
Raut wajah tak lagi terlihat murung, malah batin tak henti bersenandung. Rangkulan pada sebelah tangan menuntun perjalanan, kaki melangkah di atas marmer pembalut lantai mall ternama. Satu jam sudah Tara berkeliling menyusuri ruang yang terdapat di dalam bangunan itu. Saat sebelumnya, sang suami memberikan ajakan dengan dalih ingin menghabiskan waktu bersama di sana.
Tiada yang mereka beli dari sana, karenanya wanita berbadan dua itu hanya menginginkan berjalan-jalan saja. Seketika waktu tiba untuk saat Sammuel membawa sang istri pada tujuan intinya, akan tetapi ia belum mendapat alasan tepat untuk mengungkap yang sesungguhnya ia akan mengajak ke mana istrinya pergi.
"Udah puas jalan-jalannya?" tanya Sammuel berseru penuh kewaspadaan, ia takut menyinggung hati si sensi ini.
Sejak saat wanita itu kembali hadir menemani hati, tak kunjung ia menjadi bulanan emosi. Bermula dari kata-kata berduri hingga pukulan pada raganya. Tak ayal serangan pelototan mata selalu terlontar kepadanya ketika wanita itu tidak merestui ucapannya. Begitu pula amarah terkemuka di saat ia tidak memberikan keinginan dari ngidamnya sang istri.
Tara mengangguk menyahut pertanyaan suaminya tanpa mengucap kata sebagai jawaban.
"Lapar belum?" kembali Sammuel bertanya. Sesungguhnya ia ingin mengucap sesuatu, akan tetapi meyakini jika ajakan selanjutnya akan membuat murka sang empunya, maka ia berbasa-basi terlebih dahulu.
"Lumayan." Tara tidak akan menolak ketika perut berbunyi meminta asupan, ia menyeringai kikuk mewakilkan rasa malunya.
Senyuman gemas terukir di balik wajah Sammuel, ia mencubit pipi istrinya mewakilkan rasa gemasnya. Sammuel lalu menuntun langkah setelah melontarkan tawa kecilnya, membawa sang istri menuju restoran yang berada di dalam bangunan itu.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berdiri di balik pintu ruang VIP restoran ala Jepang. Tara membuka pintu ruang, sesaat mata membelalak nyalang mendapat kejutan akan kehadiran seorang pria paruh baya di sana.
Kelopak matanya kian terbuka lebar. Pria paruh baya itu beranjak dari tempat duduk dan menghampirinya. Tidak ingin menyambut, Tara memutar tubuh, akan tetapi mendapat hadangan dari sebelah tangan suaminya. Sehingga ia tidak berkutik saat kaki tidak lagi dapat melangkah pergi.
"Ga usah takut." Sammuel berbisik menyemangati, membuat wanita dalam genggaman menundukan wajahnya.
"Aku ga takut, cuma ...." balasnya tercabik suara berat dari pria yang baru saja berdiri di hadapan.
"Seangkuh itu kah kamu sekarang, Tara?" Pria itu berkata seolah mencibir, pada kenyataannya ia hanya ingin mencegah kepergian wanita itu. "Di mana budi pekerti yang selalu papa ajarkan padamu?"
Olokan berbalas seringai keji, Tara melepas emosi pada sorot mata dendam menuju wajah berkeriput itu. "Budi pekerti? Mungkin ... udah digerogoti istri malaikatmu."
"Tara, dia ga bersalah," tutur Rizal disertai lirihan batin. Skenario hidup keluarga telah diaturnya, sehingga ia mengetahui seluruh perbuatan yang dilakukan. Maka, jawaban terucap penuh kejujuran.
"Lalu, aku lah yang bersalah? Benar begitu Tuan Rizal Prayuda?" Emosi sudah tak mampu terbendung lagi, Tara meluapkan pada hempasan gengaman tangan. Dan tangan Sammuel tersingkir darinya.
__ADS_1
Rizal pun menyadari ucap sindiran itu tertuju untuknya. Ia menyahut dengan embusan napas kasar mewakilkan penyesalan. Sebenarnya ia telah menyadari bahwa diri telah memilih orang yang salah. Tidak pernah mempedulikan nasib anak-anaknya. Yang ada dalam pikiran hanyalah ambisi kuat untuk mencapai keberhasilan.
"Papa lah penyebab semuanya, papa ga tau seburuk apa dia," tuturnya penuh kesungguhan hati. Ia meraih kedua tangan anakya, mengharap sang empunya berlapang dada menerima permintaan maaf darinya.
"Apa tidak terlambat untukmu meminta maaf?"
Sejenak Rizal tertegun di sana, melepas genggaman pada kedua tangan anaknya. Padahal sang empunya telah membiarkan, meresapi kehangatan yang telah sirna sekian lamanya. Tidak dipungkiri, Tara merindukan sosok yang kini tertegun rapuh di hadapan.
"Art property terancam kebangkrutan akibat ulah ibu tirimu." Rizal mengalihan perbincangan, mengungkap tujuan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
"Bukan urusanku." Rasa curiga menyentuh kewaspadaan. Tara mengira jika sang ayah memperbincangkan tentang harta warisan hanya sekedar untuk membujuknya kembali. Atau mungkin dibalik itu semua tersimpan siasat busuk yang akan membuat kedamaian hidup kembali terenggut darinya.
"Urusanmu!" Rizal menyahut secepat angin berembus di udara, berharap wanita itu sudi mengulurkan tangannya. "Sekarang kamu sudah resmi menjadi pemiliknya.
"Wow." Seringai keji kembali terukir dibalik wajah, sesaat memahami jika yang menjadi tebakan mendapat kebenaran. "Kau mau menyerahkan perusahaan setengah hancur itu buatku? Kau meminta bantuanku atau sengaja ingin mempersulitku?"
"Sudah ku katakan semua salahku." Sejenak Rizal terpaku, tidak mengira sang anak yang biasanya penyabar itu kini telah menjadi pemberani.
"Maaf Tuan Rizal, aku ga tertarik dengan tawaranmu."
Sebelum tubuh menumpu di sana, Rizal terlebih dahulu duduk pada kursi di sebrangnya. Menilik wajah sang anak seolah menyambut percakapan, ia tak segan segera mengungkap tujuan.
"Vira adalah adik kandungmu, kematiannya disebabkan oleh kedua tanganku." Rizal tak lagi merasa malu mengungkap rahasia itu di depan besannya. Bagaimana tidak jika sang besan telah mengetahui segalanya?
Begitu yang terjadi pada respon Erick di sana, ia hanya mengangguk mengagumi sikap mawas diri tersebut. Lain hal yang dirasakan wanita di hadapan, kalimat itu mengundang rasa kejut hingga membuat bibir tak mampu berucap. Hal serupa didapati Sammuel, akan tetapi tatapan murka tertuju pada sang mertua yang duduk di sampingnya.
Teringat kisah hidup enam bulan silam, Sammuel merasa bersalah telah menuduh ayahnya sebagai pelaku pembunuhan. Namun, ia tidak mengungkap permintaan maaf, ketika suasana tegang masih membaur di sekitar.
"Papa melakukan itu demi dirimu, dia sudah mempersulitku mengenai pembagian harta warisan milikku." Sebaris alasan terucap dari mulut Rizal, membuatnya mendapat senyum cibiran dari seluruh penghuni di sana. "Jika kamu tidak segera kembali, ibu tirimu akan lebih leluasa menguasai perusahaan itu. Lebih fatalnya lagi, perusahaan itu akan menjadi milik anak-anaknya."
Tara mengira semua hanya alasan, agar diri sudi menerima tawaran. Sesungguhnya ia ingin menolak, akan tetapi tatapan pedih dari hadapan mengguncang rasa iba dari dalam palung hatinya. Bergegaslah ia membuka hati, sebelum kemudian menerima, terpaksa ia memberi alasan.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang kau mencariku setelah perusahaan itu bermasalah?" kata Tara menggiring nada lirih di sela ucap kata.
"Kamu tidak tau saja, sudah lama papa mencarimu." Kemudian Rizal memandang Erick, saat ucap kata selanjutnya bertujuan untuk pria itu. "Terima kasih ... karenamu aku berhasil menemukan anakku."
'Apa yang terjadi?' Sekilas Tara ingin mengucap dengan suara lantang, akan tetapi tertahan di dalam benak menyadari rasa gengsi telah membalut sikap rendah diri.
"Bukan aku, tapi ... menantumu itu yang telah banyak membantumu, Rizal." Erick bertutur disertai dagu yang bergerak menunjuk Sammuel di sana.
Selama ini, Sammuel berusaha keras mencari cara untuk mempersatukan keluarga kurang harmonis itu. Sebagai ungkapan rasa cinta terhadap sang istri, dan juga membalas hati yang sempat terbengkalai. Hanya saja, ia tidak pernah memberitahukan kepada orang lain selain ayahnya. Sehingga, sebab akibat menimpa diri, sang istri pun mengira jika dirinya tidak pernah melakukan sesuatu sebagai ungkapan rasa sayang.
Hal itu membuat Jackson mendapat pengakuan, saat terlihat anak adam dialah pemilik sikap rendah hati. Rupa-rupanya itu semua berbalik dengan kenyataan, Jackson berlaku demikian hanya untuk menyandang pujian dari para insan. Sedangkan Sammuel tidak pernah sedikit pun mengumbar seluruh kebaikan, yang terlihat hanyalah sikap sadis serta tak acuhnya saja. Begitu pula terhadap para pembaca, mereka mengira Jackson memilik sikap lebih baik dibadingkan dengan Sammuel.
Pengorbanan yang dilakukan Sammuel selama ini, tidak bisa dibandingkan dengan sikap rendah hati Jackson. Bukti nyata tertera pada kejadian silam dimana ia sering menghujam tubuh Triana. Rupa-rupanya Jackson mengambil andil dibalik insiden nahas itu. Pengirim racun penambah gairah yang ditelan Triana berasal dari rancangan siasat Jackson.
Kembali pada suasana saat ini ....
Rizal mengalihkan arah pandang dari hadapan menuju ke sampingnya, kemudian mengusap pundak sang menantu. Membubuhkan rasa syukur dibalik tatapan kagum.
"Tidak banyak yang bisa aku lakukan, ucapan terima kasih mungkin tidak cukup untuk membalas kebaikanmu," tutur Rizal berbalas senyum kepahaman dari sampingnya.
"Restuilah kami." Permintaan terucap penuh kesungguhan, karena hanya itu lah yang diinginkan Sammuel.
"Tentu."
Suasana haru melintas menyusuri batin wanita satu-satunya yang berada di dalam ruang. Air mata tertahan kerena gengsi melambung tinggi, sehingga ia membungkam mulut tanpa turut berbincang dengan penghuni ruang yang tersisa. Selain ia terlalu fokus mempertahankan air mata agar tidak terjatuh, pembahasan dari percakapan pun kurang menarik perhatian.
Sepenggal waktu mengisi suasana sendu, mengantar kehangatan dari pertemuan ayah dengan anak yang telah lama terpisah. Namun, tiada satu pun darinya mengungkap kebahagiaan, lantaran dendam masih tersisa di dalam benak sang anak.
•
•
__ADS_1
•
Tbc