
"Anda kenapa nona?" Ungkap seseorang datang menghampiriku.
Ia meletakan nampan yang berisi makanan di atas meja dengan terburu-buru. Ia membantu melihat luka yang ada di kepala ku.
"Luka nona berdarah..." Ungkap nya panik.
"Tunggu di sini nona, jangan kemana-mana..." Ungkap nya lagi seraya pergi keluar...
Tak lama ia datang bersama dengan seorang pria yang sudah berumur, sepertinya ia adalah seorang tabib. Ia membantu mengobati luka ku dan memperban kembali dengan kain berwarna putih. Dan satu hal lagi, ia adalah manusia.
"Hati-hati nona, jangan terlalu banyak bergerak..." Ungkap nya seraya membereskan peralatan nya.
"Ah.. tadi aku hanya tidak sengaja..." Ungkapku tersenyum ke arahnya...
"Saya permisi dulu nona..." Ungkapnya berbalik pergi meninggalkan kami.
"Nona baik-baik saja kan?" Ungkap bibi yang merawat ku.
Aku mengangguk.
"Siapa nama bibi?" Ungkap ku menatapnya.
"Nama saya Lena nona,,,, saya tidak pantas di panggil bibi, saya hanya pelayan di sini..." Ucap nya sedikit merunduk.
"Ah,,, kita sesama manusia yang sama derajat nya bibi, jadi tak masalah jika aku memanggil bibi Lena dengan sebutan bibi..." Ungkapku tersenyum menatapnya.
"Namaku Zenquille Angela, bibi boleh memanggilku Ela..." Ungkapku kembali tersenyum.
Ia menatapku dan mengangguk tersenyum.
"Baiklah, tapi bibi tetap memanggil dengan sebutan nona..." Ungkapnya.
"Baiklah..." Ungkap ku tersenyum seraya berbaring kembali.
"Bibi, boleh kah aku bertanya? Kenapa bibi bisa berada di istana Elf, bukan kah mereka sangat membenci manusia?" Ungkap ku serius dengan nada pelan karena takut salah satu elf mendengar pembicaraan kami.
"Dulu memang terjadi perselisihan antara elf dan manusia, tapi seiring nya waktu elf kembali mempercayai manusia... Entahlah bibi tidak tahu pastinya... Tapi mereka benar-benar baik kepada kami walau salah satu dari mereka masih membenci kita sebagai manusia..." Aku mendengar nya dengan serius.
"Benarkah?" Ungkap ku kurang percaya.
"Benar nona,,, kita hanya perlu berhati-hati untuk tidak mengusik mereka..." Ungkapnya lagi.
"Tapi bibi... Aku pernah mendengar dari beberapa Elf yang kami jumpai di hutan, bahwa mereka tidak menemukan manusia di wilayah mereka sejak lama.?!" Ungkap ku sedikit bingung.
"Memang benar... Mereka tidak menemukan manusia sejak mereka menolong kami beberapa tahun yang lalu..." Ungkap nya seraya menuangkan segelas air untuk di berikan kepada ku.
"Maksud bibi?" Ungkap ku seraya meminum air itu.
Ia menjelaskan sembari menyuapi ku bubur.
"Beberapa tahun yang lalu, bibi dan beberapa teman bibi termasuk paman bibi yang mengobati mu tadi tersesat di hutan wilayah perbatasan Orc, kami di serang oleh mereka dan kebetulan paman bibi melihat sekumpulan elf tak jauh dari tempat kami di kepung Orc..."
"Lalu kenapa mereka mau menyelamatkan kalian?"
"Paman bibi bercerita dulunya ia pernah menolong pangeran Elf yang sedang terluka, kebetulan kesatria pribadi pangeran lah yang kami lihat waktu itu, ia mengetahui tentang paman bibi maka dari itu mereka menolong kami dan pada akhirnya kami tinggal di sini..." Ungkap nya.
__ADS_1
"Wah benarkah? Jadi mereka ingat dengan balas Budi yang pernah paman bibi lakukan..."
"Benar nona, para elf sangat menghargai siapa pun penolong nya..." Ungkap nya lagi.
"Aku sudah kenyang bibi... Terimakasih atas penjelasannya dan makanan nya..." Ucapku tersenyum menatap nya.
"Tidak apa-apa nona, semoga nona lekas pulih..." Ungkap nya seraya membereskan nampan nya dan berbalik pergi meninggal kan ku.
"Bibi... Tunggu..." Ungkapku menahannya. Ia berhenti, menoleh ke arah ku.
"Ada apa nona?"
"Siapa nama pangeran Elf?"
"Nama beliau adalah Deffin Cleofattan nona..." Ungkapnya seraya menunduk dan berbalik pergi.
"Ohhh.... Pangeran Deffin..."
------------
Selagi aku berbaring, terdengar suara seseorang melangkah ke arah kamar ku. Ku tatap pintu itu, terdengar seseorang mengetuk pintu dan kemudian ia masuk.
"Bagaimana keadaan mu nona?" Ucap nya saat sudah melihatku.
"Ah... aku baik-baik saja pangeran..." Ungkapku sembari berdiri.
Kenapa dia pake ke sini segala sih...
Kan jadi nerveous... Uhhh...
"Terimakasih sudah menolong saya dan saudara saya pangeran...!" Ungkapku menundukkan tubuh ku.
"Duduklah..." Ungkapnya lagi.
Aku hanya mengangguk mengikuti perkataan nya.
Kenapa ini jadi canggung banget sih... Ah, aku bingung mau ngomong apa.
"Kenapa kalian bisa berada di benua ini?" Ungkapnya serius.
"Hmmm... Kami ingin mencari bunga mawar api hitam pangeran..."
"Bunga mawar api hitam? Itu sangat sulit... Untuk apa kalian mencari bunga itu?''
"Kami ingin membunuh kaisar pangeran..."
"Kaisar..?!"
"Ia telah membuat seluruh manusia yang berada di bawah kekuasaan nya menderita..."
"Maksudmu..?!"
"Kaisar bersekutu dengan para makhluk-makhluk iblis, kami ingin menggunakan bunga mawar api hitam untuk memusnahkan semuanya terutama sihir hitam yang di gunakan kaisar..."
"Bukankah itu akan terjadi peperangan yang sangat besar?!"
__ADS_1
"Anda benar pangeran... Tapi jika kami menemukan bunga mawar api hitam itu, kami masih bisa menghancurkan inti sihir yang membuat mereka menjadi kuat..."
"Jadi itu alasan kalian datang jauh-jauh kemari..?! Kalian hampir terbunuh oleh para Orc itu .."
"Hemm... Kami tidak ingin kekuasaan kaisar terus berlanjut..."
"Pergilah ketika kalian sudah pulih, ku harap kalian bisa menemukan bunga mawar api hitam itu..." Ungkapnya tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan. Ia beranjak pergi meninggalkan ku.
"Tunggu pangeran..." Aku berdiri menghampiri nya. Ia menoleh ke arahku.
"Bisakah bangsa elf membantu kami memusnahkan iblis-iblis itu..?!"
"Permintaan mu terlalu besar nona..." Ungkapnya berbalik pergi.
Aku akan membuat kalian menjadi sekutu kami pangeran. Lihat saja nanti...
----------
Aku berjalan-jalan keluar menelusuri istana. Memang istana yang sangat indah yang berada di hutan. Karena istana ini berada di atas tebing seakan-akan kami berada dekat dengan awan.
"Yah... Sangat jarang aku menemukan istana seperti ini..." Ungkapku berjalan-jalan.
Aku berhenti melangkahkan kakiku. Tampak di dalam sebuah ruangan yang cukup besar sekumpulan elf sedang berkumpul. Mereka sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat penting. Terlihat dari wajah pangeran Deffin yang sangat marah.
"Apa yang terjadi..?!"
Ah biarkan saja...
Baru mulai ku langkahkan kakiku seseorang berbicara di belakang ku. Aku terkejut...
"Apa yang kau lakukan?"
Ungkap seseorang itu, aku menoleh dan menatapnya...
Siapa dia?
"Aku adik dari pangeran Deffin..."
Adik? Ia pangeran juga...
"Ah... Maaf pangeran, aku hanya berjalan-jalan dan melihat pangeran Deffin dengan yang lain berada di sana ..." Ucapku menunduk.
"Kau tidak perlu tau urusan bangsa Elf nona... Lebih baik kau cepat kembali ke kamar mu sebelum semuanya semakin sulit." Ungkapnya pergi meninggalkan ku.
Dasar elf menyebalkan...
Memiliki sikap yang berbeda jauh dengan pangeran Deffin...
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yah...
❤❤❤