan tempat ini..."


Aku berlari jatuh di tempat tidur dengan tangan dan kakiku ku gerakkan seperti gerakan memutar di atas tempat tidur. Sangat lembut, aku mencium selimut putih dengan bau khas bunga mawar.


"Ah aku menyukainya..."


"Huhh..."


Aku menghela nafas kasar seraya duduk kembali memandang ke arah luar.


Kami akan pergi besok pagi. Aku cukup lama memandangi ke arah luar, aku berbalik berbaring untuk mengistirahatkan tubuhku.


Aku tertidur, tak lupa pula aku memutar musik tidur dengan lagu sad yang sering ku dengar di setiap drama yang ku tonton.


"Selamat malam!"


Pikiranku seperti terhisap oleh mimpi yang akan menyenangkan. Aku tertidur.


-----------


Ku alihkan pandangan mataku ke arah jam tangan ku, pukul sepuluh pagi. Kami sudah berjalan meninggalkan istana pohon selama kurang lebih dua jam. Ku arahkan pandangan mataku ke depan tampak sebuah bangunan tua yang sudah runtuh berhamburan di sana, namun masih ada tiang-tiang yang berdiri kokoh, kami melangkahkan kaki untuk memeriksa bangunan tersebut.



"Entahlah... tapi bangunan ini seperti bangunan sebuah istana atau rumah mewah..." Ungkapku melihat bangunan yang cukup besar bak istana.


"Sepertinya... Bangunan ini sudah cukup tua,,, sangat memungkinkan jika ini dulunya adalah sebuah istana..." Ungkap Casper mengangguk.


"Lebih baik kita segera pergi..." Ungkap Hasper berjalan keluar tanpa menoleh.


Kami berjalan keluar dari bangunan tua itu mengikuti Hasper yang sudah berjalan cukup jauh.


Kembali ku alihkan pandangan ku ke sekitar, tampak pepohonan besar dengan dataran tinggi yang di tumbuhi rumput-rumput hijau berada di sekitar kami.


Ku tatap mereka semua yang telah kelelahan berjalan dengan keringat membasahi tubuh mereka, ku alihkan pandangan mataku ke Hazel yang sedang duduk di atas pundak Neftaza dengan raut wajah yang cukup lesu.


Kembali ku ku arahkan pandangan ku ke Hasper yang sedang mengusap-ngusap dahinya yang basah karena keringat dengan lengan sebelah kanannya. Ia tampak kelelahan karena terus berjalan tanpa henti.


Sesekali kami berhenti berteduh di bawah pohon besar untuk mengistirahatkan kaki kami yang sangat kelelahan. Melangkah aku bersandar di bawah batu besar berlumut untuk mendinginkan punggungku.

__ADS_1


"Huh..." Ungkap Neftaza lesu ketika ia duduk bersandar di sebuah pohon besar tak jauh dari tempatku beristirahat.


Ku gerakkan kepalaku menoleh ke arah Casper yang sedang berdiri membasahi kepalanya dengan air Aqua yang ku berikan. Ku arahkan pandangan ku ke Hasper yang duduk di dekat batu besar dengan menusuk-nusukan pedangnya ke tanah.


Kami berhenti tanpa berbicara, seperti yang di katakan ayah kami bukan berada di hutan belakang istana kerajaan Rosewaltz, tapi kami sudah berada di tempat yang berbeda. Ia mengatakan jika kami menemukan sebuah pintu atau gerbang, maka kami akan pergi ke salah satu tempat yang tertulis di buku yang kami baca kemarin. Namun, sampai saat ini kami belum menemukan pintu itu.


"Hazel, apa kau lelah?" Ungkapku melihatnya yang sedang terbang di ranting pohon.


"Tidak, aku hanya merasa bosan..." Ungkapnya turun di atas sebuah batu besar.


Hasper melangkahkan kakinya beranjak pergi berjalan meninggalkan kami yang terduduk lelah. Ia berhenti lalu menoleh...


"Kita harus bergerak lebih cepat..." Ungkapnya seraya berjalan kembali.


Kami mengikutinya tanpa membantah. Sesekali kami menemukan buah-buahan seperti apel hutan yang cukup manis menyegarkan tenggorokan.


Dari kejauhan tampak sebuah tempat yang cukup membuat kami berpikir mungkin itu adalah pintunya?



Kami berjalan menghampiri tempat itu, berharap bahwa tempat itulah yang kami cari sekarang.


Kami melewati pintu itu dan....


Cling..


Seberkas sinar yang berada di hadapan kami berhasil membuat mata kami memejamkan mata.


Ku buka mataku memperhatikan sekitar, kami berada di sebuah Padang bunga yang cukup luas terbentang di hadapan kami. Bunga?



"Woow..." Teriak Hazel terbang melihat bunga itu. Ia memang seorang peri yang hidupnya menjaga bunga-bunga sihir. Namun peri memang sangat menyukai bunga.


"Ternyata benar yang di katakan ayah... kita berada di tempat yang berbeda ketika melintasi pintu itu." Ungkap Neftaza memandangi bunga-bunga itu seraya memetik beberapa bunga di tangannya.


Ku alihkan pandangan ku ke Hasper yang berjalan pergi ke dataran tinggi, aku mengikutinya seraya ku arahkan pandangan mataku melihat sekumpulan kupu-kupu terbang tak jauh dari tempatku berjalan.


Ketika kami berada di atas, tampak di sekeliling hamparan bunga ini adalah hutan yang sangat aneh. Di sisi kanan ku terdapat hutan yang sangat lebat namun di sisi kiri ku terdapat hutan dengan pepohonan yang mengering. Jika kita bayangkan, itu seperti hutan kehidupan dan kematian. Apa yang terjadi...


"Ada apa dengan hutan itu?" Ungkap Neftaza berjalan ke arahku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku tanda aku tak mengetahui penyebab hutan itu mati.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah...


❤❤❤


__ADS_2