
Rembulan bersinar dengan terang malam ini, sudah cukup lama aku berdiam menikmati hembusan angin yang mengenai kulitku. Saat hendak berbalik pergi, aku melihat seseorang berdiri di bebatuan dekat air terjun itu, dia menatap ke arahku.
Siapa dia?
Saat pandangan ku beralih ke tanganku yang memegang sebuah teropong, aku kehilangan sesosok itu. Aku mencari di setiap pinggir air terjun itu menggunakan teropong, tapi aku tidak menemukan nya sama sekali. Sepertinya dia bukan manusia.
Dengan iseng-iseng aku menggunakan teropong untuk melihat seluruh pemandangan, ketika aku melihat ke salah satu tempat seperti gazebo yang tak jauh dari tempat ku berdiri ada seseorang sedang berdiam diri di sana melihat rembulan.
Aku memperhatikan nya dengan seksama, dia adalah pangeran Deffin. Dia memang sangat tampan, aku menatapnya dengan cukup lama. Sangking fokusnya melihat dia aku sama sekali tidak berpikir jika pangeran Deffin tiba-tiba menatapku.
Dengan segera aku menundukkan tubuhku untuk bersembunyi di balik pagar.
"Huh... sangat mengejutkan..." Ungkapku menghela nafas seraya memasukkan teropong ke dalam ruang dimensi ku.
"Sepertinya dia sudah pergi..." Ungkapku seraya mencoba mengintip nya dari celah-celah pagar.
Namun aku tidak menemukan nya, dia sudah pergi dari tempat itu. Aku beranjak berdiri dan menghembuskan nafas kasar. Aku berbalik dengan kepala menunduk dan memejamkan mataku.
Saat aku membuka mataku aku terkejut karena tiba-tiba pangeran Deffin berada di depanku, aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke bawah. Dengan sigap pangeran Deffin menolong ku dengan salah satunya memegang pinggang ku.
Aku menatap lekat matanya begitupun ia, cukup lama kami berpandangan dan akhirnya aku sadar.
"Maaf pangeran..." Dia melepaskan pelukannya. Sekarang suasana sedikit menjadi canggung karena kecelakaan kecil.
"Hati-hati..." Ungkapnya berbalik pergi.
Saat hendak melangkahkan kakiku, aku mendengar pangeran Deffin berbicara.
"Jangan terlalu menyukaiku, aku memiliki kekasih..." Ungkapnya membuat ku sangat syok...
What?
Dia menghilang dengan kecepatan kilat.
"Apa maksudnya? Dia terlalu pede..." Ungkapku berjalan cepat menuju ke kamarku.
Sesampainya di kamar aku menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidurku, aku memejamkan mataku untuk menetralkan pikiranku.
"Ku harap itu hanya mimpi..." Ungkapku seraya memejamkan mataku.
__ADS_1
Aku membuka mata lagi dengan perasaan sedikit kecewa.
"Kenapa aku kecewa sih? Ada apa lagi... Kau terlalu lemah my heart."
Aku memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhku dari kelelahan.
"Selamat malam..."
-------------
Aku terbangun karena sinar matahari mengenai kulitku dari celah-celah jendela kamarku, aku membuka mataku seraya duduk di tempat tidurku menghadap ke arah sinar matahari.
Terdengar suara burung berkicauan di iringi dengan suara air terjun pagi yang sangat menyejukkan. Cuaca yang cukup dingin.
"Pantas saja, bangsa elf memiliki kulit yang terlihat sangat pucat." Ungkapku tanpa berpikir.
Aku masih memikirkan ucapan pangeran Deffin, kenapa dia bisa berkata seperti itu? Apa dia berpikir kalau aku menyukainya? Walau dia tampan, aku tidak mencintainya.
Ku angkat selimut yang menutupi tubuh ku, aku beranjak berdiri berjalan ke arah jendela untuk mendapatkan sinar matahari untuk kesehatan tubuhku.
Aku menatap ke arah air yang mengalir di kejauhan, aku melihat sesosok manusia yang mirip dengan bibi Lena. Ku perhatikan ia yang sedang mencuci pakaian, ternyata dia memang benar-benar bibi Lena yang sedang mencuci di pinggir sungai yang penuh bebatuan.
"Sepertinya menyegarkan jika mandi di sana..." Ungkapku seraya berbalik pergi dari kamar untuk menyusul bibi Lena di sungai.
Aku memang tidak mengetahui semua tempat yang ada di dalam istana, tapi aku bisa tahu lorong mana yang akan membuat kita keluar dari istana ini.
Aku mengikuti lorong istana yang menuju ke arah belakang, aku menyusuri lorong itu dengan sendirian, aku tidak melihat siapapun di sini.
Sesampainya aku di ujung lorong, aku bisa melihat pemandangan tumbuhan dan bunga di belakang istana.
Rose pink, salah satu bunga yang sangat aku sukai. Aku memetik satu buah bunga dan ku bawa berlari ke arah sungai itu. Aku menuruni bebatuan terjal yang mengarah ke sungai, tapi saat aku di sana aku tidak melihat bibi Lena lagi. Sepertinya dia sudah kembali ke dalam istana.
Ku arahkan pandangan mataku melihat sekitar, aku tidak melihat siapapun di sini. Mungkin karena bagian belakang istana mereka tidak tertarik berada di sini. Dan anehnya lagi tempat ini sangat luas padang rumput berada di seberang sungai.
Tanpa berpikir panjang lagi aku meletakkan alas kaki dan bunga yang ku petik di atas bebatuan tak jauh dari sungai, aku melepaskan pakaian luar sebelum aku berendam di sungai.
"Air yang sangat jernih..."
__ADS_1
Ku gerakkan tangan ku menyentuh air itu, aku ingin mengecek suhu air sebelum aku menceburkan tubuh ku ke dalam.
"Dingin, tapi ini menyegarkan..."
Ku cebur kan kakiku perlahan menyentuh air itu, aku menikmati dinginnya air yang menusuk kulitku. Aku menjatuhkan tubuhku untuk berendam.
Sesekali aku memejamkan mata seraya bersandar di bebatuan. Aku menikmati semilir angin yang membuat ku menjadi mengantuk.
Saat aku hendak keluar dari genangan air, aku melihat seseorang berada di bebatuan tempatku meletakkan pakaian, dia berdiri dengan melipat kedua tangannya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini nona?!" Ungkapnya. Dia adalah adik dari pangeran Deffin, pangeran Andrew Cleofanza.
Dengan cepat aku menenggelamkan tubuhku setinggi dagu. Aku menatap tajam pangeran Andrew tanpa menjawabnya.
"Kau terlihat cantik saat berendam di sana nona..." Ungkapnya tersenyum licik.
"Apa yang kau lakukan di sini pangeran?!" Ungkapku ketus.
"Ini istanaku, aku punya hak untuk berada di manapun..." Ungkapnya seraya mendekat secepat kilat di batu yang berada di sampingku.
"Pergilah..." Ungkapku kesal.
Dia hanya duduk menatapku dengan senyuman menggodanya. Ternyata dia tidak mau pergi. Baiklah...
Aku keluar dari genangan air dan berjalan ke arahnya, aku tidak memperdulikan pakaian ku yang basah dan memperlihatkan lekuk tubuhku.
Seketika raut wajah pangeran Andrew berubah, ia berdiri terlihat terkejut karena keberanian ku. Aku berjalan mendekatinya, namun ia berjalan mundur untuk menghindari ku.
Semakin dekat aku mendekatinya, dan semakin sedikit jarak kami. Ia terpeleset dari bebatuan itu, aku ingin menolong nya namun aku juga ikut terpeleset sehingga kami berdua jatuh ke dalam air.
Saat berada di dalam air aku melihat matanya bersinar menatapku, mata yang sangat indah. Dengan cepat aku keluar dari dalam air untuk menghirup udara sepuasnya...
-
-
-
Jangan lupa like vote dan komen yah...
__ADS_1
❤❤❤