Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 184


__ADS_3

Semilir angin membawa kenangan pada bayangan hitam putih memutar di dalam kepala. Teringat ketika masih menuntut ilmu pada tempat yang terletak di samping kedai kopi langganannya dahulu kala, Jackson meresapi lamunan sambil menunggu kepulangan Alev.


Secangkir kopi menemani, tak luput batang rokok turut menghibur hati. Di atas kursi yang terletak di luar ruang kedai kopi itu, ia menumpukan tubuhnya. Tepat saat angin berhenti menerpa wajahnya, sepasang mata melihat sosok yang di cari telah berjalan membelakanginya. Segera ia melepas suara meneriakan nama anak itu.


"Alev." Begitu lantang dan nyaring, maka hanya dengan satu kata saja, Alev mengarahkan pandangan pada asal suara.


Lambaian tangan Jackson di sambut Alev dengan langkah kaki. Bahagia ia rasakan melihat sosok yang ingin sekali di jumpai kini berada di sekitar. Lantas, ia memburu langkahnya, agar segera menghadap sang ayah.


"Kau datang buat menjemputku?" tanya Alev sesaat setelah kaki menepikan langkah di hadapan pria yang mendongkak menatapnya.


"Engga," balas Jackson bersenda gurau, membuat pria yang berdiri di sampingnya mengumbar tatap kekecewaan.


"Baiklah, aku permisi." Meyakini jika kedatangan ayahnya bukan sengaja untuk menemuinya, Alev bergegas memutar tubuhnya, tak ayal kaki melangkah membawa keraguan.


Namun ....


"Hei bocah, seserius itu kah hidupmu?" Jackson melontarkan kalimat disertai guyonan untuk menahannya.


Mengerti akan makna dari ucap misteri itu, sudut bibir Alev tertarik manis, menggambarkan rasa bahagia. Meski tersembunyi di balik tubuh yang masih membelakangi ayahnya. Tiada kuasa menahan terlalu lama, ia kembali memutar tubuhnya.


"Anak pintar," ungkap Jackson menyerukan pujian akan cepat tanggapnya pikiran Alev.


Namun, sambutan murka di dapatinya ketika pasang telinga mendengar dengusan tajam.


"Kau sengaja mencariku?" Alev belum mendapat kepuasan hati sebelum mengetahui keinginannya tercapai, berharap jawaban ‘iya’ ia dapatkan.


Jackson berdiri menghadap, sebelum melepas ucap jawaban. Kemudian, ia merogoh kantung celananya, meraih ponsel yang sengaja dipersiapkan sebelum berkunjung ke tempat itu.


“Ya, aku sengaja mencarimu.” Jackson pun mengerti akan keinginan itu, sehingga dengan sengaja ia mengungkap kejujuran.


Tiada kata terucap sebagai jawaban, hanya senyum menawan tersirat di balik wajah. Alev kehirangan menanggapi, membuat belah bibir tak lepas dari lengkungan.


"Aku datang buat ngasih kamu ini." Diserahkannya benda yang berada dalam genggaman kepada Alev. Usai Alev menerima pemberian itu tanpa keraguan, ia kembali menopangkan tubuhnya di atas kursi.


"Mama bilang jangan terima sesuatu dari sembarang orang." Alev menolak dengan kata, akan tetapi gelagat terlihat berlapang dada menerima, ketika tanpa menunggu waktu ia melirik-lirik benda itu.


Gelak tawa tercipta menanggapi tingkah menggemaskan itu. Hingga Alev duduk pada kursi yang tersedia di sampingnya, Jackson baru menghentikannya.


"Kamu anggap aku orang sembarangan?" Jackson mencibir dalam gurauan, meski tiada sambutan ia dapatkan. "Aku ini papa kamu, apa kamu lupa?"


Ungkap status diri yang belum di restui, membuat Alev menjeda tatapan pada benda yang di serahkan ayahnya. Umpatan sebal terungkap pada delikan mata saat memandang wajah ayahnya, tanpa ingin menimpali dengan ucapan.


"Buat apa ini?" Alev mengacungkan benda itu, pertanda pertanyaan tertuju terhadapnya.


"Buat ngulek sambel." Tanpa acuh Jackson menyahut datar disertai wajah tanpa dosa.


"Papa!" Alev tergelak emosi, ketika ucapan seriusnya di balas dengan gelagat polos itu. Sehingga amarah tertahan di balik wajah kemerahan.


Namun, itu tidak menjadikan Jackson dendam. Justru rasa tidak percaya hadir menerjang jiwa. Panggilan itu, membuat mata mengerjap tanpa jeda, mengharap ketulusan tersirat di baliknya, mengira restu telah menjadi miliknya.

__ADS_1


"Maksudku, kau memberiku hadiah ini, apa ada maksud tersembunyi?" Alev berimbuh ucapan, ketika lawan bicaranya hanya membungkam diri saja.


"Manggil aku apa kamu tadi?"


Alev mendengus kesal sebelum rasa malu menjangkau angan, lantaran tanpa di sengaja ia telah menjatuhkan harga diri dengan menyebut panggilan itu terhadap ayahnya. Sesungguhnya, tiada hari ia berpanjat harapan agar segera dapat mengucap panggilan itu terhadap Jackson. Tapi situasi mengharuskan menahan keinginan, sebelum sang ayah mengetahui jati diri yang sesungguhnya.


"Papa." Alev mengulang ucapan ketika kesempatan datang menjemput diri.


Meski dengan nada melemah, Jackson mendengarnya dengan jeli. Senyum ceria terukir di balik wajah tanpa ingin ia sembunyikan sedikitpun.


"Apa yang kamu tanyakan tadi?" tanya Jackson mengingatkan perbincangan saat lalu.


"Kau memberiku barang ini, apa yang kau inginkan dari itu?" Alev menyahut dengan ulangan, akan tetapi kali ini nada tegas menyertai setiap baris katanya, membuat ayahnya bergidik ketakutan.


"Yang aku inginkan, kamu ikut aku ke suatu tempat." Tanpa berbasa-basi, Jackson menyerukan keinginan.


"Engga!" Alev menolak keras, mengingat ibu angkatnya tidak akan memberikan izin.


"Aku ga akan menculikmu, bocah."


"Siapa yang berpikir ke sana? Aku hanya takut mamiku marah jika tau aku pergi denganmu." Penjabaran alasan Alev disambut Jackson dengan anggukan paham.


Sedikit banyak ia mengingat kehadiran sosok Jasmeen di sana. Maka, ia berbesar hati memantapkan kehendak diri.


"Aku akan meminta izin sama dia, kamu tenanglah ... cukup ikuti aku aja, aku jamin kamu akan pulang dengan selamat."


Tawaran yang begitu menggiurkan untuk Alev, akan tetapi dilema melanda jiwa. Ia tidak ingin membuat kekacauan terhadap ibu angkatnya. Lantas ia menggeleng keras seolah menolak ajakan itu. Pada kenyataannya, ia menepis kerancuan ketika hati berseru untuk membangkang sekali ini saja. Demi keingnan yang sulit tergapai, Alev rela menanggung akibat jika saja kedua ibunya memberikan hukuman setelahnya.


"Baiklah, kau berjanjilah akan mengatur semuanya," ungkap Alev memberi keputusan.


Embusan napas lega, menggiring keceriaan tiada terkira. Jackson tersenyum simpul, mengumbar kemenangan melalui mimik wajah yang berseri.


Maka, sebelum waktu terbuang sia-sia, Jackson merangkul pundak anak itu. Membawa dalam tuntunan langkahnya, hingga menepi pada tempat di mana kendaraan mewah berbaris rapih.


Kendaraan melaju membawa kebahagiaan kedua pria di dalamnya. Setelah menempuh perjalanan singkat itu, mereka memulai aksinya.


Rupa-rupanya, Jackson membawa anak itu bermain bersama di atas ombak, saling beradu keahlian di balik papan selancar.


Setelah merasa puas dengan apa yang dilakukan, kini mereka membawa tubuh duduk di atas hamparan pasir putih.


"Ternyata ... kau suka berselancar juga," seru Alev kepada pria di sampingnya yang tengah asik menikmati batang rokoknya.


"Kita terlalu cocok bukan? Semua yang kamu suka, aku pun menyukainya," sahut Jackson mengingat informasi data diri dari anak itu. Sebelum ia mendekati mangsanya, rupa-rupanya penyidikan ia lakukan terlebih dahulu. Sehingga ia mengetahui segala apa yang dibenci serta disukai pria remaja itu.


Alev tak kuasa menimpali, ketika batin menyerukan kejujuran yang ingin di ungkapkan. Jelas, mereka akan mendapat kecocokan, bukan hanya dari kebiasaan, melainkan darah yang mengalir di dalam tubuh pun memiliki kesamaan.


"Tapi aku ga suka merokok." Terpaksa Alev mengumbar nada sebal, menyembunyikan sambutan manis yang tertahan di dalam angan.


"Belum waktunya aja ... nanti juga kamu akan tau apa enaknya dari benda ini." Batang rokok itu mengacung menunjukan objek yang terucap dari mulut Jackson.

__ADS_1


"Jangan sampai,” sahut Alev bertegas hati, berbuah ungkapan rasa kagum pada usapan puncak kepalanya.


“Baguslah, semoga ga tergoda sedikitpun.” Jackson mengungkap harapan, membuat tangannya terlepas dari atas puncak kepala itu.


Percakapan terjeda ketika Alev meresapi rasa minuman bersoda yang diteguknya. Dua kaleng sudah ia habiskan dalam waktu hanya sesaat saja, membuat Jackson terhentak dalam kejutan.


"Kamu suka minuman bersoda?" Jackson mengungkap kejanggalan, ia tidak mempercayai jika Alev memiliki kesukaan pada minuman layaknya yang ia sukai.


"Apapun itu, asal ga beracun."


"Apa ayahmu suka itu juga?" tanya Jackson memancing, akan tetapi malah rasa cemburu yang berhasil terpancing oleh ucapannya sendiri.


"Aku ga pernah tau dia seperti apa, yang aku tau dia pria paling br*ngsek sedunia." Alev mencibir, tak ayal tatapan lekat tertuju pada wajah ayahnya. Niat hati ia memberi jejak jika ucapan itu bertujuan untuk pria yang di pandangi pasang matanya.


Namun, Jackson keliru menanggapi. Sehingga senyum kemenangan tergambar begitu jelasnya.


"Kamu benar, ayahmu pasti br*ngsek. Tega-teganya ninggalin anak seganteng kamu." Jackson mencoba menghasut pria itu dengan maksud agar Alev membenci pria yang disebutkan sebagai ayahnya.


Ukiran seringai ledek terpapar pada Jackson, membuat empunya bergerak kikuk di sana. Lagi dan lagi, Jackson keliru mengartikan.


"A–aku bukan muji kamu, secara ga langsung muji wajah aku sendiri," tutur Jackson terbata-bata, membuat Alev tak tahan jika tidak menghujam dengan godaan.


"Dasar munafik. Ternyata kau lebih br*ngsek."


"Jangan samakan aku sama ayahmu." Jackson menimpal tidak terima, membuat Alev bersusah payah menyembunyikan tawanya.


"Memang sama, apa mau di kata, wajah pun ga ada bedanya sama sekali."


Teg! Jantung Jackson berdenyut nyeri, mengingat kembali pria yang berhasil mendobrak rasa cemburnya. Ia masih salah mengira asal wajah yang di miliki Alev.


"Gantengnya, pinternya, kelakuannya, bahkan br*engseknya pun sama semua," imbuh Alev ketika tiada lagi mendengar suara dari lawan bicaranya.


"Apa kamu butuh bantuan untuk membalaskan dendam sama dia?"


Seringai picik terukir di balik wajah, Alev kian bergembira ketika mendapat kesempatan bertubi.


"Hmm ... bantulah aku untuk memukul ulu hatinya."


"Baiklah, aku berjanji akan membalaskan dendammu." Keputusan tanpa berpikir itu membuat Alev terkesan geli. "Udah waktunya kita berpisah."


Alev melengus pilu mendengar pernyataan itu, tidaklah ia menjadi egois jika hati menginginkan pertemuan itu lebih lama dari apa yang telah di tentukan. Kerinduan belum sepenuhnya tercurah, akan tetapi ia memutuskan untuk mengakhirinya saja. Ia yakin, suatu saat nanti akan mendapatkan hari itu kembali.


Hari-hari saat bercanda ria dengan ayahnya seperti yang terjadi selama dua jam lalu. Tertawa bersama dan melepas kebahagiaan dengan kegiatan-kagiatan konyolnya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2