
Seperti yang ku perkirakan, kami berhenti di pinggir hutan kematian menatap mereka yang melihat kami penuh dengan rasa lega sebelum mengubah raut wajah mereka menjadi sangat menyeramkan.
Aku dan Neftaza mengabaikan tatapan mereka dan menatap matahari yang mulai terbit di ufuk timur dengan indah nya.
"Jarang-jarang gue ngeliat matahari terbit..." Ungkap Neftaza yang berjalan mendahului ku, ia berhenti di tengah-tengah padang bunga seraya menikmati sinar matahari yang menyentuh kulitnya.
Aku beranjak menghampiri nya seraya memejamkan mata ku untuk menikmati udara segar yang tercium hangat di hidung ku.
Terdengar suara langkah kaki yang tiba-tiba mendekat ke arah kami berdua, aku membuka mata ku menatap siapa yang datang menghampiri kami..
"Apa kau tidak menganggap kami ada Ela?" Ungkap Hasper berdiri di hadapan ku dengan raut wajah yang menyeramkan.
"Kami sangat mengkhawatirkan mu begitupun dengan mu Neftaza, kalian baik-baik saja kan?..." Ungkap Casper yang berada di belakang Hasper dengan tergesa-gesa.
"Kau tau... Aku pikir kau juga di culik oleh mereka..." Ungkap Hasper dengan raut wajah yang berubah menjadi sendu.
"Maaf kan aku Gege..." Ungkap ku memeluk Hasper.
Ia membalas pelukan ku dengan erat.
"Jangan lakukan apapun tanpa kami, ok..." Ungkap Hasper mengelus punggung ku.
Aku mengangguk.
Aku melepaskan pelukan ku seraya menatap Neftaza yang juga berpelukan dengan Casper. Tidak ada yang lebih bahagia ketika kita bertemu dengan keluarga kita.
Mereka melepas pelukan, dan tersenyum saling menatap.
Aku kembali memeluk Casper begitupun Neftaza yang memeluk Hasper dengan erat. Kami melepaskan pelukan kami seraya berbicara untuk melepas rindu. ( Ceileh... rindu... wkwk)
"Bagaimana keadaan kalian? Maafkan Gege tidak bisa melindungi kalian..." Ungkap Casper merasa bersalah.
"Santai Gege... Kalian tau siapa kami..." Ungkap ku tersenyum agar membuat mereka berdua tidak merasa bersalah lagi.
"Lihatlah luka lebam mu Nefta, kau terlihat sangat jelek..." Ungkap Hasper bercanda. (Tumben nih...)
"Ahhh... Aku akan tetap cantik di mata orang yang normal..." Ungkap Neftaza tersenyum.
"Dasar laknat..." Ungkap ku menatap Neftaza lekat. Kami berempat tertawa sampai melupakan para pangeran Elf.
Ku tatap Edmund yang sedang berpelukan dengan para pangeran satu persatu, tampak beberapa kesatria elf berada di belakang mereka dengan memegangi tali yang terikat di leher kuda yang sedang memakan bunga.
Tampak raut wajah pangeran sangat lega karena mereka bersama kembali.
__ADS_1
Kami berempat berjalan ke arah mereka seraya menatap mereka tersenyum.
"Nona Ela, nona Nefta terimakasih telah menyelamatkan Edmund..." Ungkap pangeran Deffin tersenyum menatap kami.
"Dengan senang hati pangeran..." Ungkap Neftaza tersenyum membalas mereka.
Aku hanya mengangguk tersenyum.
"Sebaiknya kita cepat kembali ke istana..." Ungkap pangeran Alendra yang menatap wajah Neftaza yang babak belur.
"Baiklah..." Ungkap pangeran Deffin yang berbalik pergi menghampiri kudanya begitupun yang lain.
Aku menatap Hasper dan Casper yang menaiki kudanya, mereka berdua menoleh ke arah kami seraya menyuruh kami untuk bergegas.
Aku berjalan ke arah mereka dengan salah satu kesatria memberikan ku seekor kuda berwarna hitam pekat yang sangat gagah, aku menunggangi nya tanpa rasa takut sedikit pun karena kuda nya sangat penurut walau berjenis kelamin jantan. Mungkinkah para bangsa elf menggunakan sihir untuk menaklukkan mereka?
Ku arah kan pandangan mata ku ke samping kanan ku, tampak Neftaza menunggangi kuda berwarna cokelat yang tak kalah gagah dari kuda yang ku tunggangi.
Tak... Tak... Tak...
Terdengar suara langkah kaki kuda yang di tunggangi para pangeran yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan kami, di susul dengan kuda milik Hasper dan Casper.
Selanjutnya kami yang menunggangi kuda dengan sedikit laju ke arah hutan yang tumbuh rimbun di sana, tiba-tiba aku sangat merindukan tumbuhan hidup.
Aku menatap tetesan embun yang menetes di rerumputan hijau, sesekali aku masih bisa melihat kabut yang belum sepenuhnya hilang di dalam hutan menuju istana Elf.
Kami di sambut dengan meriah oleh mereka, bangsa elf yang senang melihat Edmund selamat. Tatapan mereka melembut karena kami lah yang menyelamatkan Edmund dari Orc assassin dan para roh jahat.
Kami di beri jamuan sarapan yang sangat mewah dengan berbagai jenis makanan yang tidak memiliki bumbu sama sekali. Tapi kami menikmati sarapan pagi dengan suka cita, karena sejujurnya... Kami sangat lapar dan kelelahan.
_________
"Hwaaahhhh...." Aku merentangkan tubuh ku yang kembali segar karena aku sudah beristirahat cukup lama.
Aku menatap jam tangan ku yang menunjukan pukul tiga sore.
"Tidur ku lama banget... Ah wajar deh..." Ungkapku mengacuhkan waktu tidur ku.
Aku beranjak turun dari tempat tidur ku seraya mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.
Aku berendam di bak mandi yang penuh dengan kelopak bunga mawar yang sangat harum, aku menikmati suasana yang sedang ku rasakan dengan memejamkan mata ku.
Cukup lama aku berendam, aku beranjak berdiri mengambil handuk ku dan memakai pakaian ku beranjak keluar kamar mandi.
__ADS_1
Aku berjalan ke arah jendela kamar ku seraya mengeringkan rambut ku dengan handuk. Aku menatap pemandangan air terjun yang mengalir deras di sana, sesekali aku menatap burung-burung terbang yang melintasi kamar ku dengan mengeluarkan suara yang tak ku mengerti.
Kembali ku berbalik berjalan ke arah tempat tidur ku, aku terduduk seraya masih fokus menggosok-gosok rambut ku dengan handuk.
Aku meletakkan handuk ku dan membiarkan rambut ku terkena angin agar lebih cepat mengering.
________
Ku arahkan pandangan mata ku ke arah halaman istana dari lorong lantai atas, aku menatap para pangeran sedang mengobrol di dalam gazebo bersama Hasper dan Casper.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menghampiri ku dari belakang.
"Kita akan pergi besok???" Ungkapnya berdiri di samping ku.
"Ku rasa... " Ungkap ku masih melihat ke bawah.
"Aku gak bakal ketemu mereka lagi..." Ungkap sendu Neftaza yang menatap mereka.
Ku arahkan pandangan mata ku ke arah Neftaza yang memiliki perubahan di wajahnya.
"Gak usah lebay, lukamu udah pulih... cepet banget..." Ungkapku menatapnya bingung.
"Ryu yang nyembuhin gue..." Ungkapnya singkat.
"Ohh..." Ungkap ku cuek.
Tiba-tiba pangeran Leandra menatap ke arah kami dengan senyuman nya yang sangat menawan.
"Wah... Gue sedang di mabuk cinta nih..." Ungkap Neftaza tersenyum lebay seraya memegang dadanya.
"Apa kita harus ke sana??" Ungkapku menunggu jawaban Neftaza.
"Ayok lah... " Ungkap Neftaza beranjak berjalan ke arah lorong.
Aku mengikutinya dari belakang, dengan arah pandangan mataku menatap sekitar.
"Aku akan merindukan tempat ini..."
_
_
_
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
❤❤❤