Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 26


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Tara melakukan rutinitas dan aktivitasnya seperti biasa dan seperti pada siang dan malam sebelum-sebelumnya, benar-benar membosankan dan sangat monoton, sama sekali tak ada gairah khusus dan kebahagiaan sejati dalam hidupnya.


Tapi mau bagaimana lagi? Seperti inilah kehidupannya, kadang monoton, kadang penuh lika-liku terhadap perasaan dan kehidupannya. Malam ini, Tara sudah berada di tempat dia biasa mencari pundi-pundi uang untuk melengkapi dan mencukupi biaya hidup.


Rupanya langit malam itu tampak tertutup awan mendung, terlihat dari bintang yang enggan menampakkan dirinya di atas sana. Hal itu membuat keadaan langit tampak gelap, sama sekali tak menyenangkan untuk dipandang, lebih mirip jika saat ini langit tengah suram.


Suasana ini mengiringi hati Tara yang sudah berganti identitas menjadi Vara. Mengingat hari ini jatuh tempo untuk seluruh piutangnya membuat api semangatnya padam begitu saja.


Lantas, apakah ia harus menanyakan upah untuk pernikahan sirihnya kepada sang pria yang memberikan penawarannya?


Tidak! Hatinya berontak menjaga gengsi serta mencegah petaka di kemudian hari jika saja sang pria merendahkan harga dirinya.


Tepat saat ia termenung di tengah keramaian manusia yang berguncang mengikuti irama degupan musik di dalam club itu, Alina memanggilnya untuk segera menemui seorang pelanggan yang telah berada di dalam room karaoke.


Entah siapa yang akan didampinginya, Alina pun tidak mengatakannya. Namun tetaplah ia memaksakan diri menemuinya hanya untuk memenuhi tuntutan pekerjaannya. Akhirnya ia masuk ke dalam room itu masih didampingi Alina di sampingnya.


Senyum tertahan terpampang dari wajahnya setelah melihat Sammuel yang duduk seorang diri di atas sofa yang tersedia di sana.


Sebotol Tequilla lengkap dengan topingannya serta gelasnya telah terhidang di sana, begitu pun dengan Marlb*ro putihnya membuatnya yakin jika pria yang telah membalas senyumannya itu tengah menunggu jawabannya.


"Sweaty, why you’re smile like that?" tanya Sammuel coba menyibak arti senyuman penuh makna, dengan tatapan janggal penuh penasarannya menuju arah wanita – yang telah berhasil duduk di sampingnya.


"Jangan ngomong bahasa Inggris deh, aku ga suka makan keju jadi ga ngerti,” ketus Tara berseru gurau membuat pria di sampingnya terkekeh gemas.


Sementara Alina hanya meminta goresan tanda tangan kepada Sammuel lalu pergi meninggalkan mereka berdua setelah berpamit dengan rengkuhan tubuhnya.


"Berapa tawaran kamu sekarang? 100 juta? 200 juta?" cibir Tara dalam sindiran kasarnya, kalimatnya segera dibalas tawa kecil oleh pria di sampingnya. "Atau 1 milyar cuma buat ciuman?"


"Lo bahas soal duit yang gue kasih apa?"


"Engga, duit yang kamu kasih kan cuma 10 juta!” sahut Tara tegas, namun ia berniat hanya untuk lelucon semata. “Yang aku bahas tawaran kamu," imbuhnya untuk sekadar memancing agar ia mendapat jawaban dari pertanyaan yang menjadi keinginannya.


"Lo lagi nyindir?!" seru Sammuel gemas hingga tangan kanannya mengulur menjepit dagu lancip itu dengan dua jarinya lantas merekatkan jarak wajahnya pada wajah yang sudah memerah itu.


"Setan mesum ini." Tara membalas tatapan itu dengan senyum penuh cibiran.


Percayalah, setiap kali ia mendapat tatapan Sammuel, entah itu tatapan menakutkan atau penuh wibawanya, ia akan terperosok ke dalam pesonanya, hingga setiap kali pula ia harus mengatur pandangan serta napasnya, bahkan jantungnya yang berdentum tanpa irama.


Cibiran-cibiran serta ledekan yang terlontar darinya hanyalah penawar untuk menghilangkan rasa canggungnya semata. Bisa dikatakan untuk menyembunyikan hatinya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Namun Sammuel tersenyum menyikapi cibiran tadi. "Lo pinter ngegoda juga." Kedua mata mereka masih saling bertemu seolah saling mencurahkan rasa rindunya setelah tujuh hari berpisah sejak pertemuan terakhirnya di sebuah kedai kopi.


"Goda apaan?!" sahut Tara memekik canggung ketika dagunya masih terjepit jari jenjang itu. "Kamu sendiri yang buaya, ga ada ceritanya aku goda cowok,” elaknya.


"Art Tara." Akhirnya Sammuel mengalah dengan tatapan itu, setelah menatap wajah putih yang berubah memerah di hadapannya. Tak lantas ia melepas jepitan jarinya dari dagu itu seraya menepis pandangan dari wajah anggun tersebut. "Gue jadi pengen cium terus mulut pedes lo itu."


"Selama 100 juta," sahut Tara menyindir, membuat tawa pria di sampingnya meledak untuk kedua kalinya ia memaparkan tawanya pada orang lain.


Sammuel menarik dirinya mendekat pada meja, lantas ia meracik minuman seperti sedia kala. "Kalo lo mau BO, gue kasih 1 milyar pun ga masalah.”


"Jangan ngarep!" tolak Tara bergurau sebal. Sesungguhnya ia hanya mengingat ucapan Devand saat lalu yang membuatnya merasa kesal pada pria di sampingnya. Ia mengira perintah yang menyatakan untuk meminum racikan dalam satu kali tegukan itu hanya alasan sang pria semata untuk membuatnya terlelap dalam kesadarannya.


"500 juta deh buat 10 bulan." Tawar Sammuel tanpa menoleh lantaran masih bergelut dengan racikannya namun berhasil membuat wanita itu memukul manja lengannya.


"Lama-lama aku panggil kamu setan pelit juga deh,” cibir Tara di balas tawa kecil oleh pria yang masih menyibukkan diri dengan racikan minumannya.


Sammuel tahu jika wanita – yang telah membalas tawa kecilnya dengan senyumannya—itu telah salah mengartikan kalimatnya. "Buat tawaran gue kemaren!" serunya membuat wanita di sampingnya terperangah dalam kejutannya.


Tara mengerjapkan matanya meski hatinya melega. Akhirnya ia mendengar ucapan dari sang pria yang selalu dinantinya sejak beberapa hari lalu.


Trak! Seperti sedia kala, langkah terakhir dalam racikannya, Sammuel mengentakkan gelasnya pada meja. Ia lalu menyerahkannya terlebih dahulu kepada wanita itu.


Trak! Gelas kedua pun usai diraciknya lalu ia meneguknya hingga habis tak bersisa. "Art Tara."


"Hmmm,” sahut Tara, ia hanya mendehem tatkala mulutnya terbungkam telapak tangannya yang menghapus sisa tetesan minuman pada bibirnya.


"Ga di abisin?" tanya Sammuel yang merasa heran saat melihat gelas yang berada dalam genggaman wanita itu masih berisi setengahnya. Sama sekali tak seperti biasanya di hari-hari yang lalu. Tentu saja pria itu merasa heran.


"Ga boleh emang?" pekik Tara, irisnya yang bening menatap geram wajah tampan itu, membuat sang empunya terpaku menatapnya.


"Bukan ga boleh.” Sammuel berucap tertahan ketika sang hati enggan menjelaskan. “Serah lo deh,” tepisnya ketika tersadar jika wanita itu merasa takut dirinya akan menggodanya.


Namun saat Tara kembali menyeruputnya, lidahnya pekat merasakan rasa asing dari sebiasanya. "Ah ****,” umpatnya yang tak mau ambil pusing, lantas meneguk minuman itu dalam sekali tegukan.


Sammuel menggeleng keras, ia tahu umpatan itu bukan untuknya. Terdengar dari lemahnya nada bicaranya. "Art."


"Hmm."


"Gue ga punya banyak waktu lagi." Sammuel tampak frustrasi apalagi dari nada bicaranya yang terdengar memilukan oleh wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Soal?"


Hati Sammuel mulai merancu, ia mengisi gelasnya dengan Tequillanya tanpa toping untuk menepis kerancuan itu. "Tawaran gue,” sahutnya kian melirih namun kini membuat wanita itu menyeringai penuh makna.


"Aku bakal bilang jawabannya kalo kamu berhasil bikin aku mabok malem ini." Tara menggoda tak lantas menyerahkan gelasnya pada pria itu, yang disambut dengan senyuman bahkan meraih gelas itu. Ini jelas adalah tantangan baginya. Tanpa kata, Sammuel melakukan perintah yang akan membuahkan jawaban baginya.


Mungkinkah itu sambutan sang wanita atas tawarannya? Sammuel berharap sang wanita tidak mempersulitnya. Saat ini dia ingin menaruh harapan yang tak akan mengecewakan pada akhirnya.


Sementara keadaan Tara, ia menyulut sebatang rokok yang tersedia. Disodorkannya rokok itu pada bibir sang pria dan membenamkannya di sana.


"Tumben lo ga megangin rokoknya." Sammuel bersusah payah berbicara ketik mulutnya menahan batang rokok berbara itu.


Tara bungkam, ia menyandarkan dagunya pada bahu pria yang masih sibuk dengan kegiatan meraciknya lalu mengambil batang rokok itu dan menghisapnya.


Mulai ia terbawa suasana atas tingkah Sammuel hingga menepisnya dengan menyemburkan asapnya pada wajah tampan di sampingnya.


"Art Tara! Lo mau ngegoda gue lagi hm?" Sammuel tampak gemas hingga menghentikan kegiatannya seketika. Ia meraih rokok itu, lantas disimpannya di atas asbak.


Dalam sekali gerakan, sang wanita berada dalam kungkungannya. Kedua pergelangan tangan wanitanya disegelnya dengan kedua tangannya, lantas meletakannya pada samping kiri dan kanan kepala wanita itu.


"Serius amat sih hidup kamu!” Tara memekik, yang sesungguhnya ia terkejut dengan tingkah godaan itu.


"Biar ga berantakan kayak hidup lo." Lantas, tanpa pamit Sammuel mengecup sekilas bibir mungil itu, dan kembali menatap lekat wajah jelita dalam sebaran pesonanya.


"Bukan salah aku kalo aku ga jawab sekarang ya." Tara mulai kikuk akibat apa yang dilakukan oleh pria itu, tak mampu ia menepis pandangan mematikan itu ketika kedua tangannya masih tersegel tangan sang pria.


"Gue ga akan bikin lo mabok sama Tequilla," balas Sammuel yang tak acuh, mengabaikan wajah yang sudah belingsatan itu. Tanpa aba-aba ia mengecup bibir berlapis lipbalm itu, lagi. "Gue mau bikin lo mabok sama ciuman gue,” imbuhnya tidak bersahut apa-apa dari wanita itu saat bibirnya berhasil terbenam di atas bibir wanitanya. Serangan tiba-tiba yang sangat bringas membuat wanita itu tak bisa mempersiapkan diri.


Tara meronta sekuat tenaga, namun tidak membuahkan hasil sedikit pun tatkala sang pria berhasil memberikan cumbuan mesranya yang membuatnya larut dalam dunianya seolah kesadarannya sirna sepenuhnya. Mendapat sambutan dari tingkah wanita yang kini telah merekatkan kelopak matanya, Sammuel mulai leluasa memberikan cumbuannya dengan gerakan bibirnya.


Akhirnya Tara pasrah hingga bersahut nikmat yang membuat cumbuan Sammuel semakin brutal.


Untuk menghentikan cumbuan ganas itu, Tara menggigit bibir bawah Sammuel namun tidak terlalu keras seperti dahulu kala yang membuahkan darah menetes dari sana. Kini gigitan itu tidak membekas, namun berhasil membuat Sammuel melepas cumbuannya.




__ADS_1


__ADS_2