TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 172


__ADS_3

"Bertahan lah sebentar lagi putri, kita hampir sampai..." Ucap ku, kami bertiga benar-benar ketakutan mendengar suara berisik berbarengan dengan suara air terjun yang sudah berada di hadapan kami.


"Cari lah sebuah pintu gua pangeran... Aku tak bisa melihat apa-apa..." Ucap ku masih memegangi tubuh Gazelle.


Sinar rembulan yang membantu penglihatan kami tak cukup membantu kami untuk menemukan pintu gua itu. Sekarang harapan kami satu-satunya adalah pangeran Darren yang masih fokus mencari sebuah pintu gua.


"Ayo kita harus mencari juga putri..." Ucap ku, memaksa tubuh Gazelle untuk tetap bergerak dengan hati-hati.


"Putri, aku menemukan nya..." Ucap pangeran Darren seraya ia kembali ke arah kami, ia membantu kami berdua untuk masuk ke dalam pintu gua yang ia temukan.


Baru saja kami ingin masuk ke dalam pintu gua itu, makhluk yang mengikuti kami sudah berada di belakang kami.


Aku sangat terkejut ketika melihat wujud makhluk tersebut yang sangat mengerikan.


"Lari..." Teriak Putri Gazelle mengejut kan ku.


Kami berhasil masuk ke dalam gua tersebut, namun tiba-tiba pangeran Darren berteriak, aku menoleh ke arah nya kaki nya terluka parah.


"Ahhhhkkkk...." Teriak nya, seraya ia memegangi kaki nya yang bersimbah darah, aku bisa melihat nya melalui pantulan cahaya bulan yang memantul dari air yang menggenang itu.


Saat ku arah kan pandangan mata ku menatap ke luar gua aku bisa melihat puluhan makhluk itu berada di sana tanpa bisa masuk ke dalam gua ini.


"Bertahan lah pangeran..." Ucap ku seraya membantu Gazelle untuk duduk bersandar di dinding gua. Ku gunakan lampu senter untuk penerangan di dalam gua ini.


Aku lekas menghampiri pangeran Darren dengan segera, aku melihat luka nya yang begitu parah. Aku sampai tak tega melihat luka yang seperti cakaran senjata tajam. Darah berceceran dimana-mana.


Aku merobek celana nya untuk mengobati luka nya dengan hati-hati. Sebelum nya aku sudah mengambil kotak p3k dari dalam ruang dimensi ku.


"Tahan sebentar lagi pangeran..." Ucap ku, aku membalut luka nya dengan hati-hati namun cepat.


"Sekarang beristirahat lah..." Ucap ku setelah selesai mengobati nya.


Aku menyandarkan tubuh nya di dinding gua, sekarang aku beralih ke arah Gazelle yang sedang mengurut kaki nya yang terlihat membengkak.


"Oles kan obat ini di kaki mu putri." Ucap ku seraya memberikan nya sebuah obat oles kepada nya.


"Terimakasih..." Ucap nya, kemudian tampak lah ia mengolesi kaki kanan nya dengan perlahan.

__ADS_1


Aku kembali duduk dengan tenang melihat mereka berdua masih selamat walau sedikit terluka.


Ku masuk kan kembali kotak p3k ke dalam ruang dimensi ku, sembari ku ambil handphone ku dan menghubungi Neftaza.


Aku mengirim sebuah pesan kepada nya. Jika keadaan menjadi sangat genting. Aku sama sekali tak yakin bisa menemui mereka besok.


"Pangeran, putri... Makan lah, setelah nya lebih baik kita beristirahat..." Ucap ku, seraya menyerah kan beberapa makanan kepada nya.


Dengan enggan mereka menerima makanan itu, dan langsung memakan nya.


"Putri, apakah gua ini aman?" Ucap putri Gazelle, ia menatap ku penuh harap, aku mengangguk.


"Tenang lah, mereka tak akan bisa masuk ke dalam gua ini... Lebih baik kita semua beristirahat dengan tenang, sembari menunggu kabar dari mereka semua..." Ucap ku, aku beranjak berdiri menyiapkan alas tidur untuk masing-masing kami bertiga.


"Baik lah..." Ucap Gazelle yang berbaring dengan tenang di atas alas tidur yang sudah ku siap kan.


Tatapan ku beralih ke arah pangeran Darren yang masih terlihat kesakitan, aku menghampiri nya. Aku membantu nya untuk pindah ke atas tempat tidur nya.


"Hati-hati pangeran..." Ucap ku, seraya ku lepaskan kedua tangan ku dari tangan nya.


Aku tersenyum, seraya aku berdiri berjalan ke arah tempat tidur ku. Ku baring kan tubuh ku dengan tenang, seraya kembali ku tatap makhluk-makhluk itu yang masih terlihat memaksa untuk masuk ke dalam gua ini.


"Gue capek, mending gue tidur..." Ucap ku, seraya ku pejam kan mata ku.


_________


"My lord bangun lah... Cepat lah pergi dari sana..."


Ku buka mata ku dengan cepat, aku mendengar Zu berbicara kepada ku.


"Apa yang kau maksud Zu?"


"Sesuatu mulai mendekat ke arah mu my lord, makhluk itu lebih kuat daripada makhluk-makhluk yang menunggu mu di luar..."


"Sihir perlindungan itu akan hancur, segera lah pergi dari sana..."


"Bagaimana kami harus pergi? Lihat lah di pintu gua itu... Mereka masih berada di sana."

__ADS_1


"Lihat lah ke dalam gua itu my lord, kau akan menemukan jalan keluar dari sana... Aku tak bisa menuntun mu lebih lama my lord..."


Ucap Zu yang tiba-tiba terhenti, sebenarnya apa yang terjadi kepadanya kenapa ia sangat kesusahan berkomunikasi dengan ku.


"Ahhh... Lupakan, aku harus cari jalan keluar."


Aku beranjak berdiri menghampiri pangeran Darren dan putri Gazelle dengan langkah cepat, mereka berdua terbangun dengan terkejut.


"Maafkan aku putri, pangeran... Kita harus keluar dari gua ini..." Ucap ku, seraya ku bantu pangeran Darren berdiri.


"Aku baik-baik saja..." Ucap putri Gazelle, saat arah pandangan ku menatap ke arah nya.


"Apa yang terjadi putri?" Tanya pangeran Darren kepada ku, aku membantu nya untuk berjalan mendekat ke arah bebatuan yang berada di dalam gua, dengan putri Gazelle berada di samping kiri ku.


"Sesuatu mendekat pangeran, kita tak bisa tinggal di sini... Maafkan aku, menganggu tidur kalian..."


"Tidak masalah putri, kita harus keluar dari gua ini jika sesuatu yang mendekat itu mengancam nyawa kita." Jawab pangeran Darren.


"Benar apa yang di katakan pangeran Darren putri, lalu bagaimana cara kita keluar dari gua ini?" Ucap nya, ia terlihat kebingungan ketika ia tak melihat jalan keluar. Kami benar-benar hanya melihat bebatuan dan dinding.


"Entahlah... Teman ku berkata jika ada jalan keluar dari tempat ini, tapi aneh nya kita tak melihat apapun..." Ucap ku, aku masih membantu pangeran Darren berdiri.


"Pangeran... Bisakah kau menggunakan ini..." Ucap ku ketika mengingat sesuatu, tak lama kemudian tongkat penyangga tubuh berada di hadapan kami berdua.


"Baiklah, aku bisa menggunakan nya putri..." Ucap nya, seraya meraih kedua tongkat itu untuk menyangga tubuh nya.


Aku melepaskan tubuh nya dengan perlahan, seraya ku langkah kan kaki ku mendekat ke arah bebatuan itu.


"Aneh... Bagaimana bisa ada jalan keluar di bebatuan seperti ini..." Ucap ku, aku sama sekali tak melihat celah apapun.


_


_


_


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2