Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 57


__ADS_3

Angin berhembus mematikan, udara tidak begitu bersahabat dengan kehangatan. Namun dinginnya suasana di malam yang mencekam itu terlerai dengan kehangatan sebuah perbincangan dari kehadiran ke empat pria di dalam sebuah rumah mewah milik seorang pengusaha Entertaint bernama Erick Liu.


Setelah melakukan santapan malamnya yang jarang sekali mereka mendapatkan waktu untuk itu, dalam sebuah kebahagiaan sang pemimpin keluarga, ia mengajak ke tiga anaknya berbincang pada sebuah ruang. Sofa ruang tamu bertajuk langit itu menjadi penumpu tubuh mereka.


Perbincangan mengenai permasalahan perusahaan milik mantan istri sang kepala keluargapun berlangsung selama satu jam ke depan hingga mencapai titik temu untuk menyusun rencananya, seusainya dalam suasana yang tengah menghening, seorang pengacara pada perusahaan terbesar di pusat kota itu mengungkap isi hatinya.


"Pih kenapa papi ga ngomong soal kasus kematian Vira?" Ungkap Hanson melirih yang terlihat dari raut wajahnya.


"Kalau kamu yang menyelidikinya sendiri maka kamu akan mempercayai segala hasil akhirnya bukan?" Lelaki berusia 49 tahun yang wajah serta tubuhnya masih terlihat bak mahasiswa itu meledek anak keduanya.


Hanson memejamkan matanya menyertai penyesalannya dalam wajahnya yang tertunduk. "Aku minta maaf."


"Ada apa ini Hanson?" Janggal Celia, satu-satunya wanita yang hadir pada pertemuan itu. Ia menatap anak tirinya dengan tatapan kejanggalannya.


Hanson mengangkat wajahnya, menatap lirih wanita yang telah menjadi ibu tirinya sejak 12 tahun itu. "Kematian Vira ga ada hubungannya sama sekali sama suami kamu." Ia menunjuk ayahnya dengan tatapannya. "Emang sebelumnya dia udah punya penyakit stadium 4, keluarganya sengaja mau nikahin dia sama aku secepatnya biar dapat sebagian warisan dari aku." Jelas Hanson yang membuat ke 4 penghuni ruang tersebut terperangah dalam kejutannya. Tidak dengan sang ayah yang tengah mengetahui kisahnya terlebih dahulu.


Itulah mengapa sang ayah sangat bersikeras mencegah hubungan itu terjalin hingga ia tidak segan menutup restunya di dalam angannya.


"Dasar sinting!" Ejek Celia yang di abaikan seluruh penghuni.


"Inilah alasan papi ga menyetujui hubungan aku sama dia? Bukan karna saham kan?" Hanson kembali melirih membuat ayahnya menatapnya penuh penyesalan.


Sang ayah menghembuskan napas kasarnya. Lantas mengambil sebatang rokok dari bungkusannya hingga menyulutnya menahan lirihannya agar tidak terlihat seluruh anaknya. "Ada anakku yang mengatakan, dia di sisihkan sama ayahnya. Aku tau alasan dia mengatakannya karna jabatan kalian di dalam perusahaan bukan?" Erick menatap lekat wajah Hanson mengutarakan isi batinnya yang sudah terpendam sekian lamanya.


"Ya." Jujur Hanson tanpa ragu.


"Hanson__" Sang ayah menyela kalimatnya, melemparkan bungkusan rokoknya ke atas meja yang berada di hadapan Hanson bermaksud memberikannya kepadanya agar anaknya menyerukan kegelisahannya dari hembusan asapnya.


Perlakuan ini sudah biasa di dapati Hanson lantaran sang ayah yang masih berjiwa muda mampu mengimbangi usianya dalam perlakuannya.


Lantas dengan santainya sang ayah menghisap rokoknya seraya menyandarkan punggungnya pada penyandar sofa. "Kelebihan kamu adalah memiliki otak yang cerdas serta sikap dewasa yang berwibawa, kamu satu-satunya anakku yang mampu menjadi pengacara untuk perusahaan ibumu." Jabarnya di balas anggukan oleh seluruh penghuni ruang bertajuk langit itu.


"Benarkah?" Papar Hanson tersenyum meledek di akhir katanya.


"Sebetulnya aku sudah mengambil tindakan agar kamu tidak berpikir jika ayahmu ini berlaku tidak adil, itulah mengapa aku membawamu ke Harvard." Sang ayah menjeda kalimatnya, ia meneguk secangkir kopi yang tersedia, meredakan denyutan jantung yang berdegup nyeri.


Hanson membisu meresapi apa yang menjadi penjabaran dari penjelasan ayahnya. Memang benar adanya jika hanya dirinyalah dari ke 5 saudaranya yang sempat menuntut ilmu pada sebuah universitas ternama itu.


"Maksudmu kita udah salah faham?" Tanya Sammuel penasaran di sela menyulut rokoknya membuat ayahnya menyikapinya tanpa kesungguhannya.


Bagaimana bisa ungkapan penyesalan itu terucap dengan nada serta gaya santainya. Batin Erick meruntuk mengingat anak ke tiganya memang memiliki sikap seperti ibunya.


Erick mengangguk ragu dalam dengusan kasarnya. "Andai si cowo arogan ini yang punya bakat itu maka aku akan memberikan jabatan itu padanya." Telunjuk jenjangnya mengacung ke hadapan anak sulungnya yang duduk pada sofa yang terdapat di sampingnya.


Jackson terkekeh membalasnya seolah mengabaikan cibiran ayahnya. "Buah ga jatuh jauh dari pohonnya, sikap arogan itu bukannya berasal darimu?" Sungutnya membalas ledekan ayahnya.


Erick membalas kekehan Jackson dengan gelengan kepalanya. "Aku lihat kelebihan anak sialan ini yang menonjol adalah untuk perhitungan dalam mengelola keuangan perusahaan." Erick menlentingkan kembali telunjuknya ke arah anak sulungnya. "Dan juga dia menguasai 22 bahasa dunia yang akan menguntungkan perusahaan jika bergabung dengan pihak luar, Presiden Direktur adalah jabatan yang cocok untuknya bukan?" Kembali sang ayah menyenggal perkataannya untuk mengambil napas dalamnya. Ia mengira jika keputusannya dahulu kala tidak dapat di terima oleh ke 3 anak kandungnya.

__ADS_1


Dalam kalimat sang kepala keluarga yang terjeda, ke 4 pria di sana saling merenung mengakui kehebatan serta kepintaran ayahnya.


Lain dengan Celia yang hanya membungkam mulutnya lantaran ia telah mengetahui kelebihan suaminya itu.


"Seandainya kamu." Erick mengarahkan pandangannya pada Maxson. "Kamu ga terpuruk dengan masalah ayahmu, maka kamupun akan menyandang jabatan lebih tinggi dari mereka." Ucapnya penuh penyesalan. "Kamu anak paling sabar Max." Ia menepuk pundak Maxson yang duduk di samping kanannya.


"Kau jangan berpikir terlalu keras Erick, dengan inipun aku udah sangat berterimakasih." Ucap Maxson yang mendapat balasan picingan mata dari Erick.


Jika demikian, mengapa Maxson terlihat begitu menyedihkan oleh Erick saat ini. Wajahnya yang melirih tidak bisa menyembunyikannya dari mata Erick. Helaan napas dalamnya yang berulang seolah sesuatu menyendat aliran napasnya.


Yah, Maxson masih mempertimbangkan untuk mengatakan keadaan Alev kepada keluarganya. Namun iapun berpikir keras yang mampu membuatnya hanya membungkam mulutnya. Mungkin wanita yang menjadi ibu dari anak itu memiliki alasannya tersendiri. Ia membatin menghibur diri sendiri.


Erick tak lagi menatap lekat wajah Maxson, kini ia menatap wajah anak ketiganya. "Dan untuk kamu Sammuel, kamu memiliki semua kelebihan mereka, mulai dari menguasai 17 bahasa dunia, sikap tegas serta waspada seperti Hanson, aritmatik tepat untuk perhitungan yang akurat, aku ga bisa mengabaikannya, maka dari itu Direktur Utama adalah jabatan yang cocok untukmu." Sang ayah melanjutkan kalimatnya yang terpenggal, kini tatapannya melekat menuju wajah anak ke 3 nya secara bergantian.


Pernyataan sang ayah rupanya mampu di terima oleh seluruh anaknya, terbukti dari mereka yang hanya membungkam mulutnya pertanda menyetujuinya.


"Dan untuk Devand, aku berharap dia bisa merangkap kemampuannya dengan ketegasan sikapnya yang di tingkatkan agar bisa mengurus perusahaan ibunya. Karna dialah satu-satunya anak kamu Celia." Imbuh Erick menatap harap wajah istrinya.


"Aku yakin dia anak yang patuh." Dengan santainya Celia membalas ucapan suaminya seraya meneguk teh nya di akhir kalimatnya.


Beberapa puluh tahun berlalu, baru kali ini seluruh anaknya melihat sikap tegas dan dingin yang terpancar dari wibawanya yang membuat aura mencekam terpapar dari wajah ayahnya.


Sebetulnya ke tiga anaknya telah terbiasa melihat sikap itu dari Sammuel yang memiliki sikap dingin dan tegas itu. Namun meski serupa, perbedaan nampak di dalamnya di mana aura kelam yang mencekam menjadi sebuah kekuatan wibawa dari ayahnya lebih memilukan bagi yang merasakannya.


Dengan demikian, suasana hening kembali membaur dalam perbincangannya sejenak.


"Jack, kapan kamu bawa cewe buat jadi ibunya Queena?" Tanya Erick memecah suasana hening itu.


"Anak sialan ini, aku yakin kamu ga akan mampu menggait wanita kalau sipat aroganmu itu ga di kurangi." Paksa Erick tertawa kecil di akhir kalimatnya.


"Kau ngomongin terus soal arogan? Percayalah buah ga akan jatuh jauh dari pohonnya." Balas Jackson bersungut-sungut tak terima.


"Kamu menyindirku?"


"Siapa lagi?"


"Kapan ayahmu ini bersikap arogan sama kamu?" Erick memicingkan matanya mengingat anak sulungnya adalah satu-satunya anak yang sempat mendapat perhatian lebih darinya.


"Ga sama aku tapi sama istrimu yang meninggal, kau lupa kalau kau nanam benih di dalam rahim cewe di sampingmu itu saat kau masih menyandang status suami dari istrimu?" Jelas Jackson membuat Celia belingsatan di sana, sedang Sammuel serta Hanson menahan tawanya dengan melipat bibirnya. Maxson sendiri menggeleng keras menatap wajah adik pertamanya.


"Anak sialan kamu berani mengumpat ayahmu?" Erick mulai emosi.


"Kenapa engga? Itulah kenapa awalnya kita ga izinin nih cewe dateng ke rumah kita, kalau aja ga tau penyebab semuanya adalah kau sendiri, mungkin istrimu ini ga akan ada di dalam rumah ini sekarang." Meski berontak nada bicara Jackson meledek membuat ketiga saudara prianya menggeleng menyikapinya.


Erick terkekeh menyikapi perkataan anaknya. Ia meyakini jika sikap anak sulungnya itu begitu mencerminkan dirinya dahulu kala.


Sedang Celia membeku namun bukan melirih melainkan ia mengingat kejadian silam kala pertama kali bertemu dengan suaminya hanya untuk menjual dirinya semata.

__ADS_1


Ia sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan ibunya, namun tidak di duganya jika ia memiliki ketertarikan lebih terhadapnya yang membuatnya menjadikan dirinya sendiri sebagai simpanan pria beristri itu karna benih cinta telah tumbuh di dalam rahimnya.


Setelah lamunan Celia membuyar lantaran seluruh insan membungkam mulutnya, Sammuel mendapat kesempatannya untuk mengungkap tujuannya.


"Pih soal uang warisan itu, aku setuju buat ambil sekarang." Ungkap Sammuel membuat ketiga kakaknya tersenyum menyikapinya.


Sudah cukup lama mereka memaksa pria keras kepala itu agar mau mengambil apa yang menjadi hak nya di mana seluruh kakaknya telah mendapatkannya. Hanya dirinya seorang yang masih menolaknya. Entah apa alasannya, hingga kini merekapun masih menpertanyakannya.


"Katakanlah pada nenekmu bukan padaku yang ga ada kaitannya ini." Tutur sang ayah tak acuh. Memang seharusnya itu semua sudh tidak menjadi bagiannya.


"Oke, aku akan pergi ke Spanyol sendiri buat bicara secara langsung." Ujar Sammuel di balas tatapan ledek oleh ayahnya.


"Lebih baik jika demikian." Balas Erick.


Suasana tegang terlerai oleh seorang pelayan rumah yang memanggil tuannya yakni sang kepala keluarga untuk menyampaikan bahwa seorang pengunjung ingin menemuinya.


Dengan keadaan demikian, sang ayah berlalu dari hadapan anak-anaknya di buntuti oleh sang istri tercinta serta mengajak anak pertama dan anak tirinya untuk turut serta bersamanya.


Kini di dalam ruang keluarga yang bertajuk warna langit itu, tersisa Sammuel dengan Hanson yang melanjutkan perbincangan mereka.


"Soal perusahaan, gue serahin sama lo sementara gue pergi ke Spanyol. Gue ga bisa andelin kakak lo yang suka keluyuran itu." Sammuel menyeruput teh yang telah berada dalam genggamannya menunggu hasil dari siasatnya agar Hanson sesering mungkin mengunjungi perusahaannya yang akan mempertemukannya dengan istrinya.


Hanson sejenak membungkam mulutnya untuk mempertimbangkannya. "Tugas di luar lebih banyak dari pada tugas ngurus perusahaan, lo mending bujuk kakak lo biar ga keluar dulu sementara lo ga di sini." Sesungguhnya, perkataan Hanson hanya untuk alasan semata. "Atau engga, lo bisa suruh si Max aja."


Sungguh pencinta pekerjaan ini membuat Sammuel kembali mencari gagasannya.


"Si Max baru balik setaun lalu, dia masih awam soal kerjaan." Tolaknya yang tidak masuk akal sama sekali. Bukankah Maxson lebih dulu mengurus perusahaan itu di banding semua adik-adiknya? "Soal recepsionist baru itu yang gue minta buat bantu lo jadi pengacara dia, lo udah ketemu dia kan?" Imbuhnya masih berusaha keras ingin mencengkram mangsanya.


Mendengar itu, Hanson segera mengarahkan pandangan pada Sammuel yang duduk di sofa sebelahnya. "Dia cewe yang gue suruh lo selidiki. Kenapa lo peduli?" Herannya mulai curiga.


"Dia karyawan baru tapi sering telat dateng, pertama dia masuk kerja gue liat dia kena bully pengawas di meeting bulanan." Sammuel memicingkan matanya berharap Hanson masuk dalam perangkapnya. "Yang gue tau lo peduli sama cewe itu, makanya gue bilang sama lo." Ujarnya sebagai alasannya.


Benar adanya, Hanson rupanya masuk dalam perangkap adiknya, ia menyeringai penuh makna. "Oke kalau gitu lo serahin sama gue." Ia tersenyum menyertai kemenangannya.


Begitu pula dengan Sammuel menyiratkan senyuman lebarnya.


"Oke gue cabut dulu." Pamit Sammuel tak lantas bangkit berdiri di tempat. "Jangan lupa soal kerjaan."


"Lo bantu gue urus izin dari bapaknya tunangan gue oke? Biar gue bisa bebas ngurusin tuh cewe."


Sammuel membungkam mulutnya, namun tangannya bergerak pertanda menyetujui perkataan kakak ketiganya.


Lantas iapun berlalu dari hadapan kakaknya meninggalkan kediaman mewah milik ayahnya itu.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2