Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 198


__ADS_3

Setelah membuka pintu ruang milik general manager, arah pandang Tara tertuju pada seorang pria yang duduk di atas kursi kebangsaan. Di sela langkah kaki, tatap mata mendapat sambut senyuman riang dari arah lima meternya.


Perjalanan berlanjut sebelum menepi pada tempat khusus untuk dirinya. Setelah tujuan tergapai, melihat di atas meja kerja hanya tersimpan bingkai foto dirinya saja, kejanggalan hadir menerpa angan.


"Sam, berkas-berkas aku ke mana?" tanya Tara tak ayal arah pandang tertuju ke arah samping, dimana pria pemilik nama dalam katanya berada.


"Di sini." Sammuel menyahut disertai telunjuk mengacung menuju arah lembaran kertas di atas meja kebangsaannya.


Tara lekas menghampiri objek yang di tunjukan Sammuel, akan tetapi tidak bergegas meraih lembar kertas itu, melainkan hanya menatapnya saja.


"Kenapa ada di sini?"


"Lo lupa seminggu kemarin udah ninggalin pekerjaan? Kalau bukan gue yang ambil alih, terus siapa?" ujar Sammuel menyahut dalam cibiran.


Tara mendengus kesal, mengingat jika kepergian berasal dari ulah pria yang telah mengoloknya. "Makasih udah bikin aku melupakan pekerjaan selama satu minggu."


Sammuel tergelak gemas, melihat bibir yang mengerucut setelah usai mengucap kalimat itu. Tiada lagi ingin menghujam wanita itu dengan ucap sindiran, ia beranjak dari tempat duduk untuk menghampiri wanita itu.


Ketika berdiri saling menghadap, Sammuel menuntun Tara agar membuntuti langkahnya. Begitu mudah ia dapatkan, saat Tara mengikuti langkah kakinya. Rupa-rupanya ia membawa tubuh itu menuju kursi kebangsaan, memberi kesempatan manis dengan mempersilahkan duduk di atasnya.


Setelah Tara terlihat nyaman olehnya, ia menyodorkan dua lembar kertas yang sudah berada di atas meja. Tanpa membantah, Tara meraihnya lalu membaca judul yang tertulis di sana.


Sebelum melanjutkan membaca tulisan itu, Tara mendongkak menatap pria yang membungkuk di sampingnya.


"Ini ... surat perjanjian pernikahan kita, apa aku harus baca lagi?" tanya Tara.


"I-itu—" Sammuel berucap terbata-bata. Sesunggungnya, ia tidak bermaksud memberikan surat perjanjian itu terhadapnya. Maka, ia meraih paksa lembar kertas itu dari genggaman Tara. "Gue salah kasih, lo baca yang itu aja." Dagunya bergerak menunjuk kertas dalam genggaman wanita itu.


Lagi dan lagi, Tara hanya melihat judulnya saja. Meskipun demikian, hal itu berhasil menggores batinnya hingga mendobrak bendungan air mata.


"Surat cerai ya?" ucap Tara setelah wajah berpaling dari arah sang suami.


Kerelaan belum cukup ia miliki, sehingga membuat batin meringis pedih. Wajah tertunduk layu, menyembunyikan lirihan yang di wakilkan pada tetesan air mata.


"Maaf, kalau lo ga mau tanda tangan juga ga apa-apa." Sammuel berusaha menghibur hati sang istri, setelah melihat gelagat lain darinya saat lalu.


Tara menyahut dengan gelengan kepala, akan tetapi bukan untuk mewakilkan jawaban akan ucapan itu. "Aneh ya ... nikah sirih pun ada surat cerainya."


Sammuel mengembuskan napas rancunya, posisi seperti semula membuat napas itu menyapu wajah yang mendongkak menatapnya. "Itu cuma formalitas aja, calon laki lo maunya gitu."


"Jadi maksudnya ... kamu ga mau?"


Sammuel menggangguk dalam keraguan, menerka jika ucap kata itu untuk pancingan. "Ga usah di pikirin kalau lo keberatan." Dan, mengecup puncak kepala yang berada di bawah wajahnya.


Hal serupa di rasakan Tara, ia pun bimbang untuk menentukan pilihan. Akibat janin yang berkembang di dalam rahim, ia terpaksa mempertimbangkan dengan begitu matang. Ia membiarkan orang lain mengira jika diri tidak dapat berteguh hati, yang diinginkannya kini hanyalah si jabang bayi mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya. Cukup satu kali ia membuat kesalahan terhadap anak yang tak berdosa, kali ini ia pastikan akan menebus kesalahan melalui apa yang diinginkan bakal anaknya.


"Sam, boleh ga surat cerainya aku yang pegang?" Kalimat yang terucap dengan nada manja itu seolah hanya ungkap keinginan, pada kenyataannya ... di balik itu tertimbun suatu siasat.


"Boleh, asal ...." Seringai manis terukir di balik wajah Sammuel, tatap tajam mewakilkan kesungguhan. "Jangan larang aku untuk selalu mencintaimu."


Kata panggilan yang telah berubah itu membuat Tara memaparkan senyum ceria, mengucap terimakasih dengan mimik wajah berseri.


"Silahkan."

__ADS_1


Sesuai dengan apa yang terucap dari mulutnya, akibat suka cita datang tanpa di sengaja. Tidak melihat terlebih dahulu isi dibalik kertas itu, Sammuel menyerahkan salah satunya kepada Tara.


Usai menerima, Tara kemudian membaca baris kalimat di bawah judul itu. Beberapa menit berlalu, air mata terjatuh membasahi kertas dalam genggaman.


Sammuel terhentak dalam kejutan, menerka jika surai cerai menjadi pemicu kesedihan. Lekaslah ia membawa tungkak kepala ke dalam dadanya, lalu memberi usapan penuh kasih untuk melerai kepedihan.


"Hei ... kenapa nangis? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Sammuel berseru cemas, berbalas anggukan dari tungkak kepala yang masih berada di balik dadanya. "Maaf sayang ... apa yang bikin kamu nangis?"


Tanpa sengaja Tara membungkam diri, tatkala isak tangis menyendat kalimat yang ingin terucap. Apalagi ketika telapak tangan di atas puncak kepala tak henti mengusapnya, menjadikan air mata kian deras mengalir.


"Art Tara ... apa yang harus aku lakukan biar kamu berhenti nangis?" tanya Sammuel kian mengkhawatirkan keadaan. Namun, tangisan itu kian melenting mengguncang dunia persilatan.


Dua risalah menjadi penyebab gentingnya suasana di sana. Yakni, perlakuan lembut yang selalu diinginkan hati, dan isi dibalik kertas tak bergaris. Hampir keseluruhan perjanjian akan pernikahan itu berubah, semua mengarah pada keuntungan dirinya. Tara tidak mengira Sammuel menjadi lebih baik dari sebelumnya, ketika diri akan menjadi milik pria yang tidak di inginkan sang hati.


Kriet .... Suasana haru terhadang suara pintu terbuka, membawa dua pasang mata mengarah pandang pada pria yang berada di balik pintu.


Jackson memburu langkah menghampiri sepasang insan yang masih saling berpelukan di sana. "Sam, lo ngapain bini gue?" Setelah tubuh berdiri di samping Sammuel, tatapan nyalang tertuju pada wajah adiknya.


Sammuel mencibir dengan tawa sarkas sebelum membuka suara. "Bini lo?"


"Dia kenapa?" tanya Jackson mengulang ucapan, mengalihkan kata umpatan dari lawan bicara.


"Ga tau, tanya aja sendiri." Sammuel menyahut tanpa dosa, kemudian melepas dekapan tanpa aba-aba.


"Jack, kenapa kamu ke sini?" ucap Tara setelah meredakan isak tangis, agar suara terdengar jelas oleh pria di sana.


"Aku ga enak hati, benar aja kuda laut ini bikin ulah lagi." Telunjuk jenjang mengacung ke arah Sammuel, tak ayal tatapan dendam kembali menyorot wajah tampan di sana.


"Jack." Hanya dengan satu kata panggilan dari mulut Tara, berhasil melerai situasi murka.


Di tengah pasang mata yang tak henti menatap kegiatan, Tara sengaja memusatkan diri pada lembar kertas pekerjaannya.


"Mau aku bantu?" tanya Jackson.


"Ga usah." Tara menolak tegas, akan tetapi lengkungan bibir terukir agar tidak menyinggung perasaan.


"Udahlah ... kamu duduk manis aja, biar aku sama Sam—"


"Jack, aku bisa!" Tara kian mempertegas keinginan, sehingga memenggal ucapan secepat angin berembus di udara.


Menyikapi hal itu, Sammuel tidak berkata-kata. Ia menganggukan kepala sebagai isyarat terhadap sang kakak agar menuruti keinginan keras wanita ini. Namun, rupa-rupanya tanpa kesengajaan mereka berhasil mengambil alih pekerjaan itu.


Beberapa menit berlalu, rasa suntuk hadir menemui Tara. Kepala yang tersandar di atas meja, membuat kelopak mata enggan terbuka hingga jiwa menerjang alam bawah sadarnya.


Sammuel bergegas meraih tubuh wanita itu ke dalam pangkuan, setelah menilik sang wanita telah pulas dalam tidurnya. Membawa tubuh menuju tengah ruangan, kemudian melepasnya di atas sofa yang tersedia.


Jackson bersiap siaga, duduk pada sofa penopang tubuh wanita itu. Sedangkan Sammuel mengalah, menumpukan tubuh besebrangan dengan kakaknya.


Kehadiran Hanson di depan mata, membawa rasa kejut terungkap dalam kata.


"Dia sakit?" tanya Hanson menunjuk wanita yang menjadi buruan tatapan.


"Kecapean, mungkin." jawab Jackson berbalas anggukan dari pria yang duduk berdampingan dengan Sammuel.

__ADS_1


"Kenapa?" ujar Jackson mempertanyakan tujuan kedatangan Hanson.


Brak! Hanson menjawab dengan hempasan sebuah map dari genggaman menuju ke atas meja.


Tindakan itu berbuah pukulan mendarat pada tungkak kepala. Hanson tidak terima, sehingga menatap keji ke arah Sammuel berada.


"Oke, sorry." Hanson mengungkap penyesalan, menerka jika dua pria di sana murka sebab suara dari hempasan benda itu akan mengganggu tidurnya sang wanita.


Keadaan sudah terkendali, Jackson meraih map yang di bawa Hanson itu. Bertujuan untuk segera membaca isi di balik lembar kertas yang terdapat di sana.


Seperti sedia kala, Hanson membawa bungkusan rokok dari dalam kantung celana. Nahas, sebelum meraih batang dari dalamnya, Jackson merebut paksa barang itu bahkan Sammuel memberikan pukulan keras pada lengannya.


"Apa-apaan sih kalian? Aneh banget." Hanson menggerutu kesal.


"Mulai sekarang ga boleh merokok di ruangan gue," kata Sammuel memeberi perintah yang terasa Hanson seperti ancaman.


"Ada yang aneh. Lo yakin ga mau kasih tau gue?" Kernyitan dahi mewakilkan rasa janggal, Hanson memaksa Sammuel agar menyahut ancamannya.


Namun ....


"Lo ga bisa ngerokok dekat cewe gue, dia lagi bunting." Jackson yang menjawab kejanggalan itu.


"Hah?! Subur banget lo, Jack," ucap Hanson.


"Seenaknya lo ngomong, gue yang cape malah dia yang dapat pujian." Sammuel menyahut tidak terima, merasa jika ucap Hanson seharusnya tertuju untuk dirinya.


Ucap kata mewakilkan jawaban dalam penggalan kalimat, tersibak Hanson begitu mudahnya. Bukan pengacara jika diri tidak dapat menyibak makna kalimat itu. Ia yakin, jika wanita pemilik nama Art Tara Biancasandra itu sedang mengandung anak dari sang adik.


"Hans, kasih bodyguard dari si Guo bonus banyak, biar ga ada niat berkhianat." Jackson melerai situasi canggung dengan perbincangan mengenai pekerjaan.


"Oke."


"Terus awasi pergerakan Cakra, jangan lengah sedikit pun." Jackson memberikan titah, berbalas lenguhan lelah dari adik pertamanya.


"Lo bantu gue urus sisanya, gue ga bisa raup semua, soalnya harus urus acara tunangan gue," ujar Hanson menolak secara halus. Ia tidak terima jika seluruh pekerjaan selalu menjadi miliknya.


"Suruh cewe lo yang gerak lah, gue juga harus urus bini gue," sahut Jackson mengungkap protesan.


"Gue urus itu aja, ngurus bini gue." Tidak mau kalah, Sammuel berebut perhatian dengan sang kakak.


Hanson menggelengkan kepala, menyikapi tingkah konyol dari seorang pecinta wanita itu. Sudah dapat di pastikan jika kedua pria di sekitar tidak akan sudi meringankan beban pekerjaan, ia terpaksa meraih kembali map yang di bawanya saat kedatangan tadi.


"Kalian para kadal ... gue yang akan urus, kalian urus aja anak sama bini kalian." Dan, bangkit berdiri di tempat.


"Soal itu, gue harap jangan sampai bocor ke manapun," ungkap Jackson memberi wejangan sebelum Hanson hilang dari pandangan.


Hanson menyahut dengan gerakan tangan, dan berlalu begitu saja dari hadapan pengisi ruang yang tersisa.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2