
Tara sudah berdiri di tengah kerumunan para tamu undangan pesta ulang tahun meriah yang diselenggarakan di sebuah ballroom hotel bintang 5, di dampingi Triana salah satu tamu undangan dari pesta tersebut.
Acara yang bisa dibilang besar dan ramai itu dipenuhi orang-orang yang berpakaian rapi dengan merek dan desain kualitas tinggi, jas-jas dan gaun-gaun yang mereka pamerkan tentu memiliki harga yang luar biasa, bisa dibilang hanya dari pakaian mereka saja, itu sudah memberikan dan membedakan tingkat kasta dan kedudukan tiap orang.
Wanita-wanita bergaun cantik berjalan lenggok lentur penuh pesona. Memamerkan keindahan dan kualitas pakaian mereka yang membentuk lekuk-lekuk tubuh mereka yang mendekati sempurna. Beraneka macam warna pakaian yang dikenakan setiap orang. Para pelayan berlalu lalang dengan tangan memegang nampan berisi minuman untuk dijajakan pada para tamu undangan, makanan kecil dan ringan sudah tertata rapi di atas meja-meja yang penuh akan hiasan bunga.
Obrolan-obrolan kecil saling bersahutan di antara orang-orang, tawa kecil dan ringan juga terselip di antara obrolan.
Orang-orang berkelas tinggi menghadiri acara seperti ini bukan hanya untuk menghormati dan mendapat kehormatan untuk menyaksikan acara, tapi ini juga dimanfaatkan bagi beberapa kalangan untuk menjalin kerjasama dan mencari keuntungan lainnya. Tentu saja hal semacam ini sudah merupakan kegiatan yang lumrah.
Di tengah suasana canggung, Tara melihat pergerakan suaminya dari arah sepuluh meternya yang tengah berjalan memasuki ruang tersebut.
Dengan sengaja ia menghindarinya, enggan menghadapi situasi yang akan lebih membuatnya canggung. Terlebih lagi, ia kira persyaratan pernikahan mereka kembali berlaku di sini, itu akan membuat perasaan makin tak nyaman saja. Maka dari itu, ia pun mencari alasan kepada sahabatnya.
"Tri, sorry, gue kebelet," ungkap Tara penuh risau. Ekspresi wajahnya dibuat semeyakinkan mungkin.
"Ah lo, masa mau ninggalin gue sendiri, sih? Tahan bentar bisa, kan?" tolak Triana yang enggan ditinggal sahabatnya. Apa bedanya dia datang sendiri kalau ujung-ujungnya ditinggal.
"Gue sakit perut, Tri, mana bisa nahan." Tara masih berusaha bersandiwara dengan sempurna hingga ia memegangi perutnya.
"Tumben ah."
"Grogi kali." Kini ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali menyembunyikan ungkapan dustanya. Sepertinya temannya ini mengetahui siasatnya.
"Ya udah lah, jangan lama ya!" Meski enggan lantaran seluruh tamu wanita memperhatikan pergerakannya, terpaksa Triana pun mengizinkannya.
Tara hanya mengangguk membalasnya, lantas melangkahkan kakinya dengan tergesa sebelum suaminya melihat dirinya di sana.
Setelah Tara hilang dari hadapannya, Triana melihat keberadaan Sammuel yang tengah berbincang dengan sang pemilik pesta. Tanpa ragu, Triana menghampiri Sammuel meski perasaan takut menyeruak dari dalam benaknya.
"Sam, sorry, apa aku bisa ganggu waktunya?" tanya Triana setelah berhasil menggabungkan diri.
__ADS_1
Sammuel melengos hingga memalingkan arah pandangnya menuju sampingnya. Terlihat pemandangan yang mengejutkannya di mana sang istri -- yang tampak berpenampilan berbeda dari biasanya-- kini telah berdiri di sana.
Gaun panjang berwarna merah yang menampakkan tangan serta dada yang sedikit terbuka, membuat kulit putihnya terekspos menjadikan hasratnya kembali bergejolak.
Cemburu?
Tidak! Sebisa mungkin ia menyangkalnya. Bukankah ia hanya enggan jika tubuh istrinya terlihat orang lain? Itulah alasannya untuk menepis rasa yang enggan diakuinya itu.
Namun, gairah meredup hingga berubah menjadi emosi, ketika melihat sang istri berbincang dengan seorang pria muda anak dari pengusaha properti di Jakarta atau sang kakak dari pemilik pesta.
"Oke, kita ngobrol di sana." Sammuel menunjuk dengan dagunya sebuah kursi yang terletak tepat di belakang istrinya. Tujuan sebenarnya ia ingin mendengar perbincangan sang istri dengan sang lelaki itu.
Triana menolehkan arah pandangnya pada tempat yang ditunjukkan Sammuel, sejenak ia terkejut melihat Tara berada di sana ia menerka jika sahabatnya tengah mengelabuinya, bahkan dari ekspresinya,ia tak tampak seperti sebelumnya. Namun, “O-oke." Ia enggan membahasnya lantaran sebuah bahasan lebih penting tengah menantinya.
Tanpa bicara Triana serta Sammuel menuju tempat tersebut. Setelah mereka mendapat posisi nyamannya, perbincangan pun di mulai.
"Sam, aku ga ngerti sama keinginan papaku." Triana yang memulai percakapan, ia menjeda perkataannya, tangannya meremas tas kecil miliknya tuk menutupi rasa takut yang menjalar dari dalam dirinya.
"Aku udah pernah punya ide kalau emang dia mau saham dari perusahaan kamu, aku bisa obrolin ini sama kamu tanpa kita harus tunangan. Tapi ternyata dia masih ga mau, cuma maksa aku jadi tunangan kamu." Penjabaran panjang lebar Triana tidak mendapat respons sedikit pun dari lawan bicaranya, Sammuel masih berpusat pandangan pada istrinya, entah mendengarkan atau tidak.
Tanpa Triana sadari, sahabatnya yang berdiri di belakangnya mendengar apa yang terucap dari mulutnya dengan jelasnya. Tara segera sadar jika tak jauh darinya, Triana sedang berbincang dengan Sammuel, membahas masalah yang sebelumnya dibicarakan. Dari kalimat yang didengarnya pula, ia menangkap sesuatu yang sebelumnya tak dia ketahui.
Tara terperangah setelah mengetahui seorang pria yang akan menjadi objek buruan sahabatnya adalah suaminya sendiri. Kegundahan hati menyambutnya saat itu juga, harus bagaimanakah ia memilih antara sahabat, suami atau perasaannya.
Bagaimana bisa seluruh risalah orang terdekatnya ternyata berkaitan dengan dirinya. Hatinya memberontak enggan mengelabui sahabatnya. Namun apa boleh dikata, nasi sudah menjadi bubur, ia akan melanjutkan sandiwaranya bersama seluruh orang terdekatnya. Ini sudah menjadi keputusan finalnya.
Yah, ia mengingat ucapan dari mertuanya yang mendukung dirinya untuk tetap berada di samping Sammuel, pria yang telah menyelamatkan hidupnya.
Mungkin Tara tahu jika apa yang menjadi keputusannya sekarang akan membuat masalah di kemudian hari, memberi rasa sakit pada beberapa orang yang merasa tertipu. Tapi ia harus menerimanya, hidup itu penuh dengan risiko.
Akhirnya, Tara melangkahkan kakinya menjauhi suami serta sahabatnya, membawa rasa gundah untuk menyembunyikannya dari sang suami yang masih setia menatapnya tajam-tajam.
__ADS_1
Seperginya Tara, Sammuel melanjutkan perbincangannya setelah melihat istrinya melarikan diri dari hadapannya.
"Berarti dia mau buang lo," cetus Sammuel dengan nada yang ketus, namun membuat Triana merasa lega.
"Lebih bagus kalau gitu, aku ga usah tunangan sama kamu kan?" Triana dalam senyuman lirihannya.
"Udahlah bilang intinya aja," putus Sammuel yang ingin segera mengakhiri perbincangan ini untuk membuntuti langkah istrinya.
"Aku mau jujur sama kamu, sebenernya papa aku ancam aku sama keadaan mama aku yang koma di rumah sakit udah setahun ini. Kalau aku ga tunangan sama kamu, mama aku ga akan dapat biaya pengobatan." Triana menerangkan apa yang menjadi masalahnya, tentu saja kalimat itu dibalas decakan oleh lawan bicaranya.
"Terus lo mau gue tunangan sama lo aja biar emak lo selamat, gitu?" Masih dengan nada ketus itu, kalimatnya terlontar dari mulut Sammuel. Ia sudah gelisah ketika tidak lagi melihat Tara di sekitarnya.
"Bukan, aku cuma minta tolong sama kamu, andai aku dapat uang buat pengobatan mamaku, papa aku pasti ga bisa ancam aku lagi." Triana ragu-ragu mengajukan permintaannya.
Sammuel memaparkan senyum sinisnya. Menyeringai mengejutkan. "Bukannya lo udah punya cowok? Minta aja sama cowok lo." Ia memerintahkan.
"Sayangnya, pacar aku orang serampangan. Dia ga akan punya banyak uang buat itu, buat makan dia sendiri aja mungkin kesulitan." Kini air payau mendesak dari dalam mata indahnya. Sesungguhnya ia berdusta pada Sammuel tentang hubungannya dengan seorang lelaki, yang awalnya itu hanya sebagai alasan semata tuk menolak Sammuel secara halus, dengan berpura-pura menjadi kekasih Jackson.
Sammuel mengembuskan napas kasarnya, enggan melihat lirihan wanita yang akan mampu menggoyah sikap dinginnya, ia segera bangkit dari duduknya.
"Oke, gue mau bantuin lo, di atas materai lo ga akan ganggu hidup gue lagi." Sammuel berlalu begitu saja dari hadapan Triana setelah mengucapkan seluruh kalimatnya.
Namun rupanya kepergian tanpa pamit itu membuat Triana tersenyum riang atas keberhasilan mendapatkan persetujuan dari pria itu. Sepertinya dengan ini, beban hidupnya akam berkurang, masalah yang dialaminya mungkin akan segera enyah.
•
•
•
Tbc
__ADS_1