TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 86


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu berada di sana nak? Apa kau tidak ingin pulang? Cepatlah pulang nak... Daddy sangat merindukan mu..."


"Apa kau merindukan mommy nak? Cepatlah kembali... Kami akan selalu menunggu mu...!!!"


Hosh... hosh... hosh...


"Itu mommy??!..."


"Mom... Dad..."


Aku terbangun dari mimpi ku dengan air mata yang sudah mengalir membasahi kedua pipi ku, keringatku bercucuran dengan badan ku sedikit gemetaran, aku sangat sangat merindukan mereka.


Aku menangis sesenggukan menahan rindu yang amat dalam, aku sudah meninggalkan mereka lebih dari satu tahun.


"Aku ingin pulang..."


Lenguh ku seraya membenamkan wajahku di kedua lutut ku.


Aku menghapus air mata ku dan beranjak turun dari tempat tidur ku, aku mengambil air minum di atas meja samping tempat tidur kemudian meminumnya.


Ku tatap ke sekitar kamar ku, tampak kamar ku sedikit gelap dengan pencahayaan dari sinar rembulan. Aku melangkah kan kaki ku ke arah jendela, aku hanya bisa memandangi bintang dari jauh begitupun kalian mom, dad...


"Aku akan segera kembali,,, tunggulah aku..."


Lima belas menit sudah aku menatap hutan yang di penuhi kegelapan, sesekali aku menatap air terjun dan terdengar suara gemericik air yang di hasilkan oleh air terjun itu menjadi musik dalam kegelapan.


Namun tanpa aku sadari langit menjadi sangat gelap dan berangin. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi semua hal yang ia lalui.


"Kenapa tiba-tiba turun hujan?!"


Ungkap ku sedikit bingung.


"Bukankah tadi masih sangat cerah?!"


Di dunia ini perubahan iklim memang sangat mudah berubah, sangat sulit di tebak. Aku mulai memakluminya.


Ku gerakkan kedua tangan ku keluar jendela, rintikan-rintikan air hujan membasahi kedua tangan ku dengan cepatnya, sangat dingin.


Aku menatap bulir-bulir air yang tergenang di atas telapak tanganku, sangat jernih dan sangat dingin. Aku memejamkan mata seraya menikmati dinginnya air beserta angin yang menyentuh kulitku.


Aku merasakan sentuhan-sentuhan rintik hujan menjadi sangat besar, ya sekarang mulai turun hujan yang sangat lebat. Aku menarik tangan ku seraya menutup jendela ku, aku kembali melangkahkan kaki ku ke tempat tidurku, aku berbaring seraya menyelimuti tubuhku.


Aku tidur kembali.


__________

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!" Ungkap seseorang yang sedang melakukan sesuatu tak jauh dari tempat ku berdiri, mereka berada di halaman samping istana.


"Apa kau tidak melihat? Aku sedang mencoba mencampurkan ramuan untuk mengusir para roh sihir itu..." Ungkap seseorang yang sedang memegang tabung ramuan dan


"Apa kau gila? Kau bisa menghancurkan istana ini jika kau salah perhitungan..." Ungkap seseorang yang berdiri tak jauh di hadapan nya.


"Diamlah..." Ungkap seseorang yang mulai mencampurkan bahan ramuan.


Tiba-tiba terjadi letusan dari kedua ramuan yang berwarna kuning dan hijau tersebut.


Booommm... (Mengeluarkan asap).


Seseorang yang memegang kedua ramuan tadi tubuhnya terselimuti asap dan mulai tampak jika tubuhnya menghitam. Gosong?


Pakaian yang ia kenakan menjadi compang-camping tak beraturan. Ia seperti gelandangan. Sangat kasihan.


"Kau sangat bodoh..." Ungkap seseorang yang menasehati nya tadi.


Aku hanya menatap kegiatan mereka dari kejauhan, siapa mereka? Aku tidak mengetahui nya. Ku rasa dia adalah keponakan pangeran Deffin. Tapi ini kali pertama aku melihat mereka berada di sini.


"Kau melihatnya nona, mereka sangatlah kekanakan..." Ungkap seseorang yang berada di sampingku.


Aku menoleh ke arahnya.


"Mereka masih kecil pangeran, jadi wajar saja..." Ungkapku menatap kedua anak kecil itu yang masih berdebat.


Aku hanya terdiam menatap kejahilan mereka berdua.


"Terimakasih nona Ela... Kau sudah membantu ku..." Ungkap pangeran Alendra menatapku.


Aku menatapnya tersenyum.


"Terimakasih juga untuk kemarin,,," Ungkapku.


"Aku hanya mengangkat mu ke kamar, itu bukanlah masalah... Tapi bagaimana kau mengetahui jika itu adalah aku?!" Ungkapnya penasaran.


"Aku hanya mencium bau tubuh pangeran..." Ungkap ku sedikit khawatir atas jawabanku yang kurang sopan.


"Benarkah?!" Ungkapnya masih tak percaya.


Aku mengangguk.


"Bolehkah aku bertanya pangeran? Bukankah pangeran seharusnya malam itu berada di istana pangeran? Lalu kenapa pangeran bisa berada di istana pangeran Deffin?!" Ungkapku menatapnya lekat.


"Ohhh itu... Awalnya kami berdua mengira jika yang di serang adalah istana ku namun ternyata mereka menyerang di istana Deffin... Dan kami sangat berterimakasih dengan kalian karena lagi-lagi kalian membantu kami dengan sangat baik..." Ungkapnya tersenyum.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan keadaan istana pangeran? Bukankah nona Ervada merebut istana pangeran?!" Ungkapku menatapnya lekat.


"Benar... Namun itu hanya permainan ku saja untuk menjebaknya..." Ungkapnya menatap ke depan.


"Benarkah?!" Ungkapku menatapnya sedikit takut. Ternyata pria ini sangatlah licik jika menyangkut musuhnya.


Ia mengangguk.


"Lalu bagaimana jika roh jahat itu kembali? Bukan kah pangeran belum tau siapa dalang dari balik ini semua?"


Aku banyak bertanya, apa dia tidak keberatan untuk menjawab ku? Haishhh...


"Tenang lah nona... Kami para bangsa elf tidak selemah itu, bahkan berkat bantuan nona kami sudah mengetahui siapa dalang di balik ini semua..." Ungkapnya.


"Bolehkah aku tau siapa dia pangeran?!" Ungkapku lancang.


"Belum saatnya nona..." Ungkapnya tersenyum dan pergi melangkahkan kaki nya ke arah dua anak laki-laki itu.


"Hei paman..." Ungkap anak laki-laki yang tubuhnya lebih kecil di banding kan yang satunya...


"Lagi-lagi kau salah perhitungan Edmund..." Ungkap pangeran Alendra mendekati anak laki-laki yang di sebut Edmund itu.


Anak laki-laki itu hanya tertawa, sedangkan anak laki-laki satunya hanya terdiam menatap tingkah adiknya yang sangat menjengkelkan.


Ku arahkan pandangan mata ku ke arah sudut halaman, aku bisa melihat pangeran Deffin dan pangeran Leandra sedang berbicara di sana. Sepertinya mereka sedang membicarakan masalah serius.


Tak lama kemudian datang lah pangeran Andrew dan mengajak mereka untuk pergi meninggalkan halaman istana. Sebelum mereka pergi aku menatap pangeran Deffin terdiam seperti melakukan telepati dengan seseorang.


Saat ku arahkan pandangan mataku ke arah pangeran Alendra, aku juga melihat ia sedang terdiam, sepertinya yang di ajak bertelepati oleh pangeran Deffin adalah pangeran Alendra.


Aku mendengar pangeran Alendra berbicara kepada kedua anak kecil itu, dan langsung menghilang tanpa jejak. Sedangkan kedua anak kecil itu mengangguk dan berjalan menghampiriku seraya tangan Edmund melambai menatap ku.


Dia tersenyum dengan anak laki-laki yang lebih tinggi hanya memasang ekspresi wajah datar.


"Apa kau nona Ela? Aku Edmund sedangkan dia adalah Emre..." Ungkap Edmund tersenyum senang.


"Ahh... Senang bertemu dengan kalian berdua pangeran Edmund dan pangeran Emre..." Ungkapku sedikit bingung.


"Panggil saja kami dengan sebutan nama, kami juga akan memanggil nona Ela dengan sebutan bibi..." Ungkap Edmund masih dengan senyuman cerahnya.


Sedangkan Emre hanya memasang wajah datar menatapku. Ia memang anak laki-laki yang tidak bisa mengeluarkan ekspresi.


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah...


❤❤❤


__ADS_2