Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 63


__ADS_3

Siang yang nampak begitu gersang tidak mencegah hasrat Celia untuk selalu mengacau kegiatan menantunya.


Kini Celia sudah duduk di atas sofa yang terdapat di sebuah apartement milik anak tiri ke tiganya yang di tempati menantunya.


Meski pemilik rumah tidak berada di dalamnya, namun ia mengetahui kunci aksesnya hingga membuatnya mampu memasukinya tanpa di sebut-sebut sebagai seorang pencuri.


Telah mengetahui jadwal Tara, rupanya ia masih berusaha mengambil hati menantunya yang masih tertutup terhadapnya itu. Suara ketikan dari tombol kunci ruang tersebut, membuat senyumnya melebar.


Setelah pintu terbuka, nampaklah Tara di baliknya yang berjalan menghampirinya hingga mendaratkan bokongnya di samping kirinya.


"Mih, ga bosen apa nguntit aku terus?" Gurau Tara penuh ledekan. Rupanya sudah mulai ia memiliki hubungan yang lebih erat dengan mertuanya hingga tidak ragu mengatakan bahasa santainya.


Celia terkekeh menyikapi ledekan yang terasa penolakan olehnya itu. "Kamu inget kan hari ini jadwal kamu ke dokter?"


"Saaaaangaaattt ingat." Sahut Tara kian meledek.


"Ga tau diri juga anak ini, aku lakukan ini buat kesehatan kamu juga. Kalau lambung kamu udah sembuh kan aku bisa ada teman diet." Dalihnya yang terasa Tara seperti paksaan.


Beberapa minggu lalu, inilah yang di katakan Tara kepada Celia hingga ia mengetahui penyakit akut Tara. Akhirnya ia memutuskan untuk merawatnya dengan mengambil tindakan medis yang akurat.


"Aku bisa lebih ga tau diri lagi kalau mami masih maksa aku ikut arisan." Protes Tara yang membuat Celia kembali terkekeh.

__ADS_1


"Dasar cewe aneh, biasanya orang kaya baru suka banget sama kegiatan itu." Gemas Celia hingga mencubit pipi menantunya.


Tara segera menghapus jejak cubitan mertuanya dengan telapak tangannya menepis rasa sakit yang tidak begitu itu. "Aku kayanya udah lama kali." Balas Tara melengos dari wajah yanh telah memaparkan senyuman gelinya.


"Ga mau ganti baju dulu?"


Tara bungkam, seolah mengabaikan ucapan mertuanya. Namun ia beranjak beranjak untuk segera mempersiapkan dirinya membersihkan tubuh serta mengganti pakaiannya.


Beberapa saat kemudian setelah Tara usai mempersiapkan dirinya, merekapun bergegas menuju tempat yang tengah di janjikannya sebelumnya.


Setelah mereka tiba menggapai tujuannya, atas izin khusus dari Celia, mereka tidak di haruskan mengantri berlama-lama.


Itulah sebabnya Tara sering merasakan sakit pada bagian lambungnya jika malam menjelang.


Rujukan sang ahli medis di tepis keras oleh Tara, pasalnya ia ingin mencari waktu yang tepat setelah menyelesaikan tugasnya yang di berikan dari tempatnya menuntut ilmu. Dengan alasan ini, Celiapun tidak mampu memaksanya.


Hingga mereka usai mendapat keputusan yang menyatakan bahwa Tara akan melakukan oprasinya dua bulan kedepan, merekapun meninggalkan tempat berbau disinfektan tersebut.


Kini Celia berhasil membujuk menantunya untuk menemaninya membeli keperluan dirinya, atau sering di sebut dengan kata 'berbelanja' oleh para mahkluk berbentuk sempurna di atas daratan bumi itu.


Inilah sipat Celia yang berbalik dengan Tara, di mana Celia gemar berbelanja, sedang Tara sangat enggan melakukannya. Kali ini mau tidak mau Tara memaksakan dirinya menemani sang mertua tercinta untuk membalas seluruh kebaikan yang telah di lakukan mertuanya terhadap dirinya.

__ADS_1


Ketika Celia tengah asyik memilih sebuah alas kaki berlabel branded, seperti sedia kala Tara hanya akan menunggunya di luar ruangan.


Kala itu, sebuah rangkulan pada pundak Tara membuat Tara terperangah dalam kejutan hingga menolehkan arah pandangnya pada pemilik tangan yang berhasil merangkulnya itu.


Kejutan Tara berubah menjadi sebuah senyuman manis kala melihat ayah dari anaknya yang telah berdiri di sampingnya.


“Lagi ngapain cewe imut ini di sini?" Sapa Jackson membuat wajah Tara kikuk menyembunyikan rona merah pada pipinya.


"Nyuci baju." Lengos Tara membuat Jackson terkekeh seraya melepas rangkulannya.


"Aku kangen." Bisik Jackson tepat pada telinga Tara.


Tara menundukan wajahnya menyembunyikan rasa malunya yang di yakininya terpampang dari wajahnya yang merona. "A-apa maksud." Ucapnya tersenggal dalam kerongkongannya tidak mampu menyambut ucapan itu.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2