Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 25


__ADS_3

Suara gemercik dari air mancur yang mengalir menyembur di tengah vas ukuran besar itu mengisi keheningan malam. Di bawah vas itu ada kolam kecil yang menampung air dari tumpahan vas yang akan dialirkan melalui selang dan kembali pada vas, itu terus berulang.


Lampu hias bergelantungan di sela dahan-dahan pohon cemara, memberikan penerangan yang secukupnya, tak remang dan tak gemerlap. Tentu saja fungsi utama lampu-lampu itu bukan sebagai penerangan utama sehingga sinarnya hanya alakadarnya saja. Tampak jika hanya ada satu meja yang tersedia di luar ruang itu, seperti tempat VIP atau memang seseorang sudah memesannya secara khusus agar tak terganggu oleh orang lain.


Tara, Sammuel serta Nicky kini telah berada di sana, di luar bangunan sebuah kedai kopi.


Tiga gelas cappucino hangat masih mengeluarkan asap yang baru saja dihidangkan menjadi pendamping percakapan mereka. Tidak lupa dengan rokok sebagai pelengkap kenikmatan yang turut menemani mereka berbincang.


Empat kursi saling berseberangan terpisah meja berbentuk kotak berada di luar ruangan adalah tempat mereka mendaratkan bokongnya saat ini.


Sementara Sammuel duduk saling bersampingan dengan Tara, Nicky hanya sendiri duduk di berseberangan dengan sepasang insan di sana, namun ia ditemani kekasih gelapnya sang alat media yang bertengger di atas meja tepat berada di hadapannya.


"Cakep juga nih kebun. Iya kan, Art?" tanya Sammuel penuh godaan tatkala senyuman ledek tersirat di balik wajah tampannya membuat wanita di sampingnya kesulitan menghindarkan pandangannya. Bisa dibilang kalimat pembuka yang dia utarakan tak terlalu memuaskan, tapi Tara tak mau kalah dan ikut dalam permainan.


"Lumayan! Sayangnya cuma ada nyamuk sama buaya licik di samping aku ini aja," sahut Tara yang bergurau dalam nada dinginnya saat matanya mencuri pandang pada pria yang telah asyik menghisap batang rokok berbaranya. Sudah jelas dia sedang menyindir, sayangnya yang disindir jelas-jelas tak peduli dan bermuka tebal.


"Bukan licik tapi ganteng.” Sammuel mengoreksi penuh percaya diri, diiringi senyuman gemasnya terlontar untuk tatapan curian itu, hingga ia tidak tahan jika tidak menggoda wanita itu dengan membiarkan pasang matanya menyorot tajam wajah jelita Tara di sampingnya.


"Iya buaya ganteng!” ralat Tara yang berseru dengan wajah yang jengah hingga memutar bola matanya.


"Lo tau ga?" ujar Sammuel mencubit gemas pipi kiri wanita itu, membuat sang empunya segera menepis dengan keras. "Lo gemesin kalo lagi kayak gitu."


"Idih gombal,” ucap Tara penuh cibiran. Tapi yang dicibir sama sekali tak memedulikan itu.


"Bukan gombal, tapi kebiasaan," balas Sammuel yang mengoreksi lagi dengan tak acuh, mengabaikan wajah jengah wanita itu di sampingnya, seperti biasanya yang selalu berlaku demikian pada wanita yang hanya dianggap mainan olehnya. Jika itu terjadi pada wanita yang disukainya, ia akan berlaku dingin namun terlihat romantis.


Tara dapat menyikap ucapan itu adalah ucap kesungguhannya, itu bukanlah dusta hingga ia kian mencibir sikap pria di sampingnya dengan decakan ringan. "Kasian aku sama kamu," ungkapnya sepenggal membuat pria di sampingnya menatapnya terheran-heran.


“Kenapa?"


"Harga diri kamu bisa jatoh sama kebiasaan kamu tadi." Entahlah Tara tidak mengerti dengan ucapannya sendiri. Ia hanya berharap jika semua yang dilakukan Sammuel adalah atas kesungguhannya, bukan hanya omong kosong dan dusta, bukan hanya sekadar main-main hingga membuat perasaannya terpengaruh dan campur aduk.


Namun, ia sadar diri. Siapa dia? Apakah pantas untuknya mengharap itu? Hei tunggu! Mengapa ia mengharap itu? Apakah ia sudah menyukai Sammuel? Siapa yang akan mampu menolak pesona lelaki sepertinya? Apalagi seorang Art Tara Biancasandra yang mudah terbawa perasaan.


Sementara Tara membatin, Sammuel menatap wajah jelita itu penuh picingan. Masih tidak memahami arti dari apa yang di ucapkan wanita itu saat terakhir kali tadi.


Suasana hening seketika melanda tatkala Tara berpusat terhadap pandangannya, ia memandangi sebuah air mancur yang tengah menari di sampingnya. Dalam menikmati pemandangan, tidak lupa rokok menyala menjadi penyempurna kenikmatannya.


Diisap ... diempas dengan lembutnya asap rokok itu mewakili rasa nikmatnya dari keadaan yang selalu dinantinya seperti sekarang ini.


"Sam, sorry gue ganggu!” seru Nicky penuh waspada, takut-takut sang atasan akan murka jika kegiatan romantisnya tersela, tapi tampaknya Sammuel tak marah. “Lo liat dulu ini,” imbuhnya tak lantas memutar benda pipih itu, mengarahkan layarnya kepada sahabatnya. Tentu saja Nicky tak akan mengganggu acara Sammuel jika hanya sekadar iseng memperlihatkan hal tak penting dari dalam laptop itu, jelas ada sesuatu yang pastinya menarik perhatian Sammuel dan itu tentunya sesuatu yang penting.


Sammuel segera melihat isi di balik layar benda itu. Tara yang merasa penasaran pun turut melihatnya, meski tidak memahami tulisannya dikarenakan terdapat tulisan khas negara panda di sana, namun ia memahami grafik dari garis itu. Ya, layar itu menampilkan grafik garis yang menunjukkan tingkatan sesuatu, sesuatu yang cukup rumit untuk diuraikan dan dipahami orang awam.


"Invest siapa ini, Sam?" tanya Tara tanpa menatap wajah tampan yang melirik sejenak kepadanya kala ia mencondongkan tubuhnya, hingga sebelah sikutnya menumpu pada paha Sammuel untuk memperjelas pandangannya pada layar benda itu.

__ADS_1


Mendapat kesempatan emas, dengan sigap Sammuel mengulurkan tangannya merangkul tubuh itu. "Keluarga gue." Dia menjawab dengan singkatnya tanpa mengalihkan arah pandangnya menuju layar itu.


"Yang merah punya siapa?" Kembali Tara menyahut menyuarakan rasa penasarannya, dia ingin tahu apa-apa saja yang digambarkan dan diuraikan di dalam sana.


"Punya cowok lo,” jawab Sammuel dingin, bahkan terdengar asal oleh wanita di sampingnya tatkala wajah tampannya masih berpusat pandangan pada layar di hadapannya.


"Apaan sih? Siapa cowok aku?" Tara bersungut heran, ia memprotes tidak memahami sama sekali ucapan singkat dari pria itu. Apa maksudnya itu? Sejak kapan dia memiliki seseorang yang pantas dia sandang sebagai pria miliknya? Tak ada.


Sammuel kini membalas tatapan heran itu hingga menyiratkan seringai penebar pesonanya. "Lo pikir aja sendiri." Kembali ia mengalihkan pandangannya pada layar benda itu membuat wanita di sampingnya melenguh penuh emosi. Itu membuatnya makin tak suka dengan apa maksud dari perkataan pria itu.


“Dasar aneh.” Tara melontarkan cibiran, tapi kalimat itu terabaikan begitu saja ketika pria di sampingnya berpusat pikiran pada barisan kalimat yang tertulis di balik layar benda itu. Sama sekali tak mendengarkan.


“Dia udah pasang taruhan rupanya!" seru Sammuel yang menyiratkan senyuman ganasnya, menatap licik sebuah nama yang tertera di balik layar itu. Tara mendelik memiringkan kepala dengan perkataan itu, ia jadi lebih penasaran lagi, tapi tak mau menyerukan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya.


"Guo ....”


"Nickkkkyyyy.” Sammuel segera menyela dalam nada lembutnya seraya menatap kelam wajah asistennya. Jelas itu adalah peringatan dan teguran keras yang tersirat darinya pada pria itu.


Nicky mengembuskan napasnya, ia kelepasan dan melupakan wejangan bagi dirinya dari atasannya itu, bahwa sang atasan melarangnya menyebutkan nama “yang tabu itu” hadapan wanita yang kini turut berpusat pandangan pada layar ponsel tersebut. Buru-buru ia mengganti kalimatnya. "Sorry, yang jelas kakak ketiga lo udah ada di posisi teratas."


"Besok kayaknya acara tunangannya,” balas Sammuel berseru rancu mengingat kembali nasib kakak ketiganya. Ia kini mendaratkan pandangannya ke sampingnya di mana sang wanita masih tertegun mencerna isi layar benda itu di sana. "Gue harus cepet dapetin dia ya kan, Nick?" tanyanya.


Nicky mengangguk lantas tersenyum, sedang Tara yang menjadi objeknya masih berpusat pandang pada layar itu tanpa menghiraukan ucapan Sammuel.


Sammuel menarik tangannya dari tubuh ramping itu. Lantas ia menaruh ke sepuluh jarinya pada keyboard benda itu, sepuntung rokok menyala terbenam dalam jepitan bibirnya membuatnya terlihat gagah jika, saja wanita di sampingnya sudi melirikkan sejenak pandangannya.


"Garis merah berubah setelah kamu otak-atik? Jadi maksud kamu, kamu cowok aku?" protes Tara menatap garang wajah Sammuel, namun sikutnya masih menopang pada paha pria itu.


Sammuel terkejut hingga menghentikan aksinya, menatap wanita di sampingnya dalam kelopak mata yang membelalak, rasanya dia mendapati pertanyaan itu sangat polos dilontarkan dari bibir wanita itu. Ia menarik rokoknya dari bibirnya itu lantas membuang sembarang puntung rokok itu. "Lo pinter juga, gue ga percaya pendidikan lo rendah." Kini sebelah tangannya mendekap gemas pada bahu wanitanya. "Apa itu cuma alesan lo aja buat nolak tawaran gue?" tanyanya, memberi clue dari maksud kalimat yang beberapa waktu lalu dia katakan, tapi wanita itu tampak tak mengerti dan tak berpikir terlalu jauh.


"Sembarang ah." Apa yang harus dilakukan Tara jika apa yang dikatakan Sammuel benar adanya? "Aku dari dulu selalu tertarik sama yang beginian, sayangnya sampe sekarang masih ga bisa ikut serta,” jabarnya, lantas ia menyandarkan tubuhnya pada penyandar kursi, kedua tangannya melipat di dada, pandangannya masih tertuju pada layar laptop itu, namun ingatannya membayang pada kejadian beberapa waktu silam.


Dahulu kala, ia belajar bersama saudara sepupunya, ia memilih jurusan perbisnisan atas tekadnya untuk merubuhkan perusahaan ibu tirinya untuk membantu ibu angkat dari anaknya itu agar kembali mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Sayang sungguh sayang, keberuntungan tidak berpihak kepadanya hingga ia kehilangan kesempatan itu. Pada akhirnya ia mencari seorang pengusaha agar mampu membantunya membalaskan dendam atas wanita licik itu.


Kembali pada nasibnya yang kurang beruntung, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi harapannya, alih-alih ia malah terseret pada jurang dosa yang bahkan membuatnya kehilangan kebebasannya. Sungguh keputusan salah dan menjadi penyesalan baginya, hal ini akan terus membekas dan terkenang dalam benaknya, membuat rasa kesal dan dendamnya makin bertambah, daftar orang yang tak dikehendakinya bertambah pula.


Bagaimana ia dapat membalaskan dendamnya jika dengan anaknya saja ia tidak dapat menemuinya, karena kekejaman sang pria bejat itu yang telah memaksakan dirinya menjadi seekor peliharaannya saja.


"Lo bisa gue bikin ikut serta asal mau terima tawaran gue." Kesempatan Sammuel mengungkap siasatnya setengah memaksa membuat lamunan Tara buyar seketika.


Tara menatap harap wajah Sammuel, sesungguhnya ia berharap Sammuel memberitahukan upah yang akan didapatinya tanpa ia harus bertanya. "A ... aku pikirin dulu lah."


"Lagi?" ketus Sammuel menyeleneh tidak terima jika ia kembali mendapat penolakan dari wanita keras kepala di sampingnya, seseorang yang telah memaparkan senyuman ledek kepadanya.

__ADS_1


"Kamu pikir gampang apa nentuin pilihan?!" serunya dengan berkilah ringan, namun membuat sang pria menegur angannya.


Sammuel kehabisan cara, di samping waktu sudah mendesaknya, ia pun enggan menerima penolakan bahkan sudah pongah jika harus membujuk seorang keras kepala ini.


"Art Taraaa!” Tak di sangkanya, ia mengumbar emosinya dalam ucapannya yang bernada jengah, bahkan rahangnya mengerat menahan amarah itu agar tidak meluap.


Rasa takut menyeruak hingga mengangkat bulu-bulu halus Tara, bahkan menutup pori-porinya tatkala mendengar seruan dingin tersebut. Tara segera menepisnya dengan mengalihkan topik perbincangannya. "Kayanya kamu sibuk banget deh, kamu mau nganter aku pulang sekarang ga?"


"Mau banget, ke rumah lo?" tanya Sammuel penuh semangat. Ini bisa menjadi salah satu kesempatan bagusnya.


"Ke The Views lagi, dodooool!" ucap Tara berseru dengan gemas. Rasa gemasnya segera terlampiaskan dengan mencubit batang hidung Sammuel, lantas menggerak gerakannya ke kiri dan ke kanan membuat sang empunya menepis keras jemari lentiknya.


"Ngapain ke sana lagi? Percuma dong gue bawa lo ke sini!” Sammuel memekik merasa tidak dapat berpikir jernih ketika senyuman manis tersungging dari wajah jelita itu.


"Motor aku di sana, oon."


Sammuel melenguh, mengembuskan napas kasarnya, ia melupakan hal itu. "Ya udah." Ia tak memiliki alasan lain untuk menahan wanita itu agar tinggal lebih lama di sini.


Tara bangkit tanpa berkata, diikuti Sammuel serta Nicky yang langsung menutup layar laptopnya. Sementara Nicky menyelesaikan administrasinya, Sammuel menunggunya berdiri di tempat semula bersama sang wanita.


Sammuel merogoh dompetnya lalu mengambil selembar giro bertuliskan nominal uang 10 juta rupiah dari dalamnya. Lantas ia menyerahkannya kepada wanita itu. "Sesuai janji gue, gue ga kayak seseorang yang ga nepatin janjinya." Nada menyindirnya sama sekali tak dia sembunyikan, meski tak ada objek khusus yang menjadi sasaran untuk kalimatnya, tapi Tara sangat sadar akan hal itu, sadar kalimat itu ditujukan pada siapa.


Tara mengumpat, meraih kertas itu dengan gaya kasarnya. "Kamu nyindir aku?" tanyanya dengan jengah hingga matanya mendelik tidak suka.


"Peka juga lo," sahut Sammuel menggoda, tak lantas terkekeh di akhir kalimatnya membuat sang wanita membalasnya dengan hanya memutar bola mata dalam dengusannya. "Jangan lama mikirnya,” ujar Sammuel merajuk, dipertegas dengan mengelus puncak kepala wanita itu membuat sang empunya meresapi kehangatannya sesaat. "Gue ga bisa nunggu lagi."


Sudah lama Tara menanti perlakuan hangat dari sentuhan seorang insan itu. Meski bukan karena cinta, namun ia menerima perlakuan itu, tak lantas berterima kasih dengan menyiratkan senyuman manisnya. "Tergantung."


"Tergantung apaan?"


"Aku maunya jawab kapan."


"Lo lebih licik dari gue, Art." Pria itu membalas dengan sebal.


Tara membeku, kembali membisu, pasalnya sapuan tangan di atas tempurung otaknya masih berlangsung. Sengaja ia membiarkannya, hanya sejenak, satu kali dalam setahun pun belum tentu ia dapatkan.


Dengan demikian biarkan ia meresapinya untuk menjadi kenangan manis seumur hidupnya.


Hening mengambil alih suasana saat Tara masih meresapi elusan itu yang bahkan membuahkan Sammuel untuk menggodanya dengan tidak melepasnya.


Hingga Nicky kembali ke hadapan mereka. Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat di mana kendaraan Sammuel terparkir. Akhirnya mereka pun bergegas pergi ke tempat tujuannya.



__ADS_1



__ADS_2