TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 95


__ADS_3

Aku terduduk bersandar di dinding samping Neftaza, aku sudah menunggunya terbangun selama kurang lebih dua jam. Selama itu lah aku mencari cara untuk mengeluarkan Edmund dari sihir itu namun satupun tidak berhasil.


Aku beristirahat untuk memulihkan tenaga ku plus pikiran ku, pikiran ku sangat kacau karena keadaan kami sekarang sangat mengancam nyawa kami karena itu lah aku tidak bisa berfikir jernih.


Aku memejamkan mata seraya menghela nafas kasar, aku mencoba merilekskan tubuh ku dari masalah yang ku hadapi saat ini.


Tubuh ku sangat kelelahan, aku sangat mengantuk dan sangat ketakutan. Aku hanya bisa membuat diri ku menahan ketakutan itu tanpa menghilangkan nya.


"Lo ngapain tidur di situ??"


Aku membuka mata ku seraya menatap ke arah Neftaza yang sudah mulai membaik.


"Gue capek b*go..." Ungkap ku menatapnya kesal.


Ia beranjak duduk bersandar di dinding, kemudian ia mengalihkan pandangan nya menatap di tempat Edmund di kurung.


"Gue kasihan sama dia, walau lukanya gak keliatan gue tau kalau kekuatannya rusak karena mencoba keluar dari sihir itu..." Ungkap Neftaza dengan nada bicara sedikit sendu.


"Itu alasannya kenapa dia pingsan..." Ungkapnya lagi.


"Dimana Hazel???" Ungkapku tegas karena tiba-tiba mengingat nya...


"Dia di ruang dimensi gue... Dia gak bisa bangun karena di saat gue terjebak di kurungan itu dia keluar dari ruang dimensi gue untuk ngebantuin gue tapi baru keluar dia langsung pingsan... Ya udah gue balikin lagi ke ruang dimensi gue..."


"Sihir dan energi mereka seperti hilang ketika berada di sini... Lo juga tau, ini adalah daerah kekuasaan para roh jahat itu dan Orc jelek..." Ungkap nya marah dengan tatapan tajam nya...


"Pantes, mereka ngomong kalau tempat ini adalah tempat terlarang untuk mereka..." Ungkap ku mengingat perkataan mereka tadi siang.


Tiba-tiba Neftaza menoleh ke arahku ia menatapku dengan tatapan curiganya.


"Lo pasti ke sini sendirian kan? B*go bener deh Lo..." Ungkapnya marah.


"Gue gak sendirian, gue bareng Zu tapi cuma di perbatasan doang sih wkwk..." Ungkapku mencari alasan.


"Gue punya sepupu b*go bener deh..." Ungkapnya tanpa menoleh ke arah ku lagi.


"Gimana keadaan Lo??" Ungkap ku menatapnya.


"Gue udah baikan, lumayan lah tidur dua jam bisa ngebantu gue pulih apalagi gue tadi udah minum vitamin..." Ungkapnya santai.


"Ohhh gitu.... Terus kenapa Lo lemes banget sebelum gue ke sini???" Ungkap ku.


"Gue kesakitan nj*r, kecapean lagi... Tenaga Orc itu bener-bener ngebuat energi gue habis... Untung aja Lo cepet nemuin gue..." Ungkapnya.


"Ok lah..."

__ADS_1


Aku beranjak berdiri seraya ku arahkan pandangan mata ku ke arah Edmund, aku harus memikirkan cara untuk membantunya keluar.


"Kalau gue cari di google cara matahin sihir ada gak ya??" Ucap nya menatap ku.


"Lo gak b*go kan Nef???" Ungkapku sedikit kesal kepadanya.


"Hahaha... gue canda doang..." Ungkapnya tertawa.


"Gini nih kalau udah sehat... " Ungkapku mengabaikan nya...


"Lo kok bisa denger teriakan gue dari sini? Padahal itu kan jauh apalagi dindingnya tebel-tebel banget..." Ungkapnya penasaran.


"Ya gue juga kagak tau, tapi gue bisa denger samar-samar aja terus masuk deh ke sini..."


"Tajem juga pendengaran Lo El..." Ungkapnya beranjak berdiri berjalan di sampingku.


"Gue udah dari tadi cari cara buat ngeluarin Edmund tapi gue gak berhasil..."


"Matahin sihir memang susah kali..." Ungkap Neftaza lagi.


"Ehhh... Darah Zu... Coba pake darah Zu..." Ungkapnya menatap ku dengan heboh.


"Darah Zu?" Ungkapku bingung.


"Lo gak ingat? Darahnya aja bisa nyembuhin luka kita masa buat matahin sihir kagak bisa, kan naga punya sihir yang lebih besar di bandingkan sihir apapun..." Ungkapnya lagi.


Tiba-tiba sinar yang di hasilkan sihir itu berputar-putar mengelilingi Edmund dengan warna yang berbeda-beda. Sinar itu sangat menyilaukan, sehingga membuat ku menutup mata seketika begitu pun Neftaza.


Bruukkk....


Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh ke lantai. Aku membuka mata ku menatap Edmund yang terjatuh di lantai dengan tubuh gemulai lemah.


Aku menghampirinya mencoba membangunkan nya, namun ia masih sangat lemah.


"Berhasil... Memang sangat ajaib darah naga..." Ungkap Neftaza yang masih berdiri di belakang ku.


"Mending Lo bantuin gue bangunin Edmund deh..." Ungkap ku kesal kepada nya.


Dia berjongkok di depan ku seraya membantu ku untuk membangunkan Edmund, ku tatap dia yang menampar pipi Edmund dengan perlahan.


"Adek ganteng,,, cepet bangun atuh dek... Kakak yang cantik ini udah capek namparin adek, tapi adek nya gak bangun-bangun..." Ungkap Neftaza yang membuat ku menatapnya tajam.


"Yang serius Nef..."


Aku mengeluarkan minyak kayu putih untuk mencoba membangunkan nya, baru saja aku ingin meletakkan kayu putih di hidung Edmund. Neftaza berbicara kepadaku.

__ADS_1


"Emang Lo kira dia bayi manusia apa???" Ungkapnya menatapku.


"Hahaha... gue lupa..." Jawab ku kikuk.


"Tapi coba aja dulu deh..." Ungkapku seraya mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Edmund.


"Gak ada reaksinya... Fiks dia memang bukan manusia..." Ungkapku mencari alasan.


Neftaza hanya menatap ku datar.


(Sama-sama **** ini mah, wkwk...)


Cukup lama aku dan Neftaza mencoba membangunkan Edmund, namun ia belum tersadar juga.


"Kalau gue masukin ke ruang dimensi gue bisa gak Nef???"


"Hemmm... Perasaan kita gak ngedesain jam itu buat di masukin orang deh... Tapi coba aja..." Ungkap Neftaza seraya berpikir kemudian menatapku.


"Ehhh,,, tapi gue takut bakal ngebahayain jam gue deh... Kasihan... berat..." Ungkapku membuatnya geram.


"Ngapain tanya kalau gitu,,," Ungkapnya kesal...


"Wkwkwk.... Udahan deh... Sekarang serius..." Ungkapku di angguki oleh nya.


Aku beranjak berdiri seraya ku arahkan pandangan mata ku ke sekeliling ruangan, aku mengingat bahwa di lantai atas tadi aku bisa melihat sebuah kendi yang tertutupi kain transparan berwarna hitam. Mungkin itu bisa membantu ku untuk memulihkan Edmund.


"Di lantai atas ada kendi yang di tutupi kain transparan, mungkin bisa jadi itu bisa ngebantu Edmund sadar..." Ungkapku menatap Neftaza yang masih berjongkok berusaha membangunkan Edmund.


Dia menatap ku seraya terdiam seperti sedang berpikir.


"Tunggu... Gue ingat, Lo bener... Itu bisa ngebantu Edmund bangun... Ayo kita bawa dia ke atas..." Ungkapnya sembari mencoba mengangkat Edmund.


Namun Neftaza kesulitan, sehingga aku membantunya mengangkat Edmund di sisi kiri.


Kami berjalan perlahan-lahan karena harus mengangkat Edmund yang sangat berat. Sebenarnya dia tidak terlalu berat, namun karena kami sudah sangat kelelahan, Edmund terasa memiliki berat badan beratus-ratus kwintal.


_


_


_


Yuhhuuu... Semangat terus membacanya kakak-kakak, jangan lupa tinggalkan like, coment, vote + rate 5 dan jangan lupa klik tanda ❤ (Favorit).


Sejujurnya tanggapan kalian membuat author tetap semangat melanjutkan cerita...

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2