
"Ada apa?" Ucap Hazel datar.
"Aku hanya memanggil mu..." Ucap Neftaza membuat kami semua tercengang.
"Apa? Kau hanya memanggil ku?" Tukas Hazel kesal.
Tampak Neftaza hanya mengangguk tersenyum, sembari berbalik ke arah kursi yang ada di dekat ku. Ia duduk seraya memainkan gadgetnya dengan nyaman.
_________
Tok... Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu dengan beberapa kali. Ku alihkan pandangan mata ku menatap Crystaldy yang berjalan ke arah pintu. Di buka nya pintu itu dengan cepat, tampak lah seorang laki-laki yang memiliki perawakan tinggi dan memiliki kulit kuning sawo matang dengan alis yang sangat tebal berdiri menunduk di hadapan Crystaldy.
Crystaldy mengangguk seraya kembali berjalan ke arah tempat nya tadi, laki-laki itu melangkahkan kaki nya masuk ia menoleh ke belakang mempersilahkan seseorang masuk, setelah nya ia menutup pintu kembali. Menoleh kembali ia ke arah kami, tampak Hasper dan Felis berdiri berjalan di belakang nya dengan seutas senyuman terbentuk apik di bibir keduanya.
"Pangeran, bukan kah itu artinya kabar gembira?" Ucap Crystaldy menatap keduanya dengan senyuman.
Mereka berdua mengangguk dan tersenyum, kemudian tampak lah Felis berjalan ke salah satu kursi yang berada di tengah-tengah ruangan, di susul dengan Hasper yang berjalan ke arah ku.
"Tenang, kita mendapat sekutu yang bagus..." Ucap Felis tenang.
"Itu memang kabar yang baik..." Ucap Neftaza santai.
"Ela, apa kau baik-baik saja?" Ucap Hasper menatap ku lekat.
"Dia lebih dari baik-baik saja Gege..." Jawab Neftaza.
"Lalu apa yang kalian diskusikan sampai datang terlalu lama?" Ucap ku penasaran.
"Astaga... Lo gak tau, ya jelas mereka membahas soal pemberontakan itu dong..." Tukas Neftaza, masih menatap gadgetnya tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Haishhh... Bisa diem gak sih Lo... Kesel gue lama-lama..."
"Uppsss... Tuan putri marah hahaha...."
"Venan, pergilah... Kau hanya akan melihat keributan di sini..." Ucap Casper yang mengasihani Venan karena ia berdiri mendengar kan ocehan Neftaza yang tak berarti.
"Kabarkan kepada kami apapun yang terjadi..." Ucap Hasper tegas.
__ADS_1
Venan mengangguk.
"Baiklah... Saya permisi pangeran, putri..." Ucap Venan seraya menunduk, ia berbalik meninggalkan ruangan dengan cepat.
Ku alihkan pandangan mata ku menatap Hasper yang sedang memegang sebuah pistol yang ada di balik saku nya, ia menatap nya dengan lekat.
"Ada apa Gege?" Tanya ku penasaran.
"Bukan kah kau akan memberikan pistol ini kepadanya?" Tukas nya menatap ku lekat.
"Apakah kau menyetujuinya?" Ucap ku, menunggu jawaban dari nya.
"Percayalah, mereka akan membantu kita dengan baik..." Ucap nya tersenyum.
Aku mengangguk, mengiyakan pernyataan nya.
_________
Aku beranjak berjalan menghampiri Neftaza yang duduk di dekat jendela, menatap ia keluar jendela. Aku berdiri di samping nya dengan tangan kanan ku menyentuh kursi yang ia duduki.
"Nef, Lo inget gak waktu pertama kita datang ke dunia ini?" Ucap ku seraya menatap nya lekat.
Ia menoleh ke arah ku.
"Sebelum itu, apa di mobil cuma kita berdua? Kayaknya ada sesuatu yang aneh deh..." Tukas ku, mengingat sesuatu.
"Gue gak tau juga sih... Tapi setau gue, kita cuma pergi berdua deh... Dan pada akhirnya kita terdampar di sini." Ucap nya seraya melihat ke luar jendela.
"Anggap aja berlibur selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun..." Ungkap nya lagi.
Dengan sekilas aku bisa melihat ia termenung sedih.
Bukan hanya kau Rianda, aku pun juga... Kita berdua sama-sama ngerasain hal yang sama... Semoga suatu saat nanti kita benar-benar bisa pulang...
"Lo inget lukisan yang gue tunjukkin kemarin kan? Gue ada feelling kalau itu lukisan Abang gue deh." Ucap ku mengingat.
"Kalau di pikir-pikir sih bisa jadi... Tapi anehnya kalau memang itu bener lukisan bang Andara, terus ngapain dia di sini?" Ucap nya penuh pertanyaan.
"Gimana kalau beneran dia ikut datang ke sini? Gila bukannya kita di sini udah berbulan-bulan bahkan lebih..." Ungkap nya, menatap ku dengan lekat.
__ADS_1
"Gue gak bisa bayangin sih nasib nya bakal gimana, tapi kalau masih bisa bertahan sampai sekarang bukannya hebat?" Ungkap ku mengingat.
"Jangan salah, Lo aja pinter gimana Abang Lo yang anak pertama coba? Gue juga tau dia jadi CEO di perusahaan kakek kan? Nah pasti di sini pun jadi orang hebat..." Ungkap nya antusias.
"Yah semoga aja, kita kan belum tau kepastiannya..." Ungkap ku seraya menatap ke arah luar penginapan.
Aku beranjak berbalik berjalan ke arah tempat tidur ku seraya ku arahkan pandangan mata ku menatap Gazelle yang sedang duduk menatap ke arah Airen yang sedang menatap sebuah benda berwarna hitam di kedua tangan nya.
"Apa kau memikirkan sesuatu putri?" Ucap ku seraya duduk di tempat tidur ku.
Ia menoleh ke arah ku.
"Aku hanya mengingat bagaimana ibu ku memberikan permata hitam itu kepada Gege ku..." Ucap nya terlihat sendu.
"Kau pasti sangat merindukan beliau bukan?" Ia menundukkan kepalanya.
"Tidak hanya kau, kami semua di sini juga merindukan mereka semua. Bersabarlah kita akan segera kembali bersama keluarga kita masing-masing... Percayalah perjuangan kita tidak akan sia-sia..." Ucap ku tersenyum menatap nya. Ia berbalik menatap ku dengan tangan kirinya menghapus air mata yang sudah terlanjur berlinang.
"Aku percaya putri, kita akan segera kembali..." Jawab nya penuh semangat. Aku hanya mengangguk dan menatapnya tersenyum.
___________
Aku terkejut ketika seseorang yang bertemu dengan ku di hutan waktu itu sedang berada di hadapan ku dengan penuh senyuman. Aku menatap nya lekat, ia membawa beberapa barang belanjaan di tangan kanan nya. Serta anj*ng yang bernama idon berada di samping kirinya.
"Kita bertemu lagi, tuan putri..." Ungkap nya penuh keaktifan. Seperti anak kecil. Maksudku sikap nya terlalu ceria.
"Apa kau hobi memasak?" Ucap ku menatap ke arah barang bawaannya.
"Apa kau ingin mencicipi masakan ku tuan putri? Pasti akan sangat menyenangkan bukan? Seorang tuan putri mencicipi masakan rakyat jelata seperti ku?" Ungkap nya, senyuman nya menjadi sangat sinis.
"Lain kali saja, aku tak ada waktu untuk mencicipi masakan tuan muda seperti mu..." Ucap ku tersenyum, seraya pergi meninggalkan nya dengan raut wajah yang tidak mengenakkan.
"Sikap nya terlalu mudah berubah-ubah..." Gumam ku pelan.
Aku beranjak berjalan menghampiri Neftaza yang sudah berdiri di depan sebuah rumah yang sedikit kumuh di sisi kanan jalan. Aku menatap nya, ia sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat wajah nya oleh ku.
_
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️