Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 56


__ADS_3

Mentari terpejam, awan kelam menyelimuti langit sore itu hingga meneteskan airnya di atas sebuah bangunan pencahar langit perusahaan raksasa di pusat kota.


sebuah ruang rahasia yang terdapat di dalam bangunan yang bertuliskan PT ZhanaZ Group sebagai nama bangunan itu, pada lantai 60 lantai teratas dari bangunan tersebut yang tidak banyak di ketahui orang sekalipun karyawan di sana. Di dalam sana tengah berpenghuni seluruh pemiliknya di dampingi orang kepercayaan mereka.


"Jaminan dari Spanyol udah kelar." Ucap Jackson menghempas sebuah map ke atas meja yang berada di hadapannya lantas menatap wajah adik ke duanya. "Soal 5 orang itu apa udah kelar Sam?"


"Belum. Lo yakin semua ada kaitannya sama si Edwin?" Sambut Sammuel meraih map yang terhempas Jackson sebelumnya. "Gue rasa ada satu yang bikin gue penasaran. Sonia Mareta!" Lantas ia menyerahkannya kepada Nicky yang langsung di raih Nicky.


"Itu harusnya jadi kerjaan lo kan Hans?" Tanya Jackson menatap lekat wajah adik pertamanya yang sudah menggeleng di sebrangnya.


"Masih dalam penyidikan." Jawab Hanson menatap kosong arah depannya. Ia melupakan tugas dari kakaknya setelah mengurus seluruh masalah pribadinya.


"Tumben lama." Tebas Jackson menyindir dengan kekehannya.


"Gue baru kelarin kasus kematian mantan gue." Jujur Hanson melirih menatap wajah kakak keduanya yang telah menatapnya lebih dulu.


Tidak hanya Jackson, Sammuel serta Maxson pun serentak mengarahkan pandangannya pada Hanson yang duduk di samping sang tunangan.


"**** lo tega amat ngomongin soal mantan depan cewe lo?" Senggal Maxson tidak percaya jika adiknya yang terkenal dengan sikap wibawanya mampu dengan santainya membuat tunangannya tertunduk kaku.


Hanson menatap Fiona yang sudah memerah wajahnya, sedang Fiona tertegun dalam kegaduhan hatinya. "Bukannya semua tau alasan pertunangan aku sama Hanson?" Tanyanya mencoba menyembunyikan kegundahannya di balik senyum manisnya.


Kelvin yang tengah menyaksikan perbincangan menyakitkan mereka, segera merangkul pinggang istrinya, ia melega jika kehidupan asmaranya tidak serupa dengan empat orang pria yang nerada dalam ruang yang sama itu. "Kalian para sultan apa ga enek sama jalan hidup rumit kalian?" Tanyanya membuat Jesslyn mencubit keras bahunya.


"Mulut lo bisa diem ga kadal?" Gemas Jackson melempar Kelvin dengan kricket yang tengah menyulut sebatang rokok yang berada dalam genggamannya membuat penghuni lainnya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nick sementara urusan itu gue serahin sama lo." Ungkap Sammuel mengarahkan pandangan pada Nicky yang duduk di samping kirinya.


"Jangan lupa bonusnya boss, kerjaan gue akhir-akhir ini makan waktu banget sampe susah balik rumah. Gue harus nyumpel mulut bini gue kan?"


"Berani lo ya sekarang minta bonus." Sungut Sammuel mengumpat halus.


"Mungpung ada si boss gede, kali aja si boss mau nambahin juga." Nicky mengedipkan matanya pada Jackson.


Jackson terkekeh seraya membrigidikkan tubuhnya membalas lelucon asisstant adiknya. "Yo nanti gue bisa ngurangin dari jatah buat dia." Kini pandangannya menuju arah Kelvin.


"Kampret lo masa gue yang kena." Umat Kelvin menatap wajah istrinya mencari bantuan dari sana. "Sayang lo complain dong belain suami kali-kali"


"Sudi!" Ledek Jesslyn dalam kekehannya membuat seluruh penghuni ruang itu menertawainya.


"Oh ya Sam lo yakin mau nyuruh anak si Edwin ke luar negri?" Tanya Jackson setelah mengetahui rencana adiknya jika ia akan mengirim seorang anak musuhnya bernama Triana ke negri sebrang.


Sammuel yang tengah menghisap rokok yang menyala di sela jepitan jarinya, ia menghembuskan asapnya dengan kasarnya mewakili rasa fruatasinya. "Ga ada jalan lain, dia minta biaya buat emaknya biar bapaknya ga bisa ngancem dia lagi. Gue yakin tuh bapak masih bisa ngusik kalo anaknya masih ada di sini."


"Yang jadi masalah kenapa harus ke Korea? Lo tau kerjaan gue masih banyak di sana?" Protes Jackson penuh penekanan. Namun membuat Maxson menggeleng, ia tidak menyangkal setelah mengetahui Alev adalah keponakannya. Mereka begitu serupa, bukan hanya wajah, namun perilaku juga.


"Lo udah lihai maen petak umpet kan?" Dengan santainya Sammuel kembali menghisap rokoknya seolah mengacuhkan permintaan kakaknya.


"Bangke lo, pake nyuruh tinggal bareng si Devand lagi, gimana gue bisa nemuin si bungsu kalo gitu caranya?" Jackson kembali bergerutu mengingat dirinya masih di haruskan berhubungan dengan wanita yang berada dalam bahan perbincangannya.


"Udah gue bilang lo lihai maen petak umpet bangke!" Putus Sammuel tertawa di akhir kalimatnya.

__ADS_1


Sedang Kelvin serta Hanson menggeleng kepalanya menyikapi perlakuan konyol kakak beradik itu.


Maxson sendiri sibuk dengan renungannya setelah mengetahui seorang anak yang begitu serupa kelakuannya dengan adik pertamanya.


"Sam, Jack kayanya kita harus ketemu papi. Mau gimana juga urusan internal perusahaan cuma dia yang bisa lurusin." Ujar Hanson melerai situasi konyol itu.


"Lo bener Hans, sebagian kolega di sini itu rekan papi." Sambut Sammuel mengingatkan seluruh saudara kandungnya pada perjuangan ayahnya yang telah membuat perusahaan itu menjadi sebesar ini. "Sekalian gue ada urusan lain juga."


"Gue juga sama, ada urusan lain." Sambung Hanson.


"Apa gue perlu ikut?" Tanya Maxson. Sesungguhnya iapun menyimpan sebuah penjelasan untuk keluarganya tentang seorang anak pria yang memiliki ikatan darah dengan seorang President Direktur PT.ZhanaZ Group itu.


"Ya iya lah, lo mau di coret dari daftar nama keluarga apa?" Sewot Jackson menatap sadis wajah kakaknya yang di balas kekehan oleh kakaknya.


"Jangan minder gitu deh Max, sikap lo kaya gitu bisa bikin ancur lo sendiri." Gerutu Hanson mengutarakan kekurangan kakak pertamanya yang selalu tidak memiliki kepercayaan diri jika berhubungan dengan Erick Liu.


"Bener tuh Max, lo udah sering gagal dapetin cewe tuh karna sikap lo kaya gitu." Sambung Sammuel di balas anggukan keras oleh Maxson.


Jackson mengangguk membenarkan perkataan kedua adiknya. "Kalo gitu kita pergi sekarang mungpung papi kalian ada di rumah." Lantas tanpa basa-basi bangkit berdiri hingga melangkahkan kakinya di buntuti Hanson, Maxson serta Sammuel di belakangnya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2