Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 183


__ADS_3

Prang ... prung ... brang ... breng ....


Kegaduhan tercipta di dalam ruang kebangsaan pengacara lantaran benda-benda berjatuhan. Tentu saja hal tersebut bukan tanpa sebab. Ruangan itu kedatangan tamu menjijikan. Aneh, padahal kebersihan tempat ini teramat diperhatikan setiap hari. Entah dari mana makhluk itu datang.


Kepanikan menjadi atmosfir pekat dalam diri Fiona. Tak ayal ia mulai berperang melawan makhluk kecil menjijikan tersebut. Ia membuka pakaian atasnya untuk dijadikan senjata. Namun, seekor kecoa itu berhasil mengajaknya bermain. Dengan sayap yang dilentangkan, tubuh binatang itu tiada henti terbang ke sana kemari.


Seolah terlalu fokus terhadap binatang itu, ia melupakan keadaan sekitar. Sehingga suara berjatuhan akibat kibasan pakaian yang dijadikannya senjata terdengar sampai ke telinga Hanson di luar sana.


Brak!


Sepasang mata terbelalak nyalang melihat kekacauan telah terjadi di ruang kebangsaannya. Tubuh Hanson pun mematung beberapa saat setelah pintu terbuka.


Melihat Fiona yang terus berlari-lari mengejar binatang menjijikan tersebut, langkah kaki Hanson bergerak tiba-tiba. Dari arah belakang ia merangkul serta mengunci kedua tangan Fiona dalam dekapan erat. Hal ini tentu saja salah satu siasatnya mencegah tindakan wanita itu, sebab keadaan tidak akan membaik jika ia hanya berdiam melihat saja.


"Apaan ini, Fi?" tanya Hanson di sambut jawaban dengan gerakan tubuh memutar dan menghadapnya.


"Itu ..." Telunjuk Fiona mengacung ke arah lemari di mana binatang itu bertengger di atasnya.


Hanson menarik wajahnya mengikuti arah telunjuk Fiona. Setelah melihat sesuatu melentangkan sayap di sana, ia menggeleng menanggapi tingkah itu. Tidak mengira Fiona membuat onar hanya karena satu sosok kecil itu saja. Belum sempat ia mengucap kata umpatan, kecoa itu telah kembali bergerak hingga hinggap di atas tubuh Fiona.


"ARRRGGGHHHH!" Fiona menjerit histeris, membuat Hanson dengan sigapnya menyingkirkan hewan itu dari atas bahu Fiona.


Hewan menjijikan itu berhasil tersingkir untuk sesaat. Namun, tak lama sayapnya terbentang kembali ke arah Fiona. Tanpa di duga, binatang kecil itu berhasil menelusup ke dalam kemejanya. Suara Histeris memecah indra pendengaran Hanson, secara rifleks tangan lelaki ini melepas paksa busana bagian atas itu. Manik kancing dari ujung atas hingga bawah kemudian terlepas dari benangnya, tubuh di hadapannya kini tanpa busana. Hanya itu saja yang didapatinya, sebab kedua mata tak menemukan keberadaan binatang kecil menjijikan itu.


"Hans, di sini." Di hadapan dadanya, telunjuk lentik Fiona kembali melenting, menunjukkan di mana objek incarannya itu berada.


Tanpa pikir panjang, tangan Hanson terulur dengan mudahnya. Ia berusaha menggapai di mana binatang itu bersembunyi. Tentu saja di balik kain terakhir yang masih menempel di tubuh Fiona. Namun, rupa-rupanya makhluk itu sulit untuk didapatkan, sekalipun tangan lelaki ini telah bergerak tanpa henti mencari keberadaannya.


Sepasang mata terombang-ambing meresapi sentuhan ini. Sukmanya tenggelam dalam keadaan diri yang hampir hilang kesadaran. Semua kemudian terhenti ketika Hanson melepas kain terakhir itu dari tubuhnya.


Mata Hanson menyorot tajam ke arah dada itu, di sertai lengkungan bibir penuh kemenangan. Seringai nampak mengerikan, mendapati apa yang dicari nampak di depan matanya.


Dendam segera ia lampiaskan, kekuatan tenaga penuh ia kerahkan dengan sentilan pada binatang itu. Tepat saat musuh tergeletak tak berdaya di atas balutan marmer, segera mungkin ia memberikan serangan buas. Meraih buku yang berada dalam jangkauan tangannya, dijadikan senjata untuk mematikan lawannya.


Usai sudah semua teratasi olehnya, akan tetapi ....


"KYAAAAAAA!" Gendang telinga Hanson serasa mau pecah mendengar pekikan suara Fiona. Teriakan itu sepertinya menembus cakrawala hingga berujung mencapai pintu surga.


Mata Hanson membelalak nyalang, mengikuti arah pandang Fiona yang tertuju pada tubuh bagian atasnya. Mengetahui arti dari wajah yang tertunduk itu, Hanson segera melepas tuxedo yang ia kenakan. Membalutkan pada tubuh yang telah membuat jantungnya berdegup tanpa irama.


Busana kebesaran tidak mampu menutup tubuh itu sepenuhnya. Hanson mengambil inisiatif, meraih tubuh itu dalam dekapan kedua tangannya. Tiada dapat Fiona mengatasi keadaan, sehingga ia hanya mengikuti apa yang di lakukan pria yang masih merangkul erat tubuhnya.


Mereka menenangkan diri setelah usai mengatasi tragedi yang terjadi. Kedua mata saling bertukar pandang dalam tatapan menghanyutkan. Lelah, keringat setidaknya sedikit mengucur membasahi pipi. Namun, yang lebih menghanyutkan dari itu semua justru ada dari embusan napas mereka. Udara hangat terembus menyapu wajah dalam kerancuan di sela deru menggebu. Kendati demikian, pelukan itu sama sekali tidak ingin Hanson akhiri.


Usai memberikan pengobat lelah pada masing-masing, kesadaran Hanson pun kembali. Menilik situasi yang telah terjadi, gelak tawa menggema di udara.


"Kenapa lo ngejerit kaya tadi?" tanya Hanson mengumbar cibiran, berbalas decakan dalam delikan mata dari wanita yang masih berada dalam dekapannya. "Gue udah pernah lihat itu, bukan?"


"Sinting lo!" Fiona mengumpat sebal, enggan mengakui kebenaran yang terucap dari mulut pria itu.


Begitu memalukan baginya, mengingat masa lalu akan sikap diri terhadap mantan tunangannya. Pesona ranum tercipta begitu saja mengukir wajah. Membuatnya tertunduk kaku untuk menyembunyikan.


Hanson mengukir rasa gemas di balik seringai manis, menanggapi dengusan yang terdengar sepasang telinganya.


"Gue yang sinting? Bukannya dulu lo yang manjat ke atas tempat tidur gue?" ungkap Hanson berbuah tatapan murka.


Batin mengungkap ribuan kata umpatan, akan tetapi bibirnya membungkam dalam kekesalan. Fiona meyakini jika ucapan itu ia timpali, maka kekalahan akan ia dapati. Hingga pada akhirnya, ia berpasrah diri menerima ucap cibiran tanpa ingin membalas sedikit pun.


Tiada lagi telinga mendengar suara merdu itu, Hanson mengakhiri dekapan yang di rasanya membuahkan amarah dari wanita pujaannya.


"Tunggu di sini, jangan keluyuran dulu, gue beliin baju dulu buat lo." Hanson mengungkap isi kepala, mengingat busana Fiona telah ia hancurkan.


"Lo kira gue mau keluar pake baju begini?" Amarah kian membuncah, menggiring pekikan nada kesal pada setiap kata yang terucap. Kedua tangan turut menyerukan, bergerak melentang membuat belahan busana itu memperlihatkan isi di baliknya.

__ADS_1


Deru napas memburu menyertai tatapan terkunci pada tubuh itu. Jika saja mengikuti kata hati, Hanson akan mendapat kesulitan untuk mengakhiri. Separuh kesadaran telah kembali, ketika batin menyangkal bayangan liar. Lantas, ia bergegas undur diri sebelum sesuatu yang tidak diinginkan itu terjadi.


Embusan napas lega merestui kepergian pria yang telah hilang sepenuhnya dari pandangan, tak luput usapan pada dada menyertainya. Tiada berbeda dengan Hanson, Fiona sendiri mengalami apa yang di rasakan pria itu.


Renungan membebani pikiran, menyambut bayangan pada kejadian masa silam. Fiona merindukan keadaan ketika diri dapat dengan mudahnya mencurahkan kasih sesuka hati. Kini semua tiada akan ia dapatkan, menilik keadaan pria idaman telah menyerahkan hati kepada wanita lain. Lamunan berlangsung sekian lamanya, hingga Hanson kembali menghadap, ia baru mengakhirinya.


Kerancuan tercabik oleh sebuah uluran tangan memberikan bungkusan berisikan busana yang ia butuhkan. Sambutan ia berikan, meraih barang itu dari tangan Hanson meski dengan gerakan kasar.


"Jagain pintu sana." Akibat rasa malu tertanam di dalam kalbu, kekesalan tak kunjung menyertai ucapan sebal untuk sekedar menyembunyikan keadaan sesungguhnya.


Hanson segera melakukan apa yang di perintahkan Fiona tanpa ingin menyinggung perasaan. Namun tetap saja, tatapan dendam kembali menghujam penglihatan. Fiona geram ketika batin keliru mengartikan tubuh yang berdiri di balik pintu dengan masih melihat diri.


"Lo balik badannya ke sana." Fiona memberi perintah untuk kedua kali, di sambut persetujuan oleh Hanson yang langsung memutar tubuh hingga menghadap pintu di sana.


Segera Fiona melakukan sesuatu, memasangkan busana pemberian itu pada tubuhnya setelah melepas pakaian kebesaran itu.


"Udah." Usai melakukannya, Fiona memberi tahukan secepat mungkin.


Tiada ingin menghiraukan pria yang telah memutar kembali tubuh untuk menghadapnya, Fiona memulai aksinya, meraih benda-benda yang berserakan di atas lantai agar ruang kembali terlihat rapih seperti semula. Hanson tidak tinggal diam, ia mengulurkan tangan. Turut bersimpuh di hadapan Fiona, tak luput meraih lembaran kertas di sana.


Tawa geli terlontar tanpa di cegah Fiona, ketika terbesit ingatan tentang tragedi yang menimpa beberapa jam yang lalu itu.


"Aneh, kenapa kecoa bisa naik ke lantai sepuluh?" tanya Fiona mengungkap kejanggalan.


"Ikut orang naik lift, mungkin." Tanpa berpikir Hanson menyahut di sertai olokan dalam tawa kecilnya.


Fiona mengakhiri perbincangan menggelikan itu, ketika emosi menelusup angan lantaran mengingat kembali perlakuan Hanson saat lalu. Kemudian ia bangkit berdiri, melangkahkan kaki membawa barisan buku dalam genggaman untuk menyimpan di atas meja yang tersedia.


"Lo harus bayar gue, lo udah lihat badan gue," ungkap Fiona menggerutu kesal, akan tetapi senyum mempesona menyahut ucapannya.


Hanson menjawab tanpa bersuara, ia bangkit berdiri di hadapan wanita yang menatapnya dalam kejanggalan. Kedua tangan sibuk membuka tautan kancing pada kemeja hitamnya, membuat emosi Fiona menembus batas kesabaran.


Plak! Tamparan keras mendarat pada pipi kiri Hanson. Namun, tidak membuatnya murka, malah ia membalas dengan senyuman ceria.


"Bukannya lo minta ganti?" ujar Hanson kian menggelitik emosi wanita itu, sehingga tatap keji menyahut ucapannya. "Lo juga bisa lihat badan gue."


Seringai gemas terukir di balik wajah Hanson, mendapat gagasan untuk kembali menghujam Fiona dengan niat usilnya. Tanpa banyak mengungkap kata, Hanson menanggalkan kemeja dari tubuhnya.


Sejenak Fiona mengunci tatapan, menyerukan ungkap kagum di dalam batin akan pujian pada tubuh berbentuk itu. Gengsi menelusup dalam ingatan, membuat gelagat kikuk tersorot pasang mata Hanson di sana.


"Gu–gue ga akan lanjut kalau lo ga pake baju lo," ujar Fiona terbata-bata, ketika pasang telinga mendengar tawa ceria seolah mengolok dirinya.


"Oke."


Mendengar ucap persetujuan, Fiona memutar tubuh membelakangi Hanson. Sekaligus menepis tatapan yang tidak ingin di akhiri, ia menyembunyikan rasa malu.


Sudah merasa cukup ia memberikan waktu, tanpa ada ucap suruhan, Fiona kembali memutar tubuh. Namun, hidung menyentuh tubuh yang masih belum terbalut busananya itu.


"HANSON!" Lentingan suara nyaring kembali menggelegar, menyemburkan emosi tak tertahankan dalam gerakan tangan memukul keras dada pria itu.


"Lo ga sabaran banget, gue belum bilang udah, malah balik badan." Hanson mengumbar rayuan tak kuasa menahan rasa gemas. Membawa tubuh itu dalam dekapan, mengabaikan keterkejutan yang nampak dari wajah wanita itu.


Fiona meronta, mendorong begitu kerasnya tubuh itu, membuat empunya terpental hingga tergeletak di atas lantai. Sebelum tubuh mendarat di sana, Hanson mencari pegangan sehingga meraih pergelangan tangan Fiona. Situasi tak terkendali, tubuh Fiona mendarat di atas tubuh yang terlentang di atas lantai berbalut marmer itu.


Hentakan kejut menyerang angan Fiona, ia berusaha bangkit dari sana. Namun, Hanson tidak menginginkan hal itu berakhir dengan mudahnya, ia menahan kedua tangan Fiona agar wanita itu tidak dapat beranjak sedikit pun dari sana.


Kriet ....


Kelvin mendapati sepasang insan dalam keadaan menggiurkan ketika tangannya berhasil membuka pintu ruangan. Sesaat ia terkejut mendapatkan sambutan itu, sehingga tatapannya mengedar pada keadaan ruangan mengabaikan sepasang bola mata mereka yang menatap ke arahnya.


Usai menilik keadaan, Kelvin mengembalikan tatapan kepada wajah-wajah terkejut dua insan itu.


"Gue yang perkosa dia," ujar Hanson memberikan alasan konyol, membuat sebelah pipinya kembali mendapat tamparan keras.

__ADS_1


Kelvin menanggapi dengan tawa gemas, setelah menyibak situasi yang tengah terjadi.


"Udahan dulu berantemnya, gue bawa tugas nih," ungkap Kelvin menyerukan tujuan, nada bicara mencibir ia lontarkan di sela kalimat yang terucap.


Mendapat kesempatan, Fiona segera bangkit berdiri. Hal serupa di lakukan Hanson segera menghadap tamu untuk menyambut kehadirannya.


"Tugas apa?" tanya Hanson kepada Kelvin.


"Ga mau pake bajunya dulu?" Kelvin mengungkap cibiran, berbalas seringai geli dari lawan bicaranya.


Kelvin kemudian menyerahkan sebuah map kepada Hanson tanpa sepatah kata pun. Hal serupa dilakukan Hanson saat menerima benda tersebut dengan sebelah tangannya.


"Si bos minta tugas itu beres minggu depan," ucap Kelvin sebagai pengakhir percakapan. Ia sudah dapat menerka situasi, melihat wanita satu-satunya yang berada di sana kini telah menyibukan diri pada benda-benda sisa pertengkaran mereka.


Kelvin memahami keadaan, ia segera berpamit tanpa ingin mengacau lebih jauh. Sebuah lambaian tangan ia berikan sebagai pertanda dirinya undur diri usai mendapat izin dari kedua pemilik ruangan ini. Tak lama ia pun menghilang dari pandangan mereka.


"Hans, gimama kalau dia bilang sama si Jack?" Fiona mengungkap kekhawatiran yang telah terpendam sejak tamu itu tiba menghadap.


"Ga akan," sahut Hanson penuh keyakinan, mengetahui bagaimana sifat pria yang di perbincangkan itu.


Fiona menghela napas lega mendengar jawaban meyakinkan itu. Namun, dendam kembali menyeruak angan.


"Lagian, kenapa lo narik gue?"


"Seneng aja godain lo, biar lo bisa lampiasin dendam lo sama gue. Setidaknya kalau lo udah benci gue, lo bisa kasih hati lo sama kakak gue."


"Hans–" Fiona meyahut heran, tidak mengira jika pria itu merelakan kepergiannya. Namun, sikap itu membuatnya kian terkagum-kagum. "Apa lo ga tau kenapa gue mau nikah sama dia?"


"Tau, sangat tau. Biar gue tambah benci sama lo."


"Bukan!" Terpaksa Fiona memantapkan hati mengungkap kejujuran yang tersembunyi. "Biar gue masih bisa mencintai lo, kalau gue nikah sama orang lain, belum tentu kasih izin buat itu, bukan?"


Lirihan di sela nada bicara, mendobrak rasa gemas Hanson. Batin kian bergejolak asa menginginkan wanita itu kembali mengisi hatinya.


"Kenapa lo ga jujur aja? Gue bisa pertimbangkan seandainya lo mau mengakui perasaan lo," ucap Hanson tak kalah melirihnya. Penyesalan bangkit kembali akan sikapnya yang telah mengabaikan kasih wanita tulus itu.


"Karena lo udah ambil keputusan tanpa mikir panjang."


"Maksud lo ... gue yang salah?"


Hanya anggukan kepala membalas pertanyaan itu, ketika mulut tak dapat lagi mengungkap alasan. Fiona mengakhiri perbincangan, ia beranjak dalam hentakan kaki menyembunyikan perasaan kesal pada dirinya sendiri.


Amarah terpendam begitu dalam, akan tetapi di tengah langkah tercurah pada tindakan. Pikiran kosong membawa petaka, kaki Fiona menginjak benda hasil karya pertengkarannya saat lalu. Sehingga langkah itu goyah, membawa tubuh kehilangan kendali.


Hanson begitu sigap menarik tubuh itu agar tidak terkapar di atas lantai. Tangan kembali mendekap tubuh Fiona, kali ini di sertai tatapan kasihnya.


Kedua pasang mata mereka saling mengunci, mencipta rasa suka dalam sorot menenggelamkan. Mereka melupakan status diri, ketika hasrat bergejolak untuk saling menikmati.


Wajah Fiona kian mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Suara decapan saling beradu menikmati rasa dari kerinduan. Lama sekali mereka tak mencicipi perasaan manis ini. Meskipun kejadian berlangsung bagai sebuah paksaan manakala sang pria hanya berdiam menerima. Sedang Fiona seolah asik sendiri menikmati kecupan itu.


Hanya saat ini saja, Fiona mengungkap janji untuk tidak melakukannya lagi. Biarkanlah untuk yang terakhir kalinya ia menikmati suasana, sebelum kesempatan terenggut kembali. Kepuasan telah ia dapatkan, sehingga melepas sentuhan tanpa pencegahan dari lawannya.


Lengkung bibir terukir begitu jelas memberi makna ceria begitu dalam. Hanson mengusap pipi Fiona, mengungkap terima kasih hanya dengan sapuan jemarinya.


"Bu–buat bayaran lo," ujar Fiona malu-malu.


"Terima kasih Nyonya Jordan," balas Hanson beriring cibiran menepis gerakan kikuk yang terlihat di hadapannya.


Ungkap kata menyebutkan status diri, berbuah amarah kembali menyentuh sanubari. Fiona enggan menyahutnya, sehingga ia melarikan diri dari hadapan pria yang masih menertawainya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2