TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 193


__ADS_3

Tok tok tok...


Ceklek.


Suara pintu terbuka, pandangan kami bertemu. Segera ku alih kan pandangan ku ke arah yang lain. Aku berusaha menghindari tatapan nya.


"Aku membawa kan minum untuk mu Gege..." Ucap ku tersenyum, seraya masuk aku ke dalam kamar nya.


"Terimakasih Ela..." Ucap nya, seraya berjalan mendekat ke arah ku.


Ku raih gelas itu seraya ku berikan kepada Hasper, ia menerima nya dengan tersenyum. Kemudian ia meminum air itu sampai habis.


"Huhhhh... Lega nya..." Aku bisa menghela nafas lega sekarang.


"Kepala Gege sedikit pusing..." Ucap nya seraya memberikan gelas yang kosong itu kepada ku.


Aku menerimanya dengan cepat, kemudian aku membantu nya berjalan ke mendekat ke tempat tidur nya. Ia berbaring di sana dengan mata terpejam.


"Hazel, kau benar-benar membantu ku..."


"Maafkan aku... Aku tidak mau hubungan kita jadi canggung maupun renggang..."


Aku menatap nya dengan perasaan bersalah, aku memang benar-benar gila sekarang. Aku benar-benar menyukai nya tanpa berpikir jika dia adalah saudara ku. Sekarang aku lebih menyesali hal itu.


"Dewa, bisakah kau menjelaskan perasaan yang ku rasakan sekarang? Kau yang membuat ku menjadi seperti ini. Kau mempermainkan ku."


_____________


"Bukan kah seharusnya kita pergi sekarang?" Tukas Airen yang berdiri di samping pangeran Felis, ia menatap ke arah nya.


"Aku akan merindukan mu putri..." Ungkap Gazelle yang tampak sedih atas perpisahan ini.


"Kita akan bertemu lagi, jangan khawatirkan itu..." Jawab ku tersenyum, seraya ku tepuk pundak nya dengan lembut.


"Aku akan datang di waktu yang tepat... Jaga dirimu baik-baik putri..." Sambung ku. Ia mengangguk.


Kemudian ia berjalan ke arah belakang pangeran Felis dan pangeran Airen.


"Sampai jumpa lagi..." Ucap Hazel yang duduk di atas pundak Neftaza.


Kami semua tersenyum mengingat perpisahan ini hanya sementara, aku menatap ke arah Felis. Ia menatap ku dengan tatapan yang begitu terlihat tak rela. Aku hanya menanggapi nya dengan tersenyum.

__ADS_1


Saat ku alihkan pandangan mata ku ke arah pangeran Darren ia menatap ku dengan lekat, tatapan nya benar-benar seperti milik Felis hanya saja tatapan itu terlihat jauh lebih akrab.


"Sampai jumpa lagi pangeran..." Ucap Felis, seraya berjabat tangan ia dengan Hasper, kemudian ia melakukan hal yang sama kepada Casper.


"Putri Gazelle, jaga diri mu baik-baik..." Ucap Casper saat Gazelle memberi hormat kepada nya.


"Jangan lupa apa yang ku ajarkan selama ini, tak terkecuali kau pangeran Darren..." Ungkap Hazel dengan serius namun sedikit bercanda.


"Aku tak akan pernah melupakan hal itu..." Jawab Darren dengan tersenyum.


"Berhati-hatilah pangeran..." Ucap Neftaza, ketika mereka berempat menunggangi kuda nya dan berpacu kencang meninggalkan kami semua.


"Entah kapan kita akan ketemu lagi... Gue hanya bisa berharap semua nya baik-baik saja." Ucap Neftaza dengan sedikit lesu.


"Ella... Nefta... Bersiaplah kita akan pergi sebentar lagi." Ucap Hasper tegas, ia berjalan masuk ke dalam mansion di ikuti dengan Casper yang menatap ke arah kami berdua dengan hangat.


"Ingat apa yang di katakan dia..." Ucap Casper dengan pelan, ia memang persis seperti saudara laki-laki yang sangat jahil dan aktif.


"Gue masih gak nyangka, kepribadian ganda kali ya...." Sambung Neftaza seraya mengernyitkan dahi nya.


"Bukan mereka aja, kalian berdua sama aja..." Jawab Hazel yang terbang ke dalam mansion.


Aku dan Neftaza kembali masuk ke dalam mansion, sekarang kami berdua berhenti di ruang tamu untuk membicarakan apa yang akan kami lakukan selanjutnya.


"Bagaimana kabar pangeran Crystaldy dan putri Esmeralda?"


"Tenang... Mereka udah sampai di kerajaan Zagaf." Jawab Neftaza sembari mengambil satu buah jeruk di atas meja, ia mengupas kulit nya kemudian makan satu persatu bagian buah jeruk itu.


"Tapi bang Andara sama Devmir cuma kasih kabar kalau mereka sedang memulihkan sihir nya, kalau tempat dimana mereka tinggal nya gue gak tau..." Tukas nya bingung.


"Ok, mereka pasti baik-baik saja... Gue yakin... Sekarang kita hanya perlu mikir gimana cara nya datang ke Rivendell."


"Apa kita perlu balik ke kerajaan Rosewaltz?"


"Gue gak yakin sih, tapi masa iya gak ada tempat teleportasi yang lain? Pangeran Deffin dan pangeran Andrew kan ada, mana tau mereka bisa bantu kita?" Ucap nya seraya mengecek handphone nya.


Kemudian ia terlihat menghubungi seseorang, beberapa detik kemudian ia mengucapkan kata hallo dan pembicaraan di mulai cukup lama.


"Bagaimana? Apa mereka punya cara?" Ucap Hazel yang tiba-tiba datang, ia duduk di atas meja seraya meraih buah apel yang lebih besar dari tubuh nya.


"Mau gue kupasin?"

__ADS_1


"Tentu..." Jawab nya tersenyum.


Aku meraih pisau kecil yang berada di samping nya kemudian mulai ku kupas buah apel tersebut. Tak butuh waktu lama, aku sudah memberikan sepotong apel kecil kepada Hazel.


"Terimakasih..." Jawab nya tersenyum.


"Gimana?" Tanya ku, ia menoleh ke arah ku dengan raut wajah yang sulit di tebak.


"Ada cara lain..." Ucap nya, kemudian ia tampak terpejam. Hal itu tak asing lagi, ia sedang berkomunikasi dengan Ryu.


Aku lupa menanyakan keadaan Ryu, tapi sepertinya dia baik-baik saja.


"Kita perlu pergi ke sebuah tempat dimana kita menemukan Zu dan Ryu..." Ucap nya, sembari membuka mata nya menatap bergantian ia ke arah ku dan Hazel.


"Jauh banget, sama aja balik ke kerajaan Rosewaltz kali..." Ucap ku kesal.


"Hahaha.... Gue bercanda...." Ia tertawa dengan cukup keras.


Aku dan Hazel hanya menatap nya dengan jengah.


____________


Hembusan angin malam menerjang ragaku, terasa agak dingin namun aku tetap bisa bertahan tanpa harus mengeluh dan berkata “Aku pasti kedinginan dan masuk angin kalau begini terus semalaman”. Diantara hembusan angin malam hari ini, ada sebuah bisikan yang kudengar secara jelas. Suara tersebut terdengar begitu jelas, dan begitu dekat ditelinga.


“Apa yang kamu pikirkan sekarang?”


Aku terkejut sejenak, kemudian aku berusaha menguasai pikiran agar tetap sadar. Aku mencoba mencari darimana sumber suara itu berasal, tapi aku tidak bisa melihat siapa-siapa.


“Arrhhgghh, esss..siiapaaa? Aku?”


“Apa mungkin aku bertanya kepada pemandangan yang ada didepan kamu? Sedangkan orang yang mendengarkan ini hanya kamu?”


“Aku?”


“Untuk apa pertanyaan itu harus aku jawab. aku tidak mengenalmu, bahkan aku juga tidak bisa melihat wujudmu.” Teriakku pelan dengan nada bimbang.


Kali ini, aku lebih kuatkan lagi indera pendengaran ini. Dengan hati antara percaya dan tidak aku berusaha untuk kembali mendengarkan suara yang misterius itu.


_


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️


__ADS_2