
Setelah perbincangan yang menguras waktu itu, kami semua pergi ke sebuah tempat pertarungan yang berada di belakang istana dengan beberapa kesatria tampak berlatih di sana.
"Aku mengingat bagaimana kesatria ku berlatih demi diri ku, namun aku meninggal kan nya tanpa permisi."
"Tidak, bukan kah mereka yang menginginkan hal itu. Dan itu untuk keselamatan mu sendiri putri, karena mereka tahu bagaimana kuat nya putri kerajaan Rosewaltz. Mereka tahu itu, karena lebih membahayakan diri mu jika mereka berada di dekat mu."
"Ya, aku mengerti itu."
Ku arah kan pandangan mata ku menatap ke arah Erden yang duduk di bawah sebuah gazebo yang memang di gunakan untuk tempat peristirahatan sang raja Zeffligha ketika menonton pertunjukan.
Aku dan pangeran Darren bergegas duduk tak jauh dari nya, kami berdua saling tatap ketika Erden menyuruh kami untuk duduk di dekat nya. Tanpa menjawab nya, kami berdua mengikuti perkataan nya dan duduk di samping nya.
"Pertandingan di mulai..." Teriak seorang laki-laki yang berada di antara Gazelle dan Ervan, seraya menggerak kan tangan nya untuk memberi kode di mulai nya pertandingan antara kedua nya.
Tampak Ervan mulai menyerang Gazelle dengan sangat kuat dan brutal, bahkan sangat terlihat jika kedua nya tak seimbang dengan Gazelle yang terpojok tak bisa menyangkal serangan Ervan yang bertubi-tubi.
"Ku rasa sudah terlihat siapa yang akan memenangkan pertandingan putri?" Ucap Erden, aku menoleh ke arah nya ia tampak tersenyum menang karena hal itu.
Aku hanya membalas nya dengan senyuman.
Kembali kedua nya bertarung dengan sangat sengit sekarang, haluan pedang mulai terdengar nyaring di kedua telinga ku. Kedua nya beradu pedang dengan sangat apik dan terlihat pula Gazelle lebih menguasai teknik pedang dari pada Ervan yang notaben nya dia adalah seorang laki-laki yang seharusnya lebih hebat daripada perempuan bukan?
"Sekarang lihat lah, bagaimana perempuan mempermainkan laki-laki raja Erdan yang agung..." Ucap ku seraya menunduk tersenyum kepada nya. Ia tampak sangat kesal melihat hal itu, ternyata sikap dingin nya tak terlalu pekat dalam tubuh nya.
"Apakah Hazel guru nya?" Ucap pangeran Darren yang masih menatap ke arah Gazelle dengan fokus.
"Bukan kah kau belajar dari nya juga? Jangan lupakan siapa dia." Ucap ku, seraya menatap ke arah Gazelle dan Ervan. Gazelle tampak menguasai panggung pertarungan dengan sangat lincah dan apik, ia mengakhiri serangan nya dengan jurus yang selalu di gunakan oleh Neftaza.
"Ternyata dia tak mengecewakan kita." Ucap ku tersenyum menang.
__ADS_1
"Erdan, aku akan memanggil mu dengan itu." Ucap ku seraya menepuk pundak Erdan, ia menatap ku dengan tatapan yang begitu dalam dan kuat. Raut wajah nya terlihat sangat marah, namun beberapa detik kemudian ia membuang rasa marah itu dengan menggangguk menyetujui ucapan ku.
"Kau juga bisa memanggil ku Ella..." Ucap ku, seraya beranjak berdiri aku meninggalkan mereka berdua, aku berjalan menghampiri Gazelle yang sedang mengusap keringat yang membasahi tubuh nya.
"Bagaimana penampilan perdana ku?" Ucap nya yang terdengar sangat sombong.
"Ya sangat mengagumkan..." Ucap ku, seraya memberikan sebuah handuk putih kepada nya.
"Akhir nya kita bisa membuat mereka terikat dengan perjanjian itu, tapi putri bagaimana dengan pedang itu? Apakah aku harus menyelidiki nya?" Ucap Gazelle dengan semangat yang begitu membara.
"Iya nanti... Kita akan tinggal di sini untuk beberapa waktu, sampai kita menemukan mereka semua..." Ucap ku seraya menatap ke sekitar dengan teliti.
"Baik lah..." Jawab nya.
___________
Beberapa kesatria penjaga terlihat sedang berjaga untuk beberapa waktu dengan dua pasang selalu bergantian.
Aku berjalan mendekati pintu kamar ku, aku membuka pintu itu tampak lah sebuah lorong sepi yang tak terlihat kesatria satu pun yang menjaga di sana.
Aku berjalan dengan perlahan ke arah kanan dengan beberapa pot bunga berada di atas pagar dekat tiang.
"Sepertinya mereka menyukai bunga?" Ucap ku seraya kembali ku langkah kan kaki ku berjalan ke arah lorong yang tak ku ketahui akan sampai di mana.
Aku berjalan dan terus berjalan dengan hati-hati sampai aku berhenti di belakang sebuah dinding kayu yang di belakang nya terdapat sebuah tulisan penjara.
Aku ingin memastikan sesuatu di sana tapi bagaimana cara nya membuat dua kesatria itu pergi dari pintu penjara? Setelah berpikir beberapa saat aku meraih sebuah batu berukuran yang cukup besar seraya ku lempar kan batu itu ke arah yang berlawanan.
Tampak kedua kesatria penjaga itu terkecoh oleh ku dan memeriksa asal suara itu, dengan langkah cepat aku berlari dengan waspada masuk ke dalam area penjara.
__ADS_1
Satu persatu aku melihat beberapa tahanan asing yang tak ku kenal berada di sana, aku terus mencari sampai tepat berada di ujung ruangan aku tak melihat tahanan yang ku kenal.
"Bagaimana bisa?"
Aku bersandar di sebuah dinding, ada yang salah dengan bangunan penjara ini. Sepertinya ada suatu ruangan tersembunyi di balik dinding itu.
Ku perhatikan dinding yang berbentuk persegi panjang dengan obor berada di sisi sudut kedua sisi. Saat ku perhatikan salah satu penyangga obor itu memiliki sebuah pegangan yang sedikit kecil berwarna hitam dengan di penyangga obor yang lain tak memiliki bentuk yang sama.
Aku mendekat ke arah obor itu seraya ku ambil obor dari penyangga itu, setelah beberapa detik terdapat sebuah pintu yang terbuka dari dinding itu.
Aku menoleh ke arah belakang untuk memastikan tidak ada siapapun yang melihat, setelah nya aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Langkah demi langkah ku lewati anak tangga yang menuju ke suatu ruangan, pintu yang terbuka tadi kembali tertutup ketika diri ku sampai di atas tanah datar.
Ku letak kan obor ku di sebuah tempat obor yang tersedia di dinding tanah, seraya ku keluar kan sebuah senter untuk membantu ku lebih leluasa melihat sekitar ruangan.
Setelah ku telusuri ruangan itu, aku melihat alat untuk mengintrogasi orang.
"Tempat yang sangat kejam..." Setelah aku mengatakan itu, terdengar suara rintihan dari seseorang yang berada di tempat itu. Aku mencoba mencari nya sampai aku melihat empat orang terikat oleh rantai besi dengan posisi duduk yang begitu menyedih kan.
Aku menghampiri mereka, tiba-tiba air mata ku mengalir dengan deras, kebencian memenuhi pikiran ku ketika melihat empat orang laki-laki itu tersiksa dengan begitu sadis.
_
_
_
❤️❤️❤️
__ADS_1