Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 154


__ADS_3

Suasana canggung membaur menyertai keheningan di dalam sebuah ruang khusus seorang pengacara sebuah perusahaan nomor satu dalam negri.


Suara percikan air yang meluncur ke dalam gelas menjadi satu-satunya suara yang terdengar di sekitarnya. Fiona sengaja mengambil segelas air untuk pereda rasa dahaga serta penenang batinnya yang telah merasakan canggung tiada terkira akibat di dalam ruang itu hanya berada dirinya serta mantan kekasihnya.


Mata Fiona melirik wajah tampan yang tengah tertunduk di sana, ia berusaha keras memikirkan cara untuk menepis suasana yang begitu mencekam di rasanya itu.


Lirikan mata yang hanya sekilas itu tertangkap ujung mata Hanson meski wajahnya masih tertunduk seolah melihat lembaran kertas yang berada di atas meja kebangsaannya, nyatanya ia memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan wanita yang kini telah melangkahkan kakinya untuk menuju meja kerjanya.


Sejenak Hanson menyenggal kegiatannya, ia mengangkat wajahnya, menatap wajah jelita yang telah belingsatan di sana.


"Ada yang mau lo omongin?" tanya Hanson penuh rasa penasaran hingga dahinya mengernyit tajam.


"I-itu.. Triana ga masuk apa dia masih galau?" balas Fiona terbata-bata kala melihat pasang mata yang menyorotnya begitu tajamnya.


"Hmm.. lo bisa dateng ke rumah gue buat hibur dia ga?" sambut Hanson meminta persetujuan. Tanpa ingin membuat wanita di hadapannya kian bergerak kikuk, ia kembali mengarahkan pandangannya pada lembar kertas yang berada di hadapannya.


"Itu tugas lo Hans, masa gue yang harus hibur sih?" ujar Fiona berprotes penuh keraguan tat kala rasa takut merangkak dari dalam asmanya hingga menyeruput air dari gelas yang berada dalam genggamannya dengan tergesa.


"Nyerah gue!" Hanson melenguh kelam saat mengingat usahanya yang tidak pernah membuahkan hasil sedikitpun.


Dua malam sudah sang kekasih hati kehilangan sosok ibunya, keterpurukan yang di alami wanitanya menjadikan rasa cemas kian memburu angannya. Beribu cara ia lakukan untuk dapat menghiburnya, namun semua itu tiada hasil sedikitpun lantaran sang wanita masih menggundam kepedihannya.


Lamunan dalam pikiran yang meronta mencari cara untuk apa yang di lakukannya selanjutnya, membuat suasanya canggung kembali membaur di sekitarnya.


"Kayanya cuma si Tara yang bisa hibur dia," ujar Fiona memberikan saran membuat lawan bicaranya tersenyum penuh kemenangan.


Hanson menarik wajahnya dari berkas itu, mengarahkannya pada arah Fiona yang telah melangkahkan kakinya untuk menghampirinya.


"Masalahnya si Tara lagi sibuk." Hanson melenguh pasrah mengingat jika Tara kini memiliki tugas harian yang begitu padat.


Akhirnya Fiona menepi di samping meja atasannya, di sandarkannya tubuhnya di sana. "Susah juga bujuk dia kalo dia ga suka sama gue."


Hanson tertawa kecil beriring ledekan di dalam maknanya mendengar ungkapan sindiran dari mantan kekasihnya itu. "Lo nyindir gue?"


"Upss sorry." Fiona melirik ke arah sampingnya di mana Hanson tengah menyiratkan senyuman manisnya di sana. "Tar gue coba tanya si Tara dulu, bisa ga dia ke rumah lo."


"Bodiguardnya ada di mana-mana pasti susah," ucap Hanson dalam gelengan kepalanya. Ia menyenggal jika tatapan mata dari wanita itu begitu menyemburkan pesonanya, hingga tanpa di sadarinya ia bangkit berdiri menghadap sang wanita. "Ga usah hibur cewe gue, lo mending hibur diri lo, si Jack sekarang pasti lagi sama si Tara," imbuhnya membuat Fiona berdecak ngeri.


"Ngapain gue galau cuma karna itu? Gue ga suka sama dia, tapi gue sayang. So, dia mau ngapain juga bukan urusan gue."

__ADS_1


Hanson gemas menanggapi ungkapan yang di rasanya beriring kebohongan itu hingga membuatnya menyentil manja kening Fiona. "Sama aja kali."


Kini kembali Fiona menatap Hanson, membalas sentilan itu dengan tarapan kejamnya. "Sayang sama cinta beda Hans, gue sayang dia makanya gue bisa relain dia, gue cuma bisa ikutin mau dia."


Hanson tidak terima dengan ucapan itu yang lagi terasa sindiran baginya hingga ia menatap licik wajah Fiona. "Jadi dulu lo ga sayang sama gue?"


"Lo salah Hans, rasa sayang gue sama lo lebih dari apapun sampe bikin gue egois." Fiona menarik tubuhnya dari meja itu untuk melangkahkan kakinya, menghindari percakapan yang di rasanya akan membuat rasa pilu menggerogoti hatinya.


"Itulah yang bikin gue enek sama lo Fi.." ucap Hanson penuh kesungguhan. Ia membuntuti langkah Fiona di belakangnya saat perasaan enggan terpisahkan berseru penuh semangat.


"Ga usah bahas lagi lah, udah lewat juga." Sejenak Fiona menghentikan langkahnya, melirik sadis ke arah Hanson di belakangnya membuat sang empunya membalasnya dengan tatapan kejutnya.


Hanson merebut gelas itu dari tangan Fiona, lalu menghabiskan isinya dengan hanya sekali tegukan. "Oke ga usah bahas itu. So, lo mau hibur cewe gue?"


"Ya tar nanya si Tara dulu, kalo ga ada dia percuma juga."


"Pasti susah." Hanson kembali melenguh saat otaknya tidak mendapatkan cara sedikitpun yang membuatnya tertegun begitu tajamnya.


Dengan datarnya Hanson menyerahkan kembali gelas itu pada pemiliknya berbalas tepukan keras pada lengannya dari telapak tangan Fiona.


"Apaan sih lo! Males banget gue minum bekas lo." Meski mengumpat sebal, Fiona meraih gelas itu untuk di simpannya di atas neja yang tersedia.


Fiona berdecak sebal seraya mendelik pekat lantas mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerjanya tanpa ada sepatah katapun yang terucap dsri mulutnga.


Kini Hanson yang menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Fiona agar ia dapat dengan mudah menatap wajah jelita yang telah menjadi bahan impiannya semalam tadi.


"Kasus si Cakra udah sampe mana?" tanya Hanson penuh ketegasan yang di sertai dengan gerakan tangannya yang melipat di dadanya.


Fiona mendongkak menatap wajah tegas yang telah tertunduk menatapnya. Sudah dapat di terkanya jika urusan pekerjaan yang di bicarakan atasannya di haruskan berbalas keseriusan di dalamnya.


"Tinggal nunggu surat penangkapan, lo udah pasti jadi pemenangnya," jawab Fiona berbalas anggukan dari Hanson.


"Gue rasa dia keburu kabur kalo nunggu surat itu."


"Gue bisa kejar."


"Fiona.." Hanson menyenggal ucapannya, menatap ledek wajah Fiona. "Lo itu paling oon soal kejar-mengejar, buktinya sampe sekarang lo belom bisa ngejar cinta lo," ucapnya di akhiri tawa ledeknya.


"Beda kasusnya kali ah." Fiona tersipu hingga membuat rona wajahnya terlihat begitu jelas oleh lawan bicaranya.

__ADS_1


Hanson tersenyum gemas menaggapi gerakan kaku itu. "Jangan maksain diri kalo emang ga mau kawin sama si Jack," ujarnya seolah merayu saat nada lembut menyertainya. Ia mengusap puncak kepala Fiona membuat sang empunya meratap penuh kepedihan.


Baru kali ini Fiona mendapat perlakuan hangat itu di saat hatinya telah berontak ingin menepisnya. Dahulu kala saat ia mengharap itu di dapatinya, tidak pernah sekalipun ia mendapatkan kesempatannya.


"Lo khawatir sama kakak lo, ga mau dia ngorbanin diri demi gue kan?"


Hanson menghela napas dalamnya untuk menahan emosinya yang terpicu dari pikiran buruk yang terungkap itu. "Anggap aja gitu."


Elusan itu terlepas sudah membuat empunya merasa kehilangan meski rasa lega lebih ingin di dapatkannya. Namun perasaan itu sirna seketika kala Fiona mengulang kembali dalam benaknya ucapan lawan bicaranya saat lalu. Hanson membenarkan terkaannya membuat kepedihan batinnya bertambah sakitnya.


"Ya udah kalo lo takut abang lo sakit hati, tar gue obrolin lagi sama dia, tapi gue yakin dia pasti nolak karna alesan dia nikah sama gue cuma mau cabut saham gue dari lo."


"Maksudnya lo maksa si Jack biar saham itu masih gue yang ngambil?" tanya Hanson di sertai tatapan bengis penuh dendamnya.


Fiona hanya mengangguk ragu untuk menjawabnya saat aura kelam yang selalu di dapatkannya dahulu kala kini menyerbu pasang matanya kembali.


"Fiona.. lo mau bikin gue tambah keliatan br*ngsek apa?" Hanson mengumpat frustasi.


"Tenang aja, cuma gue yang tau itu kok." Fiona berusaha menenangkan wajah yang telah mengeratkan rahangnya itu. Namun ia tersenyum miris kala menatap wajah itu.


"Angkat tangan gue kalo gitu, lo lebih tau alesannya."


"Lagian gue ga minta pendapat lo juga."


Hanson mulai bergumam prihatin, rasa iba berseru keras saat mengingat sikap dirinya pada Fiona dahulu kala. Ia tidak mengira jika cinta kasih dari wanita itu terhadapnya sedemikian hebatnya hingga sudi melakukan apapun demi dirinya.


Cemas akan gengsinya terjatuh dengan mudahnya saat hasratnya bergejolak ingin merangkul tubuh itu, ia segera melerainya dengan menjauhi Fiona untuk kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursi kebangsaannya.


Sementara Fiona mengabaikannya meski batinnya menggerutu kesal dengan tindakan yang selalu lari dari masalah itu.


Suasana canggung dalam keheningan yang mencekam kembali membaur di dalam ruang kebangsaan yang terletak di lantai 10 itu saat kedua insan membungkam rapat mulutnya tanpa ingin berucap satu patah katapun.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2