Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 99


__ADS_3

Kini, Jackson serta Tara telah berdiri di samping Ferrari portofino marun milik President Direktur Pt.ZhanaZ Group itu.


"Kamu yakin cuma seminggu di Korea?" Ucap Tara memastikan janggalannya yang malah mendapat sambutan gelengan dari kekasihnya membuatnya kian menjanggal.


"Bisa lebih, bisa kurang juga." Balas Jackson penuh lirihan terpampang dari nada bicaranya yang membuat hati wanita di sampingnya turut merasakan lirihan itu.


Tara menerka, lirihan itu bukan untuk perpisahannya, melainkan ia menebak jika sang kekasih hati masih menjanggal dengan sikap suaminya saat lalu hingga ia berniat untuk menghempas rasa curiga itu dengan tindakannya selanjutnya.


Lantas..


"Cewe di sana cakep-cakep kan?" Tara merajuk dengan gerakan kakinya yang maju selangkah mengikis jarak pada kekasihnya membuat sang kekasih tersenyum membalas perlakuannya.


"Hmm.” Jackson berdengung kala membalas tatapan cinta kekasihnya dengan senyuman menawannya. “Tapi yang sepaket penuh cuma ada di depan aku ini." Sahutnya penuh rayuan membuat wanita yang menatapnya lekat-lekat itu terjatuh ke dalam pesonanya.


"Kamu emang cowo paling gombal Jack." Runtuk Tara menepis ucapan kekasihnya, namun ia membalas senyuman itu dengan senyuman tak kalah menariknya.


"Demi cewe nakal ini." Balas Jackson gemas kala menatap wajah anggun yang telah merona di hadapannya hingga tanpa pelantara tangannya terulur, menyelipkan rambut hitam yang terurai itu ke telinganya, mengharap jika kekasihnya enggan berpisah dengannya, mengharap jika kekasihnya takut hatinya berpaling pada wanita lain di sana.


"Jack." Seketika Tara terjatuh dalam perlakuan hangat yang menyemburkan kasihnya itu kala sang jantung meloncat kegirangan di balik dadanya.


"Hmm?" Sahut Jackaon kembali hanya berdengung kala pikirannya berpusat pada tangannya yang beralih, mengelus pipi kekasihnya, membubuhkan rayuannya untuk meyakinkan hati kekasihnya atas kesungguhannya.


"Apa aku boleh pastiin sesuatu?" Tanya Tara dalam picingan pasang matanya, berharap sang kekasih masuk dalam perangkapnya.


"Apa itu?"


Tara membisu dalam pergerakannya membalas pertanyaan kekasihnya. Ia berhasil menumpukan kedua tangannya pada bahu kekasihnya, lantas berjinjit menatap harap wajah yang telah menjanggal sesaat itu.


Biarlah untuk kali ini saja ia membalas hati lelaki yang pernah di kaguminya saat lalu yang tidak di larang sama sekali dalam perjanjian pernikahannya.


Ia menelusup imajinasinya, menampakkan wajah suaminya dalam ingatannya, menatap bola mata berwarna hazel di hadapannya yang begitu serupa seperti milik suaminya.


Di rekatkannya wajahnya hingga melekatkan bibirnya pada bibir tipis lelaki yang berada di hadapannya. Lantas, ia membenamkan bibirnya di sana.


Jackson membeku sesaat, mematung tak bergerak mendapat perlakuan manis yang selalu di nantinya itu.


Namun tak lain dengan Tara, iapun membiarkan gerakannya mengikuti kata hatinya meski di baliknya tersimpan sesuatu yang ingin mencegah kegiatannya itu.


Kini, Jackson memejamkan matanya, mengulurkan sebelah tangannya menekan tungkak kepala wanita yang telah memejamkan matanya, tangan yang lainnya ia gunakan mendekap tubuh ramping itu tak lantas memberikan cumbuan mesranya, cumbuan yang begitu romantis mengiringi kehangatan kasihnya. Mempermaikan lidahnya di dalam sana, memercikkan cintanya dalam kelembutannya, membubuhkan pesonanya, membawa angan Tara melayang hanya dengan sebatas cumbuan saja.


Dua tahun sudah Jackson menanti kehangatan yang kini tengah berlangsung itu, dua tahun sudah ia menunggu tanpa jawaban yang pasti. Kini ia telah mendapatkannya hingga tanpa ingin mendapat kericuhan ia meresapi kehangatan yang di dapatinya itu setelah menunggu sekian lamanya.


Sedang Tara yang telah merasakan perbedaan yang begitu jauh dari sentuhan itu, di mana lebih lembut serta hangat di bandingkan dari apa yang selalu di dapatinya dari suaminya, iapun sengaja membiarkan hatinya berpaling sejenak, meresapi sentuhan itu.

__ADS_1


Suara decakan dari bibir yang saling bertautan itu membuat kedua belah pihak memperdalam resapan kegiatannya. Menjerat asmanya dalam cinta yang saling tercurah.


Begitu hangat dan nyaman hingga membuat Tara mencengkram bahu kekasihnya dengan kedua tangannya. Namun kini, cumbuan itu semakin memanas ketika Tara merasakan detak jantungnya menyahut detakan jantung pria yang kian rakus meresapi bibirnya.


Bermenit kemudian, Tara meronta, menepis cumbuannya dengan mendorong keras dada pria itu dengan kedua tangannya membuat cumbuanpun terlepas tanpa pelantara tat kala sang pria mengartikan penolakan yang begitu keras itu.


"Sorry." "Thanks." Ujar Jackson di susul ungkapan terimakasih oleh Tara membuat bibir mereka saling membalas senyuman cerianya.


Jackson masih mencari kesempatannya, tidak sedikitpun tangannya terlepas dari tubuh kekasihnya yang masih berada dalam dekapannya. Namun tujuannya hanya untuk membubuhkan rasa sesalnya atas perlakuan yang telah membuat wanita dalam dekapannya menahan rasa malunya.


"Thanks Art." Tutur Jackson penuh cinta hingga ia mengusap puncak kepala wanita yang masih berada dalam dekapannya di iringi matanya yang menatap lirih wajah anggun itu, menyerukan kesungguhan rasa kasihnya dalam gerakannya.


"Buat apa?"


"Hadiah__"


-hadiah yang memilukan ini.


"Kamu berhak dapet itu." Ucap Tara ragu-ragu mengingat sang hati yang masih menolak membuatnya menelusupkan wajahnya pada dada kekasihnya tanpa ragu, menyembunyikan lirihannya di sana. Air payau dari sudut mata indahnya sudah mendonrak bendungannya, namun sekuat tenaga ia menahannya agar tidak terjatuh setetspun.


"Dan aku ga tau apa masih bisa dapet lagi hadiahnya?" Tanya Jackson penuh harapan hingga ia membenamkan bibirnya pada puncak kepala yang masih tertunduk itu, menghisap aroma wangi dalam endusan kerasnya.


Tara membisu membuat Jackson memejamkan kedua matanya dengan lekatnya menahan kepedihan hatinya yang tidak di ketahuinya entah apa sebabnya hatinya melirih sedemikian pedihnya.


Dan..


Ia terperangah hingga membuka lebar kelopak matanya melihat wajah cantik itu telah di basahi air matanya.


"Sorry!” Ucap Jackson penuh penyesalan dalam helaan napas rancunya. “Apa aku udah bikin kamu nangis?"


"Jangan lama di sana." Tara menyahut memaksakan bibirnya menyiratkan senyumannya.


Bukan! seharusnya Tara mengatakan jangan cepat kembali.


"Siap nyonya Jordan, aku pastiin kerjaan aku cepat beres." Balas Jackson tersenyum ceria mendapat hati yang tak ingin di tinggal itu hingga ia mengusap tetesan air yang membasahi pipinya di balas sang kekasih dengan paparan senyum manisnya menyembunyikan lirihannya.


Namun, segera Tara menepis tangan yang masih setia merangkul pinggangnya itu membuat sang pemilik tangan mengabulkannya dengan segera.


"Jangan nakal."


-kecuali padanya.


Jackson menatap lekat wajah kekasihnya.

__ADS_1


"Ga."


-Mungkin.


Selama masih ada suaminya di sampingnya.


"Kalau ada apa-apa, panggil aja."


-Dia.


Jackson membentuk jarinya mengikuti sebuah alat komunikasi lantas menggerakkannya di samping kupingnya.


"Pasti ga akan ada apa-apa."


-Karna masalahnya berasal dari nya.


Kembali senyum itu menyembunyikan lirihannya.


"Oke aku tenang."


-Selama ada dia.


Lantas Jackson membuka pintu kendaraan itu, masuk ke dalamnya meski hatinya masih berat terasa.


Mesinpun di nyalakannya, lantas membuka kaca jendelanya, melambaikan tangannya di balik sana yang mendapat balasan lambaian dari kekasihnya.


Jackson enggan melihat wajah polos itu tergores luka di hatinya, ia tidak menatapnya kembali, hanya melajukan kendaraannya menjauhinya agar wajah itu tidak membayang lagi di depan matanya.


*******


Di sisi lain, rupanya seseorang tengah menggundah tanpa sebab, ia hanya berpikir bahwa dirinya tidak terbiasa dengan keadaannya, di mana sebiasanya ia akan tidur mendekap seorang wanita. Namun kini, atas kesalahannya sendiri ia kehilangan kebiasaan itu.


Penyesalan bertolak dalam benaknya, selama hidupnya ia sangat menjaga agar kata itu tidak terucap dari bibirnya, namun kini apa yang telah di lakukannya membuat penyesalan itu terasa sesak menyentuh asmanya.


Bukankah ia egois? Bukankah ia keras kepala? Gengsinyapun tinggi, namun mengapa kini ia mengakuinya bahwa dirinya sudah hanyut dalam kisah asmaranya?


Tidak sama sekali mencintainya. Itulah kata penyenggal yang terlontar sebelum ia menutup kedua matanya menuju alam mimpinya agar tidurnya terlelap dengan indahnya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2